Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Salahmu
Ketukan di pintu kamar yang terdengar berulang kali itu seketika membuat Arsen menghentikan gerakannya. Ia mengembuskan napas panjang dengan gusar, sementara Aira buru-buru melepaskan diri dari dekapan suaminya dengan wajah yang masih merah padam akibat salah tingkah.
"Pak Arsen, maaf mengganggu waktunya sebentar," suara Gilang terdengar dari balik pintu, terdengar sedikit ragu namun menyiratkan desakan yang cukup penting.
Arsen merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan, lalu melangkah menuju pintu dan membukanya. Tatapan matanya langsung kembali menajam, memancarkan aura direktur dingin yang tegas.
"Ada apa, Lang? Kan sudah kubilang, hari ini aku mau fokus mengurus perpindahan Aira dan Ibu dulu," tanya Arsen ketus, dengan nada rendah.
Gilang menunduk hormat, wajahnya tampak tegang. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Tapi ini darurat, pihak pabrik di Surabaya baru saja menghubungi saya. Stok kayu jati dan mahoni pilihan untuk produksi furnitur ekspor bulan ini mulai menipis di gudang utama, sementara dari pihak pengepul di Jawa Tengah mengabarkan tidak ada pengiriman bahan baku masuk minggu ini karena terkendala cuaca dan jalur distribusi yang putus," lapor Gilang.
Mendengar laporan itu, rahang Arsen seketika mengeras, matanya berkilat kesal. Bisnis furnitur ekspor miliknya sangat mengutamakan ketepatan waktu pengiriman ke luar negeri, keterlambatan bahan baku berarti ancaman penalti besar.
"Sial," umpat Arsen lirih.
Arsen memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening, lalu menoleh ke arah Gilang, "Bawa semua laporan logistik dan data alternatif supplier ke ruang kerjaku di lantai bawah, tunggu saya di sana," ucap Arsen.
"Baik, Pak. Permisi," pamit Gilang yang langsung bergegas menuju ruang kerja pribadi sang atasan.
Setelah pintu kembali tertutup, Arsen membalikkan badan. Sisa kekesalan di wajahnya seketika mencair saat melihat Aira yang menatapnya dengan pandangan khawatir dari tepi ranjang.
Aira melangkah mendekat, lalu dengan lembut menyentuh lengan kekar Arsen. "Ada masalah besar di kantor ya, Mas? Maaf ya... gara-gara mengurus kepindahanku ke sini, pekerjaan Mas Arsen jadi agak terbengkalai," lirih Aira merasa bersalah.
Arsen tersenyum tipis, diraihnya telapak tangan Aira lalu mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut. "Bukan salahmu, Ra. Ini murni masalah operasional di lapangan, kamu nggak usah cemas, ya? Sekarang kamu istirahat dulu, atau temani Ibu di bawah. Aku harus menyelesaikan urusan ini sebentar dengan Gilang di ruang kerja," ucap Arsen menenangkan.
"Iya, Mas. Semangat ya," jawab Aira dengan senyum tulus yang langsung menjadi penawar rasa lelah Arsen.
Arsen mengangguk dan memberikan satu kecupan singkat di dahi Aira sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dengan langkah tegap, bersiap menghadapi badai pekerjaan yang sudah menantinya di ruang kerja.
Aira menatap pintu kamar yang baru saja tertutup rapat di balik punggung Arsen, keheningan segera menyergap ruangan mewah berukuran luas itu. Alih-alih beristirahat di atas ranjang king size yang begitu empuk, Aira memilih melangkah menuju jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Dari lantai dua ini, ia bisa melihat halaman belakang rumah yang sangat teratur. Hamparan rumput yang hijau, kolam renang dengan air biru jernih, serta anyaman kursi malas di sudut taman. Semuanya tampak begitu sempurna, seperti potongan gambar dari majalah kelas atas yang dulu hanya bisa ia pandang sekilas di toko buku bekas.
Jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin, rasa tidak nyata masih menggelayuti benaknya. Namun, ia segera menepis pikiran melankolis itu. Aira tahu, ia tidak boleh terlena dalam ketakutan. Jika Arsen bisa berjuang begitu keras demi melindunginya, maka ia pun harus memantaskan diri untuk berdiri tegak di samping pria itu.
Aira memutuskan untuk turun ke lantai satu, berniat menengok Ibu Astri. Saat menuruni tangga melingkar berbahan marmer putih, ia berpapasan dengan Bu Sumi yang sedang membawa nampan berisi cangkir teh kosong.
"Eh, Bu Aira," sapa Bu Sumi dengan senyum santun dan sedikit membungkuk.
Aira agak tersentak mendengar panggilan tersebut, padahal usia Bu Sumi jelas jauh lebih tua darinya.
"Eh, iya, Bu Sumi. Ibu saya sedang apa di dalam?" tanya Aira.
"Ibu Astri baru saja minum teh, Bu. Sekarang sedang tiduran, kelihatannya beliau masih pusing karena pertama kali naik pesawat terbang tadi," jawab Bu Sumi ramah.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, terima kasih ya, Bu. Saya mau ke dapur sebentar," ucap Aira.
"Lho, Ibu perlu sesuatu? Biar saya atau pelayan lain saja yang siapkan, Bu. Tugas Ibu sekarang istirahat," cegah Bu Sumi sungkan.
Aira tersenyum manis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak apa-apa, Bu. Saya cuma mau melihat dapur, sekalian membuatkan kopi hitam untuk Mas Arsen. Tadi sepertinya dia sedang pusing memeriksa pekerjaan di ruang kerja," jawab Aira.
Melihat keteguhan di mata nyonya mudanya, Bu Sumi akhirnya mengangguk dan mengantarkan Aira menuju area dapur bersih yang terletak di bagian belakang lantai satu. Dapur itu luar biasa mewah, didominasi marmer hitam dengan peralatan memasak serba digital yang bahkan beberapa di antaranya tidak Aira ketahui cara fungsinya.
Setelah dibantu Bu Sumi menemukan letak kopi bubuk premium milik Arsen, Aira mulai menyeduh kopi dengan telaten dan aroma pahit nan pekat khas kopi hitam segera menguar.
Dengan nampan di tangannya, Aira melangkah perlahan menuju ruang kerja Arsen yang terletak di sudut koridor lantai satu. Pintu kayu jati di depannya sedikit terbuka, menyisakan celah kecil. Baru saja Aira hendak mengetuk, suara bariton Arsen yang terdengar begitu dingin dan tegas menghentikan gerakannya.
"Saya tidak mau tahu, Gilang! Hubungi langsung pemilik konsesi hutan di Kalimantan Tengah. Jika jalur distribusi di Jawa Tengah terputus karena banjir, kita harus ambil jalur laut dari Kalimantan langsung ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya!" tegas Arsen. Suaranya terdengar mutlak, tanpa bantahan.
"Tapi, Pak Arsen, biaya logistik lewat jalur laut dari Kalimantan akan membengkak hampir tiga puluh persen dari anggaran awal," sahut suara Gilang terdengar panik.
"Potong dari profit margin saya bulan ini, jangan sentuh anggaran operasional buruh pabrik. Yang paling utama adalah timeline pengiriman ke Jerman tidak boleh terlambat satu hari pun. Kepercayaan buyer Eropa itu taruhannya. Bergerak sekarang, Gilang!" perintah Arsen.
Aira menahan napas di balik pintu, ini adalah sisi lain dari Arsen yang jarang ia lihat di desa. Di Lumajang, Arsen adalah pria yang hangat, lembut, penuh pasrah dan gemar menggodanya hingga salah tingkah. Namun di sini, di ruang kerjanya, Arsen adalah seorang pemimpin bertangan besi yang tidak menoleransi kegagalan sedikit pun. Ada rasa kagum yang membuncah di dalam dada Aira melihat wibawa suaminya yang begitu mutlak.
Setelah mendengar derap langkah Gilang yang hendak keluar, Aira segera mundur dua langkah dan berpura-pura baru saja tiba di depan pintu.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal