NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: RAPORT DIMAS YANG DISEMBUNYIKAN

...BAB 7...

...RAPORT DIMAS YANG DISEMBUNYIKAN...

Beberapa hari berikutnya, rumah ini semakin senyap.

Aku tetap Alina yang dingin. Ibu Kirana tetap menunduk setiap kali melintas di depanku. Namun kini ada satu hal baru yang kusadari. Dimas hampir tidak pernah keluar kamar.

Anak itu, adik tiriku, selalu mengurung diri sejak pulang sekolah. Hanya turun untuk makan, lalu kembali naik. Wajahnya semakin tirus. Matanya sering sembab, seakan semalaman menahan tangis.

Aku tidak peduli. Setidaknya begitu kataku pada diri sendiri.

Hingga suatu sore, tanpa sengaja aku mendengar suara Ibu Kirana berbisik di dapur.

"Dimas, Nak... Raportmu kapan diambil?"

"Belum, Bu," jawab Dimas pelan. "Nanti saja."

"Nanti kapan? Ini sudah hari Jumat. Wali kelas Ibu sudah menelepon tiga kali."

Hening. Lalu terdengar suara kursi bergeser. Dimas berlari naik ke atas.

Rasa ingin tahuku mengalahkan gengsiku. Malamnya, aku sengaja lewat depan kamar Dimas. Pintunya tidak terkunci rapat.

Di dalam, Dimas duduk di lantai. Di hadapannya ada amplop coklat bertuliskan "RAPORT SEMESTER GANJIL". Belum dibuka.

Tangannya gemetar. Ia menatap amplop itu seperti menatap vonis mati.

"Kenapa tidak dibuka, Nak?" bisik Ibu Kirana dari ambang pintu. Ia membawa teh hangat.

Dimas langsung menyembunyikan amplop itu di belakang punggung. "Tidak apa-apa, Bu. Dimas capek."

Ibu Kirana berjongkok. Air matanya sudah menggenang. "Nak, Ibu hanya ingin tahu. Kamu_ naik kelas atau tidak?"

Dimas menunduk dalam-dalam. "Tidak, Bu... Dimas tinggal kelas."

Kata-kata itu menghantam ruangan seperti petir.

Ibu Kirana tertegun. Cangkir teh di tangannya bergetar, lalu jatuh ke lantai. Pecah.

"Bagaimana_ bagaimana bisa, Nak?" suaranya tercekat. "Kamu anak terpandai di kelas, kenapa bisa tidak naik kelas?"

"Karena Dimas sering bolos," potong Dimas. Ia akhirnya menangis. Tangis yang selama ini ia tahan. "Dimas bolos untuk jaga Ibu waktu Ibu demam karna begadang semalaman. Dimas bolos untuk antar Ibu ke pasar karena tiba-tiba Ibu mengeluh pusing. Dimas bolos karena_ karena Dimas takut. Takut pulang ke rumah kosong ... Dimas takut kehilangan Ibu ..."

Ibu Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Ia tidak mengeluarkan suara, namun seluruh tubuhnya menangis.

Aku berdiri mematung di balik pintu. Dadaku sesak.

Dimas tinggal kelas. Karena menjagaku? Karena menjaganya?

Keesokan paginya, amplop raport itu sudah berpindah. Kini tergeletak di meja makan, terbuka. Nilai-nilai merah berjejer di sana. Matematika: 4. IPA: 3. Bahasa Inggris: 5.

Di sudut kertas itu ada tulisan tangan wali kelas: "Orang tua diharapkan hadir Senin depan untuk pembinaan."

Ibu Kirana menatap raport itu lama sekali. Jarinya mengusap angka-angka merah seakan ingin menghapusnya.

Papa masuk ruang makan. Melihat raport itu, alisnya bertaut.

"Ini apa?" tanya Papa.

Ibu Kirana buru-buru menutup raport dengan taplak meja. "Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya kertas bekas Dimas."

"Jangan bohong, Bu," suara Papa mengeras. Ia menarik taplak itu. Raport Dimas kembali terlihat.

Wajah Papa mengeras. "Tinggal kelas? Dimas? Anak yang dulu juara kelas?"

Dimas, yang baru turun dari tangga, langsung menunduk. "Maaf, Papa ... Dimas bodoh..."

"Jangan panggil aku Papa!" bentak PAPA. Suaranya menggema di seluruh rumah. "Aku bukan Papamu!"

Ibu Kirana sontak berdiri. Tubuhnya bergetar. "Mas Aditya!"

Aku ikut berdiri. Untuk pertama kali, aku merasa marah pada Papa. Bukan pada Dimas.

"Mas cukup!" Ibu Kirana menahan lengan Papa. "Dimas sudah cukup hancur. Jangan hancurkan lagi harga dirinya!"

Papa menatap Ibu Kirana, lalu menatap Dimas dengan kecewa. "Aku sudah bayar sekolah termahal. Guru privat tiap hari. Untuk apa? Untuk hasil seperti ini?"

"Karena Dimas sibuk menjaga Ibu," bentakku tiba-tiba. Suaraku melengking. Semua orang menoleh padaku.

Papa terkejut. "Alina?"

Aku melangkah maju. Menatap Dimas yang bahunya bergetar menahan tangis. Anak itu tidak pernah membela diri. Tidak pernah beralasan.

"Dia bolos karena Bu Kirana pingsan di dapur dan tidak ada yang menolong," kataku. Suaraku bergetar, namun aku paksa tetap lantang. "Dia bolos karena setiap pulang sekolah, ia harus memasak, mencuci, mengantar Ibu ke dokter. Sementara aku... aku hanya duduk di kamar dan menunggu dilayani."

Kata-kataku seperti pisau yang menghunjam diriku sendiri.

Ibu Kirana menatapku dengan mata melebar. Penuh keterkejutan. Penuh... luka.

"Alina, jangan bicara begitu," bisiknya.

"Kenapa tidak, Bu?" balasku. Kali ini aku menatapnya lurus. "Selama ini aku yang menyalahkan kalian. Aku yang bilang kalian beban. Ternyata... akulah beban yang sebenarnya."

Ruangan hening. Hanya terdengar isakan Dimas.

Papa membuang muka. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia malu. Malu pada dirinya sendiri.

Ibu Kirana memeluk Dimas erat. Mencium puncak kepalanya berkali-kali, seakan anak itu masih berusia lima tahun.

"Maafkan Ibu, Nak," isaknya. "Ibu guru, tapi Ibu gagal mendidik putra Ibu sendiri. Ibu terlalu sibuk menjaga Kak Alina, sampai lupa engkau juga butuh Ibu..."

"Ibu tidak gagal," Dimas menggeleng di dalam pelukan ibunya. "Dimas rela tinggal kelas seribu kali, asalkan Ibu sehat."

Aku berbalik. Berlari ke atas. Mengunci pintu kamar.

Di dalam kamar, aku menghancurkan semua yang bisa kuhancurkan. Vas bunga. Pigura foto. Buku.

Lalu aku terduduk di lantai, memeluk lutut.

Di kepalaku terngiang kalimat Dimas: "Dimas rela tinggal kelas seribu kali, asalkan Ibu sehat."

Anak SMP kelas 2. Rela mengorbankan masa depannya demi ibunya.

Sementara aku? Anak SMA kelas 12. Rela menghancurkan masa depan orang lain demi egoku.

Sore itu, aku mendengar suara mesin jahit dari kamar Ibu Kirana lagi. Tik... tik... tik... sampai tengah malam.

Aku mengintip. Ibu Kirana sedang menjahit seragam Dimas yang robek. Matanya sembab, namun tangannya tetap stabil.

Di meja sebelahnya, ada buku catatan. Isinya daftar hutang ke warung. Ada tulisan: -Pinjam beras 5kg - 15 Januari. Pinjam minyak - 20 Januari.

Tabungan delapan ratus ribunya habis untuk obatku. Kini ia berutang untuk makan.

Dan Dimas? Ia duduk di lantai, mengerjakan PR sambil sesekali menyuapi ibunya nasi. Anak itu tersenyum, meski matanya masih merah.

"Bu, makan yang banyak ya. Biar tidak pusing lagi," kata Dimas.

Ibu Kirana mengangguk, menahan air mata. "Iya, Nak. Ibu janji akan datang ke sekolah Senin nanti. Ibu akan minta maaf pada wali kelasmu."

Aku menutup pintu pelan. Punggungku menempel ke dinding.

Tanganku mengepal. Kukuku menancap ke telapak tangan hingga perih.

"Bohong," gumamku. "Huh itu pasti bohong."

Dimas tinggal kelas memang karena bodoh. Bukan karena alasan itu. Karena dia anak yang tidak punya darah Mahendra di nadinya. Dia lemah dan tidak becus.

Aku berbalik, masuk ke kamar. Mengunci pintu.

Di dalam kamar, aku menghancurkan vas bunga. Pecahannya berserakan di lantai. Berisik. Setidaknya bisa menutupi suara mesin jahit dari kamar Ibu Kirana yang terdengar sampai larut malam.

"Berisik," bentakku pada pintu. "Mau jahit sampai pagi sekalian!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara tik... tik... tik... yang makin pelan, lalu berhenti menjelang subuh.

Keesokan paginya, aku turun untuk sarapan. Ibu Kirana tidak ada di meja. Hanya ada sepiring nasi dan telur dadar. Dimas duduk di sudut, kepalanya tertunduk. Raportnya masih tergeletak di meja, dengan coretan merah yang menusuk mata.

Papa melirikku, lalu melirik raport itu. Wajahnya masih kaku sejak kejadian kemarin.

"Alina," suara Papa berat. "Kau dengar apa yang Dimas katakan kemarin?"

Aku menyendok nasi dengan kasar. "Aku dengar. Anak tidak tahu diri. Menjadi beban keluarga."

Dimas tersentak. Bahunya bergetar, tapi ia tidak menangis. Tidak lagi.

Ibu Kirana muncul dari dapur. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya tebal. Ia membawa teko teh, tangannya gemetar.

"Silakan, Mas. Tehnya," bisiknya pada Papa.

Papa tidak menyentuh teh itu. "Bu, mulai hari ini Dimas tidak perlu sekolah lagi. Aku akan daftarkan dia ke SMK. Biar cepat kerja. Daripada menghabiskan uang untuk sesuatu yang sia-sia."

Gelas di tanganku hampir terlepas. Bukan karena kasihan. Karena menang.

Bagus, Pah! kataku dalam hati sambil tersenyum sinis. Akhirnya PAPA sadar juga. Memang lebih baik begitu. Daripada memaksa anak yang tidak punya masa depan.

Ibu Kirana terhuyung selangkah. Teko di tangannya bergetar hebat. Air panas hampir tumpah.

"Mas..." suaranya nyaris tidak terdengar. "Dimas masih bisa diperbaiki..."

"Sudah cukup, Bu," potong Papa dingin. "Keputusan sudah bulat."

Aku meneguk tehku perlahan. Hangat. Pahit. Sama seperti kemenangan di dadaku.

Bersambung ...

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!