NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Awal Sebuah Perjalanan Baru

Pagi itu, cahaya matahari mulai menembus jendela kayu dan jatuh perlahan di atas lantai ruangan. Suasana masih begitu hening hingga suara embusan angin dari luar terdengar jelas. Hana yang sejak tadi duduk sambil menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya ketika mendengar napas Ryosuke berubah.

Jemari tangan Ryosuke bergerak pelan.

Kelopak matanya bergetar.

Beberapa saat kemudian, matanya perlahan terbuka, meskipun pandangannya masih tampak kabur. Langit-langit ruangan yang terbuat dari balok kayu menjadi hal pertama yang dilihatnya. Ia mencoba mengingat di mana dirinya berada, tetapi kepalanya terasa begitu berat hingga setiap ingatan seolah bercampur menjadi satu.

"Kak Ryosuke..."

Suara yang sangat dikenalnya membuat Ryosuke mengalihkan pandangan ke samping.

Hana.

Gadis itu menatapnya dengan mata yang telah dipenuhi air mata.

Ryosuke berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa nyeri yang menjalar hampir di seluruh badan membuatnya mengurungkan niat itu.

"Hana..."

Suaranya terdengar serak.

"Kau... selamat."

Hana mengangguk berkali-kali.

"Aku selamat... Kakak juga selamat."

Kalimat itu diucapkan sambil menahan tangis yang sejak beberapa hari lalu terus dipendamnya. Ia menggenggam tangan Ryosuke erat-erat seolah takut kakaknya kembali menghilang apabila dilepaskan.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.

Sang tabib memasuki ruangan bersama Alfaro Perez.

Melihat Ryosuke telah sadar, sang tabib mempercepat langkahnya lalu memeriksa keadaan pemuda itu dengan teliti. Setelah memastikan napas dan denyut nadinya tetap stabil, pria tua itu mengangguk puas.

"Syukurlah. Tubuhmu jauh lebih kuat daripada yang kuduga."

Ryosuke menoleh kepada Alfaro yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.

Ingatan terakhir yang dimilikinya adalah seseorang menerobos kepungan pasukan Krusador dengan menunggang kuda, kemudian menariknya keluar dari medan pertempuran.

"Kau..."

Alfaro mengangguk pelan.

"Aku Alfaro Perez."

"Pemimpin kelompok tentara bayaran yang membawamu ke sini."

Ryosuke memandangnya beberapa saat sebelum berkata pelan,

"Terima kasih."

Alfaro tersenyum tipis.

"Ucapan terima kasih itu bisa kau simpan sampai benar-benar pulih."

Ruangan kembali hening untuk beberapa saat.

Alfaro kemudian menarik sebuah kursi kayu dan duduk menghadap Ryosuke.

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan."

Ryosuke mengangguk pelan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tatapan Ryosuke perlahan berubah.

Beberapa saat ia hanya memandang kosong ke arah jendela, seolah semua kenangan yang berusaha dilupakannya kembali muncul satu per satu.

"Semuanya..."

Ia menarik napas panjang.

"...berawal dari desa kami."

Dengan suara pelan namun jelas, Ryosuke mulai menceritakan seluruh perjalanan hidupnya.

Ia menceritakan bagaimana desa kecil di perbatasan selama bertahun-tahun hidup damai meskipun berada tidak jauh dari wilayah Empire Krusador. Ia menceritakan ayahnya yang mengajarkan Hyoho Niten Ichi-ryū sejak kecil, ibunya yang selalu menjaga kehangatan keluarga, serta Hana yang selalu mengikutinya berlatih pedang meskipun sering dimarahi karena terlalu keras kepala.

Kemudian hari itu datang.

Hari ketika pasukan Empire Krusador menyerbu desa tanpa peringatan.

Bagaimana pasukan militer menyerang desa yang merupakan wilayah kekuasaannya sendiri tanpa alasan yang pasti.

Ryosuke menceritakan bagaimana Beast Crust Rune Cannon menghancurkan rumah-rumah penduduk dalam sekejap, bagaimana para prajurit membantai siapa pun yang mencoba melawan, dan bagaimana keluarganya direnggut oleh perang yang bahkan tidak pernah mereka inginkan.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Tidak seorang pun menyela ceritanya.

Alfaro hanya mendengarkan.

Demikian pula Hana yang kembali menundukkan kepala ketika kenangan itu kembali terulang di hadapan mereka.

Ryosuke terdiam beberapa saat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia menarik napas perlahan, seolah berusaha mengumpulkan kembali kekuatan untuk melanjutkan kisah yang selama ini hanya ia simpan seorang diri. Tidak mudah mengingat kembali setiap peristiwa yang telah merenggut keluarganya, tetapi ia merasa Alfaro berhak mengetahui alasan mengapa dirinya sampai bertarung mati-matian di wilayah Empire Krusador.

"Aku berhasil selamat..." ucap Ryosuke perlahan. "Tetapi Hana menghilang."

Tatapan Hana kembali jatuh ke lantai.

Meskipun ia telah bebas dari penawanan, bayangan hari ketika dirinya dipisahkan dari Ryosuke masih terasa begitu nyata.

Ryosuke melanjutkan ceritanya tanpa terburu-buru. Ia menceritakan bagaimana dirinya hidup sebagai seorang ronin setelah kehilangan desa dan keluarga, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil terus mengumpulkan informasi mengenai pergerakan pasukan Krusador. Setiap petunjuk sekecil apa pun selalu ia ikuti, meskipun berkali-kali berakhir tanpa hasil. Ia juga menceritakan bagaimana perjalanan panjang itu membawanya mendengar kabar mengenai seorang gadis muda yang dibawa dengan kereta militer menuju sebuah desa perbatasan sebelum akhirnya akan dipindahkan kembali ke wilayah Empire Krusador.

"Itulah alasan aku pergi ke sana," katanya.

"Aku tidak tahu apakah gadis itu benar-benar Hana. Tetapi aku tidak punya pilihan selain memastikan sendiri."

Alfaro mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Ryosuke kemudian menjelaskan bagaimana ia gagal memasuki wilayah Krusador melalui gerbang perbatasan dan diusir oleh para penjaga. Pertemuan yang tidak disangka dengan seorang pedagang yang pernah ia selamatkan kemudian mengubah segalanya. Atas bantuan pedagang itulah Ryosuke menyamar sebagai pengawal kafilah dagang dan mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitasnya sehingga berhasil melewati pemeriksaan pasukan Krusador.

"Aku akhirnya menemukan Hana di benteng tempat mereka menahan para tawanan."

Suara Ryosuke terdengar semakin pelan.

"Kami berhasil keluar... tetapi pelarian itu tidak berlangsung lama."

Ia menceritakan pertempuran yang terjadi setelah penyelamatan Hana, bagaimana seluruh pasukan Krusador mengejar mereka tanpa henti, dan bagaimana ia akhirnya memaksa Hana untuk terus berlari menuju perbatasan sementara dirinya tinggal menghadang pengejar.

"Aku hanya ingin memastikan Hana bisa hidup."

"Itu saja."

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan beratnya perjalanan yang baru saja diceritakan Ryosuke. Alfaro memandang pemuda di hadapannya beberapa saat, lalu menganggukkan kepala pelan.

"Kau mempertaruhkan semuanya demi keluargamu."

Ryosuke tidak menjawab.

Baginya, semua itu bukan sesuatu yang pantas dipuji. Siapa pun akan melakukan hal yang sama apabila orang terakhir yang dimilikinya berada dalam bahaya.

Waktu berlalu.

Hari-hari berganti menjadi minggu, Minggu berganti bulan.

Perlahan, luka-luka Ryosuke mulai pulih. Balutan kain yang semula menutupi hampir seluruh tubuhnya berangsur dilepas satu demi satu setelah sang tabib memastikan bahwa luka-lukanya telah menutup dengan baik. Meskipun bekas sayatan dan tusukan masih terlihat jelas, kekuatan tubuhnya sedikit demi sedikit kembali.

Setiap pagi, sebelum para tentara bayaran memulai latihan rutin, Ryosuke sudah lebih dahulu berada di halaman belakang barak.

Pada awalnya ia hanya berjalan perlahan untuk melatih kembali keseimbangan tubuhnya. Beberapa hari kemudian ia mulai melakukan latihan dasar Hyoho Niten Ichi-ryū dengan gerakan yang ringan, berusaha mengembalikan ritme yang sempat hilang akibat luka-lukanya. Nichirin-gatana dan Tenkū Matō kembali berada di tangannya, tetapi tidak sekali pun ia memaksakan diri. Ia mengikuti saran sang tabib agar tubuhnya pulih sepenuhnya sebelum kembali bertarung.

Beberapa anggota tentara bayaran yang sedang berlatih tidak jarang menghentikan aktivitas mereka untuk memperhatikan gerakan Ryosuke. Tidak ada satu pun ayunan pedangnya yang dilakukan dengan sia-sia. Setiap langkah, setiap putaran tubuh, dan setiap perpindahan posisi kedua katana nya dilakukan dengan ketepatan yang menunjukkan bahwa ilmu pedang itu telah menyatu dengan dirinya sejak bertahun-tahun.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!