Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 — Titis Darah
Kalung itu lebih berat daripada kelihatannya.
Tri mengangkatnya dengan dua jari. Logam merah gelap di ujung rantai terasa dingin, tetapi bukan dingin murah seperti Kristal Kelabu bekas. Ada sesuatu yang padat di dalamnya, seperti seluruh ruang kecil dilipat sampai menjadi setetes darah.
Pak Mahar menatap wajahnya.
“Tahu itu apa?”
Tri tidak langsung menjawab.
Ia tahu.
Terlalu tahu.
Teknologi penyimpanan lipat-ruang. Mecha ukuran penuh dimasukkan ke dalam benda seukuran koin, dipanggil kembali lewat kunci Daya Indra. Di Planet 3212, ia hanya pernah melihat iklannya di layar rusak. Harga iklan itu saja sudah membuatnya ingin mencuri layar.
“Kalung penyimpanan, Pak.”
“Di dalamnya ada Mecha A puncak. Namanya Titis Darah.”
Tri menatap kalung itu lagi.
Nama itu tidak berteriak.
Justru karena itu terdengar mahal.
Pak Mahar melanjutkan, “Dibuat Empu tingkat S. Bukan barang baru, tapi jauh lebih baik daripada semua rongsokan yang biasanya kau sentuh. Senjata utamanya senapan laras ganda dan pisau pendek. Rangkanya ringan-sedang. Cocok untuk murid yang mengira menembak senjata guru adalah cara memperkenalkan diri.”
Tri menelan ludah.
“Pak memberi saya?”
“Meminjamkan.”
“Berapa sewanya?”
Pak Mahar menatapnya datar.
Tri segera berdiri lebih lurus. “Maksud saya, tanggung jawabnya apa, Pak?”
“Jangan rusak.”
“Itu sulit.”
“Jangan rusak karena bodoh.”
“Itu lebih mungkin.”
Pak Mahar menutup kotak. “Kau akan memakainya di latihan resmi. Kalau kau kabur bawa ini ke luar akademi, aku tidak perlu Mayor Bara untuk menangkapmu. Aku sendiri yang mematahkan kakimu.”
Tri menggantungkan kalung itu di leher.
Logam merah menyentuh dada.
Satu denyut Daya Indra kecil ia kirim ke dalam.
Ruang di dalam kalung terbuka sekejap.
Di balik ruang yang dilipat, ia melihat bayangan Mecha.
Merah tua.
Ramping.
Diam seperti pisau yang disimpan di sarung bagus.
Hanya satu detik, lalu ruang itu menutup lagi.
Tri menahan senyum.
Pak Mahar melihatnya. “Jangan terlalu senang. Kau belum pantas.”
“Saya akan berusaha menjadi pantas dengan cepat.”
“Mulai sekarang. Lapangan latihan tiga.”
Lapangan latihan tiga Damokles berada di belakang hanggar menengah. Lantainya cukup luas untuk tiga pertarungan kecil, dinding pelindungnya bekas penuh goresan, dan kursi penonton samping selalu diisi murid yang tidak punya kegiatan lebih baik daripada melihat orang lain dipukul.
Hendra sudah menunggu di pagar.
“Lo dipanggil Pak Mahar lalu keluar hidup,” katanya. “Mengecewakan forum.”
Tri mengangkat kalung merah.
Hendra berhenti bicara.
“Itu...”
“Pinjaman.”
“Itu kalung penyimpanan Mecha.”
“Pinjaman mahal.”
Hendra menatapnya, lalu menatap langit. “Gue anak keluarga kaya, tapi hidup lo lebih tidak masuk akal.”
Sebelum Tri sempat membalas, suara tajam datang dari sisi lapangan.
“Jadi kau murid baru yang dapat Titis Darah?”
Seorang gadis senior berdiri di pintu masuk latihan, rambutnya diikat tinggi, seragamnya digulung sampai siku. Di punggung tangannya ada bekas goresan lama, dan matanya terang seperti orang yang selalu ingin membuktikan sesuatu dengan memukulnya langsung.
Beberapa murid langsung berbisik.
“Kak Mira.”
“Yang dari Planet Sita.”
“Light Mecha paling galak.”
Mira melangkah masuk tanpa menunggu izin. “Aku minta Pak Mahar meminjamkan Titis Darah untuk latihan tim tiga bulan lalu. Ditolak.”
Tri menatap Pak Mahar.
Pak Mahar berdiri di sisi lapangan, wajahnya seperti batu. “Aku juga akan menolakmu kalau kau memanjat dinding.”
Mira tidak tertawa. “Pak, saya ingin uji dia.”
“Kau ingin memukul murid baru.”
“Kalau dia pantas memegang Titis Darah, dia tidak akan jatuh terlalu cepat.”
Hendra berbisik dari pagar, “Ini bagian di mana lo bilang tidak?”
Tri menyentuh kalung.
“Kalau menang dapat kredit?”
Mira menatapnya seolah-olah ia baru mencium bau sampah.
Pak Mahar menutup mata sebentar.
Hendra menjawab, “Tidak.”
Tri menghela napas. “Sayang.”
Mira masuk ke kokpit Mecha latihannya sendiri, ringan berwarna abu-abu, sendinya cepat, kaki panjang, bilah pendek di pinggang. Ia jelas bukan lawan kasar. Gerakannya bahkan sebelum mulai sudah menunjukkan kebiasaan memotong sudut dan menyerang dari tempat yang tidak nyaman.
Tri memanggil Titis Darah.
Kalung merah di dadanya panas.
Udara di depannya berlipat.
Satu Mecha merah tua jatuh ringan ke lantai latihan. Suaranya kecil, seperti darah menetes ke logam.
Seluruh lapangan diam.
Titis Darah berdiri lebih tinggi dari Mecha latihan biasa, tetapi tidak berlebihan. Bahunya ramping, dadanya menyempit, kedua lengan punya jalur senapan tersembunyi. Di punggung, ada ruang penyimpanan pisau dan modul amunisi kecil. Semua garisnya bersih.
Tri hampir ingin membuka panelnya di tempat.
Pak Mahar berkata dari samping, “Masuk.”
Tri masuk kokpit.
Kabel antarmuka menempel.
Berbeda.
Sangat berbeda.
Kalau nomor tujuh belas Bengkel Hitam seperti memaksa otak menelan pasir, Titis Darah seperti alat tajam yang sudah diasah sebelum diletakkan di tangan. Data masuk jernih, tidak berteriak. Berat mesin terbaca utuh. Jalur sendi merespon setengah napas lebih cepat daripada dugaan Tri.
Terlalu bagus.
Harus hati-hati.
Kalau ia bergerak sesuai rasa penuh, semua orang akan melihat bahwa A tingkat Daya Indra bukan batasnya.
Ia menahan keluaran.
Mira tidak menahan apa pun.
Begitu pelindung arena menyala, Mecha abu-abunya menghilang dari garis depan.
Cepat.
Mira menyerang dari kiri bawah, bilah pendek menuju pergelangan Titis Darah. Tri memutar kaki, tetapi sengaja membuat gerakan sedikit terlambat. Bilah Mira menggores pelindung luar.
Penonton bersorak.
“Kak Mira!”
Mira menekan lagi.
Ia bukan Jarum di Bengkel Hitam. Mira menyerang lebih bersih, lebih terlatih, dan tidak memakai jebakan murahan. Setiap tebasan mengarah ke tempat yang memaksa lawan memilih antara mundur atau membuka dada.
Tri mundur.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Hendra di pagar mulai tegang.
Pak Mahar tidak bergerak.
Tri menunggu.
Mira punya satu kebiasaan: setelah serangan ketiga dari sisi kiri, ia akan memotong ke kanan dengan putaran kaki untuk membuka ruang tembak. Kebiasaan bagus melawan murid biasa. Buruk melawan orang yang menghitung engsel.
Serangan ketiga datang.
Tri tidak mundur lagi.
Titis Darah menurunkan bahu, membiarkan bilah Mira menyapu pelindung kosong. Pada saat Mira memutar ke kanan, Tri mengangkat senapan laras ganda dari lengan kiri.
Tidak menembak tubuh.
Ia menembak lantai di belakang tumit Mira.
Dua titik energi kecil meledak.
Lantai bukan sasaran.
Gelombang pantulnya yang ia butuhkan.
Mecha Mira kehilangan pijakan seperempat detik.
Titis Darah bergerak.
Merah tua itu meluncur ke sisi buta Mira, pisau pendek keluar dari lengan kanan, berhenti tepat di depan leher kokpit lawan.
Semua terjadi terlalu cepat.
Penonton diam.
Mira juga diam.
Tri menahan pisau satu jari dari pelindung kokpit, lalu menariknya kembali.
Panel simulasi berbunyi.
Titik fatal.
Pertandingan selesai.
Hendra memukul pagar. “Anjir.”
Pak Mahar menatap data panel.
Angka sinkronisasi Titis Darah milik Tri naik melewati batas A normal selama setengah detik, lalu turun lagi. Tidak cukup untuk menjadi bukti mesin. Cukup untuk membuat orang yang paham merasa lehernya dingin.
Mira keluar dari kokpit dengan wajah merah.
Tri juga keluar.
Ia baru menginjak lantai ketika Mira berjalan lurus ke depannya.
“Sekali lagi.”
Pak Mahar berkata, “Cukup.”
Mira menggertakkan gigi. “Dia menang karena saya tidak tahu pola tembaknya.”
Tri melihatnya.
Gadis ini bukan tidak terima kalah. Ia ingin tahu bagaimana kalahnya.
Itu jenis orang yang bisa dipakai menjadi rekan latihan.
“Kalau sekali lagi,” kata Tri, “saya pakai peluru lebih murah?”
“Kau mengejek?”
“Saya serius. Dua tembakan tadi mahal kalau dihitung latihan.”
Mira menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa pendek. “Kau benar-benar murid pinjaman.”
“Saya lebih suka murid efisien.”
Pak Mahar menutup tablet. “Mira, kau kalah. Tri, kau menang. Tapi kalau kalian berdua membuat lubang di lapangan lagi, kalian berdua membayar.”
Tri dan Mira sama-sama menoleh ke bekas ledakan kecil di lantai.
Tri langsung berkata, “Itu bagian dari fasilitas latihan, Pak.”
“Sekarang bukan lagi.”
Hendra tertawa di pagar.
Mira melihat Titis Darah kembali masuk ke kalung merah di dada Tri. Wajahnya tidak lagi marah. Matanya justru lebih tajam.
“Cara gerakmu,” katanya pelan, cukup untuk Tri dengar, “bukan gaya kelas latihan.”
Tri mengangkat alis.
Mira mendekat setengah langkah. “Itu bau arena bawah. Kau pernah masuk Bengkel Hitam?”
Udara di sekitar Tri seperti menipis.
Senyumnya tetap ada.
“Kak Mira,” katanya, “orang miskin punya banyak bau.”
Mira menyipitkan mata, lalu tersenyum miring. “Kalau begitu, baumu menarik.”
Ia pergi sebelum Pak Mahar menegur.
Tri menunduk, menyentuh kalung Titis Darah.
Malam ini adalah Hari Pembantaian di Bengkel Hitam.
Di bawah sana, daftar acak akan dibuka.
Dan entah kenapa, setelah melihat cara Mira membaca jejak arena dari satu gerakan, ia teringat pada senyum Malaikat Maut di layar lantai tiga.
Orang seperti itu tidak datang untuk menang.
Ia datang untuk merusak.