Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Derung halus mesin sedan hitam itu terdengar begitu mulus saat Pak Hendra tiba danmembukakan pintu penumpang dengan sikap yang amat elegan. Dari tepi jalan raya yang mulai remang, Vino berdiri membatu di samping motor bebek tuanya yang sudah kusam. Pandangannya terkunci rapat menyaksikan Evita melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu, disusul oleh Keyra kecil yang membawa kotak hadiah mahal di pelukannya.
Pemandangan itu terlihat begitu sempurna. Begitu serasi. Sebuah potret keluarga dari kalangan kelas atas yang mapan, aman, dan berkelas. Dunia yang sama sekali asing bagi seorang pemuda yang baru kemarin sore mengembalikan jas sewaan.
Saat sedan hitam itu meluncur pergi membelah keramaian jalanan Surabaya, Vino masih terpaku di tempatnya. Tangan kanan pemuda itu meremas setang motornya kuat-kuat. Ia menunduk, lalu beralih menatap celemek kedai yang terlipat samar di dalam tas kainnya.
Vino menarik engkol motor tuanya. Cklek. Cklek. Motor itu terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya mesinnya menderu kasar, menyemburkan uap asap tipis yang sangat kontras dengan kemewahan mobil Pak Hendra yang baru saja berlalu.
Perasaan rendah hati menyergap dadanya tanpa ampun. Seumur hidupnya, Vino tidak pernah merasa sekecil ini. Ia tidak pernah membenci kemiskinannya, tidak pernah malu menjadi anak seorang penjual kue jajanan pasar, dan selalu bangga bekerja keras sebagai koki kedai. Namun malam ini, saat berhadapan dengan realita di depan butik Evita, tembok rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping.
Pria mapan yang bisa menafkahi... bukan anak sekolah yang cuma bisa bawa wadah bekal.
Ucapan terselubung Pak Hendra terus bergema di kepalanya bagaikan cambuk. Vino menyadari betapa naifnya ia selama ini. Ia berpikir bahwa perhatian tulus, senyuman hangat, dan sepiring masakan hangat sudah cukup untuk melunturkan tembok dingin Evita. Namun malam ini, realita menamparnya tepat di muka, wanita seperti Evita butuh kepastian, butuh perlindungan finansial, dan butuh pria dewasa yang berdiri kukuh di atas kakinya sendiri, bukan remaja delapan belas tahun berpenghasilan pas-pasan yang masa depannya masih abu-abu.
Angin malam yang dingin mengiringi perjalanan Vino pulang ke rumah sederhananya di sudut gang sempit. Saat melangkah masuk, aroma harum adonan kue dan uap gula merah langsung menyambut indra penciumannya. Di dapur yang diterangi lampu kuning redup, Bu Lidya sedang sibuk mengaduk adonan di atas wajan besar.
"Sudah pulang, Vin?" sapa Bu Lidya hangat tanpa berpaling dari wajannya. "Nasi sama tumis kangkung di meja makan masih hangat. Makan dulu sana."
Vino meletakkan tasnya di atas kursi kayu. Ia tidak langsung menuju meja makan, melainkan melangkah mendekati ibunya. Pemuda yang biasanya selalu ramah dan penuh canda itu mendadak hening. Vino mendudukkan dirinya di atas dingklik kayu kecil di sebelah wajan gorengan.
Bu Lidya menyadari perubahan atmosfer itu. Ia menghentikan adukannya, lalu menoleh menatap putra tunggalnya. Matanya yang matang oleh pengalaman hidup langsung menangkap kelelahan yang berbeda di raut wajah Vino, bukan lelah fisik, melainkan lelah mental yang teramat sangat.
"Ada apa, Vin?" tanya Bu Lidya lembut, mematikan kompor gasnya sejenak. "Pekerjaan di kedai ada masalah? Atau... ada hal lain yang bikin anak Ibu yang paling ceria ini jadi mendung begini?"
Vino menatap lantai semen dapur yang dingin. Jemarinya meremas lututnya sendiri. "Bu..." suara Vino terdengar parau, amat pelan. "Vino ini... kelihatannya kecil banget ya?"
Bu Lidya tertegun. Ia mengelap tangannya dengan kain celemek lalu berlutut kecil agar sejajar dengan posisi duduk anaknya. "Kenapa ngomong gitu, Vin? Siapa yang bilang kamu kecil?"
Vino menghela napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. "Tadi... Vino ketemu sama orang kaya, Bu. Pria dewasa, punya mobil mewah, punya usaha sukses. Dan Vino cuma berdiri di sana... bawa celemek kedai sama motor tua yang hampir mogok."
Vino menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang amat jarang diperlihatkan pemuda itu sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu.
"Vino merasa rendah banget, Bu. Merasa nggak punya harga diri," aku Vino dengan suara bergetar. "Vino suka sama seseorang yang posisinya tinggi banget di atas Vino. Tapi jangankan buat ngelindungi dia, buat disejajarkan sama pria mapan di sampingnya aja Vino nggak pantas. Perhatian Vino selama ini... cuma kelihatan kayak kelakuan bocah yang nggak tahu diri."
Bu Lidya mendengarkan setiap patah kata itu dengan ketenangan seorang ibu. Tidak ada nada menghakimi di raut wajahnya. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya, mengelus kepala Vino dengan penuh kehangatan.
"Vin, dengarkan Ibu," tutur Bu Lidya pelan namun tegas. "Nilai seorang laki-laki itu nggak pernah diukur dari apa yang dia punya di umur delapan belas tahun. Kamu baru lulus sekolah, Nak. Kalau kamu membandingkan diri kamu yang baru mulai berjalan sama pria dewasa yang sudah berlari belasan tahun, ya jelas kamu bakal merasa kalah."
Bu Lidya menatap mata anaknya lurus-lurus. "Kamu tidak kerdil karena kamu tidak punya mobil mewah, Vin. Tapi kamu bakal beneran kerdil kalau kamu cuma meratapi kemiskinan kamu tanpa mau berjuang mengubahnya."
Kata-kata ibunya menghantam batin Vino bagaikan percikan api di tengah kegelapan.
"Ibu membesarkan kamu bukan buat jadi penakut yang minder begitu lihat orang lain lebih kaya," lanjut Bu Lidya. "Kalau kamu merasa belum pantas buat wanita yang kamu sukai, jangan menyerah dan merasa rendah. Tapi bangkit. Buktikan kalau kamu bisa jadi pria dewasa yang sanggup berdiri di atas kaki sendiri. Kerja lebih keras, belajar lebih banyak. Ubah hidupmu."
Malam semakin larut. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran kecil, Vino berbaring menatap langit-langit beratap kayu. Nasihat ibunya bergema tanpa henti di dadanya, beradu dengan ingatan akan senyuman dingin Evita dan sindiran halus Pak Hendra.
Rasa sakit, malu, dan minder yang menyergapnya sejak sore tadi perlahan-lahan mengendap. Rasa itu tidak lagi melemahkannya, melainkan bertransformasi menjadi sebuah kejelasan yang amat dingin dan tajam.
Vino mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas dada.
Ia menyadari satu hal dengan sangat pasti, sifat kekanak-kanakannya harus berhenti di sini. Bermain-main dengan perasaan, mengandalkan keramahan polos, dan bersikap seolah dunia cukup dihadapi dengan senyuman hangat tidak akan pernah mengubah nasibnya. Jika ia ingin diakui sebagai seorang pria sejati jika ia ingin sanggup melindungi orang-orang yang dicintainya dan menghapus garis batas yang ditarik Evita, ia harus mengubah hidupnya secara total.
Ia harus bekerja seribu kali lebih keras dari siapa pun. Ia harus membangun masa depannya dari bawah, titik demi titik, tanpa memedulikan seberapa berdarah-darah prosesnya nanti.
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Arvino sang remaja polos berniat mengubur masa mudanya yang santai demi melangkah lahir menjadi seorang pria dewasa yang siap menaklukkan kerasnya dunia.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍