Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PENYANYI DAN RATU BAYANGAN.
Perjalanan menuju Lythandar memakan waktu lebih lama dari yang mereka duga. Jalan setapak berubah menjadi jalan batu yang terjal, lalu menghilang sama sekali di antara bebatuan pegunungan. Di ketinggian itu, udara tipis dan dingin menusuk hingga ke tulang, angin menderu seperti binatang buas, dan di kejauhan puncak-puncak gunung tertutup salju abadi berkilauan seperti gigi raksasa.
Zhoo dan Kael berjalan beriringan, kadang berhari-hari tanpa melihat rumah atau manusia. Di setiap perhentian, Zhoo mencatat apa yang ia lihat: bagaimana sungai mengalir dari utara ke selatan melintasi tiga kerajaan tanpa memedulikan perbatasan, bagaimana burung-burung bermigrasi dari Solares ke Norvath tanpa meminta izin pada siapa pun, bagaimana pohon tumbuh melalui retakan batu, perlahan namun tak terhentikan.
“Lihatlah alam,” kata Zhoo suatu malam saat mereka duduk di dekat api unggun kecil di ceruk batu yang melindungi mereka dari angin kencang. “Semuanya bergerak dan tumbuh bersama. Hanya manusia yang memisahkan diri dan berkata ‘ini milikku’ seolah dunia ini dibuat untuknya.”
Kael mengangguk, matanya menatap api yang berpijar. “Itulah kelemahan terbesar manusia—kita berpikir kita terpisah dari dunia, padahal kita hanyalah bagian kecil darinya. Raja-raja membangun tembok agar merasa aman, padahal tembok itu justru membutakan mereka dari kenyataan.”
Saat mereka akhirnya turun dari pegunungan dan mendekati perbatasan Airis, pemandangan berubah drastis. Salju digantikan oleh padang rumput hijau yang membentang luas, sungai jernih berkelok-kelok seperti pita perak, dan di kejauhan ladang gandum bergoyang ditiup angin. Namun keindahan itu ternoda oleh ketakutan: setiap desa yang mereka lewati tampak sepi, pintu-pintu rumah tertutup rapat, dan di tiang-tiang kayu di pinggir jalan terpasang pengumuman dengan tinta merah—peringatan bahwa siapa pun yang memberikan makan atau perlindungan pada pengembara akan dihukum berat.
Di tepi sungai yang menandai batas antara Ironhold dan Airis, mereka berhenti untuk mengisi air dan beristirahat. Di atas batu besar yang menjorok ke air, duduk seorang gadis sendirian. Rambut hitam legamnya terurai di punggung seperti jubah malam, gaunnya berwarna hijau daun yang sudah pudar dan diperbaiki berkali-kali, dan kakinya menjuntai hampir menyentuh permukaan air. Ia sedang bernyanyi—suaranya lembut namun penuh kekuatan, mengalir bersama suara air sungai, menceritakan tentang tanah yang terluka, tentang ibu yang menangis di pintu kosong, tentang harapan yang tetap hidup meski semua cahaya padam.
Zhoo berdiri terpaku, tidak berani melangkah, takut suaranya akan pecah jika ia mengganggu nyanyian itu. Di dalam lagu itu terdapat kebenaran yang begitu murni hingga terasa menyakitkan untuk didengar.
Gadis itu—Elara—berhenti bernyanyi dan menoleh perlahan. Matanya berwarna hijau seperti daun di musim semi, namun di dalamnya tersimpan kelelahan dan kewaspadaan yang biasanya hanya dimiliki orang tua. Ia menatap Zhoo langsung ke mata, seolah membaca setiap rahasia yang tersembunyi di dalam jiwanya.
“Kau berdiri di sana cukup lama untuk mendengar seluruh lagu,” katanya, suaranya jernih namun penuh ketajaman. “Biasanya orang-orang berjalan lebih cepat saat mendengar lagu yang dilarang.”
“Orang-orang biasanya takut pada apa yang tidak mereka pahami,” jawab Zhoo pelan, melangkah maju perlahan agar tidak mengagetkannya. “Tapi lagu itu—aku merasa seolah-olah sudah mendengarnya di dalam hati sejak lama, hanya saja aku tidak memiliki kata-kata untuk menyanyikannya.”
Elara melompat turun dari batu, gerakannya ringan seperti daun yang jatuh. Ia melangkah mendekat, menatap Kael sebentar lalu kembali ke Zhoo. “Kau jujur, itu berbahaya di dunia ini. Orang yang terlalu jujur biasanya berakhir dengan kepala dipajang di gerbang kota. Dan kau…” ia menunjuk Kael dengan dagunya, “jubahmu mungkin sudah dicuci, tapi noda tinta di jari telunjuk dan jari manismu tidak bisa hilang begitu saja. Kau penasihat kerajaan. Dan karena kau berjalan bersamanya, berarti kau tidak lagi melayani raja yang seharusnya.”
Kael tersenyum tipis. “Kau tajam, Nona Elara.”
Elara mengangkat alis. “Kau tahu namaku?”
“Lagu-lagumu dikenal di setiap kerajaan, meski dilarang dinyanyikan,” jawab Kael. “Kau putri Lord Valerius, bangsawan Airis yang dieksekusi karena menentang perang. Sejak itu kau berkelana dari desa ke desa, menyanyi dan menyebarkan berita yang tidak diinginkan didengar raja-raja.”
Elara tertawa pahit, memutar tubuhnya sedikit seolah memperlihatkan betapa kecil dan tidak berartinya dirinya di mata dunia. “Aku bukan siapa-siapa sekarang. Hanya suara yang berusaha tetap hidup. Dan suara itu semakin tipis setiap harinya.”
“Lalu mengapa kau terus bernyanyi?” tanya Zhoo. “Jika itu membuatmu dalam bahaya besar.”
Elara menatap sungai yang mengalir deras. “Karena ketika orang berhenti mendengar kebenaran, mereka mulai percaya pada kebohongan apa pun yang dikatakan penguasa. Selama ada satu orang yang mendengar dan mengingat, benua ini belum sepenuhnya hilang.”
Mereka duduk bersama di tepi sungai, berbicara hingga matahari terbenam. Elara menceritakan bagaimana rakyat Airis hidup dalam ketakutan—prajurit datang setiap bulan, mengambil gandum dan ternak, memeriksa setiap rumah, menanyai setiap orang. Kael menceritakan rencana perang raja-raja, dan Zhoo berbicara tentang mimpinya—bukan menaklukkan kerajaan, tapi menyatukan orang-orang di balik tembok perbatasan, membuat mereka menyadari bahwa mereka lebih mirip daripada yang berbeda.
Saat bintang-bintang mulai muncul, Elara berdiri dan merapikan gaunnya. “Aku seharusnya pergi sendiri. Semakin banyak orang bersamaku, semakin mudah dilihat. Tapi…” ia menatap Zhoo, lalu Kael, “kalian berbicara seolah-olah dunia masih bisa diselamatkan. Sudah lama aku tidak mendengar orang berbicara seperti itu. Biarkan aku ikut. Suaraku bisa membuka pintu yang tidak bisa dibuka dengan pedang atau pena. Aku bisa mendengarkan apa yang orang bisikkan saat mereka berpikir tidak ada yang mendengar. Dan jika perlu… aku bisa menyanyikan lagu yang akan membuat seluruh kerajaan bangkit.”
Kael ragu sejenak. “Ini jalan yang berbahaya, Elara. Tidak ada jaminan kita akan selamat.”
“Kematian sudah mengikutiku sejak ayahku meninggal,” jawab Elara tenang. “Aku tidak takut padanya. Aku hanya takut mati tanpa pernah mencoba mengubah apa pun.”
Maka bertambahlah jumlah mereka menjadi tiga. Di siang hari, mereka berjalan bersama menyusuri jalanan tanah dan hutan belantara. Elara mengajari Zhoo cara berbicara dengan orang asing—cara menatap mata tanpa mengintimidasi, cara mendengarkan tanpa menyela, cara membuat orang merasa bahwa pendapat mereka berharga.
“Kau memiliki kekuatan untuk membuat orang mempercayaimu, Zhoo,” katanya suatu hari saat mereka berjalan melewati ladang gandum yang luas. “Tapi kau sering menahannya, seolah kau takut jika orang-orang mengikutimu, kau akan membawa mereka ke tempat yang salah.”
“Karena aku tidak tahu ke mana kita sedang pergi,” jawab Zhoo jujur. “Bagaimana aku bisa memimpin orang jika aku sendiri belum pernah ke sana?”
Elara berhenti melangkah, angin menerbangkan rambut hitamnya ke wajah. “Pemimpin bukanlah orang yang tahu persis ke mana ia pergi. Ia adalah orang yang berani melangkah lebih dulu, lalu membawa orang lain bersamanya sambil mencari jalan bersama-sama. Kau tidak perlu memiliki semua jawaban. Kau hanya perlu membiarkan orang lain melihat bahwa kau berjalan ke arah yang benar.”
Sementara itu, jauh di utara, di dalam istana batu Ironhold yang dingin dan gelap, Raja Vereon duduk di atas singgasana besi hitamnya. Ruangan itu luas dan tinggi, dindingnya terbuat dari batu hitam yang selalu lembap, dan cahaya obor memantul di zirah-zirah ksatria yang berdiri diam seperti patung di sepanjang dinding. Raja Vereon adalah raja terkuat di benua Est—tinggi raksasa, bahu lebar, wajahnya penuh bekas luka pertempuran yang setiap satunya menceritakan kisah pembunuhan dan penaklukan. Matanya berwarna abu-abu dan dingin seperti baja yang baru ditempa, dan di dalamnya tidak terlihat belas kasihan, hanya keinginan yang tak pernah puas untuk memiliki dan menguasai.
Di sebelah kanannya berdiri Rhaen, penasihat kepercayaannya. Pria itu tampak sederhana—jubah abu-abu tanpa hiasan, wajah tenang dan halus, mata yang selalu menunduk seolah penuh kerendahan hati. Namun siapa pun yang mengenal Rhaen tahu bahwa ia adalah kekuatan sesungguhnya di balik singgasana. Ia adalah tangan kanan yang menulis perintah, telinga yang mendengar rahasia, dan mulut yang membisikkan racun ke telinga raja setiap kali malam tiba.
“Laporan dari pengawas perbatasan Airis,” kata Rhaen dengan suara lembut namun tajam, seolah kata-katanya memiliki ujung yang runcing. “Tiga pengembara bergerak dari desa ke desa. Seorang pemuda dari desa terpencil, penasihat yang melarikan diri dari Airis, dan putri pemberontak Elara. Orang-orang mulai berkumpul saat mereka lewat. Beberapa menyebut mereka ‘Tiga Cahaya’—pembawa harapan di zaman kegelapan.”
Raja Vereon tertawa, suara yang dalam dan bergema di seluruh ruangan batu, membuat prajurit-prajurit di barisan bawah menunduk ketakutan. “Pembawa harapan? Di zaman ini? Harapan adalah penyakit yang harus dimusnahkan sebelum menyebar ke seluruh rakyat. Kirimkan utusan dengan tanda keamanan. Undang mereka ke istanaku dengan sopan. Katakan aku ingin bertemu dengan orang-orang yang berani bermimpi. Jika mereka bijak, mereka akan berlutut dan melayani aku. Aku bisa menggunakan pemuda yang disukai rakyat—ia bisa menjadi wajah kekuasaanku, sementara aku tetap memegang kendali. Jika mereka menolak… biarkan kepala mereka dipajang di gerbang utama. Biarkan semua orang melihat apa yang terjadi pada harapan.”
Rhaen menunduk dalam, menyembunyikan kilatan di matanya. “Sesuai perintahmu, Baginda.” Namun saat ia berjalan keluar dari ruang singgasana, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum seseorang yang melihat permainan baru saja dimulai, dan ia memegang semua kartu.