NovelToon NovelToon
Godaan Paman Mantanku

Godaan Paman Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.

​Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."

​Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.

​Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.

​Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan Di Balik Jas

​Aura bergerak sigap di dalam pantry. Jemari lentiknya memilah biji kopi pilihan jenis arabica dengan tingkat keasaman seimbang, memasukkannya ke dalam mesin grinder, lalu mengekstraknya hingga menghasilkan cairan hitam pekat dengan lapisan crema emas yang sempurna. Aroma pahit nan kaya menyebar menenangkan di dalam cangkir keramik putih bersih.

​Setelah memastikan kebersihan tatakan cangkirnya, Aura menghembuskan napas panjang. Ia menggendong kembali ransel hitam besarnya di punggung, lalu menenteng nampan kecil berisi cangkir kopi panas tersebut.

​Jarum jam di dinding pantry menunjukkan pukul 07:50 pagi. Ruangan eksekutif sang CEO berada di lantai yang sama, berada di ujung koridor khusus yang terpisah oleh pintu kaca berlapisan es. Langkah kaki Aura terdengar mantap menyusuri koridor yang masih sangat sepi dari aktivitas karyawan.

​Tepat pukul 07:55 pagi, Aura sudah berdiri tegak di depan pintu kayu jati berukuran raksasa milik Arsenio Pratama. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Sembari menyeimbangkan nampan di tangan kirinya dan merapatkan ransel berat di bahunya, Aura mengepalkan tangan kanan.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu kayu itu bergema halus di koridor yang sunyi.

​"Masuk," sahut suara berat dan dalam dari dalam ruangan yang sangat khas milik Arsen.

​Aura mendorong pintu kayu tersebut secara perlahan. Di dalam sana, Arsen sudah berdiri rapi di balik meja kerjanya. Kemeja putihnya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewahnya, sementara sorot mata pekatnya langsung terkunci pada sosok gadis yang melangkah masuk.

​Namun, pandangan Arsen tak bertahan lama pada wajah Aura. Mata tajam sang CEO perlahan turun, menatap heran pada sebuah ransel kain hitam berukuran cukup besar yang digendong anggun oleh analis data barunya itu.

​"Selamat pagi, Pak Arsen," sapa Aura dengan nada profesional seraya melangkah mendekati meja kerja. "Kopi hitam tanpa gula pesanan Bapak sudah siap."

​Arsen tidak langsung menyentuh cangkir kopi yang diletakkan Aura dengan sangat hati-hati di atas mejanya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memiringkan kepala sedikit dengan alis terangkat.

​"Nona Aura," tegur Arsen dengan nada bernuansa jenaka yang terselubung. "Kamu mau bekerja di perusahaan finansial atau mau pergi camping ke gunung dengan tas sebesar itu?"

​Wajah Aura mendadak merona merah mendengar sindiran halus dari pria di hadapannya. Ia terkekeh pelan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit canggung dengan penampilannya sendiri pagi ini.

​"A-A-Anu, Pak..." Aura segera menurunkan ransel besar itu dari bahunya, lalu memutar reletingnya dengan perlahan. Dari dalam sana, ia mengeluarkan jas hitam mewah yang telah ia lipat rapi, lengkap dengan payung hitam milik sang CEO.

​Dengan kedua tangan, Aura menyodorkan jas dan payung tersebut ke arah meja kerja Arsen. "Ini, Pak, jas Bapak yang kemarin malam. Saya malu kalau harus dibawa ditenteng... takutnya nanti orang-orang di kantor bicara yang tidak-tidak kalau lihat saya bawa jas mahal milik CEO."

​Arsen menatap jas mewahnya yang kini tersodorkan di atas meja, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada wajah polos Aura yang tampak lega sekaligus serba salah. Sudut bibirnya terangkat tipis, menyembunyikan rasa gemas melihat kepolosan staf barunya itu.

​"Kenapa langsung kamu bawa hari ini?" tanya Arsen dengan nada datar namun matanya berkilat jahat nan jenaka. "Bawa balik saja. Cucikan untuk saya."

​Aura membatu di tempatnya, matanya membelalak kaget. "E-Ehh? Mencuci... jas ini, Pak?"

​Aura membayangkan harga jas buatan penjahit ternama dunia itu yang mungkin setara dengan gajinya bertahun-tahun. Bagaimana kalau jas mahal ini rusak di tangannya atau menyusut saat dicuci?

​"Kenapa? Kamu tidak bisa mencuci?" Arsen menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Aura dari bawah ke atas dengan tatapan menantang. "Jas itu terkena rintik hujan kemarin saat melindungimu. Sudah sepantasnya kamu membalasnya dengan mengembalikannya dalam keadaan bersih dan harum."

​Aura menelan ludah pelan, merasa terjebak oleh alasan logis—tetapi lebih mirip akal-akalan—dari atasan tertingginya itu.

​"B-baik, Pak Arsen," jawab Aura pasrah, akhirnya merengkuh kembali jas tersebut dan memasukkannya ke dalam ranselnya dengan hati-hati. "Saya akan bawa ke dry clean terbaik nanti sore."

​"Tidak perlu dry clean," potong Arsen cepat, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Saya mau dicuci manual pakai tanganmu sendiri. Mengerti, Nona Aura?"

1
Ryuu
Keren
Ryuu
semangat😍
Ade Chubi
dua pilihan itu ,dua dua nya menguntungkan tuan CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!