NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Meskipun Meilan sudah berusaha keras membuat langkah kakinya saat pergi terlihat alami, bahasa tubuhnya yang terburu-buru tetap mengkhianati ketakutan di dalam hatinya. Punggungnya yang tampak seperti sedang melarikan diri membuat kepergiannya terlihat begitu menyedihkan.

Siapa pun yang memiliki mata bisa melihat bahwa Meilan benar-benar telah terseret ke dalam permainan akting Zoya. Namun hasilnya sangat buruk baginya… Meilan sepenuhnya tertindas oleh aura Zoya.

Karakter Adira yang seharusnya terlihat lembut, polos, dan romantis justru berubah menjadi sosok yang tampak ketakutan. Sebaliknya, penampilan Zoya malah memberikan kejutan besar bagi Rahengga.

Sebelumnya, Zoya lebih sering menjalani adegan aksi. Dalam adegan seperti itu, ia hanya perlu menunjukkan kemampuan bertarung tanpa terlalu banyak pengambilan gambar jarak dekat pada ekspresi wajah. Karena itulah, untuk adegan close-up pertamanya kali ini, Rahengga sebenarnya sudah siap menghabiskan waktu semalaman di lokasi syuting.

Namun di luar dugaan, Zoya tidak hanya berhasil melakukannya dengan baik… ia bahkan menyelesaikan seluruh adegan dalam satu kali take.

Sementara itu, Meilan yang biasanya begitu percaya diri dan sombong justru tanpa sadar kehilangan dominasinya karena terintimidasi oleh akting Zoya.

Saat itu, Zoya mengenakan pakaian berwarna hijau kabut. Berdiri di bawah cahaya rembulan dengan ujung pakaian yang berkibar tertiup angin, ia tampak secantik peri yang turun ke dunia manusia.

Melihat hasil pengambilan gambar tersebut, Rahengga yang awalnya tidak berniat memberikan banyak porsi close-up pada adegan ini langsung berubah pikiran. Secara spontan, ia memutuskan untuk memasukkan adegan punggung Zoya di bawah cahaya bulan ke dalam daftar pengambilan gambar penting untuk versi akhir film nanti.

Sementara itu, setelah turun dari set syuting, Meilan menatap Zoya yang berada tidak jauh darinya. Alisnya berkerut sebelum ia bertanya, “Siapa dia?”

Asistennya tampak sedikit terkejut. Mereka sudah berada di lokasi syuting hampir satu bulan, dan adegan “leluhur kecil” itu bahkan hampir selesai wrap up, tetapi Meilan ternyata masih belum mengetahui nama Zoya.

Meski begitu, sang asisten tetap menjawab jujur, “Zoya.”

“Zoya?” Meilan mengulang nama itu pelan. Matanya bergerak seolah sedang mengingat sesuatu, mencoba mencocokkan nama tersebut dengan para artis yang ia kenal. Namun setelah berpikir cukup lama, ia tetap tidak bisa mengingat siapa sosok bernama Zoya itu.

“Dia orang mana?” tanyanya lagi.

Asistennya semakin heran. Padahal saat acara pembukaan syuting dulu, Rahengga sudah memperkenalkan Zoya secara langsung kepada Meilan. Namun setelah dipikir-pikir, Meilan memang hanya menunjukkan sikap manis di depan “Tuan Muda”. Di hadapan orang lain, ia selalu tampak dingin dan acuh tak acuh, jadi tidak aneh jika ia sama sekali tidak memperhatikan perkenalan waktu itu.

Karena digaji oleh Meilan, sang asisten tetap menjelaskan dengan serius, “Dia orang lokal sini. Kabarnya juga masih pendatang baru.”

“Pendatang baru?” Kerutan di dahi Meilan semakin dalam saat mendengar jawaban itu.

Ia kembali melirik Zoya dari kejauhan.

Beberapa saat kemudian, Meilan perlahan menarik kembali pandangannya. Ia pun berdiri, lalu melangkah pergi dengan anggun meninggalkan lokasi syuting. Keempat asistennya segera mengikuti di belakang, sibuk membawakan berbagai barang miliknya layaknya pelayan pribadi yang setia.

Melihat keributan besar yang muncul saat Meilan pergi, alis Rahengga sedikit berkerut. Ia menatap ke arah wanita itu dengan ekspresi tidak puas sebelum bergumam pelan,

“Aktingnya biasa saja, tapi gayanya besar sekali.”

Claeton sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun, karena ia sudah jauh lebih lama berkecimpung di industri hiburan dalam negeri dibandingkan Rahengga yang lama tinggal di luar negeri, ia lebih pandai menjaga suasana. Meski dalam hati merasa tidak senang, ia tetap mencoba mencairkan keadaan.

“Yah, mau bagaimana lagi,” katanya sambil tertawa kecil. “Kita ini cuma laki-laki kasar.”

Maksud tersirat dari ucapannya adalah wajar jika laki-laki tidak terlalu memperhatikan kenyamanan fisik.

Namun, baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, Rahengga langsung menimpali,

“Tapi Zoya juga perempuan, dan dia tidak semanja itu.”

Claeton langsung terdiam.

Masalahnya, Zoya belum terkenal, gerutunya dalam hati. Namun tentu saja ia tidak mungkin mengatakannya terang-terangan. Bagaimanapun, ucapan seperti itu bisa melukai harga diri Zoya jika terdengar olehnya.

Zoya sendiri tahu Rahengga sedang melampiaskan ketidakpuasannya. Namun, ia sadar betul bahwa posisinya saat ini hanyalah seorang pendatang baru yang baru mulai syuting film… figur kecil yang adegannya bahkan bisa direbut kapan saja.

Ia juga belum tahu seperti apa sifat asli Meilan. Jika wanita itu ternyata tipe yang pendendam atau pencemburu, maka dirinya bisa berada dalam masalah besar.

Karena itu, Zoya segera mengalihkan topik pembicaraan.

“Sutradara Engga, apa ini berarti kemampuan bela diri saya masih kurang bagus?”

Begitu topik bela diri dibahas, wajah Rahengga langsung berubah cerah.

Adegan pertarungan antara Zoya dan Claeton sama sekali tidak menggunakan pemeran pengganti. Bahkan kemampuan bertarung Zoya jelas lebih unggul dibanding Claeton, saat keduanya benar-benar beradu gerakan dengan lawan main.

Jika ditanya bagian paling memuaskan selama proses syuting ini, maka jawabannya pasti adegan bela diri antara Zoya dan Claeton.

Gerakan mereka tidak bertele-tele… semuanya cepat, lugas, dan terasa sangat nyata seperti pertarungan sungguhan. Meskipun Zoya bertubuh mungil, saat bertarung ia memancarkan aura seorang ahli bela diri tingkat tinggi. Bahkan pemain belakang diri veteran yang terkenal dengan wajah dingin dan aura tajamnya, hanya mampu mengimbanginya dengan susah payah.

Perasaan “seimbang” yang intens itulah yang membuat Rahengga sangat puas.

Claeton dan yang lainnya adalah aktor senior, jadi kemampuan itu masih bisa dimaklumi. Namun Zoya hanyalah gadis yang baru mulai berakting, tetapi mampu tampil sejauh ini… baginya, itu benar-benar bakat alami.

Mendengar ucapan Zoya tadi, Rahengga langsung tertawa terbahak-bahak.

“Mana mungkin,” katanya sambil menatap Zoya. “Kau terlalu rendah hati.”

Zoya tersenyum tipis. Setelah ragu sesaat, ia bertanya dengan suara kecil,

“Sutradara Engga, beberapa hari kedepan saya tidak ada jadwal syuting. Bolehkah saya minta libur dua hari?”

“Kenapa?” tanya Rahengga. “Ada urusan keluarga?”

Zoya menggeleng pelan.

“Saya sudah berjanji untuk bertemu seorang teman dalam beberapa hari ini. Saya ingin…”

Saat menyebut kata teman, semburat merah tipis muncul di pipinya.

Melihat reaksinya, Rahengga langsung tertawa geli. Ia bukan sutradara konservatif yang melarang hubungan asmara para aktornya. Karena lama belajar dan berkembang di luar negeri, pandangannya soal kehidupan pribadi para pemain jauh lebih terbuka.

Sambil tertawa kecil, Rahengga pun melambaikan tangan sebagai tanda persetujuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!