Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 2 _UMPAN YANG SALAH SASARAN
_BERMAIN API DENGAN CINTA_
BAB 2 _UMPAN YANG SALAH SASARAN
Dentum bas dari musik techno malam itu seolah bergetar selaras dengan detak jantung Cinta yang dipenuhi euforia. Di salah satu sofa VIP klub malam paling eksklusif di Jakarta Selatan, Cinta tertawa lepas bersama tiga orang temannya. Gelas-gelas kristal berisi sampanye mahal berdenting berkali-kali di bawah tembakan lampu neon berwarna ungu dan merah kebiruan. Malam ini adalah malam perayaan. Di dalam tas Chanel-nya, cek senilai dua miliar rupiah sudah aman tersimpan. Langkah pertamanya menuju angka sepuluh miliar telah terbuka lebar. Bagi Cinta, menaklukkan pria hanyalah soal waktu dan teknik, dan dia merasa malam ini dialah ratu di tempat ini.
Efek alkohol mulai mengambil alih kesadaran Cinta setelah gelas keempatnya tandas. Kepalanya terasa sedikit berputar, namun keberaniannya justru meningkat berkali-kali lipat. Pandangannya yang agak kabur mulai mengedar ke seluruh penjuru klub, mencari hiburan visual. Saat itulah, matanya menangkap siluet seorang pria di sudut bar yang temaram.
Pria itu duduk sendirian, memegang gelas whiskey dengan jemari yang kokoh. Potret wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan, namun struktur rahangnya yang tegas dan bahunya yang lebar langsung menarik perhatian Cinta. Pria itu mengenakan kemeja hitam premium dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya, dilapisi oleh setelan jas yang tampak sangat mahal. Di mata Cinta yang sudah terpengaruh alkohol, kombinasi ketampanan yang luar biasa, pakaian necis, dan fakta bahwa pria itu duduk sendirian di klub mewah ini hanya mengarah pada satu kesimpulan: dia adalah seorang pria penghibur kelas atas atau gigolo baru yang sedang menunggu pelanggan kaya.
"Tunggu sebentar, ya," bisik Cinta pada teman-temannya dengan senyum nakal yang tersungging di bibir.
Dengan langkah yang sedikit limbung namun diusahakan tetap anggun di atas stiletto Louboutin-nya, Cinta berjalan menghampiri meja bar tersebut. Efek alkohol menghapus seluruh kewaspadaan yang biasanya dia miliki sebagai penipu ulung. Tanpa permisi, Cinta langsung memutari kursi pria itu, dan dengan gerakan berani yang spontan, dia mendudukkan dirinya tepat di atas pangkuan pria asing tersebut.
Pria itu tidak bergerak menjauh. Tubuhnya terasa kokoh seperti dinding batu, memancarkan aroma maskulin yang mahal—perpaduan antara wangi kayu cendana, tembakau premium, dan wangi maskulin yang pekat. Cinta menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Kulitnya bersih, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata hitamnya menatap Cinta dengan tatapan yang sangat dalam, dingin, sekaligus menyimpan kilat berbahaya yang tidak disadari oleh Cinta yang sedang mabuk.
Jemari lentik Cinta yang berhias cat kuku merah bata bergerak maju, meraih ujung dasi sutra hitam yang melingkar di leher pria itu, lalu menariknya sedikit agar wajah mereka semakin merapat.
"Adik tampan... kamu baru ya di sini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," bisik Cinta tepat di depan bibir pria itu, suaranya sengaja dibuat mendayu dengan napas yang beraroma sampanye. "Bagaimana kalau malam ini kamu temani Kakak? Kakak baru saja dapat rezeki nomplok. Aku akan memberimu tip besar kalau kamu bisa membuat Kakak senang malam ini."
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menaikkan satu alisnya, sementara sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang sarat akan intrik. Pria itu sebenarnya adalah Maxim. Dia baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis tertutup di ruang privat klub tersebut dan sedang beristirahat sejenak di bar.
Maxim tentu saja langsung mengenali wanita berbaju hijau zamrud ini. Pengawalnya sudah melaporkan pertemuan istrinya, Valen, dengan seorang penipu wanita bernama Cinta beberapa jam yang lalu.
Maxim tahu persis apa misi wanita ini. Namun, dia tidak menyangka bahwa sang pemburu akan mengantarkan dirinya sendiri langsung ke dalam pelukannya dengan cara sekonyol ini.
Sebelum Maxim bersuara, Cinta sudah kehilangan kesabaran. Digerakkan oleh keberanian akibat mabuk, Cinta menarik dasi hitam itu lebih kuat, memperpendek jarak yang tersisa, dan langsung menempelkan bibirnya ke atas bibir Maxim.
Awalnya, Maxim terkejut dengan serangan mendadak itu. Tubuhnya sempat menegang selama satu detik. Namun, sedetik kemudian, seringai tipis muncul di benaknya. Jika wanita ini ingin bermain api, maka Maxim akan menyalakan apinya lebih besar. Maxim tidak melawan. Alih-alih mendorong Cinta menjauh, tangan kekarnya yang besar justru bergerak cepat mencengkeram pinggang ramping Cinta, menguncinya agar tidak bisa bergerak.
Maxim membalas ciuman Cinta. Dan tidak seperti ciuman main-main yang awalnya dimulai oleh Cinta, ciuman Maxim jauh lebih dalam, agresif, dan menuntut. Pria itu mendominasi total, menyesap bibir Cinta seolah-olah sedang mengklaim apa yang sudah menjadi hak miliknya, membuat kesadaran Cinta semakin melayang tinggi sebelum akhirnya segalanya menjadi gelap.
Keesokan paginya, sinar matahari yang menusuk celah tirai jendela kamar hotel mewah membuat kelopak mata Cinta terbuka dengan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Dia melenguh pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang berserakan.
Namun, begitu dia menyingkap selimut putih beludru yang menutupi tubuhnya, jantung Cinta seolah berhenti berdetak. Dia sama sekali tidak mengenakan busana. Dengan panik, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar suite yang luar biasa luas tersebut. Di atas lantai karpet rajut yang mahal, gaun sutra hijau zamrudnya tergeletak mengenaskan, berceceran bersama pakaian dalam dan blazer-nya.
Pada saat yang sama, telinganya menangkap suara gemericik air dari shower yang menyala di balik pintu kaca kamar mandi yang buram. Seseorang sedang mandi di sana.
Ingatan malam lalu berputar cepat di kepalanya seperti potongan film rusak. Bar, pria tampan, gigolo, pangkuan, dasi, dan... ciuman panas yang memabukkan. Sial! Cinta merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa seorang penipu profesional sepertinya bisa hilang kendali dan tidur dengan seorang pria penghibur di malam pertama kontrak besarnya berjalan? Ini benar-benar merusak reputasinya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Cinta melompat dari tempat tidur. Mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya, dia bergerak secepat kilat memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia memakai kembali pakaian dalam dan gaun hijaunya dengan tangan yang sedikit gemetar karena panik. Beruntung, tas Chanel miliknya tergeletak aman di atas meja rias, lengkap dengan cek dua miliar di dalamnya.
Cinta membuka dompetnya dengan tergesa-gesa. Dia menarik beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari sana. Totalnya ada dua juta rupiah. Dengan napas yang memburu, dia meletakkan seonggok uang tunai tersebut di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur, di bawah sebuah vas bunga kecil.
"Ini bayarannya. Kurasa ini sudah lebih dari cukup untuk ukuran gigolo baru," gumam Cinta berbisik pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya bahwa dia masih memegang kendali atas situasi ini.
Sambil menenteng sepatu stiletto Louboutin-nya di tangan agar tidak menimbulkan suara langkah kaki, Cinta mengendap-endap menuju pintu keluar kamar suite tersebut. Dia membuka pintu dengan hati-hati, lalu menyelinap keluar dan pergi begitu saja, menyusuri koridor hotel dengan terburu-buru. Cinta mengembuskan napas lega begitu berhasil masuk ke dalam lift, merasa telah berhasil meloloskan diri dari kesalahan semalam.
Dia sama sekali tidak menyadari, bahwa di dalam kamar mandi, suara shower baru saja mati. Maxim melangkah keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkan tetesan air membasahi dada bidangnya. Tatapan matanya langsung tertuju pada kasur yang sudah kosong, lalu beralih pada tumpukan uang dua juta rupiah yang ditinggalkan di atas meja nakas.
Maxim mengambil uang tersebut, menatapnya sesaat, lalu terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang akan membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. Wanita itu benar-benar mengira dia bisa pergi begitu saja setelah menyalakan obsesi di dalam diri seorang Maxim.
"Dua juta?" Maxim menggumamkan kata itu dengan nada geli, melemparkan uang itu kembali ke meja. "Mari kita lihat, seberapa mahal harga yang harus kamu bayar untuk keluar dari sangkarku nanti, Cinta."