NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 | HAMPIR

Elara membeku di balik sofa saat pintu ruang VIP terbuka lebar. Dante berdiri di sana, menatap kakeknya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

" Apa yang Kakek lakukan di ruang pribadiku?" tanya Dante dingin.

Alaric Moretti menyipitkan mata, tatapannya menyapu ruangan seolah bisa menembus dinding tempat Elara bersembunyi. "Aku hanya menerima telepon penting. Dan kau, Dante kau terlihat gugup. Apa kau menyembunyikan sesuatu di sini?"

Dante melangkah masuk, mengabaikan tuduhan itu. "Tidak ada yang perlu Kakek ketahui selain urusan bisnis. Silakan keluar."

Alaric mendengus, memberikan tatapan penuh curiga sebelum akhirnya berlalu pergi dengan angkuh. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Dante tidak langsung bicara. Ia melepaskan dasinya dengan kasar, wajahnya yang tadi keras kini tampak layu, diselimuti kehancuran yang begitu nyata.

Elara bangkit dari persembunyiannya dengan kaki gemetar. "Dante "

Dante menoleh. Tatapan matanya yang tadi tajam kini berubah kosong, seolah nyawanya telah dicabut.

" Kau dengar semuanya, bukan?"

Elara terdiam. Kebencian yang ia persiapkan untuk Dante mendadak menguap, digantikan oleh simpati yang menyakitkan. "Kakekmu dia yang merencanakan kematian nenekku. Dia yang menghancurkan keluargaku."

Dante menghisap rokoknya dalam-dalam, asap tipis mengepul di udara. "Dan dia juga yang membunuh satu-satunya orang yang membuatku tetap waras. Sofia bukan sekadar tunanganku, dia adalah alasan kenapa aku masih mencoba untuk tidak menjadi monster."

Dante mendekat ke arah jendela besar, menatap gemerlap lampu Tokyo yang tampak seperti ribuan mata yang menghakimi. "Aku terjebak dalam jaring laba-laba yang ia buat sendiri, Elara. Dan sekarang dia akan menggunakan perjodohanmu dengan Sterling untuk memperluas kekuasaannya."

Elara menatap jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Washington terasa seperti mimpi yang sangat jauh. "Aku harus pergi, Dante. Ibuku menungguku."

Dante berbalik, wajahnya kini terlihat begitu menyeramkan, penuh dengan kesedihan yang gelap. "Pergilah. Hubungi sopirku. Dia akan membawamu ke bandara."

Dante memunggungi Elara, bahunya yang kokoh tampak menanggung beban seluruh dunia. Elara melihat punggung pria itu dan merasakan dorongan aneh yang tak bisa ia bendung. Pria yang di depannya bukanlah monster dia adalah korban yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.

Elara melangkah pelan, lalu tanpa ragu, ia memeluk Dante dari belakang, melingkarkan lengannya erat di pinggang pria itu.

Dante menegang. "Apa yang kau lakukan?" suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Elara menyandarkan kepalanya di punggung Dante, merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan. "Aku tidak akan pulang malam ini. Dan aku tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian dengan iblis itu."

Dante memutar tubuhnya, menatap Elara dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah ekspresi kerentanan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan. Jika kau bersamaku, kau akan menjadi targetnya juga."

"Aku sudah menjadi target sejak hari pertama aku lahir sebagai seorang Vanderbilt," jawab Elara tegas. "Dan jika kita harus hancur, maka kita akan hancur bersama. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghadapi monster itu sendirian."

Dante menarik Elara ke dalam pelukannya, mencengkeram bahu gadis itu dengan posesif seolah Elara adalah satu-satunya jangkar yang tersisa di dunia yang akan segera tenggelam. Malam itu, di tengah kemegahan hotel yang menyimpan rahasia busuk, Elara menyadari bahwa takdirnya telah terkunci. Ia bukan lagi sekadar agen yang sedang menjalankan misi; ia adalah sekutu yang paling berbahaya bagi Dante Moretti.

Dante membalikkan tubuhnya, melepaskan pelukan Elara dengan gerakan yang nyaris kasar. Wajahnya kembali membeku, topeng dingin yang selama ini menjadi pertahanannya terpasang kembali dengan sempurna.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Elara," desisnya, suaranya serak namun penuh peringatan. "Malam ini, di ruangan ini, aku bukanlah Dante Moretti yang kau kenal sebagai target misimu. Aku adalah pria yang baru saja kehilangan sisa-sisa kewarasannya."

Elara tidak mundur. Ia justru maju selangkah, berani menantang tatapan mematikan itu. "Mungkin itu yang kau butuhkan. Seseorang untuk melihatmu ketika kau sedang hancur, bukan hanya saat kau sedang berkuasa."

Dante tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar lebih seperti erangan kesakitan daripada tawa. Ia mencengkeram dagu Elara, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap, yang kini dipenuhi oleh pusaran emosi yang tak terbaca—penuh dendam, rasa bersalah, dan sebuah rasa haus yang mendalam.

"Kau pikir kau bisa menjadi penyelamatku? Jangan naif, Elara Vanderbilt," ucap Dante, suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan. " Sofia adalah satu-satunya wanita yang pernah aku inginkan, dan dia mati karena ketidakmampuanku melindunginya. Setiap kali aku melihatmu, aku melihat seseorang yang ditakdirkan untuk berakhir sama sepertinya jika kau terus berada di dekatku."

Elara merasakan nyeri yang hebat di dadanya. Namun, ia tidak melepaskan tatapannya. "Kalau begitu, biarkan aku berakhir bersamamu. Tapi jangan pernah katakan kau tidak menginginkan siapa pun. Karena saat ini, di ruangan ini, aku bisa merasakannya. Kau membutuhkanku lebih dari kau membutuhkan misi ini."

Dante menggeram rendah. Dengan satu gerakan kilat, ia menarik Elara ke arahnya hingga napas mereka memburu di ruang yang sempit. Ia mendorong Elara hingga punggung gadis itu menabrak kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Tokyo di bawah sana sebuah dunia yang seolah tunduk di bawah kaki mereka.

"Kau benar-benar tidak takut mati, ya?" bisik Dante tepat di depan bibirnya.

"Aku sudah mati sejak hari kematian nenekku," balas Elara tanpa ragu.

Dante membungkam Elara dengan ciuman yang lebih menyerupai sebuah peperangan. Itu bukan ciuman yang lembut itu adalah ciuman yang menuntut, ciuman yang dipenuhi dengan amarah yang meluap, rasa kehilangan yang mendalam, dan keinginan yang mendesak untuk saling memiliki di tengah kehancuran.

Elara membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya meremas kemeja Dante menarik wanita itu lebih dekat seolah-olah mereka berdua akan runtuh ke dalam jurang jika mereka melepaskan satu sama lain.

Dante melepaskan ciuman itu sejenak, napas mereka memburu, dahi mereka bersandar satu sama lain. "Jika kau tidak pergi sekarang, Elara kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini sebagai dirimu yang dulu."

Elara menatap Dante dengan tatapan yang penuh dengan keteguhan. Ia tahu, langkah yang ia ambil saat ini berarti mengkhianati setiap sumpah yang ia ucapkan di akademi CIA. Tapi di saat ini, di tengah kota asing ini, ia tidak lagi peduli pada misi, pada Evan, atau pada identitasnya.

"Aku tidak ingin menjadi diriku yang dulu lagi," bisik Elara pelan.

Dante menatapnya untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang begitu dalam dan posesif, sebelum ia kembali mencium Elara, kali ini dengan kelembutan yang menyakitkan. Di luar jendela, badai mulai berkecamuk di atas Tokyo, namun di dalam ruangan itu, dunia seolah berhenti berputar.

Dante tidak lagi memandang Elara sebagai pion ia memandangnya sebagai alasan satu-satunya untuk terus melangkah di tengah kegelapan yang telah ia pilih.

Dan untuk pertama kalinya Dante Moretti tidak hanya memiliki kekuasaan dia memiliki seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya di atas abu dari masa lalu mereka yang terbakar.

●●●●

1
Anonim
cieeee nyaman😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
pokoknya harus😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Adalah
😍😍😍
Adalah
next😍😍😍
Adalah
lanjut😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍 pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
lama-lama jadi cinta😍😍
Biruku: terima kasih atas komentar😍😍
total 1 replies
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya harus lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
cieee😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Biruku: terimakasih👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!