NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Misi Tingkat SSS

“Sekarang aku benar-benar marah.”

Adrian menatap lubang kecil pada pagar besi di samping kepalanya.

Peluru tadi nyaris mengenai telinganya.

Kalau dia terlambat menggeser kepala sepersekian detik saja, benda itu mungkin sudah menembus tengkoraknya.

Namun yang paling membuat Adrian kesal bukan itu.

Dia menoleh ke belakang.

Ponselnya masih tergeletak aman di atas platform.

Layar gim masih menyala.

Dua garis sinyal.

Masih stabil.

Adrian mengembuskan napas lega.

“Untung nggak kena.”

Baru saja dia hendak mengambil ponselnya, suara berderit terdengar dari bawah.

Kreeek...

Adrian menoleh.

Tangga besi bergetar.

Seseorang sedang naik.

Tidak lama kemudian, sebuah kepala muncul dari balik pagar platform.

Lalu kepala kedua.

Ketiga.

Keempat.

Adrian menghitung mereka dengan mata setengah malas.

“Satu... dua... tiga... empat.”

Dia menghela napas.

“Kenapa lagi?”

Orang pertama yang naik langsung mengarahkan senjata.

“Adrian Wijaya!”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Aku?”

“Jangan bergerak!”

Adrian melirik ponselnya.

Layar gim masih menampilkan pertandingan yang sedang berlangsung.

“Bentar.”

“Apa?”

“Aku hampir menang.”

“Turunkan senjatamu!”

Adrian menatap pinggangnya.

Pistol masih terselip di sana.

Dia mengangguk kecil.

“Oh, iya.”

Tangannya menyentuh gagang pistol.

Keempat pria itu langsung menegang.

Namun Adrian justru mengambil ponselnya.

“Bukan ini.”

Dia menunjukkan layar.

“Aku mau matiin layar dulu.”

Salah satu pembunuh terlihat seperti ingin meledak.

“Kau sedang mempermainkan kami?”

Adrian mengangkat bahu.

“Enggak.”

Dia memasukkan ponsel ke saku.

“Cuma sayang kalau sampai kalah gara-gara kalian.”

Dari belakang keempat pria itu, seseorang akhirnya muncul.

Langkahnya jauh lebih tenang.

Tidak ada gerakan terburu-buru.

Tidak ada ekspresi berlebihan.

Pria itu mengenakan pakaian hitam dan membawa pisau tempur di pinggang.

Tatapan tajamnya langsung tertuju kepada Adrian.

“Adrian Wijaya.”

Adrian menoleh.

“Kau siapa?”

“Night Scorpion.”

“Oh.”

Adrian mengangguk.

“Nama yang aneh.”

Tatapan pria itu mengeras.

“Kau tidak tahu siapa aku?”

“Belum pernah dengar.”

Salah satu anak buahnya langsung maju.

“Jangan kurang ajar! Night Scorpion adalah pemimpin kelompok kami!”

Adrian meliriknya.

“Terus?”

“Kau—”

Night Scorpion mengangkat tangan.

Anak buahnya langsung diam.

Dia menatap Adrian beberapa saat.

“Kami menerima kontrak untuk membunuhmu.”

“Berapa?”

“Lima ratus ribu dolar.”

Adrian yang tadinya terlihat malas langsung mengangkat alis.

“Lima ratus ribu?”

“Benar.”

Adrian mengusap dagunya.

“Lumayan.”

Night Scorpion menyipitkan mata.

“Kau tidak takut?”

“Takut?”

Adrian tertawa kecil.

“Aku cuma kaget ternyata harga kepalaku mahal juga.”

“Lima ratus ribu dolar adalah harga yang cukup untuk membuat banyak orang rela mempertaruhkan nyawa.”

“Ya.”

Adrian mengangguk.

“Makanya aku heran.”

“Apa?”

“Kenapa kalian masih mau membaginya berlima?”

Keempat anak buah Night Scorpion saling melirik.

Wajah mereka langsung berubah.

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau hadiahnya buat satu orang, bukankah lebih enak?”

“Cukup.”

Night Scorpion mengangkat tangannya.

“Tidak perlu membuang waktu.”

Dia memberi isyarat.

Keempat anak buahnya langsung bergerak.

Mereka menyebar ke berbagai sisi platform.

Satu menjaga tangga.

Dua mengambil posisi di kiri dan kanan.

Satu orang bergerak menuju sudut tempat Adrian tadi meletakkan ponselnya.

Langkah Adrian berhenti.

Matanya mengikuti pria tersebut.

“Eh.”

Pria itu tidak berhenti.

Adrian kembali bicara.

“Jangan ke sana.”

Pria itu menoleh.

“Kenapa?”

“Ponselku.”

“Memangnya kenapa?”

Adrian menunjuk benda tersebut.

“Aku baru dapat dua garis.”

Pria itu mengerutkan kening.

“Apa hubungannya?”

“Kalau kau berdiri di situ, sinyalnya turun.”

Pria itu terdiam.

Dia menatap Adrian.

Kemudian menatap ponsel.

Lalu menatap Adrian lagi.

“Kau serius?”

“Serius.”

“Dalam situasi seperti ini kau masih memikirkan sinyal?”

Adrian mengangguk.

“Banget.”

Pria itu justru melangkah semakin dekat.

Adrian menghela napas.

“Jangan.”

“Aku akan menghancurkannya.”

Seketika wajah Adrian berubah.

Senyum di wajahnya lenyap.

“Coba saja.”

Night Scorpion yang sejak tadi memperhatikan langsung merasakan perubahan suasana.

Dia tahu.

Ada sesuatu yang salah.

Namun anak buahnya sudah mengangkat senjata.

DOR!

Tembakan meledak.

Adrian bergerak.

Tubuhnya bergeser ke samping.

Peluru menghantam lantai beberapa sentimeter dari kakinya.

Dalam sekejap, Adrian sudah berada di depan penembak.

Tangannya menangkap pergelangan lawan.

Krek!

Pergelangan tangan itu dipelintir.

Senjata terlepas.

Adrian menghantamkan siku ke rahangnya.

Buk!

Tubuh pria itu terhuyung.

Adrian meraih kerahnya.

“Sudah kubilang jangan.”

Brak!

Tubuhnya dilempar ke pagar.

Pagar besi bergetar keras.

Pria itu langsung terkulai.

Dua orang lainnya menyerang bersamaan.

Satu dari kiri.

Satu dari kanan.

Adrian menunduk.

Tinju pertama lewat di atas kepalanya.

Dia memutar tubuh dan menghantam rusuk lawan dengan siku.

Duk!

Napas pria itu langsung terputus.

Belum sempat jatuh, Adrian meraih lengannya dan menariknya ke depan.

Tinju dari lawan kedua menghantam wajah rekannya sendiri.

Buk!

“Aduh.”

Adrian meringis.

“Teman sendiri juga dipukul.”

Dia menyapu kaki pria pertama.

Brak!

Tubuhnya jatuh.

Pria kedua mencoba menarik pistol.

Adrian sudah lebih dulu menendang pergelangan tangannya.

Senjata terlempar.

Kemudian Adrian menghantam dadanya dengan telapak tangan.

Buk!

Tubuh pria itu terpental dan menghantam tangki air.

Dalam beberapa detik, tiga orang sudah tumbang.

Night Scorpion tidak bergerak.

Ekspresinya berubah serius.

Informasi yang mereka terima ternyata salah.

Target ini sama sekali bukan pemuda biasa.

Adrian mengambil ponselnya.

Dia memeriksa layar.

Pertandingan masih berjalan.

Dua garis.

Aman.

Adrian mengangguk puas.

“Bagus.”

Night Scorpion menatapnya.

“Kau masih memeriksa ponsel?”

Adrian menoleh.

“Iya.”

“Setelah baru saja melumpuhkan tiga orang?”

“Kenapa?”

“Kau tidak menganggap kami ancaman?”

Adrian memasukkan ponselnya ke saku.

“Awalnya iya.”

Dia tersenyum.

“Sekarang sudah nggak terlalu.”

Night Scorpion perlahan menarik pisau tempurnya.

“Kalau begitu mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan sikap sombong itu.”

Adrian mengangkat kedua tangannya.

“Silakan.”

Night Scorpion menerjang.

Berbeda dari anak buahnya, gerakannya jauh lebih cepat.

Pisau menusuk lurus menuju dada Adrian.

Adrian memiringkan tubuh.

Bilah melewati sisi bajunya.

Night Scorpion langsung mengubah arah.

Tebasan kedua datang dari samping.

Adrian menunduk.

Pisau melewati rambutnya.

Serangan ketiga.

Keempat.

Kelima.

Night Scorpion terus menekan tanpa memberi celah.

Adrian mulai membaca pola gerakannya.

Kaki.

Bahu.

Pinggang.

Semua bergerak sedikit sebelum serangan dilancarkan.

Saat Night Scorpion kembali menusuk—

Adrian tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.

“Dapat.”

Krek!

Pergelangan Night Scorpion diputar.

Pisau terlepas.

Night Scorpion mencoba menyerang dengan tangan satunya.

Adrian menghindar.

Satu pukulan menghantam perut.

Buk!

Tubuh Night Scorpion terdorong mundur.

Adrian maju.

Satu pukulan lagi menghantam bahunya.

Kemudian sebuah sapuan kaki membuat Night Scorpion kehilangan keseimbangan.

Brak!

Dia jatuh berlutut.

Adrian berdiri di depannya.

“Sudah?”

Night Scorpion mengangkat wajah.

“Kau... siapa sebenarnya?”

Adrian mengangkat bahu.

“Aku?”

Dia menunjuk dirinya sendiri.

“Orang yang cuma mau main.”

Night Scorpion mengepalkan tangan.

“Monster.”

Adrian tersenyum kecil.

“Banyak yang bilang begitu.”

Kemudian—

DING!

Suara mekanis tiba-tiba menggema di kepala Adrian.

Dia membeku.

Sebuah panel transparan muncul di hadapannya.

【Target kontrak terdeteksi.】

【Kelompok pemburu pertama telah dilumpuhkan.】

【Tingkat keberhasilan: 100%.】

Adrian berkedip.

“Hmm?”

Panel berikutnya muncul.

【Karena tuan rumah terus menjadi sasaran kontrak pembunuhan berantai, sistem telah mengaktifkan misi khusus.】

【Misi Tersembunyi Kelas SSS】

【Nama misi: Kontrak Berantai】

Mata Adrian langsung berbinar.

“Kontrak berantai?”

【Tahap pertama: Lumpuhkan kelompok pemburu pertama.】

【Hadiah: Rp15.000.000.000.】

Adrian terdiam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Dia membaca angka itu lagi.

“Lima belas...”

Dia menggosok matanya.

“...miliar?”

Adrian menatap panel.

Kemudian menatap Night Scorpion.

Lalu kembali melihat panel.

Senyumnya perlahan melebar.

Night Scorpion mulai merasa tidak nyaman.

“Apa yang kau lihat?”

Adrian menggeleng.

“Bukan urusanmu.”

“Kau tersenyum.”

“Memangnya aku nggak boleh senang?”

“Setelah membunuh kami?”

Adrian menatapnya.

“Belum ada yang bilang kalian mati.”

Night Scorpion terdiam.

Adrian kembali membaca panel.

【Kelompok pemburu berikutnya sedang menuju lokasi.】

【Tahap kedua akan aktif setelah kelompok berikutnya tiba.】

Adrian mengangkat alis.

“Berikutnya?”

【Benar.】

【Semakin banyak kelompok pemburu yang berhasil ditangani, semakin besar hadiah yang akan diterima.】

Adrian langsung menepuk tangannya.

“Wah.”

Dia menoleh ke arah kota tua.

“Jadi kalian datang bergelombang?”

Night Scorpion menatap Adrian dengan bingung.

“Apa maksudmu?”

Adrian tersenyum.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Sudah mengantarkan uang.”

Night Scorpion merasa kepalanya berdenyut.

Orang ini benar-benar gila.

 

Sekitar seratus kilometer dari kota tua, kendaraan komando masih bergerak dalam kegelapan.

Sienna berdiri di depan layar satelit.

Beberapa titik yang sebelumnya bergerak menuju posisi Adrian kini berhenti.

Teknisi memeriksa data.

“Bu.”

“Apa?”

“Kelompok pertama sudah tidak bergerak.”

Sienna langsung menoleh.

“Adrian?”

“Masih aktif.”

Sienna menatap layar.

“Berapa lama?”

“Tidak sampai beberapa menit.”

Sienna menarik napas panjang.

Dia sudah menduga hasilnya.

Namun tetap saja sulit dipercaya.

Lima pembunuh profesional.

Dan semuanya berhenti bergerak setelah mendekati Adrian.

“Kelompok kedua?”

Teknisi mengetik beberapa perintah.

“Belum masuk jangkauan.”

Sienna langsung mengambil alat komunikasi.

“Hubungkan aku dengan Adrian.”

Krrrzzzt...

Gangguan.

“Adrian.”

Tidak ada jawaban.

“Adrian, dengar aku.”

Krrrzzzt...

Kemudian suara Adrian terdengar samar.

“Hm?”

Sienna langsung berkata,

“Segera tinggalkan menara itu.”

“Kenapa?”

“Ada kelompok lain yang bergerak menuju posisimu.”

“Oh.”

“Jangan cuma bilang ‘oh’!”

Adrian terdengar santai.

“Kelompok yang tadi juga datang buat membunuhku.”

“Dan?”

“Sudah selesai.”

Sienna terdiam.

“Sudah?”

“Iya.”

Dia menghela napas.

“Adrian, kau tidak tahu siapa yang akan datang berikutnya.”

“Kalau begitu biarkan datang.”

“Ini bukan permainan!”

Adrian terdiam sebentar.

Kemudian menjawab,

“Justru aku lagi main.”

Sienna memijat pelipisnya.

“...Aku serius.”

“Aku juga.”

Sienna hendak membalas ketika komunikasi mendadak terputus.

Krrrzzzt...

Dia menatap alat komunikasi.

“Orang itu benar-benar...”

Teknisi menahan senyum.

Sienna meliriknya.

“Jangan tertawa.”

“Siap.”

 

Di atas menara air, Adrian meletakkan ponselnya di tempat yang terlindung.

Dia bahkan memindahkannya sedikit agar tidak terkena kemungkinan serpihan.

Kemudian dia memastikan layar tetap menyala.

Pertandingannya masih berlangsung.

Adrian mengangguk puas.

“Jangan sampai kalah gara-gara mereka.”

Dia berdiri.

Dari bawah terdengar suara langkah kaki.

Bukan satu.

Banyak.

Adrian berjalan ke tepi platform.

Jauh di bawah, beberapa kendaraan mulai memasuki kawasan kota tua.

Lampunya membelah kegelapan.

Satu kendaraan berhenti.

Pintu terbuka.

Beberapa pria turun.

Kendaraan kedua datang.

Lalu ketiga.

Semakin banyak orang berkumpul.

Adrian menyipitkan mata.

“Wah.”

Dia mengusap dagunya.

“Yang berikutnya lebih ramai.”

Beberapa sosok mulai menyebar.

Sebagian mengambil posisi di sekitar menara.

Sebagian lainnya mulai menaiki bangunan di sekitarnya.

Mereka jauh lebih teratur daripada kelompok sebelumnya.

Adrian memperhatikan semuanya.

Kemudian dia melihat ke arah Night Scorpion yang masih terkapar.

“Teman-temanmu datang.”

Night Scorpion tidak menjawab.

Dia sendiri mulai menyadari sesuatu.

Kelompok berikutnya tidak datang untuk menyelamatkannya.

Mereka datang karena kontrak.

Dan jika informasi tentang kegagalan mereka sudah tersebar—

maka jumlah orang yang akan datang bisa jauh lebih banyak.

Adrian justru terlihat semakin santai.

Dia memeriksa ponselnya sekali lagi.

Dua garis.

Stabil.

“Bagus.”

Dia memasukkan ponselnya ke saku.

Kemudian menatap ke bawah.

Tiba-tiba—

DOR!

Peluru menghantam pagar besi.

Adrian menoleh.

Ekspresinya langsung berubah.

“Oi.”

Tembakan kedua.

DOR!

Peluru menghantam lantai beberapa meter di depannya.

Adrian menarik napas panjang.

“Aku sudah bilang jangan ganggu.”

Tembakan ketiga kembali dilepaskan.

Adrian menghindar.

Peluru melewati tempat kepalanya berada sepersekian detik sebelumnya.

Dia menatap arah datangnya peluru.

Kemudian melirik ponsel di sakunya.

Wajahnya menjadi dingin.

“Sudah cukup.”

Adrian berjalan ke tengah platform.

Tangannya perlahan mengepal.

“Kalau kalian mau uang...”

Dia tersenyum tipis.

“Ambil dari sistemku sendiri.”

Adrian menatap puluhan bayangan yang mulai mendekati menara.

“Jangan sentuh barangku.”

Dari bawah terdengar suara langkah kaki semakin dekat.

Satu orang.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Mereka mulai menaiki tangga dari berbagai arah.

Adrian tidak mundur sedikit pun.

Sebaliknya, dia justru merenggangkan lehernya.

Krek.

Kemudian bahunya.

Krek.

Senyumnya kembali muncul.

“Kalau kalian memang mau datang...”

Adrian berdiri di tengah platform.

“Datang semuanya.”

Suara sistem kembali terdengar.

【Tahap kedua akan segera dimulai.】

【Hadiah tahap berikutnya sedang dihitung.】

Adrian membelalakkan mata.

“Sedang dihitung?”

Dia tersenyum semakin lebar.

“Berarti bisa lebih besar?”

【Benar.】

Adrian mengangkat kedua tangannya.

“Kalau begitu...”

Tatapannya berubah tajam.

“Jangan ada yang pulang terlalu cepat.”

Di bawah menara, para pembunuh terus bergerak naik.

Mereka datang dengan keyakinan bahwa Adrian adalah target.

Mereka membawa senjata.

Mereka membawa perintah.

Mereka membawa kontrak dengan hadiah besar.

Namun mereka tidak tahu satu hal.

Sejak sistem mengubah pengejaran mereka menjadi kontrak berantai, posisi Adrian sudah berubah.

Dia bukan lagi orang yang sedang diburu.

Dia adalah orang yang sedang menunggu bonus berikutnya datang sendiri.

Dan malam di Darsen...

baru saja menjadi jauh lebih mahal.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!