"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12. Setebal Apa Iman Yang Kau Punya.
Begitu sampai di dalam kabin mobil yang tertutup, Habibah langsung menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Jantungnya masih berdegup riuh akibat ucapan mbak kasir tadi. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya: uang belanjaan.
Habibah buru-buru membuka tas jinjingnya, meraba dompet kain bermotif bunga miliknya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Mas Imam... ini uang pengganti belanjaan yang tadi," ujar Habibah dengan suara yang diusahakan selugas mungkin, mengulurkan uang itu ke arah Imam yang baru saja menyalakan mesin mobil.
Imam menoleh, melirik lembaran uang di tangan Habibah, lalu beralih menatap wajah wanita itu. Senyum santai yang tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang agak kecewa.
"Simpan lagi uangmu, Bah. Aku tidak membelinya untuk ditukar dengan uang," tolak Imam halus namun tegas, tangannya mulai bergerak memindahkan tuas persneling.
"Tapi, Mas, ini tidak benar," desak Habibah, tetap memajukan tangannya. "Ini kan belanjaan untuk kebutuhan dapur. Sebagian bahkan untuk keperluanku sendiri. Kita ini calon besan, Mas. Aku tidak enak dan tidak mau merepotkanmu. Tolong diterima, ya?" desak Habibah.
Mendengar kata 'calon besan' meluncur lagi dari bibir Habibah, Imam mendadak menginjak rem cukup dalam sebelum mobil sempat melaju jauh dari area parkiran swalayan. Mobil berhenti dengan sentakan halus.
Imam memutar tubuhnya menghadap Habibah sepenuhnya. Sorot matanya mendadak berubah tajam, sarat akan luka lama yang seolah sengaja digores kembali oleh formalitas wanita di sampingnya ini.
"Bah, tolong jangan sebut kata itu lagi saat kita hanya berdua," ucap Imam, suaranya merendah, parau dan penuh penekanan. "Tiga puluh tahun lalu, aku kehilangan kamu karena aku tidak punya uang. Ayahmu mengusirku karena aku melarat. Sekarang, setelah Allah memberikan aku rezeki yang lebih dari cukup, apa kamu pikir aku akan membiarkan wanita yang... wanita yang paling berharga di hidupku ini membayar sendiri minyak dan berasnya saat dia sedang bersamaku?"
Deg.
Habibah terpaku. Tangannya yang memegang uang seketika membeku di udara. Kalimat Imam menghantam tepat di ulu hatinya, mengorek kembali luka masa lalu yang ternyata masih sama perihnya.
"Mas Imam... itu dulu…."
"Dulu atau sekarang, bagiku sama saja, Bah," potong Imam cepat, suaranya melunak namun tetap bergetar emosional. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Habibah yang sedang memegang uang, lalu perlahan mendorong tangan wanita itu kembali ke arah tasnya. "Biarkan aku egois untuk urusan yang satu ini. Selama kita tinggal di rumah kontrakan ini, urusan dapur dan nafkah rumah adalah tanggung jawabku. Jangan pernah keluarkan dompetmu lagi di depanku."
Sentuhan hangat tangan Imam di punggung tangannya, ditambah kalimat "tanggung jawabku" yang terdengar begitu protektif layaknya seorang suami sejati, membuat seluruh pertahanan Habibah runtuh seketika. Tubuhnya mendadak lemas, kehilangan semua argumen untuk membantah.
Habibah menarik napas gemetar, perlahan memasukkan kembali uangnya ke dalam dompet dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maaf, Mas... aku tidak bermaksud menyinggung masa lalu."
Imam menghela napas panjang, melepaskan tatapannya lalu kembali fokus ke jalanan, mulai melajukan mobilnya membelah aspal kota menuju rumah kontrakan. "Aku yang harusnya minta maaf karena terlalu emosional. Aku hanya... ingin menjagamu dengan caraku yang sekarang, Bah."
Di sepanjang sisa perjalanan pulang, kabin mobil kembali diselimuti keheningan. Namun kali ini, keheningan itu terasa begitu dalam dan mengikat, menyisakan debaran lemas di dada Habibah yang kini sadar bahwa Imam tidak hanya sekedar ingin menemaninya belanja, tapi pria itu sedang mencoba menebus semua ketidakberdayaan masa mudanya dulu untuk membahagiakannya sekarang.
*
*
Setelah mengambil cuti satu hari yang penuh debaran, Imam akhirnya kembali ke realitas pekerjaannya.
Pukul dua siang, setelah rapat yang melelahkan selesai, Imam memilih beristirahat di ruangan pribadinya. Ia bersandar pada kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangannya diketuk, lalu muncullah sosok Hendra, sahabat karib Imam sejak zaman kuliah sekaligus manajer operasional di perusahaan tersebut. Hendra adalah satu-satunya orang di kantor yang tahu seluruh lembaran masa lalu Imam, termasuk cerita tentang Habibah dan masa-masa sulit Imam saat ditinggal mendiang Sarah tujuh tahun lalu.
"Mukamu kusut amat, Mam. Habis cuti sehari bukannya seger, malah kayak kurang tidur," kelakar Hendra sambil berjalan santai, lalu duduk di kursi seberang meja kerja Imam tanpa permisi.
Imam menurunkan tangannya dari pelipis, lalu menghembuskan napas panjang. "Kurang tidur memang, Hen. Banyak yang lagi dipikirkan."
"Mikirin apa lagi? Proyek jalan tol? Atau urusan pernikahan Ameera sama anak seorang dari daerah kota yang sama denganmu dulu? Siapa namanya... Rayhan, ya?" tanya Hendra sambil menyalakan tabletnya.
Imam terdiam sejenak. Ia menatap sahabatnya itu dengan bimbang, namun karena sudah tidak kuat memendam beban ini sendirian, Imam akhirnya memutuskan untuk bercerita. "Hen... rumahku dan rumah ibunya Rayhan sudah mulai diiklankan untuk dijual."
"Oh, bagus dong. Terus rencana anak-anakmu yang mau bangun paviliun kembar itu jadi?"
"Jadi. Tapi masalahnya bukan itu," Imam menjeda kalimatnya, memajukan badannya ke arah meja dengan suara yang merendah. "Sambil nunggu lahan dibeli dan rumah itu dibangun... anak-anak nyuruh kami mengontrak rumah bersama. Sejak dua hari lalu, aku dan Habibah sudah tinggal serumah, Hen. Di bawah satu atap yang sama."
Brak!
Hendra spontan menggebrak meja kerja Imam, matanya membelalak kencang, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“APA? Habibah? Maksudmu?
Imam mengangguk, “Calon mantuku anaknya Habibah, Hen.” jawab Imam lemas. Imam memang belum menceritakan pada Hendra, kalau calon besannya adalah Habibah. Tentu saja Hendra syok.
"Kau gila, Mam? Kau serius?" seru Hendra dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai luar ruangan. "Tinggal serumah? Kau sama Habibah? Cinta pertamamu yang bikin kau hampir mati di stasiun tiga puluh tahun lalu?"
Imam buru-buru menaruh jari telunjuk di bibirnya. "Kecilkan suaramu, Hen! Iya, kami tinggal serumah. Tapi kamarnya beda, aku di kiri, dia di kanan. Ada Ameera dan Rayhan juga di sana."
Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya, masih syok. Ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan menyelidik yang sangat serius.
"Mam, anak-anak kalian itu murni niatnya baik, mereka nggak tahu apa-apa soal masa lalu kalian. Tapi kalian berdua ini... apa nggak takut kalau kalian bakal saling jatuh cinta lagi? Secara kau sama dia sekarang sama-sama single. Kau duda, dia janda. Tiap hari ketemu, sarapan bareng, malam ngumpul bareng. Imanmu setebal apa, hah?" tanya Hendra blak-blakan, menyuarakan ketakutan terbesar yang selama ini dipendam Imam.
Mendengar pertanyaan skak mat dari sahabatnya, Imam tertegun. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi, tatapannya beralih menatap kosong ke luar jendela kaca ruangannya yang menampilkan pemandangan di luar.
Sebuah senyum getir, senyuman yang sarat akan kepasrahan dan cinta yang terlalu dalam terukir di wajah paruh baya Imam.
"Takut saling jatuh cinta lagi kau bilang, Hen?" tanya Imam parau, suaranya terdengar begitu lelah.
Hendra mengangguk tegas. "Iyalah! Bahaya, Mam. Kalau anak-anak kalian sampai tahu…."
"Hen," potong Imam pelan, matanya kembali menatap Hendra dengan sorot yang sangat jujur. "Pertanyaanmu itu salah. Aku nggak takut kalau kami bakal saling jatuh cinta lagi."
"Maksudmu?" Hendra mengernyit bingung.
Imam menarik napas dalam-dalam, meremas pulpen di tangannya. "Bagaimana bisa aku takut jatuh cinta lagi... sementara kenyataannya, rasa cinta itu nggak pernah mati, Hen. Tiga puluh tahun terpisah, menikah dengan orang lain, sampai sekarang rambut pun sudah mulai memutih, rasa yang aku punya ke Habibah masih utuh di tempat yang sama. Aku nggak perlu jatuh cinta lagi, karena aku nggak pernah berhenti mencintai dia."
Hendra terbungkam seribu bahasa. Ia tahu betul bagaimana keras kepalanya Imam jika sudah menyangkut Habibah, tapi ia tidak menyangka rasanya masih sedahsyat ini.
"Lalu... jawabanmu ke anak-anak nanti gimana kalau rahasia ini jebol?" tanya Hendra dengan nada yang melunak, ikut prihatin.
"Aku nggak tahu," jawab Imam, suaranya merendah hingga nyaris berbisik. "Aku cuma bisa bertahan di balik tembok formalitas yang kami buat. Tapi jujur, Hen... setiap kali pintu kamarnya terbuka di depan mataku, rasanya seluruh pertahananku lemas. Sekarang aku cuma bisa berdoa, semoga Tuhan masih mau menjaga kewarasanku sebelum pernikahan anak-anak kami digelar Oktober nanti.” ungkap Imam.
“Oh, Tuhan, Mam….Aku nggak tau mau ngomong apa.” Hendra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau nggak pernah berniat untuk mencari pengganti Sarah, tapi ternyata….” Hendra tidak meneruskan ucapannya. Imam hanya bisa tersenyum kecut.
****