Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Malam makin merambat pekat. Di dalam kamar utama yang luas dan berpendingin udara itu, keheningan merayap di antara dua insan yang telah berbagi atap selama belasan tahun.
Husna duduk di depan meja riasnya. Jemari lentiknya pelan-pelan melepas jarum pentul yang menahan hijabnya, merapikan rambut hitam bergelombang yang tersembunyi rapi di balik kain selama seharian. Dari pantulan cermin berbingkai ukiran emas di hadapannya, mata Husna menangkap sosok Bian yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Husna memperhatikan penampilan suaminya dengan saksama lewat cermin. Di usianya yang sudah berkepala empat, Bian memang terlihat jauh lebih muda dari pria sebayanya. Potongan rambutnya rapi dengan gaya modern, kaos santai berbahan halus yang membalut tubuhnya menempel pas menunjukkan hasil dari rutinitas pusat kebugaran yang intensif belakangan ini.
Namun, bukan perubahan gaya pakaian itu yang paling menusuk indra Husna. Melainkan aroma yang kini menguar di udara.
Pria itu menyemprotkan parfum baru ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma kayu manis manis berpadu dengan aroma citrus segar sebuah wangi yang terasa begitu modern, kasual dan muda. Selama puluhan tahun pernikahan mereka, Bian selalu setia pada satu jenis parfum: aroma woody maskulin berkarakter berat yang dulu dipilihkan sendiri oleh Husna saat mereka baru menata hidup dari nol.
Husna menarik napas halus melalui hidung. Wangi lama itu adalah jejak kenangan, simbol komitmen, dan penanda identitas seorang kepala keluarga yang matang. Kini, wangi yang berganti itu bukan sekadar perubahan selera wewangian biasa. Bagi Husna, itu adalah sebuah isyarat tersirat tanda bahaya bahwa cinta dan loyalitas Bian mungkin memang sudah terganti oleh sosok baru yang menyukai aroma manis tersebut.
Husna memilih untuk tetap cuek. Wajahnya tetap tenang, mengusapkan krim malam ke pipinya dengan gerakan memutar yang ritmis, tanpa menunjukkan riak kecurigaan sedikit pun.
Bian yang melihat ketenangan istrinya dari belakang tersenyum tipis. Pria itu melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang yang berjarak tak jauh dari meja rias Husna.
"Na..." panggil Bian dengan suara beratnya yang ramah.
"Iya, Mas?" sahut Husna lembut, menatap pantulan suaminya di cermin.
"Kamu sudah dengar kabar dari manajer operasional proyek ritel kita yang baru?" tanya Bian. Matanya seketika berbinar terang.
Husna bisa melihat perbedaan drastis itu. Saat membicarakan urusan keluarga, Bian kerap kali terlihat lelah dan fokusnya terpecah pada ponsel. Namun, begitu topik berganti menjadi obrolan bisnis, antusiasme pria itu mendadak bangkit.
Bian selalu bersemangat memamerkan ide-ide bisnis kepada istrinya karena jauh di dalam lubuk hatinya, Bian selalu haus akan pengakuan dari Husna.
"Soal proyek swalayan itu, Mas?" tanya Husna santai, memutar tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Bian.
"Iya!" Bian memajukan duduknya, tangannya bergerak antusias saat menjelaskan. "Kinerjanya luar biasa, Na. Enam bulan belakangan ini, keuntungan toko swalayan yang baru kita rintis itu melompat jauh dari target awal. Margin profit-nya stabil, cash flow-nya sehat sekali. Bahkan dari keuntungan bersih bulan ini saja, kita sudah bisa mengamankan modal untuk membuka cabang kedua di area komersial dekat pusat kota."
Bian tersenyum bangga, menaikkan sedikit dadanya. Pria itu merasa baru saja membuktikan kelasnya sebagai seorang eksekutif berdarah dingin yang mampu mencetak mesin uang baru.
Namun, di balik senyum tenang Husna, ada iba yang samar untuk suaminya. Bian tampaknya lupa. Pria itu lupa siapa yang mengajarinya cara membaca laporan keuangan (balance sheet), siapa yang dulu membedah skema pasokan barang (supply chain), dan siapa yang membimbingnya memperhitungkan risiko marjin sampai ia mahir. Bian lupa bahwa di hadapannya duduk sang guru sejati wanita yang mendirikan jaringan distribusi bahan bangunan raksasa sebelum nama Bian diperhitungkan di dunia profesional.
Husna tahu betul kenapa swalayan itu bisa melejit dalam enam bulan. Bukan sekadar karena lokasi atau kepiawaian Bian, melainkan karena Husna sendiri yang secara diam-diam mengarahkan beberapa pemasok (supplier) langganannya untuk memberikan potongan harga khusus pada bisnis baru suaminya itu. Husna melakukannya waktu itu semata-mata demi mendukung suaminya. Dan kini, bisnis yang dibesarkan dari sisa-sisa tangan dingin Husna itu malah hendak dijadikan tempat bermain oleh Bian dan wanita simpanannya.
Husna sudah bisa menebak arah alurnya. Swalayan yang untungnya besar dan sedang disiapkan cabang keduanya itu... pasti dirancang Bian sebagai tempat berteduh dan sumber nafkah untuk Salma nantinya.
"Wah, hebat kalau begitu, Mas. Perkembangannya cepat sekali," puji Husna halus, memberi ruang bagi ego suaminya untuk melambung semakin tinggi.
"Ini semua karena eksekusi di lapangan yang tepat, Na," ujar Bian jumawa, menikmati pujian itu. Pria itu kemudian menatap Husna lebih dalam, menetralkan guratan euforia di wajahnya menjadi raut yang lebih serius.
"Makanya, besok pagi Mas mau ajak kamu keluar sebentar," lanjut Bian.
Husna mengangkat satu alisnya tipis. "Ke mana, Mas?"
"Kita lihat progress pembangunan lokasi swalayan cabang kedua itu. Sekalian..." Bian menggantung kalimatnya sejenak. Pria itu berdehem, merapikan posisi duduknya yang mendadak canggung. "Ada beberapa hal penting yang ingin Mas sampaikan ke kamu secara pribadi, Na. Soal masa depan... dan beberapa rencana Mas ke depan."
Ruang kamar itu kembali hening sejenak. Husna bisa melihat riak gelisah yang bersembunyi di balik mata suaminya. Bian sedang mengumpulkan keberanian. Esok hari, di lokasi bisnis baru itu, Bian kemungkinan besar akan membuka kartu permainannya meminta izin untuk meresmi kan hubungannya dengan Salma.
Husna menyunggingkan senyum anggun yang sangat manis. Senyuman seorang ratu yang tahu persis bahwa semua jebakan yang ia rancang sudah terpasang rapi di sekeliling langkah suaminya.
"Baik, Mas. Besok pagi kita berangkat bareng," jawab Husna suara tenang tanpa cela. "Aku juga penasaran... hal penting apa yang ingin Mas sampaikan ke aku."
Bian bernapas lega, mengira istrinya sama sekali tidak mencium iktikad di balik rencananya. Pria itu mengangguk cepat, lalu berbaring di ranjang, membelakangi Husna untuk kembali meraih ponselnya yang bergetar pelan.
Di balik punggung suaminya yang sibuk mengetik pesan rahasia dengan binar mata kasmaran, Husna kembali berdiri di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya, lalu membelai kain hijab yang tergeletak di meja.
"Bicara saja besok, Mas Bian", batin Husna dingin. "Katarkan semua keinginanmu. Tapi ingat satu hal... kamu yang memulai permainan ini, tapi aku yang akan menentukan bagaimana cara kamu kalah."
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?
anda resmi jd gembel dg semabako menggunung ,,
Berguna itu Salam buat makan kalian sehari2
bawa pulang ke paviliun trus sruh si Salma ,, masak🤭🤭🤭🤣🤣