Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Cahaya Penyatuan
Angin di sekitar terasa makin panas dan berat. Cahaya merah dari senjata raksasa di atas sana makin terang, sampai membuat bayangan panjang terhampar di seluruh permukaan tanah. Semua orang bisa merasakan—kalau benda itu meledak, nggak ada yang bisa selamat.
Kakek Aran menarik napas panjang, lalu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Suaranya kini terdengar jelas, tenang tapi penuh kekuatan:
"Dengar semuanya! Teknik ini cuma bisa berhasil kalau kita benar-benar bersatu. Nggak ada perbedaan antara manusia, Penjaga, atau siapa pun di sini. Kita semua bagian dari bumi ini. Salurkan semua tenaga, semua harapan, semua keinginan buat bertahan hidup—lewat Raka, lewat Sumber Unggul!"
Para Penjaga langsung bersiap. Mereka menutup mata, meletakkan tangan di tanah atau di udara, dan mulai melantunkan syair kuno yang pelan tapi jelas. Dari tubuh mereka keluar cahaya berwarna-warni yang bergerak cepat, mengalir seperti sungai menuju pusat, menuju tempat Raka berdiri.
Jenderal Agus juga angkat bicara, suaranya lantang menyusul:
"Semua pasukan! Matikan sistem pertahanan sementara, alihkan seluruh tenaga generator dan energi cadangan ke pusat! Percayakan semuanya pada Raka!"
Tanpa ragu, para prajurit menekan tombol-tombol di peralatan mereka. Dari setiap kendaraan, setiap senjata, setiap sumber listrik yang ada, keluar aliran energi berwarna biru pucat yang ikut mengalir menyatu, membentuk aliran cahaya raksasa yang mengelilingi Raka.
Raka merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tenaga yang masuk ke tubuhnya bukan cuma tenaga alam atau tenaga mesin—ia juga merasakan keberanian Karin, keteguhan Reza, kekhawatiran tapi keyakinan Jenderal Agus, harapan ribuan prajurit, dan kekuatan ribuan tahun yang disimpan para Penjaga. Semua itu menyatu di dalam dirinya, bikin dadanya terasa penuh tapi nggak sakit—justru terasa hangat, kuat, dan nggak tergoyahkan.
Ia angkat kedua tangannya ke atas. Cahaya biru yang memancar dari tubuhnya makin membesar, perlahan berubah warna jadi putih keemasan yang terang benderang, sampai menutupi seluruh wilayah pertahanan. Kubah pelindung yang tadinya tembus pandang kini berubah jadi lapisan cahaya padat yang berdenyut pelan.
Di atas sana, sosok tua berjubah putih menyipitkan mata. Ia merasa ada yang berbeda, ada tekanan baru yang mulai terasa.
"Mereka coba main trik?" gumamnya dingin. "Nggak ada gunanya. Mata Penghakiman ini punya tenaga setara ledakan puluhan gunung berapi sekaligus. Hancurkan mereka sekarang!"
Bunyi dengungan yang sangat keras terdengar. Inti senjata itu menyempit, lalu seketika melepaskan sinar merah tebal yang lebarnya sampai ratusan meter, melesat turun dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Suara yang ditimbulkannya bikin telinga terasa berdenging, seolah udara sendiri ikut terbakar.
"TERIMA SERANGAN!" teriak Kakek Aran.
Saat sinar merah itu hampir menyentuh permukaan kubah, Raka mendorong kedua tangannya ke depan sekuat tenaga. Semua tenaga yang sudah terkumpul disalurkan jadi satu, melesat keluar membentuk tembok cahaya putih keemasan yang bertemu tepat di hadapan serangan musuh.
DUGGGGG!!!
Ledakan yang terjadi bukan seperti apa pun yang pernah dilihat. Seluruh langit berubah jadi putih bersih, bumi bergetar sampai bebatuan terlempar ke udara, dan gelombang kejut menyebar sampai bermil-mil jauhnya. Debu dan asap tebal menutupi segalanya, bikin siapa pun nggak bisa melihat apa-apa selama beberapa menit yang terasa sangat lama.
Perlahan, suara gemuruh itu mereda. Debu mulai turun perlahan. Orang-orang membuka mata mereka dengan hati-hati, takut melihat apa yang tersisa.
Dan saat pandangan mulai jelas, mereka tertegun.
Di tengah kawah yang terbentuk di sekelilingnya, kubah cahaya itu masih berdiri. Permukaannya agak redup, ada bagian yang tampak menipis, tapi ia utuh. Serangan terkuat Kerajaan Langit berhasil ditahan.
Lebih dari itu—tenaga cahaya putih keemasan itu nggak hilang begitu saja. Sebagian tenaganya berbalik arah, melesat naik dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat, menembus celah-celah di antara pesawat musuh, dan menghantam tepat di bagian depan kapal induk raksasa itu.
BRAK!!!
Sebuah ledakan besar terjadi di lambung kapal. Bagian depan yang tadinya halus dan kokoh kini retak besar, asap hitam mengepul keluar, dan kapal itu terguncang hebat sampai terhuyung sedikit ke samping. Di dalamnya, para penasihat terlempar jatuh, dan suasana berubah jadi kacau.
"Kapal utama terluka!" teriak salah seorang petugas panik. "Perisai depannya menurun drastis!"
Sosok tua berjubah putih berdiri gemetar, wajahnya yang dingin kini dipenuhi amarah yang meluap-luap. Ia menatap ke bawah dengan pandangan membunuh.
"Tidak mungkin... tidak mungkin..." geramnya. "Makhluk rendahan berani melukai kapal kami? Ini tidak bisa dibiarkan!"
Di bawah sana, Raka terhuyung sedikit, napasnya agak memburu. Tenaga yang ia gunakan memang sangat besar, tapi ia masih bisa berdiri tegak. Ia menengadah ke atas, menatap kapal raksasa itu dengan tatapan tajam.
"Ini baru permulaan," teriaknya, suaranya agak serak tapi tetap terdengar jelas. "Kalian mau bumi ini? Kalian harus lewat kami dulu. Dan kami nggak akan pernah mundur selangkah pun!"
Para Penjaga dan pasukan yang tadinya tertekan kini kembali bangkit. Sorak semangat bergema, senjata diangkat kembali, dan tenaga mulai terkumpul lagi.
Di langit, pesawat-pesawat musuh mulai bergerak mundur sedikit, tampak ragu untuk menyerang lagi. Ketiga Panglima yang tadi bertarung juga terlihat waspada, takut serangan balik berikutnya.
Perang ini belum selesai. Bahkan, mungkin baru benar-benar dimulai. Tapi untuk pertama kalinya, Kerajaan Langit sadar—mereka nggak lagi berhadapan dengan sekelompok makhluk yang bisa diinjak seenaknya. Mereka berhadapan dengan seluruh bumi yang bersatu, yang siap bertarung sampai titik darah penghabisan.