"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Penggerebekan di Kafe Taman Kota
****
Jarum jam dinding di sudut ruangan baru saja menunjukkan pukul enam sore lewat empat puluh lima menit ketika motor sport hitam milik Saka membelah area parkiran belakang taman kota. Langit malam telah sepenuhnya turun, menyelimuti kota dengan sisa-sisa hawa dingin pasca-gerimis yang membuatku berulang kali merapatkan seragam putih abu-abuku. Di seberang jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan, sebuah kafe tua berpencahayaan temaram dengan papan nama kayu bernuansa klasik berdiri dengan kokoh. Tempat itu adalah titik koordinat yang tertulis di dalam draf map plastik biru milik Saka—lokasi di mana sekutu inti Devan bersiap menyusun pergerakan rahasia mereka.
Saka mematikan mesin motornya, lalu menoleh ke arahku yang masih duduk terpaku di jok belakang. Tangan kokohnya terulur untuk membantuku turun, menggenggam jemariku dengan kehangatan yang sangat kontras dengan suhu udara malam ini. Bintang kecil pada gelang perak di pergelangan tangan kananku berdenting pelan, memantulkan cahaya lampu jalanan yang remang.
"Lo tetap berdiri di belakang gue, Mik. Jangan pernah melepaskan genggaman lo dari almamater gue, apa pun yang terjadi di dalam nanti," bisik Saka, suaranya merendah menjadi sebuah geraman protektif yang sarat akan intensitas emosi. Mata elangnya berkilat tajam di balik potongan rambut pendek barunya yang rapi. Sifat berandalnya tidak hilang, melainkan menjelma menjadi sebuah keagresifan taktis yang jauh lebih mengintimidasi.
Aku hanya mengangguk pelan, mempererat remasan tanganku pada kain biru tua almamaternya yang terkancing sempurna. Kami berjalan beriringan membelah jalan raya, melangkah pasti menuju pintu masuk kafe tua tersebut. Begitu Saka mendorong pintu kayu bangunan itu, gemerincing lonceng kecil di atasnya langsung memecah kesunyian, menyita perhatian beberapa pengunjung yang sedang duduk santai.
Mataku bergerak cepat menyapu seluruh sudut ruangan, dan tepat di sebuah meja bundar yang terletak di pembatas kaca bagian belakang, empat orang cowok dengan seragam sekolah yang dilapisi jaket organisasi OSIS sedang berkumpul. Mereka adalah Yudha, jajaran inti divisi ketertiban, bersama tiga orang anak buah setia Devan dari kelas XII MIPA 1. Di atas meja mereka, tumpukan berkas dan beberapa lembar draf catatan tampak tersebar berantakan di antara cangkir-cangkir kopi yang masih mengepul.
Langkah kaki Saka yang tegap dan konstan langsung mengarah ke meja tersebut tanpa ragu sedikit pun. Suara ketukan sepatunya di atas lantai kayu kafe seolah menjadi alarm darurat yang membuat Yudha dan ketiga temannya mendongak serentak. Begitu mata mereka menangkap siluet tubuh tegap Saka yang berdiri menjulang di hadapan meja mereka, ekspresi wajah mereka seketika berubah tegang, dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa.
"Saka? Ngapain lo ke sini?!" bentak Yudha, refleks berdiri dari kursi kayunya hingga kakinya berdecit keras di atas lantai. Matanya beralih menatapku yang berdiri di balik punggung tegap Saka, lalu beralih kembali menatap Saka dengan pandangan penuh permusuhan. "Dan lo bawa Mikaela juga? Lo bener-bener udah gak punya urat takut ya setelah bikin Devan diskors?!"
Saka tidak langsung menjawab. Dia justru menarik sebuah kursi kosong dari meja sebelah dengan satu sentakan tangan yang santai, lalu membalikkan posisi kursi itu dan mendudukinya secara terbalik, melipat kedua tangannya di atas sandaran kursi sambil menatap keempat anak buah Devan dengan seringai sinis nan ugal-ugalan yang sangat pekat.
"Gue ke sini cuma mau menikmati kopi sore, Yud. Tapi gak sengaja melihat ada sekumpulan anjing setia yang lagi kebingungan karena kehilangan tuannya," tutur Saka dengan nada suara baritonnya yang serak, rendah, namun memiliki penekanan tajam yang membuat atmosfer di sekitar meja itu mendadak terasa mencekam.
"Jaga mulut lo, Saka! Lo pikir lo siapa, hah?! Lo cuma berandal IPS yang kebetulan beruntung bisa menjebak Devan pake rekaman suara sialan itu!" teriak salah satu teman Yudha dari MIPA 1, wajahnya memerah karena emosi yang tersulut.
Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu dingin dan mengintimidasi hingga membuat nyali cowok itu sedikit menciut. Saka tiba-tiba memajukan posisi tubuhnya, merogoh saku bagian dalam almamater rapinya, lalu mengeluarkan map plastik biru tua yang dibawanya dari pangkalan IPS tadi. Dia membanting map itu di atas tumpukan berkas organisasi milik mereka dengan suara hantaman yang cukup keras.
*Brak!*
"Gue gak butuh keberuntungan buat menghancurkan orang kayak Devan, dan gue juga gak butuh waktu lama buat tahu apa yang lagi kalian rencanakan di dalam kafe ini," ucap Saka, matanya menyipit tajam mengunci pergerakan Yudha. "Daftar nama kalian, nomor telepon kalian, dan draf rencana kalian buat menjebak gue atau Mikaela di luar sekolah dengan membuat laporan palsu ke dinas pendidikan... semuanya udah ada di tangan gue sejak satu jam yang lalu."
Yudha membelalakkan matanya, menatap map plastik biru di atas meja dengan wajah yang perlahan-lahan mulai berubah pucat pasi. Mereka tidak pernah menduga bahwa jaringan spionase anak-anak IPS di bawah kendali Saka bisa bergerak secepat dan seakurat ini di luar dinding sekolah.
"Lo... lo dapet draf ini dari mana?" tanya Yudha dengan suara yang mulai bergetar karena kepanikan yang kian mencengkeram.
"Itu gak penting," potong Saka dingin, memotong kalimat Yudha tanpa ampun. Dia bangkit berdiri dari kursinya, membuat tubuh tingginya kembali menjulang, memberikan tekanan psikologis yang mutlak kepada empat orang di hadapannya. Saka melangkah satu langkah ke depan, mengikis jarak hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan meja mereka.
"Yang penting sekarang adalah peringatan dari gue," bisik Saka, nadanya merendah menjadi sebuah ancaman posesif yang sangat berbahaya. "Devan Dirgantara udah jatuh di dalam sekolah, dan takhta manipulasinya udah runtuh total. Kalau kalian berempat masih punya otak yang berfungsi dengan baik, malam ini juga kalian bubarkan rencana kotor ini, hapus semua draf laporan palsu yang kalian buat, dan jangan pernah berani lagi menyebut nama Mikaela di dalam skema balas dendam kalian."
Saka terulur, tangan kokohnya mencengkeram kerah jaket organisasi milik Yudha dengan satu sentakan cepat yang sangat agresif, menarik tubuh Yudha hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja di bawah temaram lampu kafe.
"Sifat patuh aturan gue cuma berlaku di depan Pak Malik selama jam pelajaran, Yud. Di luar sekolah, di wilayah pangkalan IPS... gue tetap Saka Aditya yang ugal-ugalan dan gak kenal rasa takut mati. Kalau sampai besok pagi gue masih mendengar ada pergerakan sekecil apa pun dari kalian buat mengganggu ketenangan hidup cewek gue... gue bersumpah gak bakal ragu buat menghancurkan masa depan kalian berempat dengan cara gue sendiri sebelum bab 65 tamat nanti. Paham?!" geram Saka, melepaskan cengkeraman tangannya hingga Yudha terdorong mundur dan jatuh terduduk kembali di atas kursinya dengan napas yang memburu ketakutan.
Keempat anak buah Devan itu mematung, membeku seutuhnya di bawah intimidasi mengerikan yang dikeluarkan oleh Saka sore itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara atau membalas tatapan mata elangnya yang mematikan. Rencana balas dendam yang mereka susun dengan rapi selama berjam-jam kini telah resmi hancur lebur menjadi abu sebelum sempat mereka eksekusi.
Saka kembali berbalik menatapku, binar matanya seketika melunak dan berubah menjadi sangat hangat saat tangan besarnya menggenggam kembali jemari tanganku dengan erat. "Yuk, Mik. Udah gak ada hal penting lagi yang perlu kita lihat di tempat sampah ini. Kita pulang sekarang."
Gue mengangguk pelan, membiarkan tubuhku dituntun oleh Saka berjalan lebar meninggalkan meja anak-anak OSIS kubu Devan yang kini tertunduk lesu tanpa harga diri. Lonceng kecil di atas pintu kembali bergemerincing saat kami melangkah keluar dari kafe tua itu menembus pekatnya malam taman kota. Di bawah siraman cahaya lampu jalanan yang remang, aku menyadari satu hal dengan sangat jelas. Dengan keputusan untuk memotong durasi cerita *Season 1* menjadi **65 bab tamat** demi menjaga ritme plot agar tetap cepat, padat taktik, dan penuh pergerakan konfrontasi yang memacu adrenalin para pembaca ABG, keagresifan tulus dan obsesi protektif dari seorang Saka Aditya benar-benar menjelma menjadi perisai paling kokoh yang tak tertandingi di luar sana. Perang psikologis di luar dinding sekolah babak pertama ini resmi dimenangkan secara mutlak oleh si berandal patuh aturan, dan aku siap melangkah lebih jauh bersamanya menembus badai baru apa pun yang sedang disiapkan oleh takdir di depan kami.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> Alur pergerakan plot cerita **RED FLAG** sengaja dibuat bergerak dengan jauh lebih cepat, padat taktik konfrontasi, dan langsung menusuk ke inti masalah di luar lingkungan sekolah agar para pembaca tidak merasa bosan! Konflik asmara segitiga beracun ini dipastikan bakal semakin memacu adrenalin dengan pergerakan taktik Saka yang semakin cerdas dan berbahaya.
> Jangan lupa ya buat klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** sebanyak-banyaknya untuk kelancaran novel kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan teori kalian tentang apa yang bakal terjadi di bab selanjutnya! Sampai jumpa di Bab 24 besok pagi, *keep reading and stay alert, guys!*
>