NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Malam Hari dan Rahasia Kamera CCTV

Malam melingkupi perumahan Griya Indah Permai. Lampu-lampu jalan menyala remang-remang, menciptakan bayangan panjang di sepanjang trotoar. Di rumah nomor 12B, jam dinding kuno menunjukkan pukul 09.30 malam.

Lala sudah berbaring di tempat tidurnya yang empuk, meringkuk manis di balik selimut bergambar bambu. Boneka panda kesayangannya didekap erat di dada. Di samping tempat tidur, Chiko duduk di kursi kayu sambil perlahan mendongengkan kisah "Panda Terbang dan Petualangan Pisang".

"...lalu Si Panda Terbang berkata, 'Terima kasih, Pisang! Kamu sudah menyelamatkanku dari Pohon Raksasa!' Tamat," bisik Chiko dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Ia membetulkan kacamata tebalnya, memandang wajah Lala yang tampak tertidur amat lelap. Pipinya yang tembam naik-turun seiring napasnya yang teratur. Sungguh gambaran anak empat tahun yang sangat polos dan tak berdosa.

Chiko tersenyum tipis, merapikan selimut Lala hingga batas leher, lalu berjingkat keluar kamar dengan sangat hati-hati agar engsel pintu tidak berderit.

Di ruang tamu, Mila sedang berdiri di dekat jendela, berpura-pura merapikan gorden sambil mengamati jalanan di luar. Begitu melihat Chiko keluar dari kamar Lala, raut wajah dinginnya berganti seratus persen menjadi senyuman hangat seorang istri.

"Lala sudah tidur, Pah?" tanya Mila pelan.

"Sudah, Bunda. Dia tertidur di tengah-tengah dongeng," jawab Chiko sambil mengusap tengkuknya. "Saya... mau ke ruang kerja sebentar ya. Ada laporan administrasi kantor yang harus saya rampungkan malam ini."

"Tentu, Pah. Jangan tidur terlalu larut ya, nanti ketagihan kopi lagi," balas Mila manis. "Saya juga mau menyetrika baju-baju di kamar belakang."

Kedua orang dewasa itu saling melempar senyum penuh kasih sayang—sebuah mahakarya akting tingkat dunia—sebelum masing-masing menghilang ke dalam ruangan pilihannya.

Namun, begitu pintu ruang kerja Chiko terkunci dari dalam, atmosfer di ruangan kecil itu berubah drastis.

Chiko melepas kacamata tebalnya. Sorot matanya yang lugu berganti menjadi tatapan tajam dan dingin sang penguasa Leonhart Enterprises. Ia menyalakan laptopnya, memunculkan antarmuka perintah terenkripsi tingkat tinggi Panda-Shield v2.1 yang tak pernah ia sadari sebenarnya diperbaiki oleh anak adopsinya tiga hari lalu.

Melalui earpiece nirkabel mikro di telinganya, suara Ethan, sekretaris utamanya, terdengar tergesa-gesa.

"Presdir Leonhart, dua orang dari faksi direksi pembangkang yang tadi siang mendatangi rumah Anda... telah ditangkap polisi di ujung jalan."

Chiko menyipitkan mata. "Ditangkap? Atas tuduhan apa?"

"Kepolisian menerima laporan anonim berprioritas tinggi mengenai peretas senjata api ilegal dari sinyal terenkripsi yang berlokasi persis di perumahan Anda. Polisi mendapati mereka membawa senjata api tanpa izin."

Chiko mengetukkan jarinya di atas meja. Laporan anonim? Siapa yang mengirimkannya? Apakah ada pihak ketiga yang melindungiku, atau hanya kebetulan?

"Bagus kalau begitu," gumam Chiko dingin. "Pastikan mereka mendekam di penjara dan tidak bisa memberikan informasi apa pun kepada direksi. Perketat pengawasan di sekitar rumah ini, tapi jangan sampai terlihat oleh istri saya. Dia wanita yang mudah cemas."

"Siap, Presdir."

Sementara itu, di kamar belakang yang remang-remang, Mila sedang berdiri di depan papan setrikaan. Namun, di tangannya bukanlah setrika, melainkan sebuah ponsel pintar militer yang tahan lacak.

Di layar terenkripsi ponselnya, tangan kanan Black Crimson mengirimkan pesan singkat:

[Viper, dua mata-mata yang mengintai rumah Anda tadi siang sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Ada sinyal EMP misterius yang meretas sistem navigasi kendaraan mereka dan melacak senjata mereka ke sistem polisi.]

Mila menatap layar ponselnya dengan alis terangkat tipis.

Sinyal EMP? Siapa yang melakukannya? Apakah itu pasukan rahasia dari faksi mafia lain yang mencoba membantuku, atau... sinyal dari pangkalan militer terdekat? batin Mila kejam.

Ia membalas pesan itu dengan cepat: [Cari tahu siapa pemilik sinyal EMP itu. Jika dia kawan, biarkan. Jika dia musuh yang mencoba mencampuri urusanku di rumah ini... habisi.]

[Siap, Viper.]

Mila mematikan ponselnya, lalu menghela napas. Ia memandang ke arah ruang kerja Chiko. Kasihan Papah, dia pasti tidak tahu kalau rumah ini dikelilingi oleh bahaya dunia bawah tanah. Aku harus memastikan suamiku yang penakut itu tetap aman di balik kacamata tebalnya.

Di saat kedua orang tuanya sibuk beroperasi dalam kegelapan malam, di kamar anak...

Mata Lala yang bundar mendadak terbuka lebar!

Sama sekali tidak ada jejak kantuk di wajahnya. Dengan gerakan sangat lentur dan tanpa suara, Lala duduk bersila di atas tempat tidur. Ia meraih jam tangan Hello Panda-nya dan menekan tombol pemancar data.

Di dinding kamar, hologram mikro berwarna hijau memancarkan rekaman CCTV rahasia yang terpasang di seluruh sudut rumah—yang dipasang sendiri oleh Lala menggunakan lensa kamera mainan rusak.

Lala mengunyah biskuit panda yang ia sembunyikan di balik bantalnya sambil menonton layar hologram itu dengan serius.

"Hmm... Papa sedang menyuruh anak buahnya memenjarakan dua orang tadi siang," gumam Lala pelan seraya mengunyah krik-krik.

"Dan Bunda... wah, Bunda menyuruh anak buah mafianya melacak sinyal EMP milikku."

Lala menggeleng-gelengkan kepalanya yang berambut gelombang, menatap dua layar CCTV yang memperlihatkan Chiko dan Mila sedang sibuk dengan misi rahasia masing-masing.

"Papa dan Bunda ini lucu sekali. Mereka berdua sama-sama orang hebat, tapi sama-sama takut rahasianya terbongkar," bisik Lala dengan cengiran konyol. "Kalau mereka tahu Papa itu CEO dan Bunda itu Ketua Mafia, mereka pasti bakal kaget sampai pingsan!"

Lala lalu mengarahkan jam tangannya ke arah router rumah, menyuntikkan perintah kode baru untuk menghapus jejak sinyal EMP-nya dari radar anak buah Mila, sekaligus memperkuat dinding pertahanan laptop Chiko agar tidak bisa dilacak oleh siapa pun.

Bagi bocah genius ber-IQ 210 ini, menjaga keutuhan keluarga barunya adalah misi utama yang jauh lebih penting daripada rumus fisika mana pun di dunia.

"Nah, sekarang jejak Lala aman!" bisik Lala gembira.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekati pintu kamar Lala.

Dengan kecepatan reaksi mutlak Subjek 04, Lala menyembunyikan jam tangannya, memasukkan sisa biskuit ke dalam mulutnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menarik selimut hingga menutupi kepala—semua dilakukan dalam waktu 0,05 detik!

Klek.

Pintu kamar terbuka perlahan. Chiko dan Mila ternyata berpapasan di depan pintu kamar Lala dan memutuskan untuk mengintip anak mereka bersama-sama.

Chiko memandang ke dalam kamar dengan raut wajah penuh kasih sayang. "Lala tidur nyenyak sekali ya, Mila."

"Iya, Pah... dia anak yang sangat polos dan manis," sahut Mila lembut sambil tersenyum hangat.

Kedua orang dewasa itu tidak tahu bahwa di balik selimut bergambar bambu itu, mulut Lala sedang sibuk mengunyah biskuit cokelat sambil menahan tawa gigilnya.

‘Papa dan Bunda memanggilku polos?’ batin Lala riang di balik selimut. ‘Hehehe... biar saja! Yang penting besok pagi Papa belikan Lala biskuit panda lagi, dan Bunda buatkan sup yang enak!’

Di tengah Kota yang dipenuhi konspirasi, perang mafia, dan perebutan kekuasaan miliarder, rumah kecil nomor 12B itu berdiri dengan hangat. Sebuah rumah tempat tiga orang paling berpengaruh saling membohongi... demi saling melindungi satu sama lain.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!