Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Penyelamat Bertopeng
Tangan pria bertopeng merah berhenti beberapa sentimeter dari wajah Anindya.
Lelaki yang menahannya mengenakan topeng hitam sederhana dan tuksedo dengan dasi yang sengaja dilonggarkan. Senyumnya malas, tetapi jari yang mengunci pergelangan si pemabuk tidak bergeser sedikit pun.
“Lepaskan,” katanya.
“Ini bukan urusanmu.”
“Sekarang jadi urusanku karena kamu merusak pemandangan.” Senyumnya melebar. “Panitia menghabiskan miliaran untuk bunga, lampu, dan musik. Masa semua tamu harus melihat satu pria yang tidak paham kata tidak?”
Beberapa orang di sekitar mereka mulai merekam. Petugas keamanan bergerak mendekat dari dua arah.
Pria bertopeng merah mencoba menarik tangannya. Tekanan pada pergelangannya justru bertambah.
“Saya kenal pemilik hotel ini.”
“Bagus. Nanti kamu bisa menjelaskan kepadanya kenapa rekaman kamera memperlihatkanmu menahan tamu perempuan setelah dia menolak.”
Wajah si pemabuk berubah. Ia akhirnya melepaskan Anindya.
Lelaki bertuksedo ikut membuka genggaman dan mengangkat kedua tangan seolah tak pernah melakukan apa-apa.
“Nah, begitu lebih sopan.”
Keamanan tiba. Anindya menunjukkan kemerahan di pergelangan dan meminta laporan insiden dibuat. Ia tidak ingin kejadian itu dianggap selesai hanya karena pelakunya malu di depan orang banyak.
“Kami akan mengamankan rekaman dan meminta keterangan,” kata kepala keamanan. “Apakah Ibu ingin melapor ke polisi malam ini?”
“Catat identitasnya dan jangan hapus video. Saya akan memutuskan setelah bicara dengan pengacara.”
Pria bertopeng merah dibawa keluar sambil mengumpat pelan. Fungsi sosialnya selesai. Ia tidak lagi menguasai ruangan atau tubuh siapa pun.
“Anda terluka?”
Arka sudah mencapai tepi kerumunan. Tatapannya jatuh pada pergelangan Anindya, lalu naik ke topengnya. Suara itu hampir membongkar seluruh penyamaran lebih cepat daripada tangan si pemabuk.
Anindya menundukkan kepala sedikit. “Saya baik.”
Dua kata cukup.
Mata Arka berubah. Ia mengenali suara itu.
Sebelum ia sempat menyebut nama, Amara tiba dan memegang lengannya.
“Arka, wartawan bertanya kenapa kamu meninggalkan lelang.”
“Ada tamu diserang.”
“Keamanan sudah menangani.” Amara menatap Anindya dari kepala sampai kaki. “Kita tidak tahu siapa dia.”
“Identitas tamu sudah diverifikasi hotel,” jawab Anindya.
Arka mendengar nada itu lagi. “Nindya?”
Denyut di pergelangan Anindya terasa makin keras.
Lelaki bertuksedo yang menolongnya masuk di antara tatapan mereka. “Kalau sesi tebak nama selesai, perempuan ini butuh es untuk tangannya.”
Ia tidak menyentuh Anindya. Hanya menunjuk ke arah balkon dan menunggu persetujuan.
“Di sana lebih sepi,” katanya.
Anindya memilih pergi bersamanya. Bukan karena ia percaya, melainkan karena menurunkan topeng di depan Arka dan Amara bukan bagian dari rencananya.
Di belakang mereka, Arka meminta kepala keamanan menyebut identitas tamu Sponsor Tujuh.
“Maaf, Pak Arkana. Identitasnya sudah diverifikasi, tetapi dilindungi perjanjian sponsor. Kami hanya bisa memberikannya kepada polisi jika laporan dilanjutkan.”
“Saya saksi insiden.”
“Anda tiba setelah pelaku melepaskan korban. Rekaman akan disimpan untuk penyelidikan.”
Amara menarik napas tidak sabar. “Kenapa kamu memaksa? Perempuan itu jelas ingin cari perhatian.”
Arka menatapnya dingin. “Orang yang ditahan paksa tidak sedang mencari perhatian.”
“Kamu bahkan tidak tahu siapa dia.”
“Saya tahu dia sudah bilang tidak dan pria itu tidak berhenti. Itu cukup.”
Jawaban tersebut terdengar sampai pintu balkon. Anindya tidak menoleh, tetapi Damar menangkap perubahan kecil pada langkahnya.
Di balkon, udara malam memotong panas ballroom. Lelaki itu mengambil kantong es dari pelayan, membungkusnya dengan serbet, lalu meletakkannya di meja dekat Anindya.
“Saya tidak akan memasangkannya,” katanya. “Tadi Anda sudah cukup sering disentuh orang tanpa izin.”
Anindya mengambil kantong es sendiri. “Terima kasih.”
Ia menempelkan es pada pergelangan, lalu menggerakkan bahunya perlahan seperti yang diajarkan terapis. Sakitnya tidak menetap dan jari-jarinya masih bisa bergerak penuh. Besok ia tetap harus melaporkan tarikan itu kepada dokter penerbangan, bukan menyembunyikannya demi jadwal.
“Cedera lama?” tanya lelaki itu.
“Bukan urusan Anda.”
“Baik. Setidaknya Anda tahu cara memeriksa sendiri.”
“Damar.” Ia mengulurkan kartu nama, bukan tangan. “Karena Anda kelihatannya akan menolak jabat tangan malam ini.”
Nama lengkap di kartu itu tertulis Damar Wibisana.
“Anda selalu membawa kartu nama ke pesta topeng?”
“Saya selalu siap kalau bertemu orang menarik.”
“Kalimat itu pasti sering dipakai.”
“Dan tetap gagal. Menyedihkan, ya?”
Anindya hampir tersenyum. Hampir.
Damar bersandar pada pagar balkon. “Untung saya sedang bosan, jadi sempat melihat ke arah sana. Kalau tidak, mungkin Kapten Adiwijaya yang datang lebih dulu.”
“Apa bedanya?”
“Cara dia berjalan tadi seperti mau menabrak seluruh ballroom. Sepertinya dia mengenal Anda.”
“Banyak orang merasa mengenal perempuan hanya karena pernah melihat seragamnya.”
Damar mengangkat alis. “Seragam?”
Anindya sadar ia memberi satu kata terlalu banyak.
“Kiasan.”
“Tentu.”
Nada Damar menyatakan ia tidak percaya, tetapi ia tidak mengejar jawaban.
Dari balkon, mereka bisa melihat Arka kembali ke kelompok sponsor. Amara berbicara dekat telinganya, sementara pria itu tetap memandang pintu balkon. Sri Wahyuni berdiri bersama dua pengusaha Grup Wicaksana dan sesekali menunjuk dokumen di tablet.
“Dua keluarga itu sedang sibuk menjual cerita bahagia,” kata Damar. “Padahal saham, proyek, dan pernikahan selalu punya harga yang berbeda.”
“Anda datang untuk amal atau menghitung harga keluarga lain?”
“Saya anak keluarga kaya. Hobi kami memang mengamati kebohongan sambil makan makanan mahal.”
“Keluarga Wibisana tidak punya kebohongan?”
“Terlalu banyak. Itu sebabnya saya ahli mengenali milik orang lain.”
Jawabannya terdengar seperti lelucon, tetapi mata Damar tidak ikut tertawa.
Anindya menurunkan kantong es. “Saya hanya tamu yang datang sendiri. Jangan membangun teori terlalu jauh.”
“Baik. Tamu yang datang sendiri, punya meja sponsor privat, tahu prosedur penyimpanan rekaman, dan membuat Kapten Arkana lupa ada kamera.”
“Anda banyak bicara.”
“Karena Anda sedikit bicara. Harus seimbang.”
Seorang petugas keamanan datang membawa nomor laporan insiden. Anindya menerimanya dan mengirim foto dokumen kepada Sisi. Seluruh bukti sudah diamankan, dan pengacara hotel siap menghubunginya esok hari.
Damar menatap cara Anindya menyelesaikan urusan itu tanpa panik. Ketertarikan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
“Mau saya antar keluar?”
“Pengawal saya ada di lobi.”
“Tentu saja ada.”
Anindya berdiri. “Terima kasih sudah menolong. Setelah ini, kita tidak saling berutang.”
“Kalau bertemu lagi, ingat kenalkan nama asli Anda.”
“Kalau bertemu lagi.”
Ia berjalan menuju pintu balkon.
“Satu hal lagi,” panggil Damar.
Anindya menoleh.
Damar menunjuk topeng hitamnya. “Topeng itu koleksi KIMI untuk kerja sama amal dua tahun lalu. Barangnya tidak dijual umum. Berarti Anda cukup dekat dengan Kemal, atau dekat dengan seseorang yang dekat dengannya.”
Langkah Anindya berhenti.
Senyum Damar kembali santai, tetapi kali ini ia tak berhasil menyembunyikan ketepatan pikirannya.
“Ternyata Anda memang bukan sekadar pria yang sedang bosan,” kata Anindya.
“Dan Anda bukan sekadar tamu yang datang sendiri.”