NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sejak malam teluh di kirimkan oleh Hana, Nek Nilam pun merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Setiap matahari mulai condong ke barat menjelang Maghrib, tubuh sang nenek mendadak terasa panas membakar dan lemas tak berdaya, seakan ada kekuatan gaib yang mencengkeram organ dalamnya. Nek Nilam sadar jika Penderitaan yang di rasakan , tak lama setelah ia menegur keras Hana di depan rumah untuk tidak lagi berkunjung ke rumahnya.

Walau berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, setiap kali senja tiba, ketidaknyamanan di wajah Nek Nilam tak bisa ditutupi dari pandangan Nina. Nek Nilam lebih banyak berbaring di kasur sambil mengeluh kesakitan. Anehnya, saat waktu menjelang Subuh tiba, rasa panas itu mereda dan tubuhnya kembali terasa normal.

Di sisi lain, Roni semakin putus asa. Kehilangan pekerjaan membuatnya tertekan, dan meski berusaha menyembunyikan kegelisahannya dari Nina, beban berat di pundaknya sangat terasa.

*

Hari ini, Yani berpamitan kepada ibunya, Rukmini, dengan alasan ingin jalan-jalan sejenak mengajak anaknya bermain. Tanpa menaruh curiga, Rukmini mengangguk setuju. "Hati-hati. Jangan sampai terlalu sore," pesan Rukmini penuh kasih sayang.

Begitu berpamitan, Yani dan suaminya, Arif, langsung mengendarai mobil menuju desa tempat kediaman Roni. Della, putri kecil mereka, duduk manis di kursi belakang. Meskipun mereka belum pernah kesana sebelumnya, ia sudah bertanya pada orang-orang nama desa yang akan di tuju.

Kunjungan ini adalah niat tulus Yani untuk memberikan dukungan moril kepada Roni dan Nina.

Menyusuri jalanan desa yang diapit hamparan sawah dan juga hutan, mobil Arif akhirnya berhenti di depan pekarangan rumah Roni. Rumah kayu sederhana yang dulu kini telah berubah menjadi bangunan indah nan kokoh hasil keringat Roni sebelum dipecat.

Yani melangkah turun dan mengetuk pintu rumah kayu itu. Saat daun pintu terbuka, sosok Nina berdiri di sana.

"Yani! Ini kamu?" seru Nina terkejut sekaligus bahagia. Walaupun hanya sekali mereka bertemu saat acara pernikahan Ruhi, Nina tau jika adik iparnya itu baik.

"Mbak Nina! Apa kabar? Kami kangen banget," jawab Yani tulus. Kedua wanita itu berpelukan erat dengan mata berkaca-kaca, meluapkan kerinduan.

"Ayo masuk, Yan," ajak Nina penuh kehangatan. Roni yang keluar dari kamar pun tersenyum lega melihat kedatangan adik bungsunya. Berbeda dengan Ruhi, Yani memiliki hati yang bersih dan menerima Nina dengan tulus.

Di ruang tamu, suasana mencair hangat. Namun, saat berbincang santai, Roni tak sanggup menahan beban di dadanya. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas panjang.

"Ada masalah apa, Bang? Gimana dengan kerjaan bang Roni?" tanya Arif.

"Aku dipecat dari pabrik kayu. Ada yang memfitnah dan menjebakku hingga jadikan kambing hitam. Sekarang aku pengangguran dan kesulitan mencukupi kebutuhan keluarga."

Nina menggenggam tangan suaminya lembut. "Sampai sekarang Mas Roni masih terus berusaha mencari kerja, tapi belum ada rezeki yang tersangkut."

Tanpa mereka ketahui, setiap kali Roni melangkah melamar pekerjaan di tempat lain, Hana selalu membuntutinya dari jauh dan menggunakan pengaruh serta uangnya untuk menjegal Roni agar selalu ditolak.

Yani terenyuh mendengar penderitaan kakaknya. "Kenapa tidak memberi tahu kami, Bang? Kita ini keluarga. Jangan menanggung semuanya sendirian."

Arif menimpali mantap, "Benar, Bang. Nanti coba kubantu tanyakan ke beberapa kenalanku yang punya usaha."

Setelah dirasa cukup dan khawatir Rukmini curiga, Yani dan Arif berpamitan. Meski Della sempat merengek enggan berpisah dari Gendis, mereka akhirnya berpelukan hangat sebelum mobil meluncur pergi.

Tanpa ada yang menyadari, dari balik semak di seberang jalan, Hana mengamati seluruh interaksi itu. Senyum licik terukir di bibirnya yang telah ditanami susuk emas. Dengan cepat, Hana merogoh ponselnya dan menghubungi Rukmini di kota.

"Bu Rukmini, aku baru saja melihat sesuatu yang membuat Ibu terkejut," ujar Hana dramatis. "Yani dan suaminya baru saja berkunjung ke rumah Roni dan Nina. Mereka terlihat sangat akrab dan berada di sana cukup lama."

"Apa?! Yani ke sana tanpa sepengetahuanku?!" bentak suara Rukmini di telepon, membakar emosi yang siap meledak.

"Betul, Bu. Sepertinya Yani sangat menyayangi Nina dan membelakangi Ibu," racun Hana makin menyulut api.

"Terima kasih informasinya, Hana. Biar saya yang urus Yani!" tegas Rukmini sebelum memutus sambungan. Hana tersenyum puas, satu benih keretakan baru berhasil ia semai dalam keluarga itu. Dan ia berpikir jik Nina adalah penyebab semua ini .

Sore harinya, saat Yani, Arif, dan Della baru saja menginjakkan kaki di halaman rumah kota, mereka terperanjat hebat. Koper-koper pakaian mereka telah dilempar keluar menimpa rumput pekarangan!

Rukmini berdiri di ambang pintu dengan dada naik turun menahan amarah yang meluap. "Kamu tidak boleh menginap di rumah ini lagi! Keluar kalian!" hardik Rukmini penuh kebencian.

Yani kaget dengan apa yang di lakukan sang ibu.

"Aku tau jika kalian telah pergi menemui wanita miskin itu." Ucapnya lantang

Yani mencoba mendekati sang ibu. "Bu... aku cuma mau menjenguk Bang Roni..."

"Diam! Kamu lebih membela wanita pembawa sial itu daripada ibumu sendiri!" bentak Rukmini, lalu membanting pintu depan dengan amat keras. BRAKKK!

Di bawah tatapan bingung Della yang mulai menangis.

Tangis Yani pecah seketika juga. Air matanya mengalir deras membasahi pipi saat langkah kakinya terseret menuju mobil. Rasa sakit di dalam dadanya, tak pernah ia sangka niat tulusnya menjenguk Roni dan Nina justru dibalas dengan pengusiran kejam oleh ibu kandungnya sendiri.

Arif memeluk erat bahu istrinya sembari menggendong Della yang menangis sampai terisak ketakutan. "Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi. Kita pulang ke rumah kita saja ya," bisik Arif menenangkan dengan suara lembut namun tegas. Ia membukakan pintu mobil, membimbing Yani dan anak mereka masuk, lalu menata koper-koper yang berserakan di pekarangan sebelum akhirnya melajukan kendaraan itu membelah jalanan kota.

Meski hati Yani hancur diusir oleh ibu kandungnya sendiri, ia sadar inilah harga yang harus dibayar demi berdiri di atas kebenaran dan menjaga tali silaturahmi dengan Roni dan Nina.

Sementara itu, di dalam rumah yang terasa makin pengap oleh hawa kebencian, Rukmini berdiri mematung di balik pintu. Dadanya kempas-kempis menahan amarah yang membakar hingga ke ubun-ubun.

Ruhi yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu, melangkah mendekat dengan senyum culas mengembang di bibirnya. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menyiramkan minyak tanah ke atas kobaran api amarah ibunya.

"Tuh kan, Bu! Apa Ruhi bilang!" cerocos Ruhi dengan nada memanas-manasi. "Memang Nina itu racun! Dia itu benar-benar wanita pembawa sial yang bikin keluarga kita berantakan! Lihat sendiri kan, sekarang Yani pun sudah dicuci otaknya sampai berani membohongi Ibu demi membela wanita miskin itu!"

Rukmini mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Kalimat Ruhi meresap sempurna ke dalam pikirannya, membenarkan seluruh prasangka buruk yang ada.

"Wanita itu, dia benar-benar tidak tahu diri," geram Rukmini dengan suara gemetar menahan murka. Matanya menyalang penuh dendam. "Dia sudah membuat Roni membangkang, dan sekarang itu ia lakukan pada Yani juga? Tidak akan Ibu biarkan!"

"Benar, Bu! Kalau didiamkan, lama-lama Nina bisa membuat keluarga kita hancur!" timpal Ruhi makin bersemangat, mengompori ibunya tanpa rasa iba sedikit pun.

Dada Rukmini serasa mau meledak. Informasi dari Hana tadi sore dan hasutan Ruhi berpadu menjadi racun yang amat pekat. Di dalam benak wanita tua itu, sosok Nina bukan lagi sekadar menantu yang tidak direstui, melainkan musuh bebuyutan yang harus dihancurkan sampai lumat. Kebencian Rukmini pada Nina kini telah mengakar begitu dalam, menutup rapat pintu maaf dan nuraninya.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!