NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Kehendak yang Terbelah

*"Lihatlah ke bawah, Marie. Ribuan jiwa yang menatapmu dengan kekosongan itu adalah harga dari keselamatan yang kau pilih. Kau menyelamatkan nyawa mereka, namun kau merampas esensi dari apa yang membuat mereka disebut manusia."*

Suara itu milik 'diriku yang lain'—bayangan yang berdiri di sana dengan gaun cahaya bulan yang berkilauan. Di sekelilingku, ribuan penduduk Oakhaven berdiri mematung di tengah alun-alun, mata mereka tidak lagi berwarna cokelat atau biru, melainkan berpendar keemasan, redup namun konstan. Mereka tidak bergerak, tidak bernapas, tidak berbicara. Mereka hanyalah bejana yang menunggu perintah dari sang operator: aku.

Julius berdiri di sampingku, tangannya masih mencengkeram erat lengan bajuku, namun aku bisa merasakan tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena syok. Dia seorang yang haus kekuasaan, namun apa yang terjadi sekarang di luar kendali dan logika sihir murni yang ia pahami.

*"Marie,"* bisik Julius, suaranya parau, jauh dari nada otoriter yang biasanya ia gunakan. *"Ini bukan sihir yang kita pelajari di teks kuno keluarga Vance. Ini... ini adalah kehendak kolektif yang dipaksakan. Apa yang kau lakukan saat berada di puncak menara itu?"*

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Setiap kali aku mencoba untuk fokus, aku bisa merasakan ribuan pikiran penduduk kota masuk ke dalam kepalaku sekaligus—sebuah cacofoni jeritan, rasa lapar, kasih sayang, dan ketakutan yang membuat otakku seolah akan meledak. Aku adalah pusat dari semua itu. Aku adalah *jaringan* itu.

Wanita di depanku—bayanganku—melangkah mendekat, mengabaikan kehadiran Julius seolah pria itu tidak lebih penting dari sepotong batu di jalanan.

*"Mereka tidak akan bisa menanggung beban ini lama-lama, Marie,"* ucap bayangan itu dengan nada yang nyaris terdengar peduli. *"Tubuh manusia murni tidak diciptakan untuk menjadi penyimpan energi sihir sebesar ini tanpa henti. Jika kau tidak melepaskan mereka, dalam hitungan jam, pembuluh darah mereka akan pecah satu per satu karena kelebihan aliran energi murni. Kau ingin menyelamatkan mereka? Baiklah, itu pilihanmu. Tapi kau baru saja mengubah kota ini menjadi ladang pembantaian yang lambat."*

*"Diamlah!"* teriakku. Aku menghentakkan kaki, dan tanah di sekitarku bergetar. Sihir emas yang mengalir dari tanganku menghantam bayangan itu, namun dia hanya tersenyum dan memudar menjadi asap.

Langit di atas Oakhaven masih terbelah. Gerbang dimensi yang terbuka lebar itu mengeluarkan aura dingin yang menyengat. Sesuatu yang sangat besar di balik gerbang itu sedang mengamati. Itu bukan sekadar makhluk sihir; itu adalah manifestasi dari kehampaan yang menuntut keseimbangan. Setiap kali aku menggunakan sihir untuk menjaga kubah kota tetap berdiri, gerbang itu semakin terbuka lebar.

*"Kita harus menutup gerbang itu, Julius,"* kataku, memutar tubuh untuk menatapnya. *"Sihir ini... sihir ini memberi makan gerbang itu. Semakin aku menggunakannya untuk mengendalikan penduduk kota, semakin besar gerbang itu terbuka."*

Julius menatap langit dengan rahang yang mengeras. *"Jika kau menutupnya sekarang, kubah perlindungan akan runtuh. Kapal perang Dewan Langit mungkin sudah hancur, tapi mereka masih memiliki sisa-sisa pasukan di perbatasan. Tanpa kubah itu, kita akan diserbu dalam hitungan menit. Kau terjebak dalam dilema, Marie."*

*"Tidak,"* aku memejamkan mata, membiarkan aliran sihir itu terasa seperti sungai di dalam nadiku. *"Aku tidak akan memilih salah satu. Aku akan mengubah arus sihirnya."*

Aku mengangkat tangan ke arah kerumunan penduduk. Dengan satu gerakan tangan yang pasti, aku memerintahkan mereka untuk duduk. Ribuan orang itu bergerak serempak, sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Mereka bukan lagi individu; mereka adalah bagian dari diriku. Aku menarik kembali energi emas yang mengalir di tubuh mereka, menyedotnya kembali ke dalam jantung ayah Marie, dan mengalihkannya bukan ke kubah, melainkan ke arah gerbang dimensi di atas sana.

*"Apa yang kau lakukan?"* tanya Julius, matanya membelalak. *"Kau menggunakan penduduk sebagai konduktor untuk menyegel gerbang itu? Itu akan menghancurkan sistem saraf mereka!"*

*"Tidak jika aku membagikan bebannya,"* jawabku.

Aku merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhku. Aku menggunakan tubuhku sendiri sebagai filter utama. Aku mengambil beban dari penduduk kota, menyalurkannya melalui jantung ayah Marie, dan menembakkannya sebagai sinar murni langsung ke pusat gerbang dimensi tersebut.

Cahaya itu sangat menyilaukan, lebih terang dari matahari siang. Penduduk kota mulai tumbang satu per satu, kehilangan cahaya keemasan dari mata mereka. Mereka pingsan, kembali menjadi manusia biasa yang tidak sadar akan apa yang baru saja terjadi.

Aku merasa tubuhku sendiri mulai retak. Kulit di lenganku mengeluarkan bercak-bercak cahaya. Aku merasakan jantung di dadaku memompa dengan kecepatan yang tidak wajar. *Ini adalah batasku.*

Saat cahaya itu mengenai gerbang dimensi, gerbang tersebut mulai menutup dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Namun, tepat sebelum gerbang itu tertutup sepenuhnya, sebuah entitas—sesuatu yang tampak seperti bayangan hitam dengan mata yang menyala—melompat keluar dari dimensi itu dan menancapkan dirinya ke dalam tanah tepat di tengah alun-alun kota.

Itu adalah sebuah pedang hitam raksasa, pedang yang memancarkan aura yang begitu berat hingga jalanan marmer di bawahnya hancur berkeping-keping. Pedang itu tertancap dalam, dan kehadirannya membuat seluruh sihir di Oakhaven terasa terdistorsi.

*Duk!*

Aku jatuh bersimpuh. Pandanganku kabur. Detak jantung di dadaku kini tidak beraturan, melemah dengan cepat.

*"Marie!"* suara Julius terdengar jauh sekali. Dia berlari ke arahku, namun setiap langkah yang dia ambil terhambat oleh aura berat dari pedang hitam tersebut.

Aku menatap pedang itu. Ia tidak diam. Ia mulai menyerap sihir dari sekelilingnya, dan aku bisa merasakan bahwa pedang itu kini terhubung denganku melalui jaringan sihir yang baru saja kuciptakan. Pedang itu adalah bagian dariku sekarang, atau lebih tepatnya, ia adalah entitas yang mengincar detak jantung yang kumiliki.

Julius sampai di sampingku, mengangkat kepalaku. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. *"Jangan tutup matamu. Tetaplah terjaga, Marie!"*

*"Pedang itu..."* bisikku, mencoba menunjuk ke arah alun-alun. *"Dia bukan musuh... dia adalah... kunci yang lain."*

Julius menoleh ke arah pedang itu, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sangat gelap. *"Pedang itu adalah 'Pemusnah'. Itu adalah senjata yang digunakan untuk menghancurkan peradaban sihir Oakhaven yang pertama. Jika ia sudah ada di sini, itu berarti ramalan itu benar."*

*"Ramalan apa?"* tanyaku, namun sebelum dia bisa menjawab, pedang itu melepaskan gelombang energi hitam yang merambat ke seluruh kota, mematikan seluruh sumber sihir yang tersisa.

Oakhaven mendadak gelap total. Semua lampu padam. Semua sihir hilang.

Di tengah kegelapan itu, aku bisa merasakan sesuatu yang bangkit dari dalam tanah, tepat di bawah kaki kami. Sesuatu yang sudah lama menunggu saat sihir di kota ini benar-benar mati.

Julius memelukku erat, melindungi tubuhku dari aura dingin yang mulai menyelimuti kota. *"Marie, dengarkan aku. Apapun yang terjadi saat lampu menyala kembali, jangan pernah melepaskan genggamanku. Karena yang akan keluar dari tanah itu bukan lagi manusia."*

Detik berikutnya, sebuah suara gesekan logam terdengar dari bawah alun-alun. Seseorang—atau sesuatu—sedang memanjat keluar. Aura yang ia pancarkan jauh lebih murni dan lebih tua daripada sihir apapun yang pernah kukenal.

Itu adalah sosok prajurit dengan zirah perak yang utuh, namun di balik helmnya, tidak ada wajah, hanya kehampaan yang bercahaya biru. Dia berdiri tegak, memandang ke arah pedang hitam itu, lalu perlahan menoleh ke arah kami.

*Tring!*

Dia menghunus pedangnya, dan suaranya terdengar seperti lonceng kematian. *"Pewaris Vance telah gagal. Segel telah rusak. Saatnya Oakhaven dikembalikan ke debu."*

Julius bangkit, berdiri di depanku, menghunus pedang hitamnya sendiri. Dia tampak siap untuk mati.

*"Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya,"* desis Julius.

Prajurit itu melangkah maju, dan dengan sekali ayunan pedang, dia membelah udara di depan Julius. Gelombang kejut itu begitu kuat hingga melempar Julius jauh ke belakang, menghantam tembok gedung hingga hancur.

Aku terbaring lemah, tidak bisa bergerak. Prajurit itu mendekatiku, bayangannya menutupi diriku. Dia mengulurkan tangan logamnya yang dingin, hendak mencengkeram leherku.

Namun, tepat saat tangannya menyentuh kulitku, sesuatu yang luar biasa terjadi. Tato rantai yang ada di lenganku bereaksi. Ia memancar cahaya keemasan yang lebih terang dari sebelumnya, dan entah dari mana, sebuah senjata muncul di tanganku—sebuah busur panjang yang terbuat dari energi murni.

Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya, tapi instingku berteriak. Aku menarik tali busur yang tak terlihat itu, dan sebuah anak panah cahaya terbentuk.

*"Jangan sentuh aku,"* ucapku dengan suara yang bukan suaraku, melainkan suara ribuan orang yang tadi sempat terhubung denganku.

Anak panah itu melesat. Ia menembus dada prajurit perak itu, namun bukannya menghancurkannya, anak panah itu justru menghilang ke dalam zirah prajurit tersebut. Prajurit itu berhenti bergerak. Dia terdiam, lalu secara perlahan, zirah peraknya mulai luruh menjadi debu.

Sebelum dia benar-benar menghilang, dia menatapku, dan suaranya berbisik pelan, hanya bisa kudengar olehku.

*"Kau... kau adalah wadah yang sebenarnya. Kami telah menunggumu selama tiga ribu tahun."*

Setelah dia hilang, pedang hitam di alun-alun itu ikut bergetar, lalu perlahan masuk ke dalam tanah, seolah-olah ia ditarik oleh kekuatan yang sangat besar dari inti bumi.

Aku jatuh pingsan, dan di saat-saat terakhir kesadaranku, aku melihat seseorang berdiri di kejauhan. Pria bertopeng burung hantu. Dia tidak menyerang. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sangat prihatin, seolah-olah dia tahu bahwa apa yang baru saja kulakukan hanyalah langkah pertama menuju kehancuran yang lebih besar.

Ketika aku terbangun kembali, aku tidak berada di Oakhaven. Aku berada di sebuah tempat yang sangat sunyi, dikelilingi oleh ribuan nisan batu yang tak berujung. Dan di depanku, Julius terbaring tidak sadarkan diri, napasnya sangat lemah.

Aku harus menemukan jalan pulang. Aku harus menyelamatkan Julius. Namun, saat aku mencoba memanggil sihirku, tanganku kosong. Sihir itu hilang. Semuanya telah hilang.

Aku bukan lagi operator kota. Aku hanyalah seorang gadis yang terjebak di tengah kuburan para penyihir kuno, tanpa kekuatan, tanpa sekutu, dan dengan satu tujuan yang tersisa: bertahan hidup.

Dan kemudian, aku mendengar suara langkah kaki di belakang nisan-nisan itu. Suara langkah kaki yang sangat berat, ritmis, dan penuh dengan niat membunuh.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!