Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sesampainya di sana, Ibu Mirna hampir tersedak ludahnya sendiri melihat gerbang besi besar yang menjulang tinggi, dijaga oleh satpam perumahan yang tampak angkuh.
Begitu ia melangkah masuk, matanya tak henti-hentinya menatap setiap sudut kemewahan rumah putrinya—marmer yang berkilau, perabotan serba minimalis namun mahal, hingga lampu gantung kristal yang membuatnya merasa seperti berada di dalam istana.
"Masuklah, Bu," sambut Sarah dengan gaya bak seorang nyonya besar yang sedang memamerkan koleksi pribadinya.
Ibu Mirna menyentuh dinding rumah itu dengan takzim.
"Bagus sekali rumah kamu, Sarah. Ibu benar-benar tidak menyangka kamu bisa hidup semewah ini."
Sarah duduk di sofa kulit yang empuk, menyilangkan kakinya dengan angkuh.
"Tentu saja, Bu. Sekarang aku jadi orang kaya dan tidak miskin lagi. Hidupku sudah naik kelas sejak aku membuang beban itu."
Ibu Mirna teringat sesuatu, raut wajahnya berubah sedikit sinis.
"Tadi Ibu ke rumah Armand, dan di sana ada wanita yang bersamanya. Sepertinya wanita itu yang mengantar kamu pulang semalam."
"Oh, jadi wanita itu sudah menikahi si gembel?"
Sarah tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan.
"Siapa dia, Sarah? Kenapa wanita kaya raya mau-maunya sama mantan suamimu yang melarat itu?" tanya Ibu Mirna penasaran.
Sarah menyeringai lebar, memamerkan cincin berlian yang melingkar di jemarinya.
"Ibu lupa? Dia Nadya, teman SMA-ku dulu."
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Sarah mulai menceritakan semuanya dengan detail yang mengerikan.
Ia membeberkan bagaimana kejadian Nadya yang tak sengaja menyerempetnya, hingga ide nekat yang muncul di kepalanya.
Ia menceritakan bagaimana ia memeras Nadya dengan mengancam akan menuntutnya ke polisi atas kasus tabrak lari jika Nadya tidak memberikan uang dua miliar rupiah sebagai kompensasi.
"Aku bilang padanya kalau dia mau menghindari polisi, dia harus membayarku dua miliar dan aku akan menyerahkan Armand untuk dia nikahi," ungkap Sarah bangga.
Ibu Mirna yang mendengar itu bukannya terkejut atau merasa berdosa, justru malah bertepuk tangan kegirangan.
Ia menatap putrinya dengan tatapan penuh kekaguman yang sesat.
"Pintar kamu, Sarah! Seharusnya kamu minta lebih banyak lagi," seru Ibu Mirna sambil terkekeh penuh kepuasan.
"Orang kaya seperti dia pasti tidak akan keberatan kehilangan sedikit uang demi kehormatan dan jabatannya."
Sarah tersenyum sinis, menikmati dukungan ibunya.
Baginya, martabat dan harga diri hanyalah barang dagangan yang sudah berhasil ia tukar dengan kemewahan yang kini ia genggam.
Tanpa mereka sadari, di luar sana, takdir tengah berputar dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Keesokan paginya, sinar matahari malu-malu mulai menyusup melalui celah gorden, membangunkan Nadya dari tidurnya.
Ia terbangun dan mendapati tempat di sampingnya sudah kosong.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Armand yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar daripada hari-hari sebelumnya.
"Ayo kita salat Subuh dulu, Dek," ajak Armand dengan suara yang lembut namun tegas.
Nadya tersenyum, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
Ia mengangguk pelan, "Iya, Mas."
Segera, Nadya bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu, ia mengenakan mukena dan duduk di atas sajadah, mengikuti gerakan salat yang dipimpin oleh sang suami.
Dalam sujudnya, Nadya menitipkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada Sang Pencipta atas babak baru yang indah ini.
Selesai salat, Nadya membuka pintu kamar dan mendapati bibi asisten rumah tangga yang baru saja datang, sedang sibuk di area dapur.
"Bi, masak apa pagi ini?" tanya Nadya ramah.
"Bibi membuat bubur ayam untuk Den Armand, karena sepertinya masih perlu pemulihan, dan nasi goreng udang kesukaan Non Nadya," jawab Bibi dengan senyum ramah.
"Iya, Bi, terima kasih banyak ya," sahut Nadya.
Kemudian, Nadya kembali ke kamar.
Ia melihat suaminya sedang duduk di sofa, memegang contoh kain dan pola kemeja yang diberikan Nadya semalam, tampak begitu serius mempelajari detail jahitannya.
"Apa Mas butuh bantuan karyawanku untuk mengukur contoh seragamnya?" tanya Nadya sambil mendekat.
Armand menoleh, lalu menggeleng dengan senyum tipis.
"Tidak usah, Dek. Kamu saja yang akan Mas jadikan contoh. Mas butuh ukuran tubuh yang pas supaya hasilnya sempurna."
Ia melipat kertas polanya dengan rapi. "Nanti tolong antarkan Mas ke toko kain ya, Dek. Mas ingin memilih bahan yang paling nyaman dan berkualitas untuk seragam perusahaanmu," ucap Armand penuh semangat.
Nadya tersenyum lebar melihat gairah kerja suaminya yang kembali tumbuh.
"Iya, Mas. Dengan senang hati."
Bibi mengetuk pintu kamar dengan pelan dan memberitahukan kalau sarapan sudah siap di meja makan.
"Ayo Mas, kita sarapan dulu," ajak Nadya ramah.
Armand menganggukkan kepalanya, lalu beranjak dari duduknya mendampingi sang istri menuju ruang makan.
Di sana, semangkuk bubur ayam hangat beraroma sedap dan piring nasi goreng udang telah tersaji rapi.
"Bi, terima kasih," ucap Armand tulus kepada sang asisten rumah tangga yang sedang merapikan piring.
"Iya, Den, sama-sama."
Armand menatap Bibi sekilas sebelum kembali berucap dengan nada rendah yang santun.
"Panggil saya Armand saja, Bi."
Nadya yang mendengar ucapan suaminya menganggukkan kepalanya, tersenyum kecil melihat kerendahan hati Armand yang sama sekali tidak berubah meski kini ia tinggal di rumah mewah berfasilitas lengkap.
Sambil menikmati sarapan mereka, Armand mencicipi bubur ayam buatan Bibi.
Ia mengangguk-angguk kecil menikmati kelezatannya.
"Masakan Bibi dari dulu selalu enak, Mas," puji Nadya ringan.
"Beda dengan aku yang masih belajar dari media sosial."
Armand menghentikan suapannya sejenak, lalu menatap istrinya dengan sorot mata hangat.
"Dek, jangan merendah seperti itu," protes Armand lembut.
"Masakan kamu kemarin malam itu jauh lebih spesial karena dibuat dengan ketulusan dan penuh cinta untuk suami kamu."
Nadya tersipu malu, pipinya merona merah mendengar pujian manis yang meluncur begitu natural dari bibir Armand.
Suasana pagi itu terasa begitu hangat, menepis segala sisa badai yang sempat menerpa hidup mereka beberapa hari lalu.
Setelah sarapan, Nadya dan Armand beranjak menuju taman belakang rumah yang asri untuk menikmati udara pagi.
Taman itu tertata dengan indah, dihiasi dengan berbagai tanaman tropis dan sebuah kolam ikan koi yang jernih airnya.
Sambil menunggu toko kain langganan Nadya buka, mereka menghabiskan waktu dengan tenang.
Armand berjalan mendekati pinggiran kolam, lalu mengambil wadah pakan ikan yang tersedia di sana.
Ia menaburkan pakan tersebut ke permukaan air, seketika ikan-ikan koi berwarna-warni berenang muncul ke permukaan, saling berebut makanan dengan lincah.
Nadya duduk di kursi kayu panjang di tepi taman, memandangi suaminya yang tampak begitu damai.
Wajah Armand yang tadinya murung dan penuh beban kini terlihat jauh lebih cerah, seolah beban kehidupan yang dipikulnya selama bertahun-tahun perlahan luruh saat ia berinteraksi dengan alam.
"Senang ya, Mas, melihat mereka berenang dengan tenang begitu," ucap Nadya lembut sambil menyesap teh hangatnya.
Armand menoleh, memberikan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan sejak pertama kali mereka bertemu.
"Iya, Dek. Ternyata hidup ini bisa terasa sesederhana ini kalau kita mau sedikit saja bersyukur."
Pria itu kemudian berbalik, menatap Nadya dengan tatapan yang dalam.
"Dulu, Mas pikir kebahagiaan itu harus dikejar dengan kerja keras yang tidak masuk akal atau dengan menuntut kesempurnaan. Tapi sekarang Mas sadar, kebahagiaan itu justru ada saat kita bisa tenang di samping orang yang kita sayangi."
Nadya hanya tersenyum haru. Ia merasa keputusan nekatnya beberapa malam lalu membawa berkah yang tak terduga.
Di taman belakang itu, di antara desik air kolam dan kicauan burung, mereka seolah sedang merayakan ketenangan yang baru saja mereka temukan bersama.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,