NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak

Kedua pasang netra yang saling bersitatap. Zara untuk beberapa saat terdiam, menatap tajam netra bening lawan bicaranya seolah mencari arti kata yang terucap dari bibir tipis Nonanya.

"Apa maksud Nona?" Zara tidaklah tuli dan dia bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucap Anastasya.

"Menikahlah dengan suamiku. Aku mohon," ucapnya sekali lagi mengulang kata-kata yang sama.

Zara mengeleng samar dengan bibir menyerigai tipis seolah tak habis fikir dengan permintaan Anastasya yang tak masuk akal.

"Tidak Nona."

Anastasya mendesah pelan. Kedua netranya mulai berkaca-kaca.

"Aku mohon Zara, kau mau mengabulkan permintaanku ini." Perempuan berkulit putih itu menangkupkan kedua tangannya selayaknya memohon.

Zara dibuat penuh tanya dan tak mampu berkata. Sebenarnya apa yang diinginkan Anastasya dari dirinya.

"Sebenarnya apa maksud Nona? Nona meminta saya menikah dengan suami Nona, dan apakah Nona sadar dengan permintaan Nona itu?"

Anastasya mengangguk kuat. "Aku sadar dengan ucapanku Zara."

"Jika Nona sadar, tidak seharusnya Nona meminta saya untuk menikah dengan pria yang sudah beristri bahkan pria yang anda sendiri cintai." Zara mengabaikan posisinya yang hanyalah seorang bawahan Anastasya. Namun, ia cukup geram dan tak mampu menahan emosi atas permintaan Anastasya yang tak akan ia terima.

"Tapi suamiku tidak mencintaiku Zara!"

Apa?

Zara menyentuh pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.

"Saya rasa itu bukan alasan yang tepat hingga meminta saya untuk menikah dengan suami Nona. Kami tidak saling mengenal Nona," tolak Zara.

"Aku tau suamiku tertarik padamu Zara. Lagi pula, tidak mungkin aku meminta hal itu padamu jika suamiku pun bahkan tak menyukaimu."

"Saya mohon hentikan Nona. Jika Nona berkeinginan untuk mencari calon istri yang tepat untuk suami anda, Lebih baik Nona mencari wanita lain selain saya."

"Apa kau tau Zara, suamiku seorang CEO yang memiliki segalanya. Aku yakin jika kau kelak akan hidup bahagian tanpa kekurangan suatu apa pun."

Zara spontan bangkit dari posisi duduknya. "Hentikan Nona! Saya memang miskin, tapi saya masih bisa berfikir dengan akal sehat jika menyangkut tentang masa depan saya. Saya tidak silau dengan harta, tahta, atau apa pun yang dimiliki oleh suami anda. Maaf jika sudah melupakan batasan saya yang hanya seorang karyawan anda. Permisi Nona," pamit Zara pada Anastasya yang masih menatap kepergian gadis mungil itu hingga menghilang di balik pintu.

Anastasya mengusap kasar wajah cantiknya. Buliran bening mengucur deras dikedua sudut netranya.

Tidak seharusnya aku seterburu-buru ini untuk meminta ini padanya. Zara sama sekali tak tertarik dengan semua yang aku tawarkan.

Perempuan cantik itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menahan tangis yang siap pecah kapan saja.

****

Zara berlari menuju kamar yang beberapa hari ini ditempatinya. Menutup rapat pintu dan menguncinya dari dalam. Dengan tangis lirih gadis itu duduk bersandar di balik pintu dengan mendekap erat kedua lututnya.

Ternyata di balik segala kebaikan Anastasya selama ini hanyalah untuk semakin mengikatnya dalam rasa berhutang budi yang semakin besar. Hingga mengira jika permintaan bodoh itu akan diterima oleh Zara begitu saja tanpa berfikir kedepan.

Apa Nona Anastasya sudah tidak waras hingga ingin suaminya menikah lagi denganku.

Ingin rasanya Zara segera pergi dari istana mewah itu untuk kembali ketoko bunga dan menjalani hari-harinya dengan tenang disana. Bahkan jika perlu, gadis itu ingin pergi sejauh-jauhnya untuk menghindari Anastasya.

*******

Anastasya berjalan gontai menuju kamarnya. Membuka pintu perlahan, namun saat dagunya yang sempat tertunduk terangkat, dirinya mendapati Arka yang sudah menunggunya duduk di sofa yang berada di dalam kamar.

Gadis itu menutup kembali pintu tanpa suara dan berjalan mendekat kearah suaminya.

"Kau disini," sapa Anastasya dan memilih sofa berbeda untuk ia duduki.

Terdengar pria tampan berbadan tegap itu mengambil nafas dalam.

"Apa yang sudah kau bicarakan pada gadis itu?" Arka menajamkan pandangan tepat di wajah istrinya.

Anastasya gelagapan. "Apa maksudmu?" tanyanya pura-pura tak mengerti.

"Aku sudah mendengar semuanya," menjawab dengan suara datar dan tanpa ekspresi.

"Ja-jadi kau ...

"Iya, aku mendengar semuanya."

"Baguslah jika kau mendengarnya." Anastasya mengeser pandangan kearah lain. Tak mampu membalas tatapan tajam suaminya yang serasa menyayat sembilu.

"Kenapa kau meminta hal semacam itu pada gadis yang tak tau apa-apa tentang pernikahan kita?"

"Karna aku tau kau tertarik dengan gadis itu!" Suara Anastasya terdengar berat seolah tak kuasa mengucap itu semua.

Arka yang duduk bersandar itu menghela nafas berat. Pandangannya melembut seketika menatap Anastasya yang mulai tertunduk.

"Tidak seharusnya kau mengucapkan itu semua. Kita sudah menjalani biduk rumah tangga selama dua tahun ini."

"Aku tau Arka, kita sudah hampir 2 tahun menikah." Anastasya mengangkat dagunya, menatap lekat netra lawan bicaranya. "Kau pun tau, kita menikah tidak dilandasi dengan rasa cinta," sambung Anastasya.

Arka tertegun. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Saling berperang dengan fikir dan batin masing-masing.

"Aku harap kau melupakan itu semua dan menjalani rumah tangga kita selayaknya pasangan lain tanpa ada perpisahan," lontar Arka penuh penegasan.

"Tapi kau juga berhak bahagia dengan seorang perempuan yang kau cintai dan gadis itu ialah Zara," papar Anastasya masih tetap kekeh pada keyakinannya.

"Anastasya, berhentilah berspekulasi dengan pemikiranmu sendiri."

"Arka," ucap Anastasya lirih namun penuh penekanan. "Aku sudah cukup lama mengenalmu dan apa kau masih belum sadar juga memahami perasaanmu sendiri?"

Arka menautkan kedua alisnya, tak tau kemana arah pertanyaan istrinya.

"Aku melihat adanya kehangatan dari pandanganmu saat kau menatap Zara tanpa gadis itu sadari. Kau memakan masakannya dengan lahap dan sangat menikmatinya, yang tak pernah aku temui raut wajah yang sama ketika kau makan di tempat mewah mana pun, saat bersamaku." Anastasya menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Terakhir, saat Zara tanpa sengaja pingsan tepat di depanmu hingga kau mendekap tubuh gadis itu dalam pelukanmu. Apa kau sadar, jika wajahmu tampak begitu khawatir dan berfikir keras untuk bisa mencapai RS dalam waktu cepat, dan justru meninggalkanku."

Deg..

Puluhan anak panah serasa menacap di relung hati terdalam Arka. Coba menelaah daru setiap kata yang terlontar dari bibir tipis istrinya. Kenapa dirinya sama sekali tak menyadari jika Anastasya begitu memperhatikannya selama dirinya bersama Zara. Meskipun dirinya tak pernah berucap, namun ternyata Anastasya menyimpan itu semua dan meledak tepat di detik ini.

"Anastasya, kenapa kau berfikiran sampai sejauh itu. Aku minta maaf karna sempat meninggalkanmu saat aku membawa Zara menuju RS, tapi demi tuhan, itu tanpa sengaja aku lakukan."

"Itu sudah tak penting lagi bagiku, Arka. Yang menjadi masalah, Zara menolak untuk menikah denganmu."

Tatapan Arka yang sempat melembut itu, kini berubah jengah. Mendengar Anastasya lagi-lagi membahas perihal pernikahan yang sejujurnya pun tak ia ingini.

"Anastasya, berhentilah membicarakan hal yang sama. Bukankah sudah aku tekankan untuk menjalani rumah tangga kita layaknya pasangan pada umumnya tanpa adanya perpisahan."

Tapi aku tetap menginginkanmu untuk hidup bahagia dengan gadis yang kau cintai, dan itu bukan aku. Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, yang membuatmu harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan gadis berlumur dosa sepertiku.

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!