Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Kamar
"Aku benar-benar mengantuk malam ini," ucap Syafiya sambil mengucak matanya.
Dia menaiki anak tangga dengan mata yang sangat mengantuk. Setelah seharian membantu Mommy Marlina merapikan koleksi gaun terbaru di butik, ditambah lembur memeriksa stok kain hingga larut malam, tenaganya benar-benar terkuras habis.
Rumah megah keluarga Arkananta sudah sunyi senyap, menandakan seluruh penghuninya telah terlelap.
Saat tiba di lantai atas, Syafiya berjalan tertatih dalam remang cahaya lampu koridor. Pikirannya melayang, hanya mendambakan empuknya kasur dan hangatnya selimut.
Seharusnya, jika sudah tiba di atas, kamarnya terletak di sebelah kanan. Namun, dalam kondisi setengah sadar dan kesadaran yang terkikis rasa lelah, Syafiya justru memutar tubuhnya ke arah sebaliknya. Ia malah masuk ke kamar sebelah kiri.
Pintu kayu jati berukir itu tidak terkunci rapat. Syafiya mendorongnya perlahan, lalu melangkah masuk tanpa rasa curiga sedikit pun.
Udara dingin dari air conditioner langsung menyapa kulitnya, disertai aroma maskulin yang khas—campuran sandalwood dan citrus yang begitu pekat.
Syafiya bergeming sejenak di dekat ambang pintu. Aroma ini terasa familiar, namun otaknya yang kelelahan menolak untuk berpikir lebih jauh.
Ia menutup pintu di belakangnya dengan dentupan halus, lalu berjalan mendekati ranjang berukuran king size di tengah ruangan.
Tanpa menyalakan lampu, Syafiya merayap naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya. Ia memejamkan mata, menghela napas lega saat tubuhnya akhirnya bisa beristirahat.
Namun, baru beberapa detik matanya terpejam, Syafiya merasakan keanehan. Suhu di dalam selimut tiba-tiba terasa begitu hangat, dan ada embusan napas halus yang menerpa tengkuknya.
Sebelum ia sempat mencerna apa yang terjadi, sebuah lengan kekar bertato melingkar kuat di pinggangnya dari arah belakang, menarik tubuh mungilnya hingga menempel rapat pada dada bidang yang keras dan bertelanjang dada.
Syafiya membelalakkan mata seketika.
Rasa kantuknya mendadak sirna, berganti dengan gelombang kepanikan yang menusuk dada. Ini bukan kamarnya!
"Sudah pulang, hmmm?" suara berat dan serak khas bangun tidur terdengar tepat di samping telinganya.
Zeffan memeluk tubuh itu semakin erat. Pria itu mengira yang baru saja naik ke tempat tidurnya adalah Valerie.
Mengingat kabar bahwa istrinya akan pulang malam ini dari rumah orang tuanya, Zeffan yang berada dalam kondisi setengah sadar tak menyangka ada orang lain yang memasuki kamarnya.
Jantung Syafiya seolah berhenti berdetak saat mengenali suara dan aroma itu. Kak Zeffan. Kakak angkatnya.
"K-Kak... Kak Zeffan..." bisik Syafiya dengan suara gemetar hebat. Tubuhnya kaku, tak mampu bergerak sedikit pun di dalam dekapan erat sang kakak.
Mendengar suara lembut yang memanggilnya dengan sebutan Kakak, mata Zeffan langsung terbuka di balik kegelapan.
Dugaannya patah seketika. Suara ini bukan milik Valerie, melainkan milik adik angkatnya yang baru berusia 21 tahun.
Zeffan mengernyit. Bukannya melepaskan pelukannya, jemari tangannya di pinggang Syafiya justru makin mencengkeram erat saat aroma manis tubuh Syafiya merasuk penuh ke indra penciumannya.
"K-kak, sepertinya aku salah masuk kamar. Lepasin, Kak..." ucap Syafiya dengan paniknya.
Tangan Syafiya berusaha mendorong dada bidang Zeffan yang berada di depannya, namun cengkeraman lengan pria itu di pinggangnya tidak bergerak sedikit pun.
"Salah kamar?" bisik Zeffan dengan suara serak khas bangun tidur, tepat di ceruk leher Syafiya.
"I-iya, Kak. Pikiranku lagi kacau karena ngantuk berat. Tolong lepasin..." Syafiya makin ketakutan.
Zeffan bukannya melepaskan, malah makin mempererat dekapannya.
"Kamu pikir kamar ini bisa dimasuki dan ditinggalin begitu saja, Syafiya?"
"Kak Zeffan, tolong! Kak Valerie bisa pulang sebentar lagi!" panggil Syafiya dengan nada memohon, suaranya terdengar makin bergetar.
"Valerie nggak akan pulang malam ini. Dia nginep di rumah orang tuanya," potong Zeffan dingin.
"T-tapi ini salah, Kak! Aku adik kamu!"
"Adik angkat," ralat Zeffan cepat. Matanya yang tajam menatap lekat paras Syafiya dalam remang kegelapan. "Dan kamu sendiri yang melangkah masuk ke ranjangku."
"Aku nggak sengaja, Kak! Tolong... biarkan aku keluar," isak Syafiya lirih, berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
"Sudah terlambat, Syafiya."
"Kak, lepasin! Nanti Mommy dan Daddy tahu bisa salah paham, Kak!" tegur Syafiya setengah berbisik, berusaha keras tak menaikkan volumenya agar tak memancing perhatian siapapun.
"Salah paham gimana?" tanya Zeffan santai, justru makin merapatkan posisinya.
"Ya salah paham! Kakak itu punya Kak Valerie, dan aku cuma adik angkat di rumah ini!" seru Syafiya dengan napas memburu, kedua tangannya terus menahan dada Zeffan agar ada jarak di antara mereka. "Kalau Mommy sampai lihat kita kayak gini, aku harus ditaruh di mana mukaku, Kak?"
"Mommy dan Daddy sudah tidur di lantai bawah, Syafiya. Nggak ada yang bakal naik ke sini jam tiga pagi," balas Zeffan datar.
"Tapi aku mau keluar, Kak! Tolong lepasin!" pintanya, matanya mulai berkaca-kaca menahan panik.
"Kamu sendiri yang jalan ke kamar ini, memanjat ke ranjangku, dan masuk ke dalam selimutku," ujar Zeffan, suaranya tenang namun menusuk. "Sekarang kamu mau pergi gitu aja?"
"Kan aku udah bilang, aku mengantuk berat! Aku salah dengar dan salah arah, Kak! Aku mikirnya ini kamarku!" Syafiya membela diri, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. "Kenapa Kakak malah nahan aku begini?"
Zeffan terkekeh pelan, tawa dingin yang membuat bulu kuduk Syafiya berdiri.
"Karena dari awal kamu melangkah masuk ke sini, pintu kamar ini sudah tertutup buat kamu balik."
"Kak Zeffan, sadar, Kak! Kakak itu suami Kak Valerie! Kakak punya Elvano!" tegas Syafiya, menyebut nama keponakan kecilnya untuk menyadarkan pria itu. "Bahkan sore tadi aku baru aja bantu Mommy di butik buat siapin baju Kak Valerie!"
"Aku nggak peduli," sahut Zeffan pendek.
"Tapi aku peduli, Kak! Aku ngutang budi banyak sama Mommy dan Daddy! Aku nggak mau ngerusak keluarga ini cuma karena kecerobohanku malam ini!" tangis Syafiya akhirnya pecah, dadanya naik turun akibat rasa bersalah yang teramat sangat.
Zeffan mengulurkan satu tangannya, mengusap air mata di pipi Syafiya dengan ibu jarinya, gerakan yang terkesan lembut namun menyimpan paksaan yang kuat.
"Kamu nggak bakal ngerusak apa-apa, asal kamu menurut sama aku," whispered Zeffan tepat di depan bibir Syafiya.
"Nurut apa maksud Kakak?!" Syafiya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan intens sang kakak angkat. "Lepasin aku, Kak! Aku mohon..."
"Diam di sini sampai pagi. Atau aku sendiri yang bakal bilang ke Mommy kalau kamu sengaja datang ke kamarku malam ini?" ancam Zeffan dengan nada amat tenang, namun sukses membekukan seluruh tubuh Syafiya.
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰