Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Rencana Kabur Malam Ini
Pukul sembilan malam, Kediaman Wijaya mulai sunyi.
Nathan pulang dari kelas tambahan menjelang lima sore dan langsung melihat plester di telapak tangan Karina.
"Mama kenapa?"
"Jatuh sedikit di taman. Nggak parah."
Nathan menatap Lucas. Adiknya langsung menunduk.
"Aku kejar kupu-kupu," aku Lucas. "Terus ada kakek dorong Mama."
"Kamu lari sendiri lagi?"
"Kupu-kupunya cepat."
Nathan tampak ingin marah, tetapi Karina menarik kedua anak itu mendekat. "Lucas sudah tahu lain kali nggak boleh masuk jalan yang belum dikenal. Mama juga sudah diperiksa. Selesai, ya."
Nathan tetap memegang tangan Karina dan meniup plesternya sekali, seperti tiupan kecil dapat menghapus rasa sakit. Gerakan itu hampir membuat keputusan Karina goyah.
Namun saat makan malam, Sebastian tidak turun. Reyhan mengabarkan melalui Bi Asih bahwa ada rapat daring mendadak di ruang kerja. Tidak ada kesempatan melanjutkan pertanyaan tentang taman, dan semua pelayan yang Karina tanya hanya menjawab bahwa bagian belakang bukan wilayah untuk keluarga beraktivitas.
Sesudah anak-anak mandi, Karina berjalan ke dapur dengan alasan mengambil air. Ia mengamati koridor layanan, letak kamera, pintu garasi, serta lampu di pos samping. Ia tidak berniat menghadapi petugas atau merusak sistem. Ia hanya mencari jalur yang bisa dilewati tanpa membangunkan satu rumah.
Tuti kemudian menggambar rute pendek pada kertas bekas daftar belanja: pintu layanan, sisi garasi, gerbang kecil, lalu minimarket di jalan utama. Keduanya sepakat tidak membawa anak-anak sebelum kendaraan dan tempat singgah benar-benar tersedia.
Karina melipat kertas itu sampai sekecil kuku dan menyelipkannya ke saku.
Karina menutup pintu kamar perlahan. Telapak tangannya masih ditempeli plester kecil setelah jatuh di taman belakang, tetapi rasa perih itu kalah oleh kalimat Sebastian yang terus terulang.
Itu bukan urusan yang perlu kamu tahu sekarang.
Rumah ini menuntut Karina tinggal, menurut, dan mempercayakan keselamatan anak-anak kepada aturan yang tidak boleh ia pahami. Kendaraan harus dilaporkan. Orang yang tinggal di belakang pintu terkunci tidak boleh ditanyakan. Seorang asing dapat mengirim pesan pribadi kepada Sebastian, tetapi Karina bahkan tidak tahu apakah besok kedudukannya sebagai istri masih berarti apa pun.
Ia tidak bisa terus menunggu hidupnya diputuskan orang lain.
Karina membuka lemari paling bawah. Sebuah koper kecil sudah terisi pakaian sederhana miliknya, dua set baju Nathan dan Lucas, dokumen, buku tabungan, gelang emas, serta bungkusan permen dan perban pita. Ia tidak membawa pakaian baru yang memenuhi lemari. Barang-barang itu dibeli oleh keluarga Wijaya dan bisa menjadi alasan untuk menuduhnya mencuri.
Di dalam dompet ada sedikit uang tunai yang tersisa dari barang lama Karina dan uang belanja yang memang diberikan atas namanya. Jumlahnya tidak cukup untuk hidup lama di Jakarta, tetapi cukup untuk transportasi, makan, dan satu atau dua malam di penginapan murah.
Malam ini bukan akhir pelarian.
Ia akan membawa koper ke titik aman lebih dulu. Tuti menunggu di minimarket dekat jalan utama untuk membantu mencari kendaraan dan tempat singgah. Setelah semuanya pasti, Karina akan kembali ke lantai dua, membangunkan Nathan dan Lucas, lalu membawa mereka keluar melalui jalur yang sama.
Ia tidak akan menyeret dua anak mengantuk ke jalan sebelum tahu ada kendaraan di luar.
Karina melihat jam. Tuti seharusnya sudah bersiap keluar dari pintu layanan belakang.
Ia mengambil HP dan menelepon nomor baru Tuti yang diberikan setelah gadis itu tiba di Jakarta. Sambungan diangkat pada dering kedua.
"Bu?"
"Kamu sudah di mana?"
"Masih dekat dapur. Saya tunggu petugas lewat dulu. Setelah itu keluar ke minimarket."
"Jangan ambil risiko kalau ada orang melihat. Kita bisa batalkan."
"Saya bisa keluar bilang mau beli obat." Suara Tuti turun menjadi bisikan. "Tapi Ibu juga hati-hati. Pak Darto suka lewat garasi sekitar jam segini buat cek mobil terakhir."
"Kalau ada yang tidak sesuai, kembali ke kamar. Jangan berdebat dengan siapa pun."
"Iya, Bu."
Karina memutus sambungan.
Ia berdiri di samping tempat tidur. Nathan dan Lucas tidur saling membelakangi malam ini. Lucas memeluk bantal kecil, sedangkan Nathan menyimpan bungkusan perban pita di bawah telapak tangannya.
Karina membungkuk dan menarik selimut mereka.
"Mama cuma pergi cari jalan buat kita bertiga," bisiknya. "Mama bukan meninggalkan kalian."
Lucas bergerak sedikit. Karina membeku sampai napas anak itu kembali teratur.
Rasa bersalah tetap menusuk. Ia tahu ada pelayan dan keamanan di rumah. Anak-anak tidak benar-benar sendirian. Namun setelah berjanji akan selalu ada, bahkan satu jam pergi diam-diam terasa seperti pengkhianatan.
Karina memaksa diri mengingat alasan ia harus memiliki jalan keluar.
Dalam novel, perempuan pemilik tubuh ini akhirnya ditemukan terlalu berbeda dari yang diharapkan orang-orang di sekelilingnya. Kecurigaan berubah menjadi pengawasan. Pengawasan berubah menjadi kurungan. Setelah tak lagi berguna, ia dibuang jauh dari kota tanpa makanan dan pertolongan.
Tak ada yang datang ketika ia berteriak.
Tubuhnya baru ditemukan setelah semuanya terlambat.
Karina tidak tahu bagian mana yang akan tetap terjadi setelah alur berubah. Ia sudah menyelamatkan anak-anak dari beberapa luka, meninggalkan desa lebih awal, dan membuat Sebastian memandangnya dengan cara yang tidak ada dalam cerita. Namun setiap perubahan juga membuat masa depan semakin sulit diprediksi.
Ia menolak menunggu sampai pintu benar-benar dikunci.
Karina mengusap rambut Nathan, lalu Lucas. Matanya panas, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh ke wajah mereka.
"Tunggu Mama sebentar."
Ia berdiri dan menarik koper keluar kamar.
Roda kecilnya terlalu berisik di lantai marmer. Karina mengangkat seluruh koper dengan satu tangan dan membawanya menuruni tangga belakang. Beratnya hampir tidak terasa, tetapi setiap bunyi dari kayu atau pendingin ruangan membuat jantungnya melonjak.
Koridor layanan lebih gelap daripada bagian utama. Ia melewati ruang cuci, gudang linen, lalu pintu yang mengarah ke area garasi. Kamera keamanan terpasang di sudut langit-langit. Karina sudah memperhatikan pola putarnya selama beberapa hari. Ada bagian sempit di bawah tangga yang tidak tertangkap ketika lensa menghadap pintu utama.
Ia menunggu sampai kamera bergerak, lalu melintas cepat.
Di balik pintu garasi, beberapa mobil terparkir dalam cahaya redup. Tak ada suara Pak Darto atau petugas keamanan. Karina menurunkan koper dan menariknya melewati sisi kendaraan paling dekat agar tidak terlihat dari jendela pos.
Pintu samping berada di ujung. Di luar pintu itu ada jalan layanan menuju gerbang kecil, lalu minimarket sekitar lima menit berjalan kaki. Jika Tuti berhasil tiba lebih dulu, mereka akan mencari kendaraan, menyimpan koper, dan Karina kembali menjemput anak-anak.
Sesederhana itu.
Setidaknya dalam rencana.
Karina berhenti di depan pintu samping. Ia menarik napas, mendengarkan sekeliling, lalu meraih gagang logam.
Ujung jarinya baru menyentuhnya ketika sebuah lampu menyala di belakang.