Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lu Chen yang baru saja memanjat kembali ke atas tiang menganggukkan dagunya ke arah seseorang.
Qin Shang melirik pria bertubuh tinggi, berkulit gelap, dan berambut cepak itu.
Namanya Wen Ren.
Ia adalah ketua bidang olahraga di kelas mereka, dan hubungan mereka memang tidak pernah akur.
Dulu, Wen Ren dan Qin Shang sama-sama tinggal di asrama sekolah.
Hanya saja, mereka menempati kamar yang berbeda.
Suatu hari, Wen Ren kehilangan barang.
Tanpa bukti, ia langsung menuduh Qin Shang sebagai pencurinya.
Menurut pengakuannya, saat tertidur siang dalam keadaan setengah sadar, ia sempat melihat sosok dari belakang yang sangat mirip Qin Shang keluar dari kamarnya.
Belakangan, Wen Ren memanggil Qin Shang ke kamarnya dan terus menuduhnya dengan nada menekan.
Keduanya bahkan sempat baku hantam.
Masalah itu akhirnya sampai ke telinga Mo Yuan.
Berpegang pada prinsip bahwa seseorang tidak bersalah sampai terbukti bersalah, Mo Yuan memerintahkan Wen Ren meminta maaf kepada Qin Shang di depan seluruh kelas.
Namun, sejak saat itu, permusuhan di antara mereka benar-benar tak bisa didamaikan lagi.
Qin Shang juga tahu bahwa jauh di lubuk hati Wen Ren, pria itu masih meyakini dirinya adalah pencuri barang tersebut.
Memang begitulah sifat Wen Ren.
Ia sangat percaya pada penilaiannya sendiri dan sejak awal selalu menganggap Qin Shang sebagai pencuri.
Namun, Qin Shang sama sekali tidak menganggap Wen Ren sebagai lawan.
Dengan kekuatannya saat ini, jangankan satu Wen Ren, bahkan tiga Wen Ren sekaligus pun bukan tandingannya.
Lin Yan duduk di bawah tiang sambil menyesap minuman yang tak diketahui namanya. Tatapannya beberapa kali beralih ke arah Qin Shang dan Wen Ren.
"Lumayan. Ada dua bibit yang bagus. Bakat mereka bahkan lebih baik daripada diriku saat pertama kali datang ke sini."
gumam Lin Yan dalam hati.
Tak lama kemudian, ia kembali bergumam,
"Dulu aku pernah melewatkan seorang jenius. Kali ini aku tidak boleh ragu lagi."
"Namun, sumber daya yang kumiliki terbatas. Tanpa mengorbankan perkembanganku sendiri, aku hanya bisa mempertaruhkan semuanya pada satu orang."
Saat Lin Yan masih tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba ia melihat tubuh Qin Shang yang berdiri di atas tiang mulai bergetar hebat.
Kening Lin Yan langsung berkerut.
Detik berikutnya, langkah Qin Shang goyah, lalu tubuhnya terjatuh dari atas tiang.
“Qin Shang! Ada apa denganmu?”
Lu Chen yang masih berdiri di atas tiang langsung berteriak.
Qin Shang mengangkat tangan dengan lemah.
“Hi... hipoglikemiaku kambuh.”
Qin Shang sangat terkejut.
Cacing Lapar di dalam liontin ambar itu jelas sudah menghilang. Jadi kenapa rasa lapar yang aneh itu masih kambuh?
Jangan-jangan...
Cacing Lapar itu sebenarnya tidak lenyap, melainkan masuk ke dalam tubuhnya?
“Celaka!”
Lu Chen segera berteriak ke sekeliling.
“Siapa yang punya makanan? Hipoglikemia Qin Shang kambuh!”
“Aku punya!”
Seorang siswi berambut pendek segera menyodorkan sebutir permen kepada Lu Chen.
Lu Chen buru-buru memasukkan permen itu ke mulut Qin Shang.
Namun, sebutir permen hampir tidak memberi pengaruh apa pun.
Lu Chen segera bertanya,
“Zu Yue, masih ada permen lagi?”
Zu Yue menggeleng.
“Sudah habis.”
Lu Chen semakin panik. Ia segera menoleh ke arah Lin Yan.
“Senior Lin, kapan kita makan?”
Lin Yan menjawab dengan nada datar,
“Kalau waktunya makan, tentu kita akan makan.”
Ia kembali melirik Qin Shang sebelum berkata,
“Bawa dia ke sini. Biarkan dia beristirahat sebentar.”
Lu Chen langsung melompat turun dari tiang dan membantu Qin Shang berjalan ke hadapan Lin Yan.
Saat itu tubuh Qin Shang sudah gemetar hebat seperti orang menggigil.
Wajahnya sepucat kertas, sementara perutnya terus mengeluarkan bunyi keroncongan.
Lin Yan pun ikut terkejut.
“Separah ini? Apa ini benar-benar cuma hipoglikemia?”
Lu Chen menggaruk kepalanya.
“Aku juga tidak tahu. Senior Lin, apa Anda punya makanan? Aku takut kalau begini terus dia bisa celaka.”
Lin Yan berkata,
“Bertahanlah sebentar lagi. Waktu makan sudah hampir tiba.”
Lu Chen cemas bukan main.
Namun, selain menunggu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.
Sementara itu, rasa lapar Qin Shang semakin menjadi-jadi hingga kesadarannya perlahan memudar.
Dalam keadaan setengah sadar, ia merasa dirinya memasuki sebuah ruang tertutup.
"Aku masuk ke mimpi aneh ini lagi."
gumam Qin Shang dalam hati.
Ia menunduk menatap tubuhnya.
Seluruh tubuhnya terbungkus cangkang hitam yang licin.
Kedua lengannya telah berubah menjadi kaki semut, sementara di atas kepalanya tumbuh sepasang antena.
Tak diragukan lagi.
Di dalam mimpi itu, Qin Shang telah berubah menjadi seekor serangga.
Namun, Qin Shang sama sekali tidak panik.
Selama dua tahun terakhir, hampir setiap kali tertidur, ia selalu memasuki mimpi yang sama.
Ia tahu mimpi ini berkaitan dengan Cacing Lapar yang ada di dalam tubuhnya.
Dulu, selama ia melepas liontin ambar itu, ia bisa terbebas dari mimpi tersebut.
Sekarang Cacing Lapar sudah masuk ke dalam tubuhnya.
Kemungkinan besar, ia tak akan bisa melepaskan diri lagi.
“Kalau begitu, coba lihat bagaimana dunia serangga di luar.”
Qin Shang segera merangkak beberapa langkah ke depan.
Saat ini ia terjebak di dalam sesuatu yang menyerupai kepompong putih atau cangkang telur.
Cangkang putih itu hampir tembus pandang sehingga ia masih bisa melihat pemandangan di luar secara samar.
Qin Shang pun mengintip keluar.
Di luar terbentang hutan lebat.
Pohon-pohon purba menjulang tinggi hingga seolah menembus langit.
Serangga-serangga merayap di tanah, sementara yang lain beterbangan di udara.
Bentuk mereka beraneka ragam, dan jumlahnya tak terhitung.
“Jangan-jangan... ini memang Dunia Xuanwu?”
gumam Qin Shang dalam hati.
Kalau tempat ini benar-benar Dunia Xuanwu, berarti selama tubuh aslinya berhasil menemukan kepompong Cacing Lapar ini, misteri di balik Cacing Lapar kemungkinan besar akan terungkap.
“Aku coba lihat apakah cangkang telur ini bisa dihancurkan.”
Qin Shang mundur beberapa langkah, lalu melesat ke depan dan menghantam cangkang bening itu dengan antenanya.
Namun, setiap benturan hanya meninggalkan bekas yang sangat kecil.
Cangkang itu ternyata sangat keras.
Meski begitu, usahanya bukan tanpa hasil.
Setelah berkali-kali menghantam titik yang sama, perlahan muncul sebuah cekungan kecil.
Kalau terus dilakukan, cepat atau lambat ia pasti bisa melubanginya.
Setelah menghantam berkali-kali, Qin Shang mulai kelelahan.
Biasanya, setiap kali kehabisan tenaga seperti ini, ia akan keluar dari dunia mimpi, memulihkan tenaganya, lalu masuk kembali.
Namun kali ini...
Ia sama sekali tidak keluar dari ruang mimpi itu.
“Celaka! Serangan laparku sedang kambuh. Di sini pasti tidak ada infus. Jangan-jangan aku benar-benar akan terjebak selamanya di dalam tubuh serangga ini? Apa aku masih bisa bangun?”
Qin Shang benar-benar terkejut.
Dulu, saat pertama kali pingsan karena serangan rasa lapar itu kambuh, ia dilarikan ke rumah sakit.
Ia baru sadar kembali setelah mendapat infus glukosa dan cairan nutrisi.
Sekarang ia berada di kawasan tambang Gunung Tianyuan.
Kemungkinan besar, tempat seperti ini sama sekali tidak memiliki infus.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Tiba-tiba dunia di sekelilingnya mulai berputar.
Pemandangan di hadapannya perlahan menjadi kabur.
“Aku akan keluar!”
Qin Shang langsung bersorak dalam hati.