menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Dengki yang Menyalakan Api.
Baru saja Erlang dan Roro Wilis melangkah keluar dari gerbang pasar menuju jalan setapak berbatu yang mengarah ke pendopo kademangan, sebuah hadangan mendadak muncul. Tiga orang pemuda desa setempat berdiri berjejer di tengah jalan dengan tangan bersedekap dada.
Pemuda yang berdiri di paling depan mengenakan pakaian beskap lurik abu-abu yang rapi, lengkap dengan blangkon baru di kepalanya dan sebilah keris tiruan bersarung kayu jati yang terselip di pinggang belakang. Namanya Danu, anak dari salah satu orang paling kaya di Desa Kaliwungu. Danu sudah bertahun-tahun mengejar cinta Roro Wilis, namun selalu berujung pada penolakan yang halus.
Wajah Danu tampak merah padam, sepasang matanya melotot penuh kebencian menatap kedekatan Roro Wilis dan Erlang.
"Berhenti di situ!" bentak Danu kasar, suaranya membuat beberapa warga yang sedang berjalan pulang dari pasar langsung menghentikan langkah untuk menonton.
Roro Wilis menghentikan langkahnya, dahinya berkerut dalam seolah merasa sangat terganggu dengan kehadiran pemuda itu. "Danu? Mau apa kamu menghadang jalan kami? Minggir, aku sedang mengantar tamu kehormatan ayahanda menuju pendopo!"
Danu terkekeh sinis, matanya beralih menatap Erlang dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "Tamu kehormatan? Roro, jangan membuatku tertawa! Pemuda gembel berpakaian dekil dan bercelana robek-robek seperti ini kau sebut tamu kehormatan? Dia ini cuma musafir mlarat yang kebetulan beruntung di pasar tadi!"
"Jaga mulutmu, Danu!" bentak Roro Wilis, wajah ayunya menegang penuh amarah. "Kangmas Erlang baru saja menyelamatkan warga kita dari pemerasan centeng-centeng jahat itu! Dia jauh lebih terhormat daripada kamu yang cuma tahu cara menghabiskan uang orang tuamu!"
Mendengar pujian terang-terangan dari Roro Wilis untuk Erlang, hati Danu rasanya seperti dibakar api cemburu yang luar biasa dahsyat. Rasa dengki yang menyala-nyala di dalam dadanya membuat akal sehatnya hilang seketika.
"Heh, Bocah Mlarat!" Danu maju tiga langkah, menunjuk tepat di depan hidung Erlang yang mancung. "Jangan mentang-mentang kamu punya wajah tampan dan bisa silat sedikit, kamu bisa seenaknya merayu Roro Wilis ya! Kelakuanmu di pasar tadi paling cuma akal-akalanmu saja untuk mencari perhatian putri demang!"
Erlang yang sedari tadi diam hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak terpancing oleh makian kasar Danu. Ia menurunkan pikulan bambunya perlahan, menaruhnya di pinggir jalan agar tidak mengganggu jalur.
"Nyuwun sewu, Kang Danu," sapa Erlang dengan gaya bahasa santai dan sangat sopan. "Nama saya Erlang. Saya sama sekali tidak ada niat untuk merayu Nimas Wilis, apalagi mencari perhatian. Saya diajak ke pendopo murni karena Nimas Wilis berbaik hati mau memberi saya makan siang karena perut saya sedang kelaparan. Kalau Kang Danu merasa keberatan, saya bisa mencari warung lain kok."
"Halah, tidak usah banyak alasan kau! Dasar pengecut berbaju rombeng!" teriak Danu kian meninggi karena merasa diremehkan oleh ketenangan Erlang. Ia menarik keris tiruan berhias kuningan dari pinggangnya, lalu menantang Erlang ke tengah lapangan rumput di pinggir jalan. "Kalau kamu memang laki-laki sejati dan bukan cuma modal tampang, terima tantanganku! Kita duel satu lawan satu! Siapa yang kalah harus angkat kaki dari Desa Kaliwungu ini sekarang juga dan jangan pernah berani mendekati Roro Wilis lagi!"
"Danu, hentikan! Kamu sudah gila, ya?!" jerit Roro Wilis panik, mencoba menghalangi Danu. Ia tahu betul bagaimana ngerinya pukulan Erlang yang bisa menerbangkan centeng pasar tadi. Ia takut Danu akan mati konyol di tangan Erlang. "Kangmas Erlang, tolong jangan ladeni orang gila ini."
Erlang memegang pundak Roro Wilis dengan lembut, memberikan isyarat agar gadis itu tenang. "Tidak apa-apa, Nimas Wilis. Biar saya bicara dengannya."
Erlang melangkah maju menemui Danu di tengah lapangan rumput. "Kang Danu, saya terima tantanganmu. Tapi saya tidak ingin menggunakan senjata, dan saya harap pertarungan ini tidak perlu sampai ada yang terluka atau menaruh dendam. Bagaimana?"
"Banyak bacot! Rasakan ini!" teriak Danu yang sudah gelap mata.
Danu melompat ke depan, mengayunkan kerisnya dengan gerakan menusuk lurus ke arah dada Erlang. Gerakan Danu sebenarnya cukup cepat untuk ukuran pemuda desa biasa yang pernah belajar dasar bela diri dari pamannya, namun bagi Erlang yang menguasai inti tenaga dalam, gerakan itu terlihat sangat kaku dan penuh dengan celah kosong.
Menggunakan gerak dasar Langkah Bambu Gurun, Erlang hanya menggeser tumit kirinya ke samping. Tubuhnya berputar luwes sehalus embusan angin malam, membuat ujung keris Danu hanya menusuk ruang kosong di samping rusuknya.
"Sialan! Jangan cuma menghindar, Gembel!" bentak Danu frustrasi. Ia menarik kembali tangannya, lalu mengayunkan kaki kanannya untuk menendang lambung Erlang.
Erlang tidak membalas dengan pukulan keras. Ia hanya mengangkat telapak tangan kanannya yang terbuka, menyentuh bagian pergelangan kaki Danu dengan sangat lembut, tepat saat tendangan itu meluncur. Aliran tenaga dalam murni tak terbatas dari tubuh Erlang merembes halus, bukan untuk menghancurkan tulang Danu, melainkan untuk mengalihkan arah bobot tubuh pemuda cemburu itu.
Wuss... gedubrak!
Danu kehilangan keseimbangan sepenuhnya akibat tenaganya sendiri yang berbalik arah. Ia terjerembap ke depan, wajahnya mendarat mulus di atas hamparan rumput hijau yang agak basah. Dua temannya yang menonton di pinggir lapangan langsung melotot kaget dan buru-buru menutup mulut mereka.
"Aduh... keparat!" umpat Danu sambil bangkit berdiri, membersihkan sisa tanah dan rumput yang menempel di dagunya. Wajahnya kian merah padam karena malu ditonton oleh Roro Wilis. "Kau... kau pakai jimat licik apa lagi, hah?!"
Danu kembali menerjang, kali ini melepaskan pukulan beruntun yang acak-acakkan tanpa pola.
Erlang dengan sangat sabar terus menghindar. Setiap kali kepalan tangan Danu hampir mengenai bajunya, Erlang hanya menggeser tubuhnya satu senti ke kiri atau ke kanan. Setelah membiarkan Danu melayangkan belasan pukulan hingga pemuda kaya itu mulai terengah-engah kehabisan napas, Erlang memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini dengan cara yang paling halus.
Saat Danu melepaskan pukulan lurus terakhirnya dengan sisa tenaga yang ada, Erlang maju setengah langkah. Tangan kiri Erlang menepis pergelangan tangan Danu ke atas, sementara dua jari tangan kanan Erlang bergerak secepat kilat menepuk pundak kiri Danu dengan sentuhan yang sangat ringan.
Puk...
Itu adalah totokan pembalik sendi ringan yang dipahami Erlang dari logika aliran darah di kitab tanpa nama. Seketika itu juga, seluruh otot di tangan dan kaki Danu mendadak lemas seperti kehilangan tulang. Keris jatinya terlepas dari genggaman dan jatuh di rumput. Tubuh Danu langsung ambruk terduduk di tanah dalam posisi berlutut, napasnya memburu, namun anehnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit sedikit pun di tubuhnya.
Danu mencoba menggerakkan tangannya, namun tangannya terasa sangat berat dan kaku seperti batu. "L-lho... kenapa badanku tidak bisa digerakkan? Kau... kau apakan aku, Gembel?!" tanya Danu dengan suara yang mulai bergetar ketakutan, menyadari perbedaan kekuatan mereka yang sedalam jurang.
Erlang berlutut di depan Danu, lalu dengan senyuman tulus yang ramah, ia menepuk kembali pundak Danu sekali lagi untuk melepas totokan ringannya. Seketika itu juga, aliran darah Danu kembali normal dan kekuatannya pulih.
"Saya tidak apa-apakan kok, Kang Danu," kata Erlang lembut sambil mengambilkan keris Danu yang jatuh di rumput, lalu menyerahkannya kembali dengan gagang menghadap ke arah Danu. "Saya hanya meminjam waktu sebentar agar Kang Danu bisa tenang dan menarik napas. Silat itu bukan untuk meluapkan amarah atau memperebutkan hati seorang wanita dengan cara kekerasan. Saya benar-benar tidak ada niat buruk di desa ini. Tolong dimaafkan ya kalau saya ada salah ucapan tadi."
Danu menerima kerisnya dengan tangan gemetar. Ia menatap wajah tampan Erlang yang sama sekali tidak menunjukkan raut sombong, mengejek, ataupun merendahkan setelah memenangkan pertarungan. Kebaikan hati Erlang yang begitu tulus dan caranya mengalahkan lawan tanpa membuat terluka sedikit pun justru membuat rasa dengki di hati Danu runtuh, berubah menjadi rasa malu dan segan yang teramat sangat pada dirinya sendiri.
Danu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani lagi menatap mata Erlang maupun Roro Wilis. "A-aku... aku yang salah. Maafkan kesombonganku, Kangmas Erlang. Ilmu silatmu... dan hatimu... jauh di atasku," bisik Danu pelan, lalu memberi isyarat kepada dua temannya untuk membantunya pergi dari tempat itu dengan langkah gontai penuh penyesalan.
Roro Wilis yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari pinggir lapangan langsung berlari menghampiri Erlang dengan mata yang berbinar-binar penuh bunga asmara yang kian mekar. "Gusti... Kangmas Erlang benar-benar luar biasa. Kau tidak hanya sakti, tapi hatimu begitu mulia sampai-sampai musuh yang ingin mencelakaimu pun kau selamatkan dari rasa sakit."
Erlang tersenyum malu-malu, memikul kembali bambu buntalannya. "Ah, Nimas Wilis bisa saja. Paman saya selalu bilang, mengalahkan musuh dengan cara melukai raganya itu biasa, tapi memenangkan hati mereka tanpa rasa sakit adalah jalan pendekar sejati. Ayo, Nimas, perut saya sudah tidak bisa berkompromi lagi ini."
Roro Wilis tertawa renyah, mengangguk cepat sambil berjalan beriringan bersama Erlang menuju pendopo kademangan, meninggalkan lapangan rumput dengan hati yang sepenuhnya telah jatuh ke dalam pesona sang pendekar muda berhati emas tersebut.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/