NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Menopang dan Ditopang

Malam itu, gerimis tipis membasahi genting rumah bernuansa Jawa sederhana keluarga Arga. Udara dingin perlahan merayap masuk lewat celah jendela kayu, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.

Di atas meja makan kayu jati yang sudah sedikit pudar warnanya, aroma harum sayur lodeh nangka muda, sambal terasi, dan tempe goreng hangat masih membubung tipis.

Suara denting sendok sudah lama reda. Nabila, putri kecil mereka yang berusia lima tahun, sudah tertidur lelap di kamarnya setelah lelah seharian menguras tenaga bermain bongkar pasang balok.

Arga duduk termenung di salah satu kursi kayu. Kedua tangannya memeluk cangkir teh hangat yang mulai mendingin. Jemari tangannya yang kekar bertaut kaku, dan tatapannya terpaku kosong pada permukaan meja.

Di sebelahnya, Menik memperhatikan raut wajah suaminya dengan tatapan yang amat teduh. Sejak pulang dari kantor tadi sore, Menik yang sangat peka sudah menyadari ada gumpalan beban tebal yang disembunyikan Arga di balik senyum tipisnya.

Menik menggeser kursinya pelan, lalu mengulurkan tangan halus untuk mengusap bahu Arga.

"Mas..." panggil Menik lembut. Suaranya sehalus embusan angin malam.

"Ada yang mau Mas ceritakan ke Menik?"

Arga tersentak pelan dari lamunannya. Ia menoleh, menatap mata bening istrinya.

Dulu, belasan tahun lalu, Arga adalah pria yang selalu memilih kabur dari kenyataan. Ia suka menutup diri, memendam luka seorang diri sampai membusuk di dalam dada, hingga akhirnya kehilangan cinta pertamanya gara-gara ketakutannya sendiri.

Namun kini, Arga tidak boleh lagi menjadi Arga yang penakut. Ia adalah seorang suami, seorang ayah yang telah mengikat janji suci di hadapan Sang Pencipta. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu terbuka pada wanita yang telah melahirkan anak-anaknya ini.

Arga menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat dari rongga dadanya. Ia memutar badannya, lalu menggenggam kedua telapak tangan Menik dengan erat.

"Dek..." suara Arga terdengar sedikit parau.

"Kantor tempat Mas kerja... bulan depan mau tutup permanen. Mas... kena PHK."

Kalimat itu terlempar ke udara malam yang dingin, diiringi suara gemericik hujan di luar. Arga menunduk, tak sanggup melihat reaksi istrinya. Pikirannya melayang pada kenyataan pahit: Menik sedang hamil tua masuk bulan kedelapan, sebentar lagi butuh biaya persalinan yang tidak sedikit, Nabila baru saja masuk TK dan butuh biaya seragam serta buku, sementara dirinya... bakal jadi pengangguran.

Arga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ia bersiap kalau Menik bakal menangis panik, kecewa, atau bahkan menyalahkan dirinya yang gagal menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Namun, detik-detik berlalu tanpa ada suara isak tangis. Yang dirasakan Arga berikutnya adalah genggaman tangan Menik yang justru semakin erat dan hangat meremas jemarinya.

"Alhamdulillah..." bisik Menik lembut.

Arga mendongak seketika, matanya membelalak kaget. "Kok... Alhamdulillah, Dek?"

Menik menyunggingkan senyuman manis—senyuman khas Jawa yang begitu tenang, jujur, dan selalu berhasil menjadi penawar racun di dalam kepala Arga dan selalu berhasil meredakan badai di hati Arga.

"Alhamdulillah karena Mas Arga mau cerita sama Menik," tutur Menik tulus, matanya berbinar lembut.

"Menik bersyukur Mas gak menyimpan beban berat ini sendirian lagi kayak dulu. Menik ini istri Mas Arga... tempat Mas pulang, tempat Mas berbagi rasa. Kalau Mas sedih atau pusing, Menik harus tahu."

Menik berdiri pelan sambil memegangi pinggangnya yang agak pegal karena perutnya yang membuncit. Ia melangkah menuju lemari buffet kecil di sudut ruang tengah, lalu kembali membawa sebuah buku tabungan sampul hijau dan meletakkannya tepat di hadapan Arga.

"Ini apa, Dek?" tanya Arga bingung.

"Ini tabungan kita, Mas," jawab Menik seraya mendudukkan diri kembali di samping suaminya.

"Selama lima tahun Mas Arga kasih uang belanja, Menik gak pernah pakai berlebihan. Sebagian selalu Menik sisihkan sedikit demi sedikit. Isinya memang gak miliaran, tapi lebih dari cukup buat biaya persalinan adik bayi nanti, bayar SPP Nabila beberapa bulan ke depan, sama buat pegangan dapur kita."

Arga terpaku menatap buku tabungan di depannya. Dada pria itu mendadak berdesir hebat, seperti dihantam gelombang haru yang luar biasa.

"Mas Arga jangan takut ya," lanjut Menik seraya mengelus pipi Arga yang agak kasar.

"Rezeki anak-anak itu sudah diatur sama Allah sebelum mereka lahir ke dunia. Mumpung Mas Arga masih muda, masih sehat, tangan dan kaki Mas masih kuat... tugas Mas cuma ikhtiar. Soal hasil dan rezeki, biar Menik yang bantu lewat doa di sepertiga malam."

Air mata yang sejak tadi ditahan Arga akhirnya jatuh juga di sudut matanya. Pria yang biasanya kaku itu langsung menarik Menik ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya dengan rasa haru dan hormat yang membumbung tinggi.

Ya Allah... batin Arga merintih bersyukur. Terima kasih telah mengirimkan wanita luar biasa ini sebagai takdirku dan pelindung hatiku.

Di saat yang bersamaan, beberapa kilometer dari sana, suasana di ruang kerja rumah Kiara dan Dimas terasa sangat tegang.

Lampu meja belajar memancarkan cahaya kekuningan, menembus tumpukan kertas dokumen, salinan nota keuangan, dan berkas analisis yang berantakan di atas meja kayu.

Dimas menyandarkan punggungnya di kursi kerja dengan wajah yang pucat pasi dan mata merah karena kurang tidur.

Surat penonaktifan sementara dari Kepala Dinas Perdagangan baru saja diterimanya sore tadi. Sebuah skandal penyalahgunaan dana hibah UMKM melejit di internal kantor, dan nama Dimas mendadak ditunjuk sebagai penanggung jawab utama karena stempel dan tanda tangannya tertera di lembar disposisi pencairan dana.

Dimas memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Pria yang selama ini dikenal sangat tegar, berwibawa, dan selalu menjadi sosok pelindung bagi Kiara itu kini tampak begitu rapuh dan lelah.

"Mas..."

Pintu ruang kerja berderit pelan. Kiara melangkah masuk membawa cangkir teh chamomile hangat. Ia meletakkannya di tepi meja, lalu mendudukkan diri di lengan kursi kerja Dimas. Tangannya yang lembut terulur, mengusap pelipis dan merapikan rambut suaminya yang sedikit berantakan.

"Maafkan Mas ya, Ra," suara Dimas terdengar parau dan amat merasa bersalah. Pria itu menunduk, memandangi tangannya sendiri. Pria yang biasanya selalu tegar dan menjadi pelindung itu kini tampak begitu rapuh.

"Mas gagal menjaga ketenangan rumah tangga kita. Mas malah bawa masalah kantor dan fitnah ini ke rumah."

Kiara memegang kedua pipi Dimas, memutar wajah suaminya agar menatap tepat ke dalam matanya. Tidak ada raut ketakutan, kecemasan, atau keraguan di wajah Kiara. Yang terpancar hanyalah ketegasan dan keberanian yang matang.

"Mas Dimas, tolong dengarkan Kiara baik-baik," kata Kiara dengan nada suara yang sangat teratur dan mantap.

"Waktu Mas melamar Kiara Tujuh tahun lalu di hadapan Ayah, Mas janji mau jalan bareng-bareng sama Kiara kan?"

Dimas mengangguk pelan.

"Nah, jalan bareng itu artinya bukan cuma pas kita jalan-jalan di taman yang indah atau pas kita tertawa bahagia," lanjut Kiara tegas.

"Jalan bareng itu artinya saat jalanan di depan kita penuh lumpur dan duri, kita gandengan tangan lebih kencang buat menerobosnya bersama."

Kiara kemudian meraih salah satu bundel berkas analisis keuangan dari atas meja, membukanya dengan gerakan yang sangat terlatih. Jiwa mantan staf legal dan analis dokumen di dalam diri Kiara terbakar sepenuhnya.

"Kiara dari tadi sore udah periksa ulang seluruh salinan berkas ini, Mas," tunjuk Kiara pada lembar ketiga laporan.

"Coba Mas perhatikan baik-baik di kolom stempel verifikasi ini. Ada ketidaksesuaian tanggal yang sangat fatal antara nota pencairan dari bank dan stempel penerimaan surat di sekretariat. Tanggal empat belas Juli jam empat sore, Mas Dimas kan lagi mendampingi tim kementerian di luar kota—bukti tiket dan foto dokumentasinya lengkap!"

Dimas mengerutkan keningnya, mulai mencermati angka-angka dan tanggal yang ditunjuk istrinya.

"Dan lihat garis tarikan huruf 'D' di tanda tangan ini," tambah Kiara dengan binar mata yang tajam.

"Ini jelas-jelas hasil peniruan kaku pakai kertas karbon. Siapa pun oknum yang mencoba menjatuhkan Mas Dimas, dia bikin kesalahan sepele karena terburu-buru."

Kiara menatap Dimas dengan senyuman penuh percaya diri.

"Besok pagi, Kiara bakal ikut mendampingi Mas ke Kantor Inspektorat dan Lembaga Bantuan Hukum. Kita bongkar kebohongan ini sampai tuntas. Nggak akan Kiara biarkan satu orang pun mengotori nama baik suami Kiara!"

Dimas menatap istrinya dengan pendar rasa kagum yang amat sangat. Pria itu menyadari, wanita pemalu dan lembut yang dulu harus ia lindungi dengan ekstra hati-hati, kini telah bertransformasi menjadi benteng pertahanan yang paling kokoh, tajam, dan tak tergoyahkan untuk melindunginya.

Dimas menarik Kiara ke dalam dekapannya, memeluk pinggang istrinya erat-erat seraya menghirup aroma wangi jilbab Kiara dengan rasa syukur yang membuncah di dada.

...***...

Dua hari kemudian, di studio musik tua yang dindingnya dilapisi busa peredam suara yang mulai mengelupas.

Aroma cat kayu, kopi hitam, dan asap obat nyamuk bakar membumbung di udara. Di dalam ruangan berukuran enam kali enam meter itu, geng band lengkap berkumpul: Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang.

Namun sore itu, mereka tidak sedang memegang gitar atau stik drum. Bagas sedang sibuk mengayunkan sapu lidi membersihkan debu di sudut ruangan, Dave dan Galang sibuk menggeser speaker-speaker besar ke pinggir dinding, sementara Daffa sedang mencoret-coret lembar kertas HVS di atas meja.

Pintu studio berderit terbuka. Arga melangkah masuk membawa kantong plastik besar berisi gorengan hangat dan satu dus air mineral.

"Woi! Manajer Harmony datang!" seru Bagas heboh, langsung menyambar pisang goreng hangat dari kantong plastik.

"Lama amat lu, Ga! Dari mana aja?"

"Habis antar Menik kontrol rutin ke bidan," jawab Arga santai seraya melepas jaketnya dan duduk di atas kotak pengeras suara.

 "Gimana situasi studio?" tanya Arga

Daffa menyodorkan lembaran kertas HVS yang tadi ia coret-coret ke hadapan Arga.

"Ini rancangan awal pembagian tugas kita buat usaha Event Organizer dan persewaan sound system, Ga."

Arga mengernyitkan dahi, membaca tulisan tangan Daffa yang agak berantakan:

...Arga Bagaskara: General Manager & Operasional Lapangan....

...Daffa: Sie Acara & Pemasaran / Penanggung Jawab Artist....

...Bagas & Dave: Sie Teknis Sound System, Panggung, & Kelistrikan....

...Galang & Bintang: Sie Logistik, Transportasi, & Dekorasi....

"Kalian yakin mau beneran jalanin usaha ini?" tanya Arga menatap sahabat-sahabatnya satu per satu.

"Modal kita kan pas-pasan banget. Cuma ngandelin alat-alat bekas studio ini sama tabungan patungan kita."

Bagas yang sedang mengunyah pisang goreng langsung menepuk bahu Arga keras-keras.

"Ya yakinlah, Bro! Lu kira kita ngumpul dari jaman SMA cuma buat jaming lagu pop melankolis doang? Kita ini udah bapak-bapak, butuh pemasukan tambahan!"

"Iya, Ga," timpal Dave dengan kepolosannya yang khas.

"Daripada alat sound system di studio ini cuma nongkrong dimakan rayap, mending kita sewain buat acara sunatan, nikahan, atau bazar kecamatan. Duitnya kan lumayan bisa buat beli susu anak."

Daffa menatap Arga dengan pandangan seorang sahabat sejati yang sangat memahami Arga. Daffa melangkah mendekat, mendudukkan diri di samping Arga.

"Ga," kata Daffa pelan namun serius.

"Waktu kamu bilang....kamu kena PHK berapa hari lalu, kita semua cemas kamu bakal balik jadi Arga yang dulu... Arga yang suka mengurung diri di kamar, melamun, dan ngerasa jadi cowok paling gagal di dunia."

Arga terdiam, menundukkan kepalanya pelan.

"Tapi kita tahu kamu udah berubah banyak sejak nikah sama Menik," lanjut Daffa mantap

"Kamu itu punya kelebihan yang gak dimiliki anak-anak lain: kamu teliti, rapi, dan terstruktur kalau ngatur barang. Jiwa logistik kamu pas banget jadi manajer usaha ini. Kami berlima siap di bawah komando kamu."

"Betul!" seru Galang dan Bintang serempak dari pojok ruangan.

"Siap grak, Pak Manajer!"

Dada Arga terasa hangat. Rasa haru dan semangat membara bercampur menjadi satu. Dikelilingi sahabat-sahabat konyol yang selalu ada di saat suka dan duka ini membuat Arga menyadari betapa kaya dirinya. Ia tidak lagi sendirian menghadapi kerasnya gelombang hidup.

Arga mengambil pena di atas meja, lalu menandatangani lembar kertas rancangan tersebut dengan senyuman mantap.

"Oke! Kalau gitu, besok pagi kita mulai sebar brosur Harmony Event Organizer ke kantor-kantor kelurahan!"

"SIAP! GASSKEN!" seru mereka berenam kompak, dilanjutkan dengan tawa lepas yang menggema di dalam studio tua itu.

Sore harinya, matahari mulai meredup di ufuk barat, membiaskan warna jingga keunguan di langit kota.

Di dua tempat yang berbeda, dua kehidupan sedang melangkah dengan keteguhan baru.

Di rumahnya, Arga sedang duduk di teras samping bersama Menik. Arga sibuk memangku laptop bekasnya, menyusun proposal penawaran jasa EO untuk bazar UMKM Kecamatan Damai. Di sampingnya, Menik dengan sabar membantu memberikan ide-ide desain tata letak dekorasi tenda yang anggun dan berestetika.

Arga sesekali melirik istrinya, lalu mengelus perut Menik yang sesekali bergerak pelan karena tendangan kecil calon bayi mereka. Tidak ada lagi rasa bersalah dari masa lalu yang menyiksa. Arga telah menemukan kedamaian sejatinya bersama Menik—seorang istri yang tidak hanya menuntut, melainkan siap berdiri menopang di saat dirinya rapuh.

Sementara itu, di depan Gedung Inspektorat Daerah, Kiara berjalan berdampingan dengan Dimas keluar dari pintu utama. Kiara memegang folder tebal berisi berkas bukti pembelaan hukum dengan langkah kaki yang mantap dan kepala tegak.

Dimas menatap istrinya, lalu merangkul bahu Kiara dengan erat di bawah cahaya sore. Pria itu tahu, badai di kantornya mungkin belum usai sepenuhnya, namun selama ada Kiara yang berdiri di sampingnya, tidak ada ketakutan yang tak sanggup ia kalahkan.

Dua garis takdir yang dulu pernah saling menyakiti dalam ketidakpastian, kini telah sama-sama bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Kiara dan Arga telah bahagia di atas jalan pilihannya masing-masing—belajar bahwa dalam sebuah pernikahan sejati, bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang bagaimana dua insan saling menopang dan ditopang di setiap gelombang kehidupan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!