NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.

Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.

Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.

Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang kau ciptakan

"Kak Alya ...."

Alya tersenyum melihat betapa antusiasnya Adrina-adik iparnya saat melihat iya memasuki rumah mertuanya. Apalagi Adrina langsung memeluknya seolah lama tidak bertemu, padahal sering kali menjemputnya jika pulang kerja.

"Kok nggak mengabari kalau mau ke rumah sih? Kan bisa aku jemput." Adrina mengerucutkan bibirnya.

"Diantar sama mas Adri, jadi aman lah," jawab Alya. "Mama papa ada?"

"Mama ada, lagi eksperimen resep baru di dapur, kalau papa di kantor jadi atasan suami kakak."

"Wah ada resep baru?" Mata Alya berbinar tahu mama mertuanya sibuk di dapur. "Ayo kita ikut eksperimen."

"Ih nggak bisa, aku ada kelas dua jam lagi. Maaf ya kakak cantikku." Sudut bibir Adrina melengkung ke bawah.

"Nggak apa-apa, sana siap-siap ada mama kok."

Alya meletakkan tas tangannya di sofa dan menghampiri mama mertuanya di dapur.

"Mama kali ini bikin apa?" tanya Alya mengulum senyum.

"Loh anak mama kapan tibanya?" Mama mertua Alya terkejut, meninggalkan segala kerepotan hanya untuk cipika-cipiki dengan menantu kesayangan. "Mama lagi iseng coba resep baru dari sosial media."

"Kamu nggak kerja? Ke rumah diantar sama Adri kan?"

"Iya Ma. Hari ini mau bantu mama masak sepusnya."

Alya langsung mencuci tangan dan mengeksekusi yang perlu di lakukan. Kadang bertanya pada mama mertua apa lagi yang dibutuhkan.

"Apa kabar kalian? Adrian baik kan?"

"Baik dan sayang banget sama aku Ma. Semalam kan ya, aku pengen banget makan martabak manis dan posisinya mas Adrian baru pulang kerja, tapi mas Adrian tetap bawa aku keluar buat cari."

"Makasih mama sudah melahirkan mas Adrian untuk aku." Alya langsung beranjak dan memeluk mama mertuanya.

"Sama-sama sayang. Mama senang dengar rumah tangga kalian baik-baik saja. Oh iya kamu ngidam?"

"Nggak Ma. Maaf karena belum bisa ngasih cucu buat mama."

"Sama sekali nggak apa-apa putri cantik mama." Mama mertua Alya membelai pipi yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya. "Mama cuma nanya soalnya kamu kan paling anti makan manis-manis pas malam, tapi tiba-tiba pengen. Coba deh periksa ke dokter sayang. Atau mau mama temani?"

"Benarkah aku hamil?" batin Alya bertanya dan refleks menyentuh perutnya yang rata. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik membentuk setengah lingkaran.

Dia jadi membayangkan bagaimana ekspresi bahagia Adrian ketika dia benar-benar hamil. Mungkin dia akan dimanjakan lebih dari sekarang.

"Kenapa sayang?"

"Nggak apa-apa Ma. Tiba-tiba Alya teringat sesuatu. Aku pulang lebih dulu ya Ma."

"Mama antar."

"Nggak usah, ikut Adrina saja Ma. Belum pergi kayaknya."

Alya belari kecil menuju sofa di mana tasnya berada setelah mengecup pipi mama mertuanya. Beruntung masakan mama sudah selesai dan dia sudah mencicipinya bersama.

"Adrina, aku nebeng ya," ucap Alya, kebetulan rumah dan kampus Adrina searah.

"Loh cepat banget pulangnya, kan belum sama aku."

"Nanti ya, kalau hasilnya baik aku sama mas Adrian pasti datang lagi," ucapku sumbringan.

Akhirnya Adrina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berbincang banyak hal dengan kakak ipar sampai ke hal-hal random. Bahkan menjurus pada hubungannya yang mulai kandas di tengah jalan akibat kurang komunikasi dengan sang kekasih.

"Benci banget aku tuh kak sama dia. Apa-apa harus aku yang ngabarin. Harus aku yang nyari topik. Lama-lama juga capek," gerutu Adrina dan dibalas tawa pelan oleh Alya.

Meski begitu tangan Alya fokus mengelus pundak Adrina. "Mungkin karena kekasih kamu lagi sibuk Drin."

"Tapi sesibuk-sibuknya dia nggak sampai segitunya juga."

"Luangkan waktu bersama dan dibicarakan baik-baik maunya bagaimana. Hubungan kalian kedepannya seperti apa. Kalau memang nggak ada jalan tengahnya, baru ambil keputusan yang menurut kalian sama-sama baik dan tidak menyakiti."

"Pantas saja mas Adrian kecintaan, orang istrinya sepengertian kak Alya."

"Aku juga kecintaan tuh sama mas Adrian." Dan Alya kembali tertawa.

Pembicaraan yang begitu lancar membuat mereka berdua tidak sadar sudah berada di pintu gerbang.

"Mas Adrian nggak kerja?" tanya Adrina yang melihat mobil kakaknya terparkir di dalam pagar.

"Kayaknya iya, ada tamu juga." Alya mengiyakan dan menyuruh adiknya segera pergi agar tidak terlambat.

Alya berjalan santai memasuki rumah. Mendorong pintu yang tidak terkunci sama sekali.

Dia tidak mendapati suaminya, begitu pun dengan tamunya padahal ada mobil orang lain di depan rumah.

"Tas perempuan?" gumam Alya dengan kening mengerut melihat tas warna cream tergeletak di soda depan Tv. Sofa yang selalu menjadi tempatnya bermanja dengan sang suami. Sofa yang tidak seharusnya di duduki oleh tamu jika bukan dia yang mempersilahkan.

Apa mungkin mama?

Alya mengelengkan kepalanya, mama tidak mungkin datang tanpa pemberitahuan apalagi sampai menghilang seperti ini.

Langkah Alya menuju kamar dan mendapati pintunya sedikit terbuka. Dia mendorong pelan ... sangat pelan sehingga dua menusia yang sedang bertengkar tidak menyadari keberadaanya.

Pertengkaran yang begitu lama sampai diakhiri dengan sebuah ciuman panas. Tulang-tulang Alya melemah, melihat Adrian yang memulai semua itu.

Seberusaha apapun Alya menahan air matanya, bulir-bulir bening itu tetap berjatuhan melihat suaminya mendorong seorang wanita ke ranjang dan menindihnya.

"Mas Adrian ...." panggilnya, sekarang ia masih berdiri di ambang pintu.

Yang dipanggil menoleh, langsung menjauhkan diri dari Safira yang berada di bawahnya. Pakaian mereka masih lengkap, baru akan memulai di kamar istrinya.

"Al-Alya ... Mas bisa jelaskan semuanya." Wajah Adrian berubah pias, gugup dan jantungnya berdetak tidak terkendali. Terlebih melihat sorot mata Alya yang mengandung kekecewaan.

Dia menunggu istrinya berteriak, memaki atau setidaknya memukulnya. Tapi Alya tidak melakukannya, wanita itu berdiri di sambang pintu menatapnya bergantian dengan Safira yang juga sama-sama terkejut.

"Temui aku di ruang tamu jika kalian sudah selesai," ucap Alya dan pergi. Menutup pintu, membiarkan dua manusia tanpa ikatan sah di dalam sana.

Alya duduk dan berusaha tenang, meski kukunya yang terawat mulai melukai permukaan kulit tangannya. Tampak sekali dirinya tidak baik-baik saja tetapi berusaha untuk tidak lepas kendali.

"Kamu bisa Alya, kamu bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus emosi dan memaki. Kamu tidak boleh terlihat menyedihkan," ucapnya lirih pada diri sendiri.

"Dengarkan penjelasan mas Adrian, kadang yang terlihat bisa saja menipu." Dia terus mensugesti dirinya dan denial. Dan selama itu pula, permukaan kulit di bawah kukunya sudah terkelupas dan memerah bahkan ada bercak darah di sana.

Tatapannya nanar pada pintu kamar, menunggu dua manusia yang tidak kunjung terlihat padahal sudah beberapa menit berlalu.

"Kalian sudah selesai?" tanya Alya dengan suara bergetar padahal sudah berusaha sebaik mungkin.

Dia menatap dua manusia yang dia kenal sebagai suami dan temannya.

"Siapa yang akan mewakili?" tanyanya lagi.

.

.

.

Huh sampai nahan napas author nulisnya, malu nangis di tempat kerja hahaha

1
ken darsihk
Syukoorrr lo Sapi perah sok tauu sihhhh , marah kan Adrian nya 😠😠😠
ken darsihk
Ha ha sarkas bngt jawaban nya Alya nggak kenal 🤔🤔
Maria Kibtiyah
bener2 gk tau diri tuh pelakor
Maria Kibtiyah
gk tau malu tuh pelakor
julia elisabeth rien
pengen ikutan gaplok si sapri deh.... gemesshh akunya...
julia elisabeth rien: ayok kak kita gaplok in bareng2 si sapi itu 🤣🤣
total 2 replies
Rahma Inayah
malu dong pelakor niat manasi tp dia yg panas
julia elisabeth rien
malu ga tuh si pelakorrr..... niat pamer malah ketiban siall.. emang enakk..emang dasar pelakor muka tembok .. semoga cepat kena karma apa gitu deh ...
Rahma Inayah
SM sya juga sebel SM Safira dan Adrian
ken darsihk
Mama Adrian saluttt ❤❤
falea sezi
egois amattt pakkk😒
Linda Yohana
Bagus novelnya
julia elisabeth rien
aku juga sebelll sama kayak kau adrina, setiap adrian baik2 sama si pelakorrr ituhhhhh .....
makin besar kepala aja diaa....
Anonim: SI ALYA NYA MASOKIS
total 1 replies
Rahma Inayah
trm aja Alya to ank mu juga tanggung jwb Adrian ayah biologis ank mu .uang persiapan persalinan BS km gunakan utk keperluan baby mu nnt
Rahma Inayah
walau Adrian menjauh GK ggu alya tp rasa bersalah nya selalu menghantui dan membuat hidupnya TDK tenang sllu ada byg2 Alya
Devi ana Safara Aldiva
salut dengan cara Adrian membantu mantan istrinya itu... dan bertanggung jawab atas anaknya
Maria Kibtiyah
lanjut kak
ken darsihk
Semoga Alya baik2 sajah setelah dia mengetahui kalau Adrian yng membiayai persalinan nya nanti
ken darsihk
Biarkan Alya , Adrian
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya
Azril Ali
pa Safira jg hamil,ktnya telat..smga g BS hamil LG..
Ma Em
Untung Adrian pengertian dan benar tdk mau mengganggu Alya cuma melihat Alya dari kejauhan , semoga Alya dan bayi yg dikandungnya sehat .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!