NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 #Ancaman Nyata

​"Sialan," umpat Bara Fernandez dengan suara baritonnya yang teramat rendah dan serak.

​Mau tidak mau, pria matang itu terpaksa bangkit dari atas tubuh Anya. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup begitu rapat menahan rasa kesal yang luar biasa. Bara mengacak rambutnya yang biasanya tertata rapi dengan kasar, merasa frustrasi setengah mati karena harus menahan puncak gairahnya yang sudah berada di ujung tanduk.

​Anya tidak membuang waktu. Dengan tubuh gemetar dan jantung yang masih berdegup liar, dia langsung menarik selimut tebal milik Bara untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga sebatas dada.

​Bara mengembuskan napas berat, mencoba menetralkan deru napasnya yang memburu sebelum melangkah lebar menuju pintu koridor. Pria itu memutar kunci, lalu membuka daun pintu hanya beberapa senti saja, sengaja menyisakan celah sempit agar tubuh kekarnya memblokir pandangan Calvin sehingga keponakannya itu tidak akan bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya.

​"Benar ini sangat penting, Calvin?" tanya Bara dengan suara yang sengaja dibuat sedatar dan sedingin mungkin, meski sisa serak gairah masih samar terdengar.

​Calvin yang berdiri di luar langsung mengangguk tegap, wajahnya tampak cemas. "Iya, Om. Ini masalah serius. Dokumen audit dari tim di jerman menunjukkan ada selisih angka yang cukup besar, dan Papa butuh keputusan Om sekarang juga."

​"Baik. Tunggu sebentar," sahut Bara. Dia menutup kembali pintu kamarnya, merapikan penampilannya lalu kembali membuka pintu dan berjalan bersama Calvin menuju ruang kerja di bagian depan vila.

​Begitu derap langkah kedua pria itu terdengar menjauh, Anya langsung menyibak selimut. Tanpa membuang waktu satu detik pun, dia merapatkan kimono sutranya, membuka pintu kamar Bara dengan super hati-hati, lalu berlari kecil menyusuri koridor temaram menuju kamarnya sendiri.

​Klek.

​Anya berhasil menyelinap masuk dan langsung menutup pintu kamar. Namun, debaran jantungnya hampir copot saat melihat lampu tidur di samping ranjang mendadak menyala. Jessica tampak bergerak, lalu mendudukkan tubuhnya sembari mengucek mata. Wanita berusia 29 tahun itu menatap heran ke arah Anya yang berdiri mematung di dekat pintu dengan tangan melilitkan kimono rapat-rapat, namun rambut kecokelatannya tampak sangat berantakan dan acak-acakan.

​"Anya? Kamu... habis dari mana malam-malam begini? Kenapa rambutmu sampai se-acak-acakan itu?" tanya Jessica dengan suara khas orang baru bangun tidur, penuh selidik.

​Anya membelalak, otaknya langsung berputar gila mencari alasan darurat. "Hah? Ah... ini, Kak Jessica. Tadi... tadi aku sempat keluar sebentar ke dekat balkon luar yang menghadap pantai. Aku cuma mau melihat ombak, tapi ternyata angin malam di luar kencang banget, makanya rambutku sampai berantakan begini," bohong Anya dengan tawa kaku yang dipaksakan. Sebelum Jessica sempat bertanya lebih jauh, Anya langsung memegangi perutnya. "Aduh, Kak, sepertinya perutku mendadak sakit karena terlalu banyak makan tadi. Aku ke kamar mandi dulu ya!"

​Anya segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Di atas ranjang, Jessica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran sebelum kembali merebahkan diri di bawah selimut. "Ngapain juga tengah malam begini ke pantai... aneh-aneh saja," gumam Jessica pelan, lalu kembali terlelap.

​Di dalam kamar mandi, Anya bersandar di balik pintu sembari mengembuskan napas lega yang luar biasa dalam. Namun, saat dia berkaca di depan cermin, matanya seketika membelalak sempurna. Di sepanjang ceruk leher hingga ke atas dadanya, bertebaran beberapa bercak merah keunguan yang cukup pekat. Ulah gigitan si om menyebalkan itu benar-benar tercetak nyata.

...

​Keesokan paginya, matahari pantai bersinar dengan teramat terik dan cerah. Suasana yang hangat mulai terasa sejak pagi di ruang makan terbuka vila.

​Anya keluar dari kamar dengan penampilan yang terbilang cukup kontras dengan suasana pantai. Beruntung, dia membawa sebuah kaos turtle neck rajut tipis berlengan pendek berwarna putih yang menutupi seluruh permukaan lehernya dengan sempurna, yang kemudian dia padukan dengan celana pendek denim. Rambut kecokelatannya dibiarkan tergerai indah, menutupi sisi lehernya, dihiasi sebuah jepit berbentuk bintang kecil di sisi kanan yang manis.

​Saat mereka semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, Isyana Fernandez menyeka bibirnya dengan tisu lalu tersenyum menatap anak-anak muda di depannya. "Setelah sarapan ini selesai, bagaimana kalau kita semua jalan-jalan santai di tepi pantai? Udaranya sedang bagus sekali."

​"Wah, ide bagus, Tante! Lihat, Jessica bahkan sudah memakai dress pantai nih, kebetulan sekali," seru Jessica antusias. Wanita itu tampil cantik mengenakan flowy dress tanpa lengan bercorak bunga-bunga khas musim panas.

​Sementara itu, di seberang meja, Bara Fernandez lagi-lagi berhasil mencuri perhatian semua orang. Pria matang itu tampak begitu segar dan teramat tampan mengenakan kemeja pantai bernuansa biru laut yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kokoh, dipadukan dengan celana pendek santai. Penampilan Calvin sendiri pun hampir mirip dengan pamannya.

​Melihat hal itu, Anya merasa dirinya benar-benar salah kostum di tengah cuaca pantai yang mulai memanas ini. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak mungkin memakai dress pantai berpotongan rendah atau baju renang yang akan memperlihatkan asetnya yang penuh dengan tanda kepemilikan dari pria yang saat ini... sedang menatapnya sembari menyunggingkan sebuah senyuman rahasia yang teramat seksi dan menyebalkan.

​"Anya, kamu tidak membawa baju pantai ya? Kenapa malah memakai kaos leher tinggi begitu? Apa tidak kepanasan?" tanya Jessica heran, melirik kaos turtle neck yang membungkus leher Anya.

​Anya buru-buru meneguk jus jeruknya untuk menutupi kegugupan. "Ah... aku pakai ini saja, Kak Jessica. Aku cuma membawa 1 dress dan rencananya ingin aku pakai besok saja." kilah Anya, sengaja menghindari tatapan mata Bara yang tampak semakin terhibur melihat kepanikannya.

.

.

​Beberapa menit kemudian, rombongan keluarga itu mulai berjalan menyusuri hamparan pasir putih di tepi pantai yang jernih. Angin laut berembus kencang, menerbangkan ujung dress milik Jessica.

​Tanpa malu-malu, Jessica langsung melangkah mendekati Bara dan dengan luwes menggelendotkan tangannya, menggandeng lengan kokoh sang pria matang itu dengan manja. Dan yang membuat dada Anya mendadak terasa sesak dan terbakar adalah... Bara diam saja. Pria itu sama sekali tidak menolak atau menepis tangan Jessica, membiarkan wanita itu berjalan berdempetan dengannya menyusuri pantai.

'​Dasar om-om tidak punya pendirian! Semalam saja mengurungku seperti singa kelaparan, sekarang malah pasrah digandeng wanita lain!' umpat Anya habis-habisan di dalam hatinya. Tangannya mencengkeram ujung kaosnya dengan kesal, matanya memandang tajam ke arah punggung tegap Bara dari belakang dengan binar cemburu yang gagal dia sembunyikan.

​Sementara itu, Calvin yang berjalan di samping Anya justru sama sekali tidak memedulikan tunangannya. Pria muda itu terus-menerus sibuk dengan ponsel di tangannya, membidik beberapa foto pemandangan laut yang indah, deburan ombak, hingga sudut-sudut villa yang aesthetic. Sudut bibir Calvin bahkan melengkung membentuk senyuman tulus, sebuah senyuman yang sengaja dia siapkan karena berniat mengirimkan foto-foto indah itu untuk dipamerkan pada Mbak Melati, janda berusia 35 tahun yang teramat dia cintai secara rahasia.

​Di bagian belakang, langkah kaki Tomi Fernandez mendadak melambat. Pria paruh baya yang awalnya berjalan santai menikmati kelapa muda bersama istrinya, Isyana, dan Tito Sanjaya itu kini menghentikan langkahnya. Sepasang matanya yang tajam dan sarat akan pengalaman hidup seketika terfokus sepenuhnya pada gerak-gerik putra tunggalnya, Calvin.

​Tomi menyipitkan matanya. Dia memperhatikan bagaimana Calvin terus-menerus terpaku pada layar ponsel, tersenyum sendiri tanpa memedulikan keberadaan Anya yang berjalan di sisinya. Harusnya, sebagai seorang tunangan muda, Calvin bersenda gurau dengan Anya, menggandeng tangannya, atau setidaknya mengajak gadis itu untuk berfoto berdua di tepi pantai yang romantis ini. Tapi tidak. Calvin justru tampak menjaga jarak dan sibuk dengan dunianya sendiri.

​Hal ini seketika membuat riak kecurigaan yang sempat terpendam di dalam benak Tomi kembali mencuat kuat ke permukaan. Insting bisnis dan instingnya sebagai seorang ayah mencium ada sesuatu yang tidak beres.

'​Ada yang tidak beres dengan anak itu,' batin Tomi dengan rahang sedikit mengeras. Dia menatap punggung Calvin dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam. 'Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Aku harus segera mencari tahu dengan siapa dia terus berhubungan akhir-akhir ini... dan siapa sebenarnya wanita bernama Melati itu. Benarkah dia hanya sekadar senior kampusnya, atau ada rahasia busuk yang sedang Calvin sembunyikan di belakang perjodohan ini?'

​Tomi bersumpah dalam hati, jika wanita bernama Melati itu berani menjadi penghalang bagi masa depan bisnis dan status sosial keluarganya melalui pernikahan Calvin dan Zevanya, maka dia tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan siapapun itu secepat mungkin dari kehidupan putranya.

1
beybi T.Halim
lama lamaaa anya ini gak bertanggung jawab sama kuliahnya hadeh🙈
beybi T.Halim
mau kaya atau miskin klo soal perasaan gak bisa kompromi.,yg ada hanya bagaimana kita memperjuangkan perasaan itu menjadi kebahagiaan yg nyata atau cuma jadi pecundang👍
beybi T.Halim
haih...buruan lah bara diselesaikan dengan damai,br semua berbahagia
Yohana Pandie
lanjut thor.🙏
beybi T.Halim
ceritanya gemesin sih sebenarnya.,anya yg msh labil dan om bara yg dewasa,cumaa yaa itu jafi kucing2an perkara cinta salah alamat dari awal🤭
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!