Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 Istrimu Sepertinya Tak Mencintaimu
Enam lembar foto memenuhi meja makan Apartemen Verde.
Keira mencoret angka, memeriksa laporan singkat, lalu kembali membuka halaman Calista Hotels. Nathan duduk di seberangnya dengan dagu di atas tangan, sudah dilarang memberi komentar selama sepuluh menit.
Pada menit ketiga, ia menyerah.
"Hotel paling aman."
"Aku belum bertanya."
"Aku hanya menyampaikan fakta."
Keira menandai pendapatan tiga tahun terakhir. "Taman bermain punya potensi lebih besar."
"Risikonya juga besar. Izin, keselamatan wahana, cuaca, reputasi."
"Makanya aku sedang membaca."
Nathan menutup mulut dengan kedua tangan. Ia bertahan satu menit berikutnya.
"Manajemen Calista bagus."
Keira meletakkan pena. "Kamu bisa pergi mandi."
"Aku sudah mandi."
"Mandi lagi."
Nathan akhirnya pindah ke sofa, tetapi tetap memperhatikannya dari jauh.
Bagi Keira, semua angka itu terasa tidak nyata. Bertahun-tahun lalu, ia mendapat gaji enam juta rupiah dan mengatur uang makan sampai angka terakhir. Setelah portofolionya berkembang, penghasilannya naik, lalu stabil di sekitar dua puluh juta. Ia bangga karena setiap kenaikan datang dari kemampuan tangannya sendiri.
Sekarang, hanya dalam dua hari, ia menerima aset dari Mariana dan diminta memilih satu bisnis keluarga Halim.
"Aku cuma ingin bos yang aman," katanya tiba-tiba.
Nathan bangkit dari sofa. "Apa?"
"Waktu pertama masuk Nebula, itu targetku. Bos tidak melecehkan, gaji tepat waktu, lembur dibayar. Sederhana."
"Target boleh berubah."
"Aku tahu. Hanya saja terlalu banyak perubahan datang sekaligus."
Nathan duduk di kursi sebelahnya. "Kita tidak harus menerima apa pun."
"Keluargamu akan kecewa."
"Mereka akan pulih. Papa punya banyak perusahaan untuk menghibur diri."
Keira tertawa pelan. Ia teringat Mariana, perempuan yang memberinya rumah tanpa pernah meminta Keira menjadi salinan dirinya. Akta hibah kemarin bukan perintah untuk meninggalkan pekerjaan. Itu hanya sebuah lantai kuat agar Keira bebas memilih arah.
"Kalau aku terima Calista sebagai pemegang saham pasif?"
"Manajemen tetap berjalan. Kamu dapat laporan bulanan dan hak suara untuk keputusan besar. Kalau suatu hari ingin terlibat, pintunya ada."
Keira membuka mesin pencari di laptop dan mengetik: Jakarta hotel kasus pidana.
Nathan melihat layar. "Metode riset yang optimistis."
"Aku mau tahu masalah terburuk yang mungkin muncul."
Ia membaca tentang sengketa lahan, kebakaran, pelanggaran data tamu, eksploitasi pekerja, dan pencucian uang. Setelah itu, ia membuat daftar pemeriksaan tambahan untuk Calista.
"Aku cenderung memilih hotel," katanya. "Tapi namaku tidak perlu diumumkan sebagai pemilik baru."
"Pemegang saham tersembunyi dari publik?"
"Bukan disembunyikan dari regulator. Hanya tidak perlu siaran pers."
"Bisa."
Nathan menghubungi penasihat independen yang tidak berada di bawah Grup Halim. Ia menyalakan pengeras suara agar Keira mendengar seluruh percakapan, lalu meminta pemeriksaan utang, sengketa tenaga kerja, izin bangunan, perlindungan data tamu, dan riwayat klaim asuransi.
"Laporannya paling cepat tiga hari kerja," kata penasihat itu.
"Tidak perlu dipercepat," jawab Keira. "Aku ingin lengkap."
Setelah panggilan selesai, Nathan menggeser laptop ke arahnya. "Aku sudah buat folder data bersama. Hanya akunmu yang punya hak persetujuan akhir."
Keira memeriksa pengaturannya. "Kamu tidak punya?"
"Aku punya hak baca."
"Kamu bisa membobolnya."
"Secara teknis, ya. Secara pernikahan, tidak."
"Jawaban yang sehat untuk seseorang yang minggu lalu memasang pesan di komputerkku."
"Pesan itu tidak membaca data. Ia hanya mengganggu dengan kasih sayang."
Keira menahan senyum dan kembali pada lembar laporan. Di bagian sumber daya manusia, Calista mempekerjakan lebih dari empat ratus orang. Angka itu membuat aset tersebut tidak lagi tampak seperti foto hotel cantik. Ada gaji, keluarga, dan kehidupan nyata yang bergantung pada keputusan pemilik.
"Kalau aku menerima ini, aku tidak mau hanya mengambil dividen," katanya. "Minimal ada audit keselamatan kerja dan jalur pengaduan independen."
"Kita masukkan sebagai syarat penerimaan."
"Kita?"
"Kamu memutuskan. Aku membantu menerjemahkan keputusanmu ke bahasa legal yang membosankan."
Keira mengetuk ujung penanya ke meja. "Aku masih bisa menolak setelah audit."
"Tentu."
"Dan kamu tidak akan membeli hotelnya sendiri lalu memberikannya lewat cara lain?"
Nathan terlihat mempertimbangkan jawaban terlalu lama.
"Nathan."
"Aku tidak akan melakukannya," katanya akhirnya. "Tanpa izinmu."
"Bagian terakhir itu tidak menenangkan."
"Aku sedang belajar."
Keira menulis satu syarat tambahan di kertas: tidak ada kejutan berbentuk akuisisi. Ia mendorongnya kepada Nathan untuk ditandatangani.
Nathan benar-benar menandatanganinya.
Malam sebelumnya di rumah keluarga Halim, Marcus mengajak Nathan ke balkon sesaat sebelum mereka pulang.
"Aku akan bicara langsung," katanya.
"Biasanya Ko memang begitu."
"Perasaanmu terhadap Keira terlalu jelas."
"Aku tidak berniat menyembunyikannya."
"Istrimu sepertinya tak mencintaimu."
Nathan tidak menjawab. Suara air kolam dari taman terdengar lebih keras daripada biasanya.
Marcus melanjutkan, "Dia menghormatimu. Dia mulai nyaman. Mungkin dia juga menyukaimu. Tapi itu belum sama dengan cinta."
"Aku tahu."
"Benarkah?"
"Dia bilang akan mencoba. Aku menerima itu."
Marcus mengamati adiknya. "Kalau pada akhirnya dia tidak bisa?"
"Aku akan membuat hidupnya cukup aman untuk memilih tetap tinggal."
"Itu bukan jawaban."
Nathan menatap taman gelap. "Aku tidak punya jawaban lain."
Marcus menyerahkan salinan ringkasan Calista. "Kalau kau memilih hotel sebagai hadiah, pastikan itu benar-benar hadiah. Bukan rantai emas."
"Maksud Ko?"
"Kalau pernikahan kalian bertahan, itu hadiah pernikahan. Kalau tidak, anggap kompensasi karena dia pernah harus hidup denganmu. Sahamnya tetap milik Keira."
Nathan mendengus. "Ko terlalu cepat membahas perceraian."
"Aku sedang memastikan kau tidak lupa bahwa mencintai seseorang tidak memberi hak untuk mengurungnya."
Kembali di Apartemen Verde, Nathan memperhatikan Keira menutup laporan Calista. Peringatan Marcus masih terasa tidak menyenangkan, justru karena ia tahu sebagian besar benar.
"Aku pilih Calista," kata Keira. "Dengan audit independen."
"Baik."
"Kamu kelihatan murung."
"Aku sedang memikirkan biaya renovasi tujuh persen."
"Bohong."
Nathan hendak menjawab, tetapi laptop Keira tiba-tiba berkedip. Sebuah kotak pesan muncul di tengah layar.
Sayang, jam berapa tidur?
Keira menatapnya. "Kamu memasang ini kapan?"
"Saat kamu membuat kopi."
Ia menutup kotak itu. Kotak baru muncul di sudut kanan.
Sayang belum menjawab.
Keira menekan tombol keluar. Tiga kotak lain bermunculan.
Sayang.
Sayang.
Sayang.
"Nathan Halim."
Nathan akhirnya tersenyum lagi. "Ya, Sayang?"
Keira meraih bantal sofa dan melemparkannya. Nathan menangkap bantal itu, masih tertawa, tetapi kotak pesan di layar terus bertambah sampai menutupi laporan hotel.
"Matikan."
"Ada kata kunci."
"Aku tidak mau tahu."
"Kalau tidak dimasukkan, programnya aktif setiap tiga puluh detik."
Keira mencoba menutup laptop. Suara notifikasi tetap berbunyi dari dalam, teredam tetapi gigih.
"Kamu sengaja membuat malware untuk istrimu."
"Ini bukan malware. Ini pengingat tidur interaktif."
Keira membuka laptop lagi dengan tatapan dingin. "Beri tahu kata kuncinya."
Nathan menunjuk kotak input terakhir. "Kamu pasti bisa menebak."