NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 19 ] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Malam telah menyeberang menuju dini hari ketika deru mesin motor hitam itu membelok masuk ke pelataran hotel bintang lima milik Carlous Group.

Beberapa staf yang bertugas malam tersentak kaget. Sang CEO Utama yang biasanya datang dengan konvoi mobil lapis baja, malam ini muncul mengenakan jaket kulit, mengendarai motor sport, dan dengan protektif menggandeng seorang wanita bercadar.

"Selamat malam, Tuan Oscar," sapa manajer piket dengan membungkuk dalam, matanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejut.

"Kunci Presidential Suite. Sekarang. Jangan ada yang mengganggu," perintah Oscar datar tanpa menghentikan langkahnya.

Tanpa banyak bicara, Oscar membimbing Anisa menuju lantai teratas. Di dalam kamar yang luas dan megah itu, rasa canggung sempat mengudara. Anisa berdiri kaku di tengah ruangan, jemarinya meremas ujung pakaiannya.

Oscar yang menyadari hal itu menghentikan langkahnya. Ia melepas jaket kulitnya dan menatap Anisa lembut.

"Kamar ini milikmu malam ini. Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Aku di luar."

"Mas... lalu mas tidur di mana?" suara Anisa terdengar cicitan halus dari balik cadarnya.

Oscar tersenyum tipis, menunjuk sofa panjang di ruang tengah. "Ya sama kamu lah. Jangan khawatir, kamar kasurnya big size kok cukup empuk untuk Kita berdua."

Oscar membiarkan ia dan Anisa menguasai kamar utama yang luas, dengan menyelimuti tubuh tegapnya menggunakan selimut yang sama. Sebelum akhirnya mematikan lampu ruang tengah, Oscar mengetuk pelan pintu kamar Anisa yang terbuka sedikit.

"Anisa?" panggilnya pelan.

Anisa mendekat ke celah pintu. "Iya, mas?"

Oscar terkekeh pelan, menatap mata bening sang istri dengan sorot hangat.

"Selamat tidur... Pacar ku sayang~."

Pintu tertutup pelan dari dalam, meninggalkan Anisa yang memegangi dadanya yang berdebar hebat sepanjang malam.

malam itu benar benar hangat ketika kedua mata mereka terpejam,tanpa pelukan dan tanpa saling melirik namun masing-masing dari mereka tahu setiap senyuman terukir itu nyata dan berarti.

.

.

.

.

Keesokan harinya, pkl 07.00 pagi di kediaman utama Edward Carlous. Suasana berubah geger.

"Bagaimana bisa Tuan Oscar tidak ada di seluruh penjuru Mension,taman,dan kamarnya?!" seru Dante panik di lorong utama. Ponsel di tangannya tak berhenti berdering.

Di meja makan, Edward terlihat tenang menyesap kopi hitamnya. Di depannya, Dante berjalan bolak-balik seraya memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Bisa-bisanya Tuan Oscar mematikan ponselnya dan membatalkan seluruh agenda rapat hari ini!" keluh Dante pasrah. "Para investor sudah menunggunya dari jam tujuh pagi, Tuan Edward!"

Edward menggeser cangkirnya santai, terkekeh rendah. "Biarkan saja, Dante. Duduklah, minum kopimu."

"Tapi Tuan, ini tidak pernah terjadi sebelumnya—"

"Dante," potong Edward tenang, menatap pengawal kepercayaannya itu. "Adikku baru belajar jadi manusia biasa. Biarkan dia menikmati harinya."

Sementara itu di pusat kota, dunia mafia seolah menguap dari kehidupan Oscar.

Di sebuah butik di dalam mall yang sengaja dikosongkan, Oscar menyodorkan sebuah cardigan rajut berwarna krem ke dada Anisa.

"Coba ini. Kurasa warnanya cocok untukmu," ujar Oscar.

Anisa menerima pakaian itu dengan ragu. "Mas, ini terlalu banyak... Kita sudah membeli tiga pasang pakaian tadi."

Oscar memiringkan kepalanya, menatap Anisa berpura-pura serius. "Panggil aku apa tadi?"

Anisa menunduk malu. "M-maksud Saya... Sayang~"

"Bagus. Dan kita beli ini juga," putus Oscar tanpa bantahan, membuat Anisa hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum di balik cadarnya.

Seharian penuh mereka melakoni peran sebagai pasangan bahagia—menonton di studio bioskop VIP, hingga menyusuri pasar malam saat sore menjelang.

"Coba rasa yang ini" pinta Oscar seraya memegang cotton candy merah muda di depan Anisa.

"Saya bisa memakan sendiri," bisik Anisa malu karena beberapa pengunjung memperhatikan mereka.

"Kalau begitu coba yang ini, atau aku tidak akan melepaskan tanganmu sampai besok," ancam Oscar dengan senyum jahil. Anisa akhirnya menurut, menerima uluran manis itu dengan tawa kecil.

Puncaknya terjadi di dalam sebuah bilik Self-Photo Studio Mini. wanita kaku yang tidak biasa menatap kamera kini pasrah saat oscar mencoba coba bando telinga di kepalanya.

"ayo kita berfoto box!"

"foto box?"seru Anisa bingung menatap tingkah suaminya

jujur saja wanita muda seperti Anisa yang sangat tertutup ini tidaklah tahu bahkan tak pernah tahu jika berpacaran haruslah memiliki foto bersama untuk kenang-kenangan.

"Foto box ini lebih simpel sayang~ tidak seperti pemotretan majalah atau iklan bisnis yang biasa aku lakukan"Oscar meyakinkan istrinya yang udik ini untuk sesegera mungkin berfoto dengan nya

"Ayo pilih hiasan kepalanya"

"hiasan?"Anisa belum sempat memilih karena menurut nya semua hiasan kepala yang ada di sana terlihat bagus semuanya.

"nih bando kelinci cukup bagus buat mu"

"Jangan bergerak! Satu, dua, tiga... senyum!" seru nya oscar

Ckrek!

Dua lembar foto strip keluar. Menampilkan tawa lepas seorang Oscar Carlous dan mata berbinar bahagia dari Anisa.

"Aku minta satu," ucap Oscar cepat, mengambil satu lembar foto lalu menyelinapkannya dengan telaten di lipatan dompet kulitnya—menjadikannya barang paling berharga yang ia miliki.

Hampir 24 jam mereka Kabur ketika deru motor Ninja itu kembali membelah keheningan gerbang mansion Carlous pada pukul 11 malam. Anisa telah tertidur lelap di jok belakang, menyandarkan kepalanya di punggung tegap Oscar.

Beberapa pengawal mendekat untuk menyapa, namun Oscar mengangkat satu tangannya, memberi isyarat untuk diam.

“Ssstt... Kalian ini.jangan berisik!” bisik Oscar tegas tapi sepelan mungkin.

Para pengawal dan pelayan langsung menunduk dengan senyum-senyum tertahan. Tanpa canggung, Oscar membungkuk dan merengkuh tubuh mungil Anisa, menggendongnya secara bridal style masuk melewati lorong utama.

Mereka tiba di kamar utama. Atau lebih tepatnya kamar nya Oscar, tempat di mana pria tersebut merebahkannya dengan amat hati-hati di atas ranjang, melepas sepatu Anisa, lalu menyelimutinya. Sebelum ikut membaringkan diri di sampingnya, Oscar mengecup dahi Anisa pelan.

"Terima kasih untuk hari ini," bisiknya menyambut tidur paling tenang dalam hidupnya.

...****************...

Namun, di sudut tempat berbeda yang begitu kering oleh sisa kemarau... takdir lain bergulir dalam temaram yang mencekam.

wanita muda itu.

Ananira.

berlari terengah-engah menyusuri gang sempit. Pakaiannya kotor, rambutnya lepek berantakan. Jemarinya yang gemetar tanpa sadar meremas lembut perut bagian bawahnya.

"Bertahanlah, Nak... tolong bertahanlah..." bisik Ananira terisak pelan, meratapi janin muda di rahimnya

Sret!

Cahaya lampu sorot dari dua mobil hitam melintas pelan di mulut gang. Ananira refleks merapatkan tubuhnya ke dinding bata yang kotor, menahan napas dalam ketakutan yang membekukan darah.

"Cari sampai dapat! Tuan Edward ingin wanita itu ditangkap hidup atau mati!" teriak salah satu pria berjas putih dari kejauhan sebelum mobil melaju pergi.

Begitu mobil berlalu, Ananira tersungkur ke tanah, meratapi nasibnya yang hancur berkeping-keping.

kini terasa begitu jelas.

Semuanya bermula sejak awal bukan soal uang, melainkan tentang cara paling lambat untuk menghancurkan sebuah nama.

Edward menatap lembaran dokumen di mejanya dengan jemari yang dingin. Ketika ia mendapati Azriel Lezman berusaha melakukan trik murah—menukar Ananira dengan Anisa sebagai penutup utang—ia tidak cuma merasa dikhianati. Ia merasa terhina. Keluarga Lezman berpikir mereka bisa menginjak-injak kehormatan mendiang ayahnya dengan menyodorkan umpan pengganti. Mereka lupa, Edward bukanlah Pria pernah menginginkan penyelesaian tidak adil seperti ini

Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan Oscar pada Ananira nantinya. Takdir perempuan itu sudah mati di matanya sejak utang pertama ditandatangani. Namun, melarikan diri dari cengkeramannya adalah pelanggaran yang tak terlupakan.

"Mau dia sanggup bayar atau tidak, aku tidak peduli," bisik Edward, suaranya tenang namun menggelegar di ruangan yang hening. Matanya memancarkan kegelapan yang pekat saat menatap barisan bawahannya. "Hidup atau mati, seret wanita itu ke hadapanku!"

Bagi Edward, Ananira hanyalah Manifestasi bertubuh indah. Wajah cantiknya yang kerap dipajang di Instagram sebagai piala media sosial hanyalah label harga. Jika utang itu tak terbayar dengan uang, Maka tubuh Ananira—di pasar gelap atau tempat pelelangan kelas atas—mungkin bisa membayarnya sampai sen terakhir. Tanpa keraguan dan tanpa belas kasihan.

Sementara itu, di setiap pelarian nya yang suram, Ananira meraba perutnya yang masih rata. Ada kehidupan yang baru tumbuh di sana, sebuah rahasia kecil yang kini terasa seperti kutukan.

Topeng-topeng orang yang ia cintai telah tanggal satu per satu, menyisakan kenyataan yang busuk. Suaminya, An Liu Li, menceraikannya tanpa ragu hanya demi mengejar obsesi gila pada wanita yang sudah bersuami. Kakek kandungnya sendiri, Azriel Lezman, menyajikan dirinya di atas piring perak untuk diburu, membiarkannya berlari telanjang kaki di atas pecahan kaca kehidupan tanpa memberi perlindungan sedikit pun.

Dan Anisa?

Entahlah...

Yang Ananira tahu Wanita itu kini tidur nyenyak di ranjang sutra milik Oscar, menikmati kemewahan dan kekayaan yang entah bagaimana seharusnya menjadi milik nya.

Ananira menyesali setiap perbuatan nya, bahkan kini sudah sebulan lebih hidup nya hanya di hiasi pelarian tanpa arah yang jelas

Dada Ananira meledak oleh rasa sesak yang meremukkan tulang rusuknya. Di bawah terik matahari dan ketakutan akan langkah kaki para pemburu Edward, ia tersadar

dunia yang ia kenal tidak pernah menyayanginya. Ia hanyalah mangsa yang terluka, berlari sendirian di dalam kegelapan, membawa nyawa kecil yang bahkan belum sempat melihat betapa kejamnya orang-orang yang memanggil diri mereka keluarga.

Dengan sisa tenaga dan rasa mual dari kehamilan mudanya, Ananira bangkit terhuyung-huyung menuju sebuah tempat yang ternyata adalah bagian belakang Camp para dokter Instansi pangilan yang memang kini mengerjakan tugas di antara pemukiman penduduk jauh dari teknologi kota. Ia menyelinap masuk melewati salah satu tenda belakang area instalasi darurat yang sepi.

Di dalam sana masihlah hening, langkah kaku Ananira terhenti ketika seorang wanita bersetelan jas dokter putih, rambut pendek sebahu,kacamata berbingkai tipis itu membelalak kaget melihat tubuh Ananira yang begitu lemah itu.

"Astaga! Nona, Anda tidak apa-apa?" seru dokter itu panik melihat wanita kucel dan gemetar di hadapannya.

Ananira menatap mata teduh wanita itu dengan pandangan kabur. "To... tolong aku... anakku..." bisiknya lirih sebelum matanya terpejam sepenuhnya.

"Nona! Buka matamu!"

wanita itu bergegas menangkap tubuh Ananira tepat sebelum tersungkur ke lantai. Ia dengan sigap mengangkat tubuh Ananira ke atas brankar.

(Ke...kenapa dok dokter itu... wajahnya seperti?...familiar)

Pikir Ananira sebelum akhirnya kesadaran nya hilang.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!