NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 HARGA SEBUAH KEBEBASAN

Bramantyo Adiwangsa memutar tubuhnya menghadap Bara Prakoso, perlahan, seolah gerak itu sudah dilatih. Untuk pertama kalinya kedua pria itu saling menatap mata.

Konglomerat yang jatuh dan mafioso yang membangun dirinya sendiri. Darah biru dan darah jalanan. Pria yang dulu memiliki segalanya, dan pria yang membangun segalanya dari ketiadaan.

"Anda," ucap Bramantyo, suaranya setipis serpihan es. "Anda lebih buruk daripada kakak saya sendiri. Setidaknya Mahendra masih punya kesopanan untuk menikam saya dari belakang. Anda melakukannya tepat di depan mata anak saya."

Bara bangkit tanpa tergesa. Ia melangkah dua kali ke arah mereka, dan dalam dua langkah itu ada sesuatu yang menyerupai kucing besar, seorang pemangsa, seseorang yang tak terbiasa ditantang.

"Pak Bramantyo," katanya, dengan suara berat yang tak perlu meninggi. "Saya paham kemarahan Anda. Seandainya saya punya anak perempuan, saya pun tak sudi melihatnya menikah dengan pria seperti saya. Tapi keadaan sudah seperti ini adanya. Adik Anda mengkhianati Anda. Bank Anda meninggalkan Anda. Kawan-kawan Anda lenyap satu per satu. Sayalah satu-satunya yang mengulurkan tangan saat Anda tenggelam. Bencilah saya sepuas Anda. Tapi anak Anda hidup. Istri Anda akan mendapat perawatan. Dan Anda tidak akan membusuk di dalam sel. Itu lebih dari yang pernah dilakukan siapa pun untuk Anda."

"Lalu apa yang Anda harapkan sebagai gantinya?" desis Bramantyo. "Supaya saya mencium kaki Anda? Menyerahkan sisa-sisa terakhir yang masih saya punya?"

Bara menggeleng.

"Saya tidak mengharapkan apa pun dari Anda. Kesepakatan ini dengan putri Anda. Dia menyumbang nama keluarganya, reputasinya, tempatnya di kalangan atas. Saya menyumbang uang dan perlindungan. Ini pertukaran jasa. Tidak lebih."

"Pertukaran jasa," ulang Bramantyo, getir. "Anda bicara tentang anak saya seolah dia sekadar barang dagangan."

"Anak Anda," kata Bara, dan untuk pertama kalinya suaranya sedikit mengeras, "adalah perempuan paling berani yang pernah saya kenal seumur hidup saya. Dalam lima hari dia kehilangan rumahnya, kekayaannya, masa depannya. Dia menyaksikan ibunya layu sedikit demi sedikit. Dia tidur di atas kasur di lantai. Dia makan roti keras karena tak ada yang lain. Meski begitu, meski begitu, dia masih menemukan kekuatan untuk turun ke jalan dan berunding dengan iblis demi menyelamatkan ayahnya. Jangan perlakukan dia seperti korban. Dia bukan korban. Dia seorang pejuang."

Napas Maya tercekat.

Bara Prakoso, sang mafioso, sang pembunuh, pria dengan tangan berlumuran darah, baru saja membelanya. Bukan dengan kata-kata kosong, melainkan dengan keyakinan yang bergema di setiap sudut ruangan.

Bramantyo pun merasakannya. Sikapnya berubah. Amarah itu masih ada, membara, tapi di bawahnya ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak ingin ia akui.

"Kenapa harus dia?" tanyanya akhirnya. "Ada ribuan perempuan kalangan atas yang mau menikahi Anda dengan separuh dari yang Anda tawarkan. Kenapa harus anak saya?"

Bara menatapnya lekat.

"Karena yang lain tak sepadan. Anak Anda sepadan."

Tak ada yang bicara untuk waktu yang lama. Jam dinding menghitung detik dengan detak yang seakan mengikuti degup jantung Maya.

Akhirnya Bramantyo menghela napas. Napas panjang, dalam, seolah ia sedang mengembuskan sisa terakhir harga dirinya.

"Maya," katanya, berpaling ke arahnya. "Apa ini yang kamu inginkan?"

Maya memikirkan kata "ingin". Apakah ia ingin menikahi Bara Prakoso? Tidak. Apakah ia ingin menyelamatkan ayahnya? Ya. Apakah ia ingin mengeluarkan ibunya dari apartemen busuk itu? Ya. Apakah ia ingin punya rumah, makanan, rasa aman? Ya. Apakah ia ingin membalas Om Mahendra? Lebih dari apa pun di dunia ini.

"Bukan ini yang kuinginkan," jawabnya jujur. "Tapi ini yang harus kulakukan."

Bramantyo memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, ada kekalahan yang berkilau di sana, tapi juga semacam rasa hormat.

"Kalau begitu tak ada pilihan lain selain menerimanya."

Ia berpaling ke arah Bara. Melangkah maju satu langkah. Lalu, mengejutkan semua orang, ia mengulurkan tangan.

"Jaga dia," ucapnya. "Sebab kalau Anda menyakitinya, kalau Anda melukainya, kalau Anda mengkhianatinya... tak peduli Anda di penjara atau sudah mati. Saya akan menemukan cara untuk membuat Anda membayar."

Bara menatap tangan yang terulur itu selama waktu yang terasa seperti keabadian. Kemudian, perlahan, ia menyambutnya.

"Saya tidak akan menyakitinya," katanya. "Saya bersumpah demi mendiang ibu saya, yang sudah tiada dan tak bisa mendengar saya, tapi tetap saya bersumpah."

Jabat tangan itu erat, singkat, sarat ketegangan yang takkan sirna dalam waktu dekat. Dua pria yang saling membenci, dipersatukan oleh seorang perempuan yang tak layak dimiliki oleh keduanya.

Maya menyaksikan semuanya dengan hati yang tercekam.

Ini baru awal,* pikirnya. Awal dari sesuatu yang aku tak tahu akan berakhir bagaimana.*

* * *

Mereka keluar dari pengadilan di bawah sengat matahari yang menyilaukan.

Maserati hitam sudah menunggu di depan pintu, mesin menyala, dengan sopir bertubuh besar berwajah persegi dan bermata datar menahan pintu tetap terbuka.

"Naik," ujar Bara. "Kita ke kantor catatan sipil. Upacaranya satu jam lagi."

Bramantyo ragu. Ia memandang mobil itu, memandang Bara, memandang Maya.

"Tak bisakah kita tunda sehari saja?"

"Tidak," jawab Bara, dengan dingin setajam pisau bedah yang menjadi cirinya. "Setiap menit berlalu, adik Anda menggerakkan bidaknya. Selama kami belum menikah, kesepakatan ini belum sah secara hukum. Kalau terjadi sesuatu pada Maya sebelum kami menandatanganinya, saya tak punya kewajiban apa pun untuk melindungi kalian. Anda paham?"

Bramantyo mengatupkan rahang. Namun ia mengangguk.

Mereka masuk ke mobil. Maya di tengah, di antara ayahnya dan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya. Sentuhan tubuh mereka terasa canggung, terlalu dekat, sarat keintiman yang tak dipilih oleh siapa pun.

Bara menatap Maya dari balik bahunya.

"Menyesal?" tanyanya, pelan, hanya untuk telinga Maya.

Maya menatap matanya. Sepasang mata kelabu itu, dalam, mustahil dibaca.

"Belum," jawabnya. "Tanyakan lagi besok."

Bara nyaris tersenyum. Nyaris.

"Sepakat."

Mobil melaju, meninggalkan pengadilan, meninggalkan lima hari paling kelam dalam hidup Maya Adiwangsa.

Di depan, menantinya kantor catatan sipil, seorang penghulu sipil, dan sebuah nama keluarga yang baru.

Prakoso.

Terdengar seperti bahaya. Terdengar seperti kuasa. Terdengar seperti takdir yang tak pernah Maya bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!