"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Penyelamatan Dan Benih Keingkaran
📖 BAB 5: Penyelamatan dan Benih Keingkaran
Suara langkah kaki dan geraman puluhan zombie kian bergemuruh di tangga utama. Kelompok Takashi Komuro mulai keteteran. Napas mereka memburu, keringat dingin membasahi seragam, dan napas panik meluncur dari mulut Saya Takagi yang terus berusaha menghitung jumlah musuh.
"Takashi! Dari kanan! Ada dua lagi!" teriak Rei Miyamoto seraya menancapkan tombak rakitannya ke rahang salah satu zombie.
Namun, matanya membelalak panik ketika gagang kayu tombak itu tersangkut pada tulang rahang sang mayat hidup. Sebelum ia sempat menariknya kembali, dua zombie lain merangkak cepat dari sisi butanya, siap mengoyak leher mulus gadis itu.
"Rei!" jerit Takashi, tetapi ia sendiri sedang tertahan oleh tiga zombie yang menekan tombak pelnya.
CRAAK! CRAAK!
Dua tebasan kilat yang teramat presisi membelah udara. Dalam sekejap mata, dua kepala zombie yang hendak menerkam Rei terpisah dari lehernya, jatuh membalas lantai marmer dengan dentuman berat.
Darah hitam menyembur, mengenai bagian bawah seragam sekolah Rei. Gadis itu terperanjat, mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding koridor.
Sesosok pria bertubuh kekar melangkah keluar dari asap bayang-bayang lorong. Ia mengenakan rompi taktis penuh perlengkapan, sepatu bot militer, dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Matanya tajam bagaikan elang, dan di tangan kanannya tergegam sebuah machete baja perisai berwarna hitam pekat yang meneteskan darah busuk.
Itu adalah Thomas.
"Jangan berdiri melamun jika masih ingin bernapas," ujar Thomas datar. Suaranya terdengar berat dan dingin di balik masker.
"Si-siapa kau?!" seru Saya Takagi dengan nada kaget bercampur curiga. Matanya meneliti penampilan Thomas dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di tengah kiamat yang baru berlangsung beberapa jam, melihat seseorang berpakaian taktis lengkap dengan persenjataan siap tempur adalah hal yang sangat tidak lazim.
Saeko Busujima, yang berdiri paling depan dengan bokken di tangannya, menatap Thomas dengan binar mata yang berbeda. Sebagai seorang ahli pedang, ia bisa menilai ketenangan, kerapian kuda-kuda, dan efisiensi gerakan Thomas dari dua tebasan tadi. Pria ini bukan orang sembarangan—dia adalah seorang pembunuh yang sangat berpengalaman.
"Fokus ke depan," potong Thomas tanpa mempedulikan pertanyaan Saya. Ia melangkah melewati Rei, berdiri di barisan paling depan di samping Saeko. "Jalur menuju area parkiran bus terkunci dari luar. Kalau kalian tidak segera bergerak, kita akan terkepung di tangga ini."
PFTT! PFTT!
Kohta Hirano menembakkan pistol pakunya, menancapkan paku tebal ke dahi zombie yang mendekat dari sisi kiri. "Dia benar, Takashi! Kita tidak punya waktu untuk menginterogasi orang ini! Jumlah mereka makin banyak!"
Tak jauh dari sana, seorang wanita berambut pirang dengan pakaian perawat yang ketat—Suster Shizuka Marikawa—berlari panik sambil membawa kunci bus sekolah di tangannya. "Anak-anak! Kunci busnya ada padaku! Tapi kita harus lekas ke pintu keluar!"
"Buka jalurnya!" teriak Takashi sambil mengerat genggaman tangannya.
Thomas tidak banyak bicara. Ia menerjang maju ke tengah kerumunan zombie di depan mereka bagaikan mesin pembantai yang tak kenal lelah. Setiap tebasan machete-nya tidak pernah meleset; membelah leher, memotong persendian, dan meremukkan tengkorak dengan kecepatan yang mengerikan.
Saeko bergerak mengimbangi di sisi kanan Thomas, memanfaatkan pukulan bokken-nya untuk memecahkan tempurung kepala zombie yang lengah, sementara Takashi dan Kohta menjaga garis belakang.
Di tengah pertarungan berdarah itu, mata Takashi berulang kali melirik ke arah Thomas dengan tatapan yang sangat rumit. Ada rasa kagum atas kemampuan tempur pria asing itu, namun ada juga rasa terancam yang sangat dalam.
Takashi melihat bagaimana Rei melirik Thomas dengan tatapan takjub saat diselamatkan tadi. Ia juga melihat bagaimana Saeko mengangguk penuh rasa hormat pada setiap pergerakan efisien Thomas. Sebagai seorang remaja yang merasa dirinya adalah pemimpin dan pelindung utama dari gadis-gadis cantik di kelompoknya, keberadaan Thomas yang jauh lebih dominan, lebih kuat, dan lebih dewasa membuat ego Takashi terbakar cemburu.
"Pria ini... berbahaya," batin Takashi seraya menatap punggung Thomas dengan rahang tertutup rapat. "Dia bukan siswa sekolah ini. Dia bersenjata lengkap dan menatap kita seperti kita ini beban. Aku tidak bisa membiarkan dia memegang kendali atas kelompok ini..."
Benih-benih keirian dan prasangka buruk itu mulai tertanam rapat di dalam dada sang 'karakter utama', tepat ketika mereka berhasil menembus barikade terakhir menuju pintu keluar parkiran.