Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
"Mbak Stella, benarkah dana anak-anak sakit dan seniman muda Anda pakai untuk membayar kehidupan mewah?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ballroom berhenti bernapas.
Stella Tan membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Selama hidupnya, ia terbiasa memilih kalimat yang membuat orang lain merasa kecil. Kali ini, semua kalimat di kepalanya berantakan sebelum sampai di lidah.
"Itu fitnah," katanya akhirnya.
Suaranya terlalu pelan.
Wartawan bergerak lebih dekat. Lampu kamera menyorot wajahnya, memantulkan keringat tipis di pelipis dan retakan riasan di bawah mata.
"Kalau fitnah, apakah Anda bersedia audit terbuka?"
"Kenapa sponsor menarik diri pagi ini?"
"Apa keluarga Tan tahu aliran dana yayasan?"
"Apakah ini terkait sengketa dengan Lim Mei Li?"
Nama itu membuat Stella menoleh.
Mei Li sudah berdiri dari kursinya. Ia tidak menjawab pertanyaan media, tidak memberikan pernyataan kemenangan. Amy membuka jalan, Bella menahan kamera yang terlalu dekat. Mereka berjalan keluar dengan ketenangan yang justru membuat semua orang mengejar Stella, bukan dirinya.
Stella melihat punggung perempuan itu menjauh.
"Jangan pergi!" teriaknya.
Mei Li berhenti, tetapi tidak menoleh.
Stella tertawa pendek, tajam dan pecah. "Kamu berani menghancurkanku, tapi tidak berani melihat hasilnya?"
Baru saat itu Mei Li menoleh sedikit.
"Aku sudah melihat cukup."
"Kamu puas?"
Mei Li menatapnya di antara kilatan kamera.
"Tidak. Anak-anak yang uangnya kamu ambil juga belum menerima kembali hak mereka."
Lalu ia pergi.
Kalimat itu lebih buruk daripada makian. Karena tidak ada ruang untuk membela diri.
Penyidik mendekat, meminta Stella ikut untuk klarifikasi. Tidak ada borgol, tidak ada tarikan kasar. Justru kesopanan itu membuat semua kamera lebih kejam. Stella berjalan di antara wartawan dengan kepala terangkat, tetapi setiap langkahnya goyah.
Di luar ballroom, Livia menangis sambil menyerahkan tas Stella. "Mbak, saya benar-benar tidak tahu semua ini akan..."
"Diam."
"Saya sudah telepon Tuan Felix."
Stella berhenti. "Papa bilang apa?"
Livia menunduk.
Jawaban itu sudah cukup.
***
Felix Tan tidak datang ke kantor penyidik.
Ia mengirim pengacara.
Stella duduk di ruang tunggu dengan kedua tangan dingin di pangkuan. Pengacara keluarga berbicara dengan nada hati-hati, menyuruhnya tidak menjawab apa pun tanpa izin. Semua terdengar jauh, seperti suara dari ruangan lain.
Ponselnya penuh pesan.
Beberapa teman menanyakan apakah ia baik-baik saja, tetapi dengan kalimat yang terlalu rapi, jelas hanya ingin memastikan seberapa jauh mereka harus menjauh. Brand yang bekerja sama dengannya mengirim pemberitahuan penghentian kontrak. Dua galeri menghapus namanya dari daftar undangan. Grup sosialita yang biasanya bising mendadak sunyi setiap kali ia membuka chat.
Ia menelepon Felix.
Tidak diangkat.
Ia menelepon Nyonya Besar.
Tidak diangkat.
Ia menelepon Rachel, padahal Rachel bukan ibunya dan tidak pernah menyukainya.
Panggilan tersambung.
"Tante," suara Stella bergetar. "Aku harus bagaimana?"
Di seberang, Rachel diam terlalu lama.
"Kamu harus berhenti bicara," kata Rachel akhirnya. "Setiap kalimatmu sekarang merugikan keluarga."
"Aku keluarga juga."
"Kalau begitu, jangan seret kami lebih jauh."
Panggilan terputus.
Stella menatap layar ponsel sampai matanya perih.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti sesuatu yang selama ini ia lihat terjadi pada orang lain. Di keluarga Tan, seseorang hanya disebut keluarga selama masih berguna.
Begitu menjadi beban, pintu akan ditutup.
Sama seperti pintu yang dulu ditutup untuk anak perempuan yang dibuang keluarga Tan.
Pikiran itu membuat Stella gemetar. Ia ingin membencinya, tetapi untuk sesaat, ia melihat jurang yang sama. Bedanya, Lim Mei Li jatuh ke jurang itu saat masih anak-anak dan kembali membawa pisau. Stella baru berdiri di tepinya, dan tidak ada satu pun tangan keluarga yang menariknya.
***
Berita kematian Stella muncul sebelum matahari terbenam.
Tidak ada detail yang disebarkan secara resmi. Polisi hanya menyebut ia ditemukan tidak bernyawa setelah meninggalkan proses klarifikasi dengan pengacaranya. Media menulis kalimat yang berhati-hati. Akun gosip tidak berhati-hati, tetapi kali ini sebagian besar komentar terasa takut.
Dua perempuan Tan jatuh dalam waktu berdekatan.
Jasmine mati setelah skandal paket berbahaya.
Stella mati setelah panggung yayasannya runtuh.
Nama Lim Mei Li disebut dalam bisikan yang lebih pelan, seolah terlalu keras menyebutnya bisa membuat giliran berikutnya datang.
Di Tan Residence, Nyonya Besar Tan pingsan.
Felix memukul dinding sampai buku jarinya memar. Michelle menangis tanpa suara di tangga. Edmond menutup pintu ruang kerjanya dan tidak keluar. Rachel berdiri di samping Tan Bao Shan, wajahnya lebih dingin daripada saat menerima kabar kematian Jasmine.
"Dia membunuh mereka," desis Felix.
Tan Bao Shan menatapnya dengan mata merah. "Tidak. Mereka yang memberi perempuan itu pisau."
"Pa!"
"Diam!" Napas lelaki tua itu tersengal. "Jasmine dengan kebodohannya. Stella dengan keserakahannya. Lim Mei Li hanya membuka pintu dan membiarkan dunia melihat."
Rachel menatapnya. "Kalau begitu, jangan beri dia pintu lagi."
Tan Bao Shan menoleh. "Apa maksudmu?"
"Kita berhenti bertahan. Kita serang yang paling dia sayangi."
Tidak ada yang bertanya siapa.
Karena untuk pertama kalinya, keluarga Tan menyadari masalah terbesar mereka bukan hanya uang atau reputasi. Mereka bahkan belum tahu siapa saja yang Lim Mei Li sayangi.
***
Sebelum malam turun sepenuhnya, Amy membawa daftar korban Lentera Muda ke ruang kerja Mei Li.
Ada dua puluh tujuh nama seniman muda. Ada sembilan anak yang operasinya tertunda karena dana beasiswa dan donasi kesehatan diputar terlalu lama di rekening yayasan. Ada tiga vendor kecil yang tidak dibayar karena Stella lebih dulu memindahkan uang ke perusahaan temannya.
Mei Li membaca daftar itu satu per satu.
"Berapa total kekurangannya?"
Amy menyebut angka.
Bella yang berdiri di dekat rak buku menatap layar. "Tidak besar untuk kita."
"Tapi besar untuk mereka," kata Mei Li.
Ia menandatangani instruksi transfer dari rekening pribadinya, bukan dari dana sengketa Tan. "Bayar dulu semua kekurangan biaya operasi melalui rumah sakit, langsung atas nama pasien. Untuk seniman, beli karya mereka dengan harga pasar yang wajar. Bukan sedekah. Kontrak profesional."
Amy menatapnya. "Atas nama Anda?"
"Atas nama Lentera Muda yang seharusnya."
"Nona ingin menyelamatkan yayasannya?"
"Aku ingin menyelamatkan orang yang pernah dipakai yayasan itu."
Bella terdiam.
Di luar, berita kematian Stella terus berjalan di layar televisi tanpa suara. Wajah Stella yang tersenyum di panggung pagi tadi diputar berulang, disandingkan dengan potongan dokumen dan komentar orang-orang yang tidak pernah tahu korban sebenarnya.
Mei Li mematikan layar.
"Pastikan tidak ada media yang memakai nama anak-anak itu."
"Baik," kata Amy.
"Dan perempuan muda yang bicara di ballroom tadi?"
"Namanya Nara. Kami sudah menghubunginya. Dia takut."
"Berikan pengacara. Kalau dia ingin pindah galeri, carikan tempat yang tidak tersentuh keluarga Tan."
Amy menunduk. "Saya urus malam ini."
Setelah Amy keluar, Bella tetap berdiri di tempatnya.
"Boss," katanya pelan, "Anda tidak membunuh Stella."
Mei Li tidak menoleh. "Aku tahu."
"Tapi Anda tetap memikirkan akibatnya."
Mei Li menatap jendela yang mulai gelap.
"Karena berbeda dengan keluarga Tan, aku tidak ingin meninggalkan orang tak bersalah di bawah reruntuhan."
***
Malam itu, Menteng Regency terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Hujan sudah berhenti. Jalan privat basah memantulkan lampu taman. Mei Li berjalan keluar tanpa rombongan penuh, hanya Bella yang mengikuti dari jarak jauh. Amy masih mengurus komunikasi hukum terkait Lentera Muda dan kepolisian.
Mei Li berhenti di dekat pohon trembesi tua di ujung cluster.
Ia tidak menyesal.
Stella mencuri uang, menekan seniman muda, membangun panggung dari kebohongan. Jasmine mencoba membunuhnya. Keluarga Tan telah melakukan jauh lebih buruk sebelum dua perempuan itu lahir.
Namun malam tetap malam.
Dan kematian, meski datang dari pilihan orang lain, tetap meninggalkan bau dingin di udara.
Ia menyentuh saku jasnya. Di sana ada satu kuntum melati yang sudah layu, bunga dari rangkaian sore kemarin. Entah kenapa ia membawanya keluar. Kelopaknya tidak lagi segar, tetapi aromanya masih tertinggal samar.
Dulu Lim Yun pernah berkata, bunga putih tidak harus tetap sempurna untuk tetap wangi.
Mei Li menutup jarinya di sekitar bunga itu.
Kalimat itu terasa terlalu lembut untuk malam seperti ini.
Terlalu lembut, tetapi ia ingat.
"Miss Lim."
Suara Arka datang dari belakang, tidak terlalu dekat.
Mei Li menoleh. Arka berdiri di jalur setapak, memakai kemeja gelap dan sandal rumah, seolah ia juga keluar untuk berjalan tanpa tujuan. Di tangannya tidak ada hadiah, tidak ada map, tidak ada alasan yang dibuat-buat.
Bella yang berdiri jauh menatap Mei Li, menunggu isyarat. Mei Li mengangguk kecil. Bella mundur beberapa langkah, cukup untuk memberi ruang, tidak cukup untuk lengah.
Arka berhenti di jarak aman.
"Saya dengar berita tentang Stella."
"Seluruh Jakarta mendengarnya."
"Benar."
Mereka berdiri dalam sunyi beberapa detik. Tidak ada ucapan belasungkawa palsu. Tidak ada pertanyaan apakah Mei Li bersalah. Arka tidak menatapnya seperti hakim, tidak juga seperti orang yang takut.
Itu lebih sulit dihadapi daripada tuduhan.
"Anda datang untuk bertanya apakah aku menyesal?" tanya Mei Li.
Arka menggeleng.
"Kalau begitu?"
Angin malam membawa aroma gaharu yang samar dari gelang kayu cendananya. Arka menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Mei Li merasa pria itu tidak sedang membaca strategi, melainkan membaca dirinya.
Suaranya rendah ketika ia bertanya,
"Kamu baik-baik saja?"