NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Tiga tahun berlalu sejak badai besar runtuh dan menyapu bersih seluruh duri dalam kehidupan Rowan dan Rossi.

Kota Los Angeles pagi itu diselimuti oleh fajar keemasan yang hangat. Sinar matahari menerobos masuk melintasi jendela-jendela kaca menjulang tinggi di Mansion Utama Vale-Knight, memantulkan pendar indah di atas lantai marmer yang bersih berkilau.

Tidak ada lagi atmosfer dingin mencekam, tidak ada lagi bayangan dendam atau paranoia yang menghantui.

Yang tersisa di dalam kediaman megah itu hanyalah kehangatan, gelak tawa, dan aroma kopi segar yang menguar dari arah dapur utama.

Di taman belakang yang hijau dan asri, hamparan bunga mawar putih berkembang bermekaran dengan indahnya. Di tengah gazebo ukir yang teduh, Rossi duduk anggun memegang secangkir teh herbal.

Rambut panjangnya yang hitam berkilau terurai lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Penampilannya kini benar-benar memancarkan aura seorang Nyonya Besar keluarga Vale-Knight—anggun, tenang, dan memikat tanpa kehilangan sedikit pun kepolosan serta kehangatan yang menjadi ciri khasnya.

Namun, fokus Rossi pagi itu tidak tertuju pada pemandangan taman, melainkan pada dua sosok yang sedang sibuk berkejaran di atas rumput hijau yang luas.

"Ayo tangkap Papi kalau bisa, Reagen kecil!" seru sebuah suara bariton yang amat ramah dan hangat.

Rowan Vale-Knight—pria yang dulunya dikenal sebagai sosok paling kaku, dingin, dan tak tersentuh di seluruh benua—kini sedang berlari kecil sembari tertawa lepas.

Jas mewahnya telah ditanggalkan, kini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

Di depannya, seorang anak laki-laki berusia dua tahun dengan pipi gembil dan mata hitam yang persis seperti Rowan sedang berlari dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan.

"Papi! Tunggu!" jerit balita itu dengan tawa renyah yang membahana, mengacungkan mainan mobil-mobilan kayu di tangannya.

Hup!

Dengan gerakan sigap dan penuh kasih sayang, Rowan menyambar tubuh mungil putranya, mengangkat balita itu tinggi-tinggi ke udara hingga suara tawa kegelian anak itu makin membendung di taman.

Rowan memeluk putranya rapat-rapat, menciumi pipi gembil itu berkali-kali hingga si kecil terpingkal-pingkal.

"Papi geli! Hahaha! Mami, tolong!" panggil si kecil mencari perlindungan.

Rossi yang menyaksikan pemandangan itu dari gazebo menyunggingkan senyuman paling manis yang mengembang dari dasar hatinya. Matanya berbinar bahagia, memancarkan rasa syukur yang tak terhingga atas setiap detik kehidupan yang ia jalani saat ini.

"Rowan... Jangan buat dia terlalu lelah, sebentar lagi Mommy dan Daddy akan sampai," tegur Rossi lembut namun sarat akan nada menggoda, melangkah keluar dari gazebo menghampiri suami dan anaknya.

Rowan mendatangi Rossi dengan balita yang kini bersandar di bahu tegapnya.

Pria itu menatap Rossi dengan pandangan yang tak pernah berubah sejak malam pertama ia menyadari cintanya—sebuah pandangan yang penuh dengan pengabdian, cinta mutlak, dan rasa kagum yang tak pernah memudar.

Rowan mengulurkan satu tangannya yang bebas, merengkuh pinggang halus Rossi dan menarik istrinya rapat ke sisinya. Ia mendaratkan kecupan hangat di pelipis Rossi.

"Anak ini mirip sekali denganku, Sayang. Dia tidak pernah tahu kata lelah kalau sedang bermain," ujar Rowan dengan nada suara yang begitu lembut, jauh berbeda dari sosok penguasa dingin yang dulu ditakuti lawan bisnisnya.

"Tentu saja dia mirip denganmu. Dari wujudnya sampai kelakuannya yang jahil, semuanya meniru Papinya," sahut Rossi tertawa kecil, mengusap peleringan keringat di dahi putranya—yang mereka beri nama Reagen-Knight, sebuah nama yang diambil untuk menghormati kenangan mendiang sahabat Rowan sekaligus menjadi simbol penebusan dan kedamaian baru bagi keluarga mereka.

Tak lama kemudian, suara deru mobil mewah terdengar berhenti di pelataran depan mansion.

Dari pintu ganda yang terbuka lebar, muncul Nyonya Suzzy dan Kaelor Vale-Knight. Suzzy tampak amat memesona dengan gaun musim panas berwarna kuning cerah, sementara Kaelor berjalan berwibawa di sampingnya sembari membawa sebuah kotak hadiah berukuran besar.

"Cucu Mommy yang paling tampan ada di mana?!" seru Suzzy dengan suara riangnya yang melengking bahagia, mengabaikan sopan santun mansion sejenak demi mencari keberadaan cucunya.

"Oma!" jerit Reagen kecil yang langsung merosot turun dari gendongan Rowan dan berlari kencang menyongsong neneknya.

Suzzy berlutut dengan riang, menyambut tubuh mungil cucunya ke dalam dekapan hangat, menciumi wajah Reagen kecil dengan gemas. "Oh astaga... Sayangku! Lihatlah betapa makin tampannya cucu Oma ini! Rossi, kau benar-benar merawatnya dengan sangat luar biasa!"

Rossi melangkah mendekat, membungkuk sopan dan memeluk ibu mertuanya dengan hangat. "Terima kasih, Mommy. Mommy dan Daddy datang cepat sekali?"

Kaelor terkekeh pelan, mengusap kepala Reagen kecil lalu menjabat tangan Rowan dengan bangga.

"Bagaimana tidak cepat? Daddymu ini dipaksa menyetir seperti pembalap F1 oleh Mommy-mu hanya karena dia tidak sabar membawakan mainan baru untuk Reagen."

"Tentu saja!" potong Suzzy membusungkan dada dengan jenaka. "Aku ini Oma terbaik di dunia! Dan ingat Rowan... Jangan coba-coba melarang cucuku bermain dengan mainan baru dari Daddymu ini!"

Rowan hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang mancung, menyunggingkan senyum pasrah yang sangat familiar. "Tentu saja tidak, Mommy. Siapa yang berani melarang Nyonya Besar?"

Tawa renyah pecah di antara mereka. Suasana kekeluargaan yang begitu hangat, penuh tawa, dan lepas melingkupi pelataran mansion tersebut.

Tidak ada lagi bayangan tentang Cathez Widmer—yang kini harus menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi atas vonis hukuman seumur hidup tanpa remisi.

Tidak ada lagi pengaruh dari Abner Widmer, yang setelah kebangkrutan total seluruh dinasti bisnisnya, kini hidup mengasingkan diri dalam kesendirian dan penyesalan mendalam atas segala dosa-dosanya terhadap Rossi.

Keadilan telah berdiri tegak pada tempatnya, membiarkan mereka yang menabur kejahatan menuai kehancuran, sementara mereka yang bertahan dalam ketulusan dipeluk oleh kebahagiaan sejati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, setelah acara kumpul keluarga selesai dan Nyonya Suzzy serta Kaelor membawa Reagen kecil ke ruangan bermain internal untuk mendengarkan dongeng, Rowan membimbing Rossi naik menuju ke balkon kamar utama mereka di lantai atas.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, melukis langit Los Angeles dengan warna jingga dan keunguan yang begitu romantis.

Angin sore bertiup sepoi-sepoi, meresapkan aroma harum dedaunan dan mawar dari taman.

Rowan berdiri di belakang Rossi, melingkarkan kedua lengan tegapnya di pinggang halus sang istri, menumpukan dagunya di bahu Rossi. Mereka berdua menatap pemandangan indah di hadapan mereka dalam keheningan yang penuh rasa damai.

"Kau sedang memikirkan apa, Sayang?" bisik Rowan pelan, napas hangatnya menyapu leher Rossi.

Rossi menyandarkan kepalanya di dada tegap Rowan, menggenggam jemari tegap suaminya yang melingkari perutnya.

"Aku hanya... sedang mengingat kembali semuanya, Rowan," ujar Rossi dengan suara halus yang sarat akan rasa haru. "Mengingat bagaimana aku dulu berada di desa yang dingin, terisolasi, takut akan masa depan, dan tidak pernah membayangkan bahwa aku berhak untuk bahagia..."

Rossi membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Rowan, menengadahkan wajahnya untuk menatap mata hitam suaminya—mata yang kini hanya memancarkan pendar cinta yang teramat dalam.

"Lalu kau datang..." lanjut Rossi dengan senyuman yang begitu tulus. "Kau membawaku keluar dari kegelapan itu, melindungiku dengan seluruh ragamu, dan memberiku keluarga yang sangat mencintaiku. Kau adalah rumahku, Rowan."

Hati Rowan bergetar hebat mendengar pengakuan tulus yang keluar dari bibir wanita yang paling ia cintai di seluruh jagat raya ini.

Pria tegap itu mengecup kening Rossi dengan durasi yang sangat lama, lalu menyatukan hidung mereka.

"Kau salah, Rossi..." bisik Rowan dengan suara serak yang penuh emosi. "Kaulah yang menyelamatkanku. Kaulah yang mencairkan es di hatiku, menyembuhkan lukaku, dan mengajarkanku apa arti cinta dan kehidupan yang sebenarnya. Tanpamu... aku hanyalah pria kaku yang tak bernyawa."

Rowan merengkuh kedua pipi Rossi dengan telapak tangannya yang tegap, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya dengan ketegasan dan kepasrahan cinta yang mutlak.

"Malam ini, besok, dan di setiap sisa kehidupanku di dunia ini..." janji Rowan mantap, "aku akan terus mencintaimu, menghormatimu, dan melindungi mu dengan seluruh jiwaku, Rossi-Knight."

Air mata keharuan dan kebahagiaan menetes pelan di pipi Rossi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Rossi mendekatkan wajahnya, membungkam bibir Rowan dengan sebuah ciuman yang hangat, dalam, dan sarat akan rasa cinta sejati yang tak akan pernah padam oleh waktu.

Rowan membalas ciuman itu dengan penuh kelembutan, menarik tubuh istrinya rapat ke dalam dekapannya di bawah naungan langit sore yang indah.

Di tempat inilah—di dalam pelukan pria yang paling ia cintai, dikelilingi oleh kehangatan keluarga yang tulus, dan terbebas dari seluruh belenggu masa lalu—Rossi akhirnya menemukan takdirnya yang sempurna.

Sebuah kisah penderitaan yang telah bertransformasi menjadi kebahagiaan abadi yang tak terpisahkan.

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!