Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2_Kisah masa lalu
[Kilasan Balik]
Mataku meredup.
Sejak dulu aku selalu dijauhi oleh semua orang.
Batu-batu kecil menghantam tubuhku.
William dan anak-anak bangsawan lain tertawa sambil melemparinya.
"Lihat itu... dasar sampah. Tidak berguna... mati saja kau," ejek mereka.
"Lihat... itu Kai. Sungguh menggelikan. Dia tidak memiliki bakat sihir seperti kita," kata salah satu dari mereka.
"Padahal dia lahir di keluarga kerajaan. Tapi dia benar-benar mirip rakyat jelata," timpal yang lain.
Mereka berdiri dengan dagu terangkat, menatapku dari atas dengan tatapan hina.
Angin berhembus pelan di atas tebing.
Sejak hari itu, aku terus berlatih ilmu bela diri dari Ibu.
Setiap ayunan pedang kayu meninggalkan peluh dan darah di tubuhku.
Aku melirik ke arah Ibu yang berdiri jauh di sana.
Aku tidak ingin dilindungi olehnya terus-menerus.
Dadaku terasa sesak. Nafasku tercekat.
_...Apa aku benar-benar tidak pantas di dunia ini??
Apa aku harus terus menerima ejekan seperti ini??_
Bahuku terkulai. Luka di sekujur tubuhku sudah banyak yang membekas.
Pandanganku kosong menatap Ibu dari kejauhan.
_Entah kenapa, sejak setahun berlatih ini, duniaku terasa abu-abu
Aku benar-benar kehilangan siapa jati diriku.
Mungkin aku kehilangan sesuatu yang penting di hatiku.
Tapi menurutku itu tidak masalah.
Setidaknya aku tidak harus menderita lagi seperti dulu_
Hanya ketika melihat Ibu tersenyum, sudut bibirku tanpa sadar ikut terangkat.
_...Tapi satu-satunya orang yang bisa membuat semua itu berubah, hanya Ibu
Jika saja aku memiliki kekuatan, akan ku ubah seluruh dunia ini.
Menjadi tempat di mana orang-orang seperti kami bisa hidup tenang.
Tanpa perlakuan kasar setiap hari._
Kedua tanganku mengepal sampai buku-buku jariku memutih.
[Akhir Kilasan Balik]
[3 hari setelahnya]
Hari ini. Upacara Berkah.
Aku berjalan menuju tempat upacara dilaksanakan.
Setiap anak di kerajaan ini wajib mengikutinya.
Untuk menentukan apakah kau "layak hidup" atau tidak saat berumur 8 tahun.
Dan yang "layak" itu selalu mereka. Yang berasal dari keluarga kerajaan.
Seperti Tia. Dia memiliki bakat sihir bawaan yang sangat bagus.
Bahkan dijuluki "Calon Sage".
William. Memiliki bakat langka.
Diberkahi langsung oleh "Dewi Kasih Sayang" dan diberi julukan "Pahlawan Cahaya".
Dewi sialan.
Padahal gereja selalu berkata bahwa Dewi itu akan selalu adil.
Aku meludah ke tanah. Terus menggerutu dalam hati.
"Berikutnya! Kai!" panggil Paus Lumbergt.
Langkahku berat. Bahuku tegang.
Puluhan pasang mata menatapku. Sinis. Menghina. Menunggu aku gagal.
Di antara kerumunan itu, aku melihatnya. Ibu.
Dia tersenyum padaku. Lemah. Tapi tetap tersenyum.
Tangannya saling menggenggam, cemas.
_...Aku harus menjadi lebih kuat. Tolong beri aku kekuatan_
"Baiklah, Kai. Mari kita lihat berkah dan bakat apa yang Dewi berikan kepadamu,"
kata Paus Lumbergt. "Nah Kai, bisakah kau memegang bola kristal itu??"
Bola kristal putih. Besar. Mengilap.
Tanpa ragu, aku meletakkan tanganku.
Hening.
Tanganku terasa seperti es. Napasku tertahan.
Detik berikutnya.
DOOM!!!
Rasa sakit menjalar. Dingin. Dan benci. Mataku melebar.
Udara membeku. Lantai marmer retak.
Aura hitam pekat meledak dari tubuhku.
Menyambar ke seluruh ruangan seperti kabut kematian.
"Aura itu... jadi dia anak yang ada dalam ramalan Sang Dewi..!?"
seru seorang bangsawan.
Seruan panik menggema.
Bahkan Raja yang duduk di singgasana pun berdiri mendadak,
wajahnya pucat ketakutan dan berteriak,
"PENGAWAL!! TANGKAP ANAK ITU!