MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~RASA KEHILANGAN
Hari berganti hari, namun jejak keberadaan Disya seolah lenyap ditelan bumi. Min Jae—yang dikenal publik dengan nama panggung Zelo—berdiri gelisah di depan pintu apartemen Jack. Ia sudah mencoba segala cara untuk menemukan gadis itu: menghubungi teman-temannya, mengecek ke kampus, bahkan mencari info ke mana saja ia mungkin pergi, namun hasilnya tetap nihil. Ponsel Disya tak pernah aktif lagi, seolah gadis itu sengaja menghapus dirinya dari dunia yang selama ini ia kenal.
Bel pintu berbunyi, tak lama kemudian pintu terbuka. Jack menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut, tapi tidak kaku atau kaget berlebihan. Mereka memang sudah beberapa kali bekerja sama dalam proyek pemotretan dan acara seni, jadi wajah ini sudah sangat akrab. Hanya saja mereka tidak pernah terlalu dekat—Zelo terkenal sangat dingin, tertutup, dan jarang sekali terlibat dalam gosip asmara; satu-satunya hubungan yang masih terngiang di telinga publik adalah hubungannya yang tak bertahan lama dengan salah satu produser di Blue Sky beberapa waktu lalu.
"Eh, Zelo?" Jack menyapa santai sambil menyandarkan bahu di bingkai pintu, matanya menyapu penampilan pria itu yang tampak berantakan, jauh dari citra sempurna yang biasa ia tampilkan di depan umum. "Apa kabar? Kebetulan banget kau datang ke sini. Ada apa ya? Bukan biasanya bintang besar seperti kau mampir ke apartemen sederhanaku begini."
Min Jae menghela napas panjang, terlihat lelah sekali. "Saya mencari Disya. Dia ada di sini?"
Mendengar nama itu, senyum santai di wajah Jack perlahan memudar. Ia mengangguk pelan lalu memberi jalan. "Masuk dulu yuk. Jangan berdiri di depan pintu terus."
Setelah masuk dan duduk di ruang tamu, Jack kembali membuka suara. "Jadi... kau adalah orang yang selama ini Disya sembunyikan? Pria yang dia ceritakan tapi tak pernah sebutkan namanya?"
Min Jae mengangguk pelan, rasa bersalah menyergapnya. "Ya. Aku dia. Aku sudah menyakitinya, menuduhnya hal-hal yang kejam tanpa bukti, dan sekarang dia pergi tanpa kabar sama sekali."
Jack mengangguk paham, akhirnya semua kepingan cerita yang pernah Disya sampaikan jadi nyambung. Ia tak menyangka sosok yang di hati Disya ternyata adalah Zelo—idol yang sangat dihormati di industri ini. Namun satu hal yang pasti, rahasia lama Disya tentang sosok yang mirip dengan almarhum ayahnya tetap tersimpan rapat di hati gadis itu, dan Jack tak akan pernah membongkarnya kepada siapa pun.
"Disya belum menghubungiku sejak hari dia menghilang," ucap Jack pelan. "Aku juga sudah berkali-kali coba telepon, tapi nomornya sudah mati total. Aku juga bingung harus cari ke mana lagi."
Kekhawatiran semakin memuncak hingga akhirnya Jack memutuskan untuk terbang ke Pulau Jeju. Ia berpikir satu-satunya tempat yang mungkin dikunjungi Disya saat sedang hancur hatinya adalah rumah ibunya sendiri. Mungkin gadis itu pulang ke kampung halaman untuk menenangkan diri.
Namun sesampainya di sana, rumah tua yang sederhana itu tampak sepi. Disya tak ada di sana. Ibu Disya menyambut Jack dengan senyum ramah, namun matanya menyiratkan tanda tanya melihat kedatangan pria itu sendirian.
"Kau datang sendiri, Nak Jack? Di mana Disya? Bukankah biasanya kalian berdua sering mampir ke sini bersama-sama?" tanya Ibu Disya lembut.
Jack tak tega melihat wanita paruh baya itu menjadi cemas. Ia segera menyusun kata-kata dengan hati-hati, menyunggingkan senyum hangat yang biasa ia tampilkan. "Disya baik-baik saja, Bu. Dia sedang ada tugas kuliah yang harus diselesaikan di luar kota, jadi dia tidak bisa ikut kali ini. Saya yang kebetulan ada urusan tidak jauh dari sini, jadi saya mampir dulu. Jujur saja, saya kangen sekali masakan Ibu, sudah lama sekali rasanya tidak makan masakan rumahan buatan Ibu."
Mendengar itu, wajah Ibu Disya kembali cerah. "Syukurlah kalau begitu. Masakan apa yang kau inginkan? Ibu buatkan sekarang juga."
"Kalau bisa Bibimbap dan Kimchi Jjigae buatan Ibu saja," jawab Jack dengan mata berbinar tulus. "Masakan itu yang paling saya rindukan rasanya."
Ibu Disya tertawa senang, lalu segera bergerak ke dapur. Jack duduk di teras rumah, memandangi pemandangan laut yang tenang namun tak bisa menenangkan hatinya sendiri. Ia memang sudah lama akrab dengan keluarga Disya—bahkan sejak ibunya sendiri meninggal dunia beberapa tahun lalu, ia sering menganggap Ibu Disya seperti ibunya sendiri. Sering datang berkunjung, makan bersama, dan bercerita layaknya anak kandung yang pulang merantau.
Saat makanan sudah siap, mereka duduk berdampingan di meja makan sederhana. Jack menikmati setiap suapan makanan itu perlahan, meski pikirannya masih melayang mencari keberadaan Disya. Ia terus bercerita hal-hal ringan agar Ibu Disya tidak curiga, sesekali tertawa mendengar cerita wanita itu tentang masa kecil Disya yang nakal namun penuh kasih sayang.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, kekhawatiran masih membayangi. Min Jae tetap di kota besar bingung tanpa petunjuk, Jack pun tak tahu ke mana harus melangkah selanjutnya setelah ini. Mereka berdua sama-sama merasakan kehilangan yang nyata—kehilangan sosok yang menjadi alasan mereka tersenyum setiap hari, kehilangan kehadiran yang membuat hidup terasa lebih berwarna dan bermakna.
Disya kini benar-benar pergi, menjauh dari semua orang yang ia kenal, menyembunyikan diri di tempat yang tak terduga. Dan di tengah rasa kehilangan yang mendalam itu, baik Min Jae maupun Jack baru menyadari betapa besarnya peran gadis itu dalam hidup mereka—dan betapa sulitnya melangkah maju tanpa sosoknya di sisi mereka.