Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Mati bersama musuh
Katalin Loya menoleh pada Chongyue yang berdiri tidak jauh darinya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.
“Medan perang sudah dibersihkan.”
Begitu kalimat itu selesai diucapkan—
Chongyue langsung menerjang tanpa memberikan peringatan.
Tubuhnya melesat seperti anak panah yang baru saja dilepaskan dari busurnya, membawa seluruh kekuatan yang masih tersisa di dalam tubuhnya.
Kakinya terangkat tinggi, lalu menghantam kepala Katalin Loya dengan kekuatan penuh, berharap serangan mendadaknya akan mengenainya.
Namun, Katalin Loya hanya menggeser tubuhnya sedikit ke samping, dengan gerakan ringan yang tampak malas.
Serangan Chongyue meleset, hanya menyapu udara kosong di tempat kepala Katalin Loya sebelumnya berada.
Chongyue tidak berhenti. Dia segera mengubah arah gerakannya, menekan telapak tangannya ke tanah sebagai tumpuan, kemudian tubuhnya melompat ke udara dan berputar di atas kobaran api yang menerangi medan pertempuran.
Tiba-tiba—
Api menyala di kedua tangannya.
Semburan api merah membungkus telapak tangannya, menjalar hingga ke lengannya, sementara tubuhnya terus berputar di udara dan mengarahkan serangan berikutnya kepada Katalin Loya.
“Hmm?”
Tatapan Katalin Loya berubah untuk pertama kalinya.
Chongyue menghantamkan telapak tangannya ke lengan Katalin Loya dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.
BUK
Benturan itu menghasilkan suara keras yang menggema di antara area yang terbakar.
Tubuh Katalin Loya terdorong mundur beberapa langkah, meninggalkan jejak di tanah akibat tekanan serangan yang baru saja diterimanya.
Dia menunduk dan menatap lengannya, memperhatikan sisa-sisa api yang masih menjilati permukaan kulitnya.
Kemudian, pandangannya perlahan beralih kepada Chongyue yang telah mendarat beberapa meter di hadapannya.
Sebagai penyusup di dalam Guild, Katalin Loya mengetahui insiden delapan tahun yang lalu dengan sangat jelas, termasuk rahasia yang selama ini berusaha disembunyikan oleh pihak Guild.
Saat itu, Chongyue masih jauh lebih muda dan belum memiliki kemampuan bertarung seperti sekarang.
Dia menyaksikan temannya tewas secara tragis tepat di depan matanya, tanpa mampu melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Dalam keadaan putus asa dan dikuasai emosi yang begitu kuat, tubuh Chongyue tiba-tiba memancarkan api, seolah-olah kekuatan misterius tersebut telah tertidur jauh di dalam dirinya dan baru terbangun ketika hidupnya berada di ambang kehancuran.
Tidak ada siapapun yang mengetahui dari mana api itu berasal.
Para ilmuwan Guild telah melakukan berbagai penelitian terhadap tubuh Chongyue selama bertahun-tahun, menggunakan alat-alat canggih dan metode yang seharusnya mampu mendeteksi hampir semua jenis energi.
Namun, tidak satu pun dari penelitian itu yang berhasil menemukan jawabannya.
Bahkan tes potensi kemampuan Chongyue selalu menunjukkan angka nol, hasil yang sama sekali tidak berubah meskipun pemeriksaan dilakukan berulang kali.
Nol.
Tidak ada energi khusus yang ditemukan, juga tidak ada tanda-tanda bahwa tubuhnya menyimpan kekuatan luar biasa.
Lalu, dari mana api itu berasal?
Katalin Loya menyipitkan matanya, berusaha membaca sesuatu dari ekspresi dan gerakan Chongyue.
Apakah ada sesuatu yang tertidur jauh di dalam tubuh wanita ini?
Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari, sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik tubuh manusia biasa dan hasil tes yang selalu menunjukkan ketiadaan?
Pikiran itu baru saja melintas ketika Chongyue kembali menyerangnya, tidak memberikan kesempatan bagi Katalin Loya untuk menganalisisnya lebih jauh.
Telapak tangannya mengarah tepat ke wajah Katalin Loya, membawa gerakan cepat dan tajam yang ditujukan untuk mengganggu penglihatannya.
Namun, kali ini tidak ada api yang muncul.
Katalin Loya mengelak dengan mudah, memiringkan kepala dan menggeser tubuhnya hanya beberapa sentimeter dari jalur serangan.
Tangannya kemudian bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Chongyue sebelum wanita itu sempat menarik diri.
Dia memutar pergelangan tangan Chongyue dengan paksa, menggunakan kekuatan yang jauh melampaui kemampuan vampir primitif biasa.
KRAK
Suara tulang patah terdengar nyaring, bahkan mampu menembus suara api yang berkobar di sekitar mereka.
Namun, Chongyue bahkan tidak mengerang.
Wajahnya tetap tenang, tanpa menunjukkan rasa sakit yang seharusnya muncul dari cedera separah itu.
Sebaliknya, dia memanfaatkan posisi tubuhnya dan mengayunkan kakinya dengan gerakan tiba-tiba.
Tendangan lurus mengarah ke perut Katalin Loya, membawa seluruh momentum tubuhnya.
Dari ujung sepatunya, sebilah belati perak tiba-tiba meluncur keluar, tersembunyi di dalam mekanisme kecil yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Kilatan dinginnya memantul di tengah kobaran api, menciptakan garis cahaya tajam yang mengarah ke tubuh Katalin Loya.
Katalin Loya melirik belati itu sekilas, seolah-olah benda tersebut sama sekali tidak cukup berbahaya untuk membuatnya panik.
Tubuhnya kemudian bergeser dengan gerakan ringan.
Serangan itu kembali meleset, hanya menyisakan hembusan angin yang melewati pakaian Katalin Loya.
Dia kemudian melepaskan tangan Chongyue dan mundur beberapa langkah, menciptakan jarak di antara mereka.
Tatapan merendahkan terpancar dari matanya, seolah-olah seluruh usaha Chongyue tidak lebih dari perjuangan sia-sia yang sejak awal tidak mungkin menghasilkan kemenangan.
“Perbedaan kekuatan kita terlalu jauh, Chongyue.”
Senyumnya tetap tipis, tetapi nada suaranya mengandung keyakinan. “Kau bukan tandinganku.”
Bukan tandingannya tiga belas tahun lalu. Bahkan sampai hari ini, setelah semua latihan, pengalaman dan pertempuran yang telah dilaluinya, dia tetap bukan tandingannya.
Chongyue tahu itu.
Dia selalu tahu bahwa jarak di antara mereka bukanlah sesuatu yang dapat ditutup hanya dengan keberanian atau tekad.
“Aku tahu.” Suaranya terdengar sangat pelan, hampir tenggelam di antara suara api yang terus berkobar.
“Aku bukan tandinganmu.”
Tangan kanannya yang patah menggantung lemas di samping tubuhnya, tidak lagi mampu digunakan untuk menyerang ataupun menahan serangan.
Namun, Chongyue tidak mundur.
Dia justru melangkah maju, meskipun setiap gerakan membuat rasa sakit menjalar dari pergelangan tangannya ke seluruh tubuhnya.
Selangkah. Kemudian selangkah lagi.
Senyuman manis perlahan muncul di wajah mungilnya, senyum yang tampak tidak sesuai dengan situasi berbahaya yang sedang dihadapinya.
Katalin Loya mengerutkan kening.
Entah mengapa, senyumnya itu membuat firasat buruk muncul dalam benaknya, seolah-olah Chongyue sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada serangan langsung.
Chongyue terus berjalan mendekat.
Baru ketika jarak mereka tinggal satu langkah, dia berhenti, memastikan bahwa Katalin Loya tidak memiliki banyak waktu untuk bereaksi jika sesuatu terjadi.
“Katalin Loya," Suaranya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengalami patah tulang dan sedang berdiri di hadapan musuh yang jauh lebih kuat.
“Sejauh apa pun manusia berevolusi, kita tetap tidak akan mampu menandingi kekuatan vampir murni.”
Tatapannya tidak bergeser sedikit pun, tetap terkunci pada mata merah Katalin Loya.
“Aku tahu senjata kutukan darah yang dikembangkan Guild hanya efektif melawan vampir generasi baru.”
Dia menarik napas perlahan, seolah-olah sedang menata kalimat terakhir yang ingin disampaikannya.
“Senjata itu tidak akan berguna melawan monster sepertimu.”
Katalin Loya menatapnya tanpa suara, tetapi kewaspadaan mulai terlihat jelas di matanya.
Chongyue tersenyum lebih lebar.
“Karena itu...” Dia mengangkat tangan kirinya dengan gerakan perlahan, memperlihatkan sesuatu yang sejak tadi disembunyikan di dalam genggamannya. “...aku harus mengandalkan diriku sendiri.”
Sebuah benda kecil telah berada di genggamannya.
Tombol pemicu.
Mata Katalin Loya langsung menyipit ketika menyadari benda tersebut.
“Chongyue,”
Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar serius, bahkan mengandung sedikit tekanan yang tidak dapat disembunyikan.
“Apa yang kau—”
Chongyue tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dia menekan tombol itu, lalu memeluk tubuh Katalin Loya dengan erat, menahannya agar tidak menjauh.
Kemudian—
BOOOOOOM
Ledakan dahsyat mengguncang malam, menghancurkan kesunyian yang baru saja menyelimuti medan pertempuran.
Gelombang api menyembur ke segala arah, melahap bangunan, jalanan, serta seluruh area di sekitar mereka dalam sekejap.
Cahaya merah membumbung tinggi ke langit, menerangi awan malam dan membuat seluruh kawasan tersebut seolah-olah berubah menjadi lautan api.
Tubuh dua sosok itu menghilang di dalam kobaran api, tertelan oleh ledakan yang begitu besar hingga tanah di bawah mereka ikut bergetar.
Kesadaran Chongyue perlahan lenyap.
Suara-suara di sekelilingnya semakin jauh, panas yang membakar tubuhnya perlahan menghilang, dan pandangannya mulai dipenuhi kegelapan.
Dalam detik terakhir sebelum semuanya menjadi gelap, satu-satunya pikiran yang tersisa di benaknya adalah—
Katalin Loya, akhirnya... aku bisa membalaskan dendam keluargaku.