NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Berlebihan

"Pak Hardjono?"

Saskia baru saja selesai memeriksa suhu tubuh kelima sapi Wagyu-nya. Termometer masih di tangannya. Lengannya masih berlumuran lumpur kandang. Rambutnya yang disanggul asal-asalan sudah lepas sebagian, menempel di pelipis oleh keringat. Ia menatap laki-laki di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut.

Daniel tidak mengirim pesan sebelumnya. Tidak menelepon. Tidak memberi peringatan apapun. Ia muncul begitu saja di depan kandang dengan setelan jas abu-abu gelap yang kontras sekali dengan lumpur dan jerami, sepatu kulit mengkilap yang sekarang mulai kotor oleh genangan air di tanah, dan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

Di belakangnya, Budi berdiri dengan dua koper peralatan. Di samping Budi, dua teknisi berseragam hitam membawa kotak-kotak peralatan yang lebih besar.

"Ini kandang?" Suara Daniel datar, tapi matanya bergerak ke segala arah. "Kandang ayam saya di Jakarta lebih mewah."

Saskia menggigit gigi. Otot di rahangnya menegang, tapi ia menahan diri. "Ini kandang sapi, Pak. Bukan kandang ayam. Sapinya juga bukan ayam."

Daniel menoleh padanya. Salah satu alisnya terangkat. "Saya tahu. Saya yang beli sapi-sapinya."

"Kalau Bapak tahu, kenapa Bapak bandingkan dengan kandang ayam?"

Budi di belakang Daniel tiba-tiba terbatuk. Bukan batuk sungguhan. Batuk untuk menutupi sesuatu. Mungkin tawa.

Daniel tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kandang tanpa diundang. Sepatu kulitnya langsung menginjak jerami basah. Wajahnya tidak berubah, tapi Saskia melihat sudut matanya sedikit bergerak. Mungkin menahan rasa jijik. Mungkin menahan sesuatu yang lain.

"Lima Wagyu Fullblood. Semua betina. Kondisi prima." Daniel berhenti di depan kandang pertama, menatap sapi Wagyu yang sedang mengunyah jerami. "Setidaknya itu laporan yang saya terima dari sopir truk."

"Laporannya akurat."

"Tapi ada satu catatan kecil." Daniel berbalik, menatap Saskia. "Sopir saya bilang Anda menemukan sesuatu di paha belakang sapi keempat. Benjolan. Bekas suntikan. Anda tidak melaporkannya ke saya."

Saskia menegang. "Itu hanya bekas vaksin. Mungkin. Saya belum sempat memeriksanya lebih lanjut."

"Belum sempat? Atau tidak mau?"

"Saya tidak mengerti maksud Bapak."

Daniel berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi setiap langkah membuat jarak di antara mereka semakin kecil. "Sapi-sapi itu adalah aset perusahaan, Mbak Saskia. Aset senilai hampir setengah miliar rupiah. Kalau ada sesuatu yang salah dengan mereka, saya harus tahu. Bukan besok. Bukan nanti. Sekarang."

"Kalau Bapak mau tahu sekarang, saya bisa periksa sekarang." Suara Saskia tetap tenang, meskipun di dalam dadanya, api mulai menyala. "Silakan tunggu di luar. Kandang ini kotor."

"Saya tidak butuh dimanja."

"Saya tidak memanjakan Bapak. Saya menjaga kebersihan kandang."

Mereka saling menatap. Tiga detik. Lima detik. Budi di belakang mereka berdehem, kali ini lebih keras.

"Pak Daniel," potong Budi. "Teknisinya sudah siap. Mulai pemasangan?"

Daniel mengangguk tanpa menoleh. Matanya masih menatap Saskia. "Mulai."

"Pemasangan apa?" tanya Saskia.

"CCTV."

Satu kata. Tapi cukup untuk membuat Saskia tersentak.

"Apa?"

Daniel akhirnya memalingkan wajahnya. Ia berjalan ke arah teknisi yang sudah mulai membuka kotak-kotak peralatan mereka. "Delapan kamera. Tiga di dalam kandang. Dua di luar kandang, mengarah ke pintu masuk dan area pakan. Dua di sekeliling pagar. Satu di dekat sumur."

"Itu... itu terlalu banyak."

"Itu standar keamanan aset."

"Ini kandang saya, Pak Hardjono."

"Ini kandang yang dibangun dengan uang saya." Daniel berbalik. Matanya dingin. "Kontrak halaman dua belas, klausul delapan koma dua: semua fasilitas yang digunakan untuk memelihara aset perusahaan berhak diawasi oleh perusahaan demi kepentingan keamanan dan kontrol kualitas."

Saskia mengatupkan rahangnya. Ia ingat klausul itu. Ia membacanya. Tapi ia tidak menyangka pengawasannya akan sejauh ini. Delapan CCTV. Itu bukan pengawasan. Itu pengintaian.

"Ini berlebihan."

"Ini bisnis."

Teknisi mulai bekerja. Satu per satu, kamera CCTV kecil berwarna putih dipasang di sudut-sudut kandang. Kabel-kabel ditarik di sepanjang dinding. Monitor kecil dipasang di ruang depan, menampilkan delapan sudut pandang yang berbeda.

Saskia berdiri di sudut kandang, lengannya terlipat di dada, matanya mengikuti setiap gerakan teknisi. Ia merasa seperti ada semut yang merayap di kulitnya. Delapan mata elektronik sekarang menatap kandangnya. Merekam setiap gerakannya. Setiap kali ia memberi pakan. Setiap kali ia memeriksa sapi. Setiap kali ia...

Air Suci.

Dadanya menegang. Bagaimana kalau CCTV menangkap sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan? Bagaimana kalau Daniel melihat ia mengambil air dari ruang spasial? Bagaimana kalau...

"Ini peta jangkauan kameranya." Daniel menyodorkan selembar kertas padanya. "Supaya Anda tahu area mana yang terekam dan mana yang tidak."

Saskia mengambil kertas itu. Jemarinya sedikit gemetar, tapi ia menyembunyikannya. Matanya memindai diagram yang digambar dengan rapi. Delapan lingkaran merah menunjukkan jangkauan masing-masing kamera. Kandang utama. Pintu masuk. Area pakan. Pagar depan. Pagar belakang. Sumur.

Tapi ada area yang tidak terjangkau.

Pohon besar di belakang kandang. Tempat di mana ia biasanya duduk untuk masuk ke ruang spasial. Tempat yang cukup tersembunyi dari pandangan siapapun.

Saskia menghembuskan nafas pelan. Setidaknya masih ada tempat aman.

"Ada pertanyaan?" tanya Daniel.

"Tidak."

"Bagus."

Teknisi menyelesaikan pemasangan dalam waktu dua jam. Delapan kamera. Delapan sudut pandang. Semuanya terhubung ke monitor di ruang depan. Daniel memeriksa setiap angle dengan teliti, memastikan semuanya berfungsi.

Saskia hanya berdiri di sudut, menonton.

Ketika teknisi mulai membereskan peralatan mereka, Daniel berjalan ke arahnya. "Anda kelihatan tidak senang."

"Saya tidak suka diawasi."

"Tidak ada yang suka diawasi. Tapi ini perlu."

"Untuk keamanan aset?"

Daniel menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa dibaca. "Untuk memastikan Anda tidak menyembunyikan apapun dari saya."

Lalu ia berbalik dan berjalan menuju Alphard hitam yang parkir di depan pagar. Budi mengikutinya, membawa dua koper kosong. Teknisi menyusul dengan kotak-kotak peralatan mereka. Dalam lima menit, semuanya sudah pergi.

Saskia berdiri sendirian di depan kandangnya. Delapan CCTV menatapnya dari sudut-sudut tersembunyi. Lampu merah kecil di setiap kamera berkedip pelan, seolah berbisik: kami melihatmu.

Ia menatap kertas peta jangkauan yang diberikan Daniel. Jemarinya menelusuri setiap lingkaran merah. Kandang utama. Pintu masuk. Area pakan. Pagar. Sumur. Semuanya terjangkau.

Semuanya kecuali pohon besar di belakang.

"Aman," bisiknya.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!