Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Setitik air mata bening perlahan lolos melewati pipi Shanum yang berbalut riasan tipis. Namun, itu bukanlah air mata bahagia seperti yang dikira oleh orang-orang di sekelilingnya. Dada Shanum terasa sesak oleh kegundahan yang teramat sangat. Hati kecilnya didera rasa bersalah, ia merasa berdosa karena seolah telah mempermainkan sakralnya sebuah pernikahan dan membohongi Neneknya sendiri yang begitu tulus mendoakannya.
Namun, di tengah gejolak rasa bersalah itu, Shanum kembali memanggil ingatan tentang malam paling kritis dalam hidupnya. Ia mengingat bagaimana Dokter Daniel datang sebagai malaikat penolong, mengurus segalanya tanpa pamrih. Andaikan malam itu Nenek Siti tidak segera dioperasi, mungkin saat ini Shanum sudah hidup sebatang kara di dunia ini. Menyadari hutang budi yang tak ternilai itu, Shanum menyeka air matanya dan memaksakan sebuah senyuman manis di bibirnya. Ia bertekad harus terlihat bahagia, meskipun di balik semua itu penuh dengan kepalsuan.
Di seberang meja, Bu Siti, Nyonya Tania, dan Tuan Lee tak kuasa membendung air mata haru mereka. Mereka menangis pasrah sekaligus bersyukur, berharap dua sejoli yang sama-sama memiliki masa lalu kelam dan terluka ini bisa mendapatkan kembali kebahagiaan yang sejati. Di mata mereka, kehadiran Baby Ziva yang sejak tadi anteng adalah bukti nyata bahwa pernikahan baru ini telah dianugerahi warna yang indah sejak hari pertama.
Prosesi pun berlanjut ke acara sungkeman. Daniel dan Shanum menggeser duduk mereka, berlutut dengan takzim di hadapan Bu Siti yang duduk di kursi utama. Shanum langsung memeluk lutut Neneknya, air matanya kembali tumpah, kali ini bercampur rasa haru yang membuncah.
Bu Siti mengusap lembut kepala Shanum, lalu beralih menggenggam tangan kekar Daniel yang berada di samping cucunya.
"Nak Dokter... tolong jaga Shanum baik-baik ya. Jangan pernah Nak Dokter menyakitinya," ucap Bu Siti dengan suara bergetar menahan tangis haru. "Saya titip Shanum padamu. Tugas saya sebagai Neneknya, yang selalu menjaga dan melindunginya sedari kecil, kini sudah selesai. Dan sekarang, Shanum telah menjadi tanggung jawabnya Nak Daniel sepenuhnya. Bukan begitu?" Bu Siti tersenyum luhur menatap cucu menantunya.
Daniel menatap mata tua yang sarat akan harapan itu dengan pandangan yang teramat mantap. "Saya janji, Bu. Saya akan menjaga Shanum dengan seluruh genap jiwa dan raga saya, dan saya pastikan Shanum akan hidup bahagia bersamaku."
Deg!
Mendengar rangkaian kata-kata manis yang meluncur begitu tegas dari bibirnya Daniel, Shanum seolah tercekat di tempatnya bersimpuh. Jantungnya berdegup tidak karuan. Kenapa kalimat itu terdengar begitu sakral, begitu nyata, dan sama sekali tidak terdengar seperti sebuah sandiwara belaka? Shanum meremas ujung baju pengantinnya, mencoba menepis debaran aneh di dadanya.
Bu Siti kemudian beralih menatap Shanum, memberikan sedikit wejangan pernikahan. "Nduk, sekarang kamu sudah jadi istri orang. Jadilah istri yang patuh, taat, dan berbakti terhadap suamimu dan keluarganya. Jangan pernah membantah perkataan baik suami." Shanum hanya bisa mengangguk patuh di sela isak tangisnya yang kian menderu.
Setelah selesai bertumpu pada Bu Siti, Daniel dan Shanum bergeser untuk melakukan sungkeman kepada Nyonya Tania dan Tuan Lee. Ketika kepala Daniel bersandar di pangkuannya, Nyonya Tania langsung memeluk bahu putranya erat-erat. Ia masih seolah belum bisa mempercayai keajaiban hari ini, dimana putranya yang sempat menutup diri rapat-rapat kini sudah resmi menikah lagi.
"Daniel, semoga kamu bahagia dengan pernikahan keduamu ini, Nak. Mama selalu mendoakan kebahagiaanmu setiap detik," bisik Nyonya Tania dengan suara serak karena air mata. Ia beralih menatap Shanum yang menunduk takzim. "Jaga istrimu baik-baik ya, Daniel. Jangan pernah kamu menyakiti hati wanita selembut dia."
Daniel mengangguk patuh. "Iya, Mah. Daniel mengerti."
Tuan Lee ikut menepuk pundaknya Daniel dengan bangga, memberikan beberapa petuah bijak tentang bagaimana menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan sabar dalam membimbing istri. Namun, di penghujung wejangan, Nyonya Tania mengulas senyum penuh arti yang seketika mengubah atmosfer haru menjadi penuh kejutan.
"Dan yang terakhir... kalau bisa, secepatnya kalian berdua memberikan kami cucu laki-laki ya! Biar Ziva punya teman bermain di rumah ini," ujar Nyonya Tania dengan binar matanya yang penuh harap.
Glek!
Mendengar permintaan yang teramat mendadak itu, Shanum dan Daniel seketika membeku. Kedua pasang mata mereka berbelalak sempurna secara bersamaan. Tanpa sengaja, mereka saling menatap dalam diam, lalu menelan ludah dengan susah payah karena merasa tenggorokan mereka mendadak sekering gurun pasir.
Daniel langsung mengalihkan pandangannya ke arah lantai, dadanya bergemuruh hebat diserang rasa sesak yang kembali mengusik harga dirinya.
'Memberikan cucu laki-laki secepatnya? Bagaimana mungkin Shanum bisa mengandung benih dariku... sementara aku adalah pria cacat yang tidak sempurna? Pernikahan ini hanyalah sandiwara di atas selembar kertas, dan tidak ada satu pun rasa cinta yang tumbuh di antara kami,' ucap Daniel getir di dalam hatinya, meratapi status pernikahan kontrak mereka yang kini resmi dimulai dengan rahasia yang kian berlapis.
*
*
Malam semakin larut ketika riuh rendah acara pernikahan sederhana di kediaman mewah itu akhirnya usai. Setelah para sanak saudara terdekat dan beberapa kolega penting dari pihak rumah sakit berpamitan pulang, Shanum bergegas masuk ke dalam kamar pengantin. Langkah pertamanya adalah menuju meja rias untuk membersihkan sisa-sisa kosmetik yang melekat di wajahnya.
Sembari mengusap sisa riasan, hati Shanum dipenuhi rasa hangat sekaligus tak percaya. Sepanjang hari tadi, ia merasa begitu diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga besar Tuan Lee dan Nyonya Tania. Tidak ada satu pun pandangan merendahkan dari mereka, semua orang menyambutnya dengan tulus dan penuh suka cita. Kini, status sosialnya telah berubah total. Di atas selembar kertas sah, ia telah resmi menjadi seorang istri dari seorang dokter spesialis terpandang.
Namun, di sela-sela kebahagiaannya itu, Shanum dirundung rasa rindu yang teramat sangat kepada Baby Ziva. Karena hari ini ia harus terus berada di area ruang tamu untuk menyambut para tamu, ia sangat jarang bisa mendekap putri kecilnya itu. Shanum sangat kagum pada Ziva, sepanjang hari bayi mungil itu sama sekali tidak rewel dan sangat anteng berada di dalam asuhan Bik Sumi. Padahal, Shanum sudah menyiapkan stok ASI yang dipompa ke dalam beberapa botol steril, jumlah yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Ziva sampai besok pagi.
Malam ini, Shanum membulatkan tekad untuk menemani Ziva tidur di kamar bayi. Ia ingin memeluk tubuh mungil itu sembari melepas rindu. Baginya, sekarang Ziva bukan lagi sekadar bayi yang membutuhkan Susu, melainkan putri sambung yang sudah ia sayangi layaknya darah dagingnya sendiri.
Sementara itu, di kamar pribadinya yang terletak beberapa meter dari kamar pengantin, Daniel baru saja selesai membersihkan diri. Ia telah mengganti pakaian formalnya dengan piyama satin yang nyaman. Daniel merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu memejamkan matanya yang terasa berat.
Namun, baru saja kelopak matanya tertutup, sebuah bayangan tiba-tiba melintas dengan sangat jelas di dalam benaknya. Sosok wanita cantik bergaun pengantin putih yang sedang tersenyum manis ke arahnya muncul begitu saja. Wanita itu adalah Shanum, istrinya yang sekarang.
Daniel tercekat. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar dan refleks mengusap dadanya yang mendadak berdegup kencang karena debaran yang asing.
'Kenapa aku malah memikirkannya? Jangan gila kau, Daniel! Ingat, Shanum hanyalah istrimu di atas kertas kontrak. Jangan pernah kau memelihara perasaan apa pun padanya. Jika kau jatuh cinta, itu sama saja kau akan menyakiti hatinya yang tulus dan juga menyakiti dirimu sendiri,' batin Daniel memperingatkan dirinya dengan tegas.
Ceklek!
Di kamar pengantin, Shanum baru saja selesai mencuci wajahnya ketika pintu kamar diketuk dan terbuka. Sosok Nyonya Tania muncul dengan senyum merekah, kedua tangannya membawa sebuah baki kayu berisi dua gelas susu putih hangat untuk putra dan menantunya. Namun, begitu matanya mengitari ruangan, ia tidak menemukan keberadaan Daniel di sana.
"Loh, Num... Daniel mana? Kenapa kamarnya sepi begini?" tanya Nyonya Tania bingung.
Shanum yang masih merasa canggung refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Pak... Pak Daniel saat ini sedang berada di kamarnya sendiri, Nyonya."
Mendengar penuturan serta panggilan yang keluar dari mulut menantunya, Nyonya Tania langsung meletakkan baki susu di atas meja kayu, lalu menghela napas panjang sembari berkacak pinggang.
"Shanum... jangan pernah kau panggil aku dengan sebutan Nyonya lagi, ya. Mulai hari ini, panggil aku Mamah. Emmm... panggil Mommy juga boleh, biar terdengar kekinian," koreksi Nyonya Tania dengan nada gemas.
Wajah Shanum seketika merona merah karena malu. "B...baik, Mah."
"Nah, bagus! Satu lagi, Shanum... jangan kau panggil suamimu sendiri dengan sebutan 'Pak'. Kesannya kolot sekali seperti sedang bicara dengan direktur rumah sakit. Kau panggil dia Mas Daniel, oke?" Nyonya Tania tersenyum puas, namun sedetik kemudian wajahnya kembali merengut kesal. "Tapi, kenapa anak nakal itu malah ada di kamarnya sendiri? Harusnya kan dia tidur di kamar pengantin ini bersamamu malam ini! Ck... anak itu benar-benar menyebalkan dan tidak romantis sama sekali!"
Tanpa menunggu jawaban dari Shanum, Nyonya Tania bergegas membalikkan badan dan melangkah cepat keluar menuju kamar pribadi putranya. Shanum sempat ingin mencegah ibu mertuanya itu karena merasa tidak enak, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Bagaimanapun, rahasia pernikahan kontrak ini hanya ia dan Daniel yang tahu.
Di kamarnya, Daniel yang sedang duduk bersandar pada dashboard tempat tidur dikejutkan oleh pintu kamarnya yang tiba-tiba diterobos masuk tanpa ketukan terlebih dahulu. Ibunya berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang siap mengomel.
"Daniel! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau malah enak-enakan mau tidur di sini? Bukannya di kamar pengantin yang sudah Mamah siapkan dengan susah payah untuk kalian berdua?" semprot Nyonya Tania beruntun.
Daniel memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu menghela napasnya pendek. "Mah... untuk apa Daniel tidur satu kamar dengan Shanum? Yang ada, Daniel hanya akan membuat dia kecewa dengan kondisi Daniel yang sekarang."
Nyonya Tania tidak mau menerima alasan tersebut. Ia melangkah maju, lalu menarik paksa lengan putranya agar bangkit dari atas kasur.
"Kalau tidak dicoba dulu, mana tahu kau itu masih sakit seperti kemarin atau sudah kembali normal, Daniel! Ayo cepat pindah sana, manfaatkan malam pengantin kalian dengan baik. Mamah janji malam ini tidak akan ada yang mengganggu. Dan soal Ziva, kau tidak usah khawatir. Ada Mamah dan Bik Sumi yang menjaga di kamar bayi. Kebetulan tadi Mamah sudah meminta Shanum untuk menyetok ASI yang cukup untuk Ziva!"
Daniel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat sang ibu yang begitu menggebu-gebu dan bersemangat dalam urusan ini. Ia tahu, berdebat dengan ibunya sendiri malam ini hanya akan memperpanjang masalah dan bisa memicu kecurigaan baru.
'Baiklah, hanya untuk malam ini saja aku mengalah dan tidur satu kamar dengan Shanum. Besok-besok, aku harus mencari alasan logis agar bisa kembali tidur di kamarku sendiri,' batin Daniel pasrah.
Dengan langkah pelan dan berat, Daniel berjalan menyusuri koridor rumah menuju kamar pengantin.
Sementara itu di dalam kamar, Shanum yang mengira Nyonya Tania telah kembali, sedang berdiri di depan meja rias sembari menyisir rambut panjangnya yang indah hitam berkilau dan bergelombang menawan. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di daun pintu.
Jantung Shanum seketika berdesir hebat, diserang rasa gugup yang luar biasa. "Apakah itu Pak Daniel... maksudku, Mas Daniel?" pikirnya panik.
Dengan langkah yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, Shanum melangkah mendekat. Jemarinya yang sedikit gemetar meraih gagang pintu, lalu memutarnya perlahan.
Ceklek!
Pintu terbuka. Daniel yang semula hendak langsung melangkah masuk, seketika menghentikan gerakannya di ambang pintu. Pria itu mematung dengan mata yang melebar, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Di depannya, Shanum berdiri tanpa mengenakan hijabnya. Untuk pertama kalinya, Daniel melihat rambut panjang milik Shanum yang tergerai indah, membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa riasan. Sinar lampu kamar yang temaram memantulkan kilau alami dari rambut hitam yang harum itu. Di mata Daniel, Shanum malam ini terlihat seperti sosok wanita yang benar-benar berbeda, seorang wanita yang teramat anggun, menawan, dan memancarkan pesona murni yang seketika membuat dinding pertahanan di hati sang dokter es kembali goyah dalam satu kedipan mata.
Bersambung...
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali