Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ada apa Rum? Muka kamu keliatan pucat" Tanya Hanna, terdengar dari suaranya wanita cantik itu sepertinya khawatir
"Aku gak apa-apa kok mbak, mungkin kecapean aja"
"Aku kan udah bilang kalau kamu gak perlu ngerjain tugas rumah" Arum hanya mengangguk
Tak lama Rizal datang dan ikut bergabung, ia dan Arum saling melempar tatapan tanpa sepengatahuan Hanna
Rizal mendekat lalu mengecup puncak kepala istrinya setelahnya barulah duduk disampingnya
Hanna melayani suaminya dengan mengisi piringnya lalu mereka sarapan dengan tenang sementara itu anak-anak sudah pergi bersama Saiful yang merupakan supir dikediaman mereka
Setelah sarapan, Rizal pergi bekerja dan Arum memilih untuk beristirahat dikamarnya, tubuhnya remuk karena terus digempur oleh Rizal hingga pukul empat pagi
"Bu" Warsih meletakkan jus yang ia bawa diatas meja didepan Hanna yang tengah menyaksikan drama di televisi
"Terima kasih bi" Wanita paruh baya itu mengangguk lalu duduk diatas lantai didepan Hanna "Ada apa bi?"
"Apa tidak sebaiknya mbak Arum itu tidak tinggal disini! Maksud saya.." Warsih terlihat ragu, sebenarnya ia takut pada Rizal, tapi dia juga tidak tega melihat Hanna yang disakiti seperti ini
"Kenapa mbok bisa mengatakan itu? Apa Arum melakukan sesuatu pada mbok?" Tanya Hanna
"Bukan begitu Bu, bagaimanapun juga kan mbak Arum itu sudah berkeluarga terlebih disini ada bapak" Warsih hanya ingin menyelamatkan Hanna dari pria tukang selingkuh itu
"Saya bukannya mau menuduh, tapi kan sebaiknya kita jaga-jaga saja"
Hanna tampak berpikir, bukan Warsih saja, semua sahabatnya bahkan Hanin juga mengatakan itu
"Iya mbok, aku juga sedang berusaha supaya suaminya Arum cepet ketangkep
Wanita paruh baya itu mengangguk, setelahnya barulah kembali melanjutkan pekerjaannya
"Semua itu tidak mungkin kan? Mas Rizal sangat mencintai aku" Ujarnya pada diri sendiri
Hanna mencoba meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Semua pikiran buruk itu memang tidak bisa hilang dalam pikirannya
***
Arum tengah mencuci piring, ia sudah cukup beristirahat hari ini. Sementara itu Hanna tengah tidur siang
Ia terkejut saat tubuh bagian belakangnya ditampar lalu diremas, siapa lagi pelakunya kalau bukan Rizal
"Mas kamu?" Arum segera menutup mulutnya saat Rizal mulai melakukan remasan pada tubuh bagian belakangnya yang menonjol
"Jangan mas! Mbak Hanna lagi ada dirumah" Arum bicara sambil mendesah
"Hanna pasti sedang tidur siang" Rizal semakin gencar menjamah tubuh menggoda Arum. Bahkan ia sudah mengangkat daster yang Arum kenakan membuat wanita cantik itu terbelalak
"Jangan disini mas!"
"Kita ke kamar mandi saja!"
Rizal menarik tangan Arum menuju kamar mandi dekat dapur dan langsung menyerang tubuh Arum disana
Tubuh menggoda itu tersentak-sentak kedepan karena brutalnya dorongan Rizal dari belakang
"Kamu memang hebat Arum!" Pria itu mendongak dengan mata terpejam menikmati permainannya
Hanna terbangun, wanita hamil itu menuju dapur untuk minum. Ia melihat piring yang menumpuk ditempat cuci piring
"Dimana Arum?" Gumamnya, Hanna mendengar suara samar dari kamar mandi. Wanita cantik itu mendekat lalu mengetuk pintu
"Arum" Serunya, membuat dua orang yang tengah diliputi nafsu, membeku "Kamu didalam?"
Dengan napas yang ngos-ngosan Arum menjawab "I-iya m-mbak"
Mendengar suara Arum yang tersendat-sendat membuat Hanna sedikit khawatir "Kamu baik-baik saja?"
"I-iya, aku s-shhakkit perut"
"Mau aku buatkan teh hangat?" Hanna menawarkan
"Ti-tidak usah mbak, aku baik-baik saja"
Hanna mengiyakan, wanita itu berlalu meninggalkan dapur
"Kamu tuh ya mas! Hampir aja kita ketahuan" Gerutu Arum namun pria itu tidak mendengar
"Kamu tahan sedikit lagi! Kita main cepat"
Setelah mengatakan itu, Rizal memacu tubuhnya dengan cepat. Hingga puncak itu didapatkan dengan waktu yang lebih singkat
Hanna tengah bersantai sambil menonton drama favorit nya saat sang suami terlihat hendak menuju kamar
"Mas" Panggil nya membuat Rizal yang hendak menuju kamarnya menoleh, ia pikir jika istrinya itu kembali tidur "Kamu sudah pulang? Aku kok gak denger suara mobil?"
Rizal mendekat, duduk disamping sang istri "Kamu terlalu serius nontonnya, makanya gak denger suara mobil"
"Mungkin saja, maaf yaa mas"
"Hey, gak apa-apa dong sayang!" Hanna memeluk suaminya
"Kamu kok keringetan?"
Rizal terlihat gugup, benar saja. Tubuhnya memang masih berkeringat akibat permainan singkat tadi
"AC mobil mas rusak, makanya keringetan. Nanti deh minta sama Ipul buat benerin" Hanna mengangguk saja
Tak ingin sang istri semakin curiga, Rizal langsung saja menuju kamar untuk membersihkan diri
"Mas mau mandi dulu, kamu mau ikut?"
Hanna menggeleng "Aku males naik tangga, aku masih mau nonton"
"Yaudah" Rizal menaiki tangga untuk menuju kamar mereka
"Arum" Yang dipanggil menoleh, Arum baru keluar dari dapur setelah menormalkan napasnya
Wanita itu mendekat "Iya mbak?"
"Kamu udah baikan? Apa mau ke dokter aja?" Tanya Hanna dengan nada khawatir
"Gak perlu mbak, aku baik-baik aja. Hanya tadi diare karena makan pedes" Hanna mengangguk saja, membiarkan Arum yang melangkah menuju kamarnya
***
Hanna mengulurkan tangannya, namun ternyata tempat yang biasa suaminya tempati dalam keadaan kosong
"Mas" Panggilnya, mungkin saja suaminya itu tengah berada di kamar mandi. Namun tak ada sahutan yang artinya Rizal tidak berada disana
Hanna menyibak selimut lalu turun dari tempat tidur. Ia lebih dulu ke kamar mandi untuk menyelesaikan masalah alam
Hanna keluar dari kamarnya, ia turun untuk melihat dimana suaminya. Namun pria itu tidak berada dimanapun, Hanna bahkan memeriksa dapur karena mungkin saja suaminya tengah minum seperti yang biasa ia lakukan
"Mas" Hanna berseru memanggil nama suaminya, entah kenapa saat ia melewati kamar Arum, pikiran buruk itu menghampiri
Hanna mengulurkan tangannya memegang gagang pintu, saat ia hendak mendorongnya suara seseorang memanggilnya dari arah belakang
"Sayang"
Wanita cantik itu menoleh, sang suami berada dibelakangnya dan sepertinya pria itu dari luar
"Kamu dari mana mas?" Tanya Hanna sambil melangkah mendekati suaminya
"Mas habis terima telepon!" Rizal menunjukkan ponsel di tangannya
"Kenapa diluar?"
"Mas gak mau ganggu kamu, kamu tadi nyenyak sekali"
Hanna merasa bersalah, bagaimana ia bisa memiliki pikiran buruk tentang suaminya. Rizal tidak mungkin mengkhianati dirinya kan?
Hanna menatap suaminya dengan perasaan bersalah, sungguh ia merasa menjadi istri yang buruk saat ini
"Kenapa kamu mau ke kamar Arum?" Tanya Rizal karena tadi ia melihat Hanna memegang gagang pintu kamar tamu
"Ohh itu, aku.."
"Sudahlah, ayo kekamar! Begadang tidak bagus untuk ibu hamil!" Rizal merangkul bahu istrinya dan menuntunnya kembali kekamar
"Mas mau kemana?" Hanna menahan tangan suaminya yang hendak pergi
"Mas kekamar mandi sebentar!" Hanna mengangguk dan membiarkan pria itu masuk kamar mandi
Sementara itu dikamar mandi, Rizal membasuh wajahnya dengan air dingin
"Hampir saja!"
semoga byk yg baca