Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - PATUHLAH BERISTIRAHAT
Lilin di sudut meja berderak pelan, dan bayangan dua sosok yang nyaris saling menempel menari-nari samar di dinding kamar. Wulan menahan napas. Ia tahu betul apa yang sedang terjadi, tahu bahwa hanya sejengkal lagi pria di hadapannya akan mendekat — dan kali ini, ia tidak berniat mengelak.
Sejak kehidupan lampau hingga kehidupan sekarang, ada satu hal yang jarang ia sadari: mata gelap Nalendra selalu berakhir pada sosoknya — bukan pada orang lain, bukan pada apa pun. Dulu ia menganggapnya kebetulan belaka. Kini, setelah mengetahui segalanya, ia memahami bahwa itu adalah pilihan yang diambil pria ini setiap hari, tanpa pernah meminta balasan, tanpa pernah menuntut apa-apa.
Sesuatu yang hendak diucapkan Nalendra nyaris lolos dari bibirnya, dan seolah menebak apa yang akan terjadi, Wulan mengatupkan matanya dengan gugup. Ia tidak mendorong pria itu menjauh, tidak berteriak, tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya sendiri yang memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan malam ini — untuk pertama kalinya dalam dua kehidupannya.
Nalendra berhenti sejenak. Dari jarak yang begitu dekat, ia bisa melihat bulu mata panjang Wulan bergetar halus, seperti sayap burung kecil yang ketakutan. Entah apa yang membuatnya urung melanjutkan gerakannya, pria itu justru mengangkat tangan, mengusap kepala Wulan dengan lembut, lalu tertawa kecil, "Baiklah, patuh dan beristirahatlah." Setelah itu ia menarik selimut menutupi gadis itu, menegakkan tubuh, dan berhenti menggoda.
"Hah?" Wulan tercengang beberapa saat lamanya sebelum menyadari apa yang baru saja terjadi. Wajahnya memerah seketika. Ia membalikkan badan, menutupi kepala dengan selimut, dan meringkuk di dalamnya seperti kepompong sutra. Amat memalukan. Apa sebenarnya yang ia harapkan barusan? Ia bahkan tidak berani membayangkannya. Walaupun begitu, hatinya tetap hangat, dan di balik rasa malunya ada kegembiraan kecil yang aneh — sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Perlahan, ia menarik sedikit tepi selimut brokat itu dan mengintip keluar — dan langsung bertemu dengan mata Nalendra yang sedang tersenyum. Pipinya semakin panas, tetapi ia tidak menutup wajahnya lagi. Ia hanya berdebar-debar, pura-pura tenang, sementara jari-jarinya mengeratkan pegangan di tepi selimut, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Malam semakin larut dan lampu di kamar semakin redup. Wulan tidak bisa melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, tetapi ia bisa menangkap dengan gamblang lengkung tipis senyum di mata yang biasanya sedingin batu — pemandangan yang sangat langka, bahkan sepanjang dua kehidupannya. Pria yang oleh semua orang dijauhi karena julukan kejam dan tak bermoral ini, kini menatapnya dengan cara yang justru paling lembut.
Hati Wulan berdegup semakin kencang, seolah ada sesuatu yang mendorongnya dari dalam untuk tidak terus bersembunyi. Ia duduk perlahan di atas pembaringan, lalu berdiri tegak, memutuskan bahwa malam ini ia tidak akan menjadi Wulan yang penakut. Untuk pertama kalinya, ia ingin berdiri setara — bukan sebagai gadis yang mengejar bayangan, tetapi sebagai orang yang memilih dengan sepenuh hati.
"Kau tidak mau beristirahat?" Nalendra masih berdiri di ujung pembaringan, menatapnya dengan tangan di belakang punggung, suaranya mengandung tawa yang sulit disembunyikan.
Wulan tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, menatapnya dari atas ke bawah, seolah tengah mempelajari sesuatu yang baru pertama kali ia lihat. Senyum tipis tanpa sengaja muncul di bibirnya ketika ia menyadari bahwa untuk sekali ini, pria yang selalu tenang itu tampak kehilangan kata-kata.
Nalendra jauh lebih tinggi darinya. Kini, berdiri tanpa alas kaki di atas pembaringan, Wulan untuk pertama kalinya merasakan pandangannya sejajar dengan pria itu — bahkan sedikit lebih tinggi. Rupanya beginilah rupa dunia dari ketinggian milik Nalendra. Bagi gadis yang selama ini nyaris selalu menatap ke atas dalam segala hal, perasaan ini terasa sangat baru dan sedikit menggelikan.
Melihat tatapan kekanak-kanakan itu, Nalendra menyipitkan mata sedikit, dan senyum yang lembut serta perlahan muncul di sudut bibirnya. Namun di saat lengahnya, bahu pria itu justru ditekan oleh gerakan tak terduga sang gadis.
Nalendra menatapnya bingung. Namun gadis itu justru membungkuk, mengambil sehelai selendang sutra sewarna cahaya bulan yang tergeletak di atas bantal, lalu dengan hati-hati menutupi mata pria itu dengan kain tersebut.
Nalendra tidak tahu apa yang hendak dilakukan gadis itu, tetapi ia tidak menolak ulahnya. Pria itu berdiri dengan sabar dalam gelap yang menutup penglihatannya, membiarkan aroma samar khas Wulan memenuhi penciumannya. Tak disangka, detik berikutnya terasa sentuhan lembut di bibirnya — sentuhan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Mata Nalendra menyipit seketika. Untuk sesaat, pria itu tampak berhenti bernapas, seolah menolak mempercayai apa yang barusan terjadi.
Ini adalah pertama kalinya Wulan berhubungan begitu dekat dengan seorang pria. Jantungnya berdegup kencang hingga telapak tangannya berkeringat. Ia tahu betul sifat dirinya — sejak dulu ia sangat peka terhadap sentuhan fisik, bahkan nyaris alergi. Di kehidupan lampau, ketika ia mengejar Pangeran Cendana ke sana ke mari, momen paling intim yang pernah terjadi hanyalah ketika Pangeran Cendana menyentuh helaian rambutnya. Itu pun hanya sekali, dan tidak pernah membuatnya merasa seperti ini.
Tetapi Nalendra berbeda. Dari pria yang satu ini, ia tidak merasakan sedikit pun keinginan untuk menjauh — justru sebaliknya.
Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan pria ini, apa yang selama ini ia sebut sebagai ketegarannya menjadi tidak relevan. Semua dinding yang ia bangun runtuh begitu saja, seperti gundukan pasir yang tersapu ombak dalam sekejap.
Masa lalu telah berlalu bersama angin. Ada rahasia yang tidak bisa ia ucapkan, kenangan yang tidak bisa ia ulangi, luka yang pernah ia goreskan pada pria ini, permintaan maaf yang tidak pernah ia tahu cara mengungkapkannya — dan satu hal yang selama ini ia kubur paling dalam: api kasih yang membara, yang tak pernah berani ia akui pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri.
Sekarang, di malam yang hanya diterangi lilin redup ini, apakah kau mendengarnya?
Bila wanita yang ia sukai mengambil inisiatif untuk menciumnya, tentu tidak ada yang bisa disalahkan pada sang pria. Yang layak disebut "tidak becus" hanyalah pria yang justru menolaknya — dan jelas sekali, Nalendra bukan pria seperti itu. Pria itu tahu persis apa yang sedang terjadi, dan tidak berniat menghentikannya.
Mata Nalendra menyipit. Sosoknya bergerak sedikit, seolah hendak menghindar. Wulan, yang salah mengira ia ingin menjauh, justru melangkah maju, menekankan tangan putihnya pada pergelangan tangan yang ramping itu, lalu menariknya kuat-kuat ke arahnya.
Nalendra tidak menyangka akan hal itu. Khawatir menekan luka di lengan Wulan yang belum sepenuhnya sembuh, ia terpaksa berbalik ke samping dan jatuh ke pembaringan bersama gadis itu — dua tubuh yang nyaris bertumpuk, di antara selimut yang kusut.