Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.
Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—
*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*
Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.
Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**
Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:
*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*
Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**
Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.
Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**
Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**
Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:
*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*
Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.
——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Tangan Tak Dikenal di Balik Kesembuhan
Tujuh hari setelah operasi, Eyang Sri sudah bisa mengeluh tentang bubur rumah sakit.
“Tidak ada rasanya,” katanya sambil mengaduk mangkuk.
Laras tersenyum untuk pertama kalinya tanpa dipaksa selama lebih dari seminggu. “Itu tandanya Eyang membaik. Kalau masih sakit, apa pun tidak akan terasa.”
“Kalau sembuh, boleh minta soto?”
“Boleh lihat soto dari jauh.”
Eyang mendecakkan lidah. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya lebih ringan. Luka akses tindakan diperiksa setiap hari, obat diminum tepat waktu, dan monitor tak lagi membuat Laras terbangun setiap lima menit.
Pintu kamar terbuka. dr. Wibowo masuk bersama dua perawat dan seorang dokter muda. Ia memeriksa hasil laboratorium, mendengarkan jantung Eyang, lalu mengangguk puas.
“Pemulihannya bagus, Bu Sri. Kalau tidak ada keluhan baru, dua hari lagi bisa pulang. Obat jangan putus dan kontrol sesuai jadwal.”
Laras membuka catatan. “Untuk aktivitas di rumah bagaimana, Dok? Ada batas naik tangga?”
dr. Wibowo menjelaskan perlahan. Laras menulis semua poin, dari pola makan sampai tanda bahaya yang mengharuskan mereka kembali ke IGD.
Saat dokter hendak pergi, ia menoleh kepada Laras. “Untung ada yayasan yang membantu mendorong jadwalnya, Bu. Kalau menunggu antrean normal, bisa dua minggu lagi.”
Pena Laras berhenti.
“Mendorong jadwal maksudnya bagaimana, Dok?”
“Bukan melangkahi pasien gawat lain,” jawab dr. Wibowo. “Yayasan membantu koordinasi pemeriksaan dan menjamin administrasinya, jadi slot yang kosong hari Jumat bisa langsung dipakai. Secara medis Eyang memang prioritas untuk dipercepat.”
“Dokter tahu siapa yang menghubungi?”
“Bagian kerja sama rumah sakit yang urus. Saya hanya menerima berkas lengkap dan memastikan indikasinya tepat.”
“Nama yayasannya Puspa?”
dr. Wibowo mengangguk. “Sepertinya begitu.”
Setelah rombongan keluar, Laras mengambil map keuangan dari laci. Tanda terima itu masih terselip di halaman paling depan. Yayasan Puspa. Bantuan sementara. Nomor kecil yang tidak menjelaskan apa-apa.
Ia sudah menghubungi nomor layanan yayasan sehari setelah pembayaran. Petugas yang menjawab hanya mengonfirmasi bahwa kasus Eyang Sri masuk kategori bantuan medis sementara berdasarkan rekomendasi donor. Mereka menolak menyebut pemberi rekomendasi karena kebijakan privasi.
Rumah Puspa milik Laras dan Ratih bahkan belum punya badan hukum yayasan. Kesamaan nama itu bisa kebetulan, tetapi terlalu aneh untuk tidak membuatnya berpikir.
“Kenapa mukamu begitu?” tanya Eyang.
“Jadwal Eyang ternyata dibantu seseorang.”
“Bagus.”
“Saya tidak tahu siapa.”
“Lebih bagus lagi. Berarti orangnya tidak ingin kamu repot membalas.”
Laras duduk di tepi ranjang. “Kalau bantuan itu punya maksud lain?”
Eyang Sri menatap cucunya cukup lama. “Kamu selalu mencari tagihan di balik kebaikan.”
“Karena biasanya memang ada.”
“Kadang ada orang baik yang tidak mau ketahuan.” Tangan kurus Eyang menutup jemarinya. “Mungkin ini rezeki dari Gusti Allah, dikirim lewat orang baik yang tidak mau namanya disebut.”
Hidung Laras mendadak perih. Ia menunduk, pura-pura merapikan selimut.
Selama bertahun-tahun, setiap pertolongan datang dengan syarat. Parman memberi makan sambil mengingatkan berapa mahal biaya sekolah. Galih memberinya kehidupan nyaman dengan aturan hubungan yang tak pernah dibicarakan terang-terangan. Naren datang membawa uang, ancaman, lalu pintu-pintu yang bisa dipilihnya sendiri.
Ia tak tahu harus memasukkan pria itu ke kelompok mana.
“Kalau ketemu orangnya, bilang terima kasih,” kata Eyang.
“Kalau tidak ketemu?”
“Jadi orang baik untuk orang lain. Kebaikan tidak harus pulang ke alamat yang sama.”
Laras tertawa kecil. “Eyang bicara seperti ustazah.”
“Karena buburnya tidak enak. Orang lapar suka jadi bijaksana.”
Siang itu Nadia datang membawa buah dan kerudung bersih. Begitu tahu uang muka sudah dibayar yayasan, ia merebut tanda terima dan mengangkatnya ke arah cahaya.
“Yayasan Puspa?”
“Saya juga bingung.”
“Naren tahu soal Rumah Puspa.”
“Tahu tempatnya, bukan semua detailnya.”
“Dia punya uang dan koneksi.”
“Dia juga tiga hari ini menjawab seperti petugas parkir. Ya. Oke. Selesai.”
Nadia menyipitkan mata. “Orang kaya kadang punya dua kepribadian. Satu buat chat, satu buat transfer.”
“Jangan bikin saya berharap.”
“Berharap apa?”
Laras mengambil kembali tanda terima. “Berharap ada orang yang membantu tanpa ingin memiliki saya.”
Candaan di wajah Nadia menghilang. “Kalau memang dia, kamu berhak berterima kasih. Tapi kamu juga tetap berhak menolak apa pun setelahnya.”
“Saya tahu.”
“Kamu selalu bilang tahu saat sebenarnya lagi takut.”
Laras tidak menjawab.
Malamnya, setelah Eyang tidur, Laras berdiri di dekat jendela. Lampu Jakarta terlihat seperti kumpulan titik yang tak pernah benar-benar padam. Ia membuka percakapan dengan Naren.
Pesan terakhirnya masih Oke.
Ia mengetik: Yayasan Puspa itu kamu?
Jarinya menggantung di atas tombol kirim. Jika Naren menjawab ya, Laras harus menerima bahwa di balik tiga hari sikap dingin itu ada perhatian yang cukup besar untuk mengubah jadwal operasi. Jika menjawab tidak, ia akan tampak seperti perempuan yang terlalu ingin melihat kebaikan di tempat yang salah.
Kalimat itu dihapus.
Ia mengetik lagi: Operasi Eyang lancar. Dokter bilang jadwalnya dipercepat karena bantuan yayasan.
Kalimat kedua juga dihapus.
Pada akhirnya ia hanya menulis: Terima kasih, ya.
Pesan terkirim pukul sembilan lewat empat belas.
Balasan muncul kurang dari semenit.
Sama-sama.
Laras menatap dua kata itu. Naren tidak bertanya untuk apa ia berterima kasih. Ia juga tidak menyangkal sesuatu yang tidak disebutkan. Jawaban itu bisa berarti apa saja, dan justru karena itulah jantung Laras berdetak lebih cepat.
Ia berjalan kembali ke sisi ranjang. Eyang terbangun dan memandangnya dengan mata setengah terbuka.
“Sudah bilang terima kasih?”
“Sudah.”
“Ketemu orangnya?”
“Belum tahu.”
“Kalau begitu kenapa tersenyum?”
Laras segera meratakan bibir. “Saya tidak tersenyum.”
“Eyang memang tua, tapi belum buta.”
Laras menyelipkan ponsel ke saku dan memeriksa infus yang sebenarnya baik-baik saja. Di kepalanya, potongan-potongan kecil berputar: Naren yang mengetahui rumah sakit, Fahmi yang datang membawa perlengkapan, uang muka yang lunas, slot operasi yang tiba-tiba tersedia, dan balasan sama-sama yang datang terlalu cepat.
Jangan-jangan memang dia?
Harapan itu menakutkan bukan karena mustahil, melainkan karena mulai terasa masuk akal.
Ia teringat malam ketika Naren menyuruhnya pulang seolah kedekatan mereka tidak berarti apa-apa. Orang yang sama mungkin telah duduk di balik meja, menandatangani bantuan untuk menyelamatkan Eyang. Dua wajah itu tidak dapat disatukan, tetapi Laras mulai curiga keduanya memang milik seorang pria yang belum pandai mengatakan apa yang dilakukannya.
Laras kembali ke jendela. Ia membuka ruang percakapan sekali lagi dan mengetik: Saya perlu tanya sesuatu.
Kali ini ia menahan kalimat itu lebih lama. Kemudian ia menghapusnya, menekan tombol samping sampai layar menjadi hitam, dan memandang pantulan wajahnya sendiri di kaca kamar.
Di luar, kota berkilau tanpa jawaban. Di dalam, Eyang Sri bernapas tenang berkat pertolongan seseorang yang memilih tetap tak terlihat.