Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 dunia baru sonia
Adam benar-benar tidak bisa fokus bekerja. Jarinya yang gemetar berkali-kali menekan papan ketik komputer tanpa arah. Setiap kali jemarinya menyentuh tombol, ingatan itu kembali menghantamnya: bentakan kasar dan dua tamparan keras yang mendarat tepat di pipi Sonia.
Tanpa disadari, pelupuk matanya basah. Air mata meluncur pelan membasahi pipi, membawa kembali potongan memori janji masa kecil yang terlupakan.
“Pokoknya Mas akan selalu melindungimu, Dek,” bisik Adam kecil kala itu.
“Beneran, Kak?” sahut Sonia kecil dengan mata berbinar.
Adam ingat betapa dia menggendong Sonia mengelilingi gang kompleks setelah adik kecilnya itu dimarahi habis-habisan oleh Ridwan dan Mila. Waktu itu, hanya Adam satu-satunya tempat Sonia bersandar. Hanya Adam yang peduli.
Tidak... Dia sudah keterlaluan! Dia harus diberi pelajaran, Adam mencoba meracuni pikirannya sendiri, membenarkan perbuatannya. Namun, rasa bersalah di dalam dada justru semakin menyengat.
Betapa benarnya pepatah rasa sakit: ditampar oleh orang yang biasa menampar tak akan seberapa sakitnya dibandingkan ditampar oleh sosok yang selama ini menjadi satu-satunya pelindung.
“Mas, minumlah dulu,” suara Alya memecah lamunan. Wanita itu menyodorkan segelas air putih hangat.
Adam menengadah, matanya sayu. “Al... aku merasa sangat bersalah.”
“Bersalah untuk apa, Mas?” tanggap Alya cepat. “Sonia sudah berani melukai Ibu! Kalau aku jadi Mas, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan rela melihat ibuku berdarah, Mas.”
Kalimat Alya bekerja bagai anestesi sementara. Adam mengembuskan napas panjang, mencoba menemukan pembenaran. “Benar... Sonia sudah keterlaluan. Aku hanya berusaha membela Ibu.”
“Iya, Mas. Jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri.” Alya mengusap bahu Adam lembut.
Adam mengangguk pasrah. Padahal, jika akal sehatnya bekerja jernih, dia akan menyadari satu hal: begitu emosi membakar kepalanya, Adam justru sibuk meluapkan kemarahan pada Sonia daripada memberikan perhatian pada ibunya. Mirna dibiarkan begitu saja di sudut ruangan dengan dahi yang bercucuran darah.
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Amira sedang duduk tenang di balik meja kerjanya. Matanya tekun meneliti deretan angka dalam laporan keuangan restoran dan beberapa unit bisnis kecil yang dikelolanya. Semuanya menunjukkan grafik pertumbuhan—pelan, namun konsisten bergerak naik.
“Mamaku terus-menerus menawariku modal usaha, Mir,” cetus Rika yang duduk di seberang meja.
Amira merapikan lembaran kertas di tangannya. “Tidak usah. Dari awal kita membangun bisnis ini dengan keringat sendiri. Lebih baik mengajukan pinjaman ke bank.”
“Tepat! Aku setuju,” sahut Rika cepat. “Di mana harga diriku kalau langsung menerima uangnya? Dia harus merasakan rasa sakit dulu baru aku pertimbangkan untuk memaafkan.”
Amira menghela napas halus. “Hidupmu ini memang penuh drama, Rik. Tinggal memaafkan saja, apa susahnya? Memangnya kamu tega melihat ibu kandungmu terus-menerus dibayangi rasa bersalah?”
“Tidak semudah itu, Amira,” nada suara Rika merendah. “Dia harus tahu rasanya rindu. Dia harus tahu bagaimana rasanya kangen dan iri saat melihat orang lain punya keluarga utuh, sementara aku tidak.”
“Dan kamu pikir mamamu tidak merasakan kehampaan yang sama selama ini?”
Rika menarik napas dalam-dalam, tak mampu menyanggah.
“Kalau menurutmu ini terlalu berat, lakukan saja apa yang menurutmu terbaik. Jangan sampai membebani pikiranmu sendiri,” ucap Amira lembut.
Amira paham betul, merangkai kata-kata indah tentang keikhlasan memang jauh lebih mudah daripada melaksanakannya di dunia nyata.
“Oh iya, kembali ke rencana bisnis,” Rika dengan cepat mengalihkan pembicaraan. “Jadi kita mengambil kesempatan ekspansi ke Kawasan Industri Cikarang?”
“Jadi,” jawab Amira mantap. “Sasaranku adalah perusahaan-perusahaan besar asal Jepang.”
“Di Cikarang ada pabrik besar milik grup industri Jepang, namanya Yamaichi. Pabrik utamanya ada di Cikarang, tapi kantor pusatnya di Jakarta,” terang Rika.
Amira menaikkan sebelah alisnya. “Kamu tahu dari mana?”
“Niko, teman panti kita dulu, sekarang kerja di sana.”
“Bagus kalau begitu. Berapa total karyawan mereka?”
“Kata Niko, kantor pusatnya ada sekitar 100 karyawan. Kalau untuk area produksi di Cikarang, ada sekitar 1.000 orang. Mereka punya program pengadaan makan siang rutin untuk seluruh karyawan.”
“Baiklah, Yamaguchi Group—termasuk Yamaichi—adalah target utama kita,” Amira mengambil keputusan.
Ia kembali memfokuskan pandangan ke monitor komputer. Namun di relung hatinya, sebaris nama itu—Yamaguchi—mendadak bergetar halus. Ada rasa familiar yang aneh, seolah nama itu pernah menetap lama dalam ingatannya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sonia telah selesai merapikan penampilannya di depan cermin. Sonia memang cantik secara alami—ia memiliki aura yang agresif sekaligus memikat. Dengan tas kuliah tersampir di bahu, ia melangkah keluar kamar.
“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Mirna dari sofa. Kepalanya masih terbalut perban putih dengan plester menempel di dahi. Matanya sembap dan bengkak, bukan semata karena menahan nyeri fisik, melainkan karena kehabisan air mata meratapi rasa bersalahnya yang tak mampu melindungi anak-anaknya.
“Aku mau pergi kuliah, Bu,” jawab Sonia datar dan tenang.
“Kamu... sudah agak baikan, Nak?”
“Sudah, Bu. Tenang saja.”
“Nanti masalah mobil, Ibu akan bicarakan lagi baik-baik dengan Mas Adam—”
“Tidak usah, Bu,” potong Sonia dingin. “Aku sudah tidak menginginkannya lagi.”
Mirna menatap putrinya ragu. “Kamu... sudah memaafkan Masmu, kan?”
“Tidak tahu,” lirih Sonia.
“Maafkan Adam ya, Nak...” pinta Mirna memohon.
“Aku benar-benar tidak tahu, Bu,” suara Sonia terdengar serak di ujung.
Mirna menarik napas panjang, lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. “Ya sudah... Maafkan Ibu juga, ya. Ini ada sedikit uang untuk ongkos kamu.”
Sonia menerima uang itu tanpa suara, lalu tiba-tiba melingkarkan lengannya, memeluk ibunya erat-erat. Mirna seketika terisak, mendekap putrinya kembali. Di dalam hatinya, Mirna merasa lega; ia berpikir tamparan keras Adam mungkin telah menyadarkan Sonia dari sifat manja dan egoisnya.
Namun, di dalam dekap hangat itu, mata Sonia menatap kosong ke dinding rumah.
Maafkan aku, Bu... Hanya Ibu satu-satunya yang akan kubiarkan selamat. Yang lainnya harus membayar mahal. Mereka semua harus menderita. Ini semua salah kakak-kakakku yang tidak pernah peduli padaku...
Pelukan itu berlangsung cukup lama. Bagi Sonia, pelukan tersebut adalah garis batas—sebuah penanda hilangnya Sonia yang lama dan lahirnya Sonia yang baru. Di kepalanya, seluruh anggota keluarga Adam sudah masuk ke dalam daftar yang siap ia hancurkan satu per satu.
“Sonia berangkat dulu, Bu,” bisik Sonia melepaskan pelukan.
Ia membalikkan badan. Langkah kakinya bermula pelan, namun makin lama makin cepat dan mantap, seolah tak ada lagi keraguan dalam keputusannya.
Sonia meninggalkan halaman rumah dan langsung menaiki taksi daring yang sudah dipesannya menuju Hotel Extravagansa.
Di sebuah ruang privat yang temaram di Hotel Extravagansa, Yuni Ishikawa sudah duduk mendampingi seorang pria keturunan Jepang berpakaian jas mahal yang terpotong rapi. Pria bernetra sipit itu mendengarkan penjelasan Yuni dengan ekspresi penuh keangkuhan.
“Tuan, ini dia Sonia,” tutur Yuni penuh hormat saat pintu ruang privat terbuka.
Sonia melangkah masuk dengan dada berdebar kencang. “Selamat malam, Tuan Yamamoto,” sapanya berusaha sesopan mungkin.
Pria itu menatap Sonia dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Panggil aku Oto. Jangan gunakan nama depanku, kecuali dalam situasi formal.”
Sonia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya. Tangannya dingin dan gemetar hebat.
“Kamu masih suci?” tanya Yamamoto tanpa basa-basi, lugas dan menohok.
Sonia, terlepas dari sifat nakal dan manipulatifnya, memang tidak pernah melangkah hingga pergaulan bebas yang melampaui batas. Malam ini adalah kali pertama ia sengaja melompati garis batas itu.
Jantungnya berdegup kencang, bibirnya yang dipoles lipstik tipis sedikit bergetar. “Masih, Tuan.”
“Ini data-data lengkapnya, Tuan,” Yuni menyela cepat seraya menyerahkan sebuah map tebal berisi dokumen biodata dan latar belakang Sonia.
Yamamoto membuka map itu, membalik halamannya santai. “Nilai akademismu sangat bagus. Penampilanmu juga sesuai selera saya. Masa depanmu sebenarnya cerah... Kenapa kamu memilih mengambil jalan pintas ini?”
Sonia menatap lurus mata Yamamoto. “Saya butuh pendukung yang kuat, Tuan.”
Yamamoto mengukir senyum tipis yang sulit diartikan. “Kalau begitu, kamu harus bersedia menyerahkan segalanya padaku.”
“Sa... saya bersedia,” jawab Sonia tanpa ragu sedikit pun.
“Bagus.” Yamamoto berdiri, merapikan kancing jasnya, lalu melangkah menuju lift khusus yang mengarah langsung ke kamar suite-nya.
“Cepat ikuti dia!” bisik Yuni tegas mengisyaratkan Sonia untuk segera bergerak