Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lily diculik?
Pagi itu suasana cukup damai. Nampak Lily sedang menikmati sandwich buatanya sendiri sembari memperhatikan sekeliling dapurnya yang dipenuhi interior mewah.
"Ayok ikut gue!" Tiba-tiba saja Zevan datang dan langsung menyeret tangan Lily kasar. Padahal ia belum selesai sarapan.
"Eh kak! Kenapa?" Ia mencoba memegang mejanya karena ingin menghabiskan dulu sarapannya. Namun Zevan seperti tak menghiraukannya. Ia malah semakin menyeretnya kasar.
"Kak Zevan!" Lily melototinya kesal. Sebenarnya ada apa dengan orang ini?! Kemarin sore ia masih baik-baik saja. Pikirnya.
"Ikut gue sekarang juga atau gue tembak kepala lo sekarang?" Ancamnya sembari menodongkan pistol kearahnya. Tentu saja Lily terkejut bukan main. Kenapa Zevan terlihat emosi padanya? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk?
Lily pun overthinking. Ia terus berfikir sebenarnya kenapa dengan Zevan ini. Kenapa ia tiba-tiba bersikap aneh juga?
"Cepat naik mobil!" Titahnya. Lily pun hanya menurut walaupun ragu. Ia dibawa ke suatu tempat yang jauh dari pemukiman kota. Melaju dengan kecepatan tinggi dan masuk melewati lembah dan hutan yang rimbun. Hingga, tibalah ke tempat tujuan mereka.
"Turun sendiri. Jangan manja! Gue gak bakalan bukain pintu mobil buat lo" Ucapnya kemudian ia keluar dari mobil. Lily hanya melongo mendengarnya. Apa maksudnya coba? Ia kan tak perlu seemosi itu, ia pun keluar.
"Lo ini lambat banget!" Karena tak bisa menunggu lama Lily yang terlihat takjub saat melihat pemandangan hutan rimba didepannya, ia malah kembali diseret kasar. Meskipun begiti, pandangan mata Lily masih terkunci pada ribuan pohon pinus yang mengelilingi sebuah mansion tua yang berada di tengah-tengah hutan ini. Apa ini semacam tempat rahasia?
"Eh eh ini rumah siapa?! Kenapa kita ke tempat sepi?!" Tanyanya dengan sedikit waspada. Ada yang tidak beres dari Zevan.
"Lo akan tau setelah berada didalam sana!"
"Hah?" Lily lagi-lagi tak bisa berpikir jernih. Otaknya seperti motor mogok. Tak bisa berjalan lagi.
'Dibunuh? Disiksa? Dijual? Apa ya?!' Batinnya semakin merasa takut. Namun ia merasa tidak melakukan apapun?
"Gue bakal melakukan semua hal yang ada dipikiran lo"
"Eh?!" Lily terkejut. Wajahnya memucat.
"Aku... Gak mikirin apa-apa, kok" Ucapnya dengan ragu.
"Lo pikir gue percaya?" Ledeknya yang membuat Lily sedikit gemetaran. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Kenapa mendadak seperti ini?!
"Kak Zevan..." Panggilnya pelan ketika ia melihat Zevan menutup pintu rumahnya lalu menguncinya.
"Surprise!!! Lo udah gue culik!" Ucapnya dengan wajah tersenyum lebar. Ia sedikit berjingkrak girang. Zevan bisa begitukah? Pikir Lily tak percaya.
"Lo, gak takut gue culik, adik manis?" Tanyanya sembari menghampirinya. Lily tersenyum kikuk. Tak tau harus bereaksi seperti apa. Karena sejujurnya, ekpresi wajahnya mungkin sudah menjawab situasi yang kini tengah dialaminya.
"Oh, aku diculik ya? Ahahahaha kak Zevan hebat!" Lily sedikit menepuk-nepukan tangannya memberi selamat dengan kikuk.
"Lo ngejek gue? Oke baiklah! Mari kita hubungi si orang sombong itu!" Terlihat ia hendak menghubungi seseorang.
'Orang sombong? Siapa?!' Batin Lily heran sembari sedikit mengintip hp Zevan.
"Ehm, situasi apa ini? Kak Zevan aneh, kok jadi nyulik, sih?" Lily semakin tak mengerti. Dan melihat tingkah laku Zevan, membuatnya tidak nyaman dan sedikit takut. Ia memang tersenyum, tapi senyumannya seperti penuh arti. Seakan ia telah memenangkan sesuatu.
"Hm?? Lo nanya ama gua?" Zevan menoleh dengan tatapan tajam dan senyum lebarnya. Membuat siapapun yang melihatnya pasti merinding karena ia terlihat seperti psikopat.
"Tanganku gak mau diiket kak?" Tanyanya dengan canggung. Pasalnya jika ia benar-benar diculik, bukankah seharusnya ia diringkus agar tidak bisa kabur?
"Ahahaha lo pengen gue ringkus agar lo gak kabur? Hahaha gue lebih suka raut wajah bingung lo ketimbang takut lo! Itu menyenangkan hahaha!!" Ia tertawa terbahak-bahak membuat Lily malah semakin terlihat bodoh. Bodoh?! Ya! Itu dia! Dia menyukai Lily Yang terlihat bodoh ketimbang takut.
"Aku.... Boleh duduk gak? Soalnya pegel"
"Duduklah..."
Lily pun tersenyum lega. Saat ia hendak duduk...
"Jika lo mau kakak lo gue bunuh saat ia tiba nanti" Tambahnya saat melihat Lily yang sangat hendak mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi kayu tua.
'Kakak?! Apa maksudnya?!' Batin Lily semakin bingung. Siapa sebenarnya orang ini? Apakah dia orang lain yang memakai topeng wajah Zevan?!
"Kamu bukan kak Zevan?!" Tanyanya dengan menutup mulutnya. Lily semakin kesal karena ia semakin terlihat bodoh.
"Ohoho bukan gitu, gue kakak lo juga"
Rasanya Lily sudah tak ingin berpikir lagi. Bukan karena malas, tapi kesal bukan main. Mau marah tapi gak bisa.
"Duduklah, gue cuma bercanda"
Ia pun berjalan menuju ruangan yang lain lalu kembali menghampirinya saat telah mengambil sesuatu. Lily semakin kesal karena merasa dipermainkan. Dasar kakak biadab!
"Yah, dia akan tiba secepatnya. Tapi sebelum itu, lo harusnya tidur dulu. Biar gue bisa nyelesain sesuatu" Bisiknya sembari menyuntikkan sesuatu pada lengan Lily secara tiba-tiba.
"Apa yang... Kakak lakukan..." Ia pun menutup kedua matanya yang terasa berat.
"Gue tambah dosisnya apa gak apa-apa ya?" Renungnya.
•
•
•
"Lily.... Lily..."
Aku sepertinya mendengar seseorang memanggilku. Tapi siapa ya?
"Lily... Bangunlah"
Itu seperti suara kak Zevan! Tapi... Tidak! Kak Zevan gak mungkin jahatin aku! Dia pasti bukan kak Zevan!
"Lily..."
"Hhohhh!!"
Lily terlonjak dari tidurnya seolah bermimpi buruk. Ia melihat kearah sekitarnya. Tak ada apapun. Nafasnya masih memburu tak beraturan. Tapi sebentar... Bukankah ini aneh?
Tidak ada apapun? Apapun?!! Ruangan ini kosong?! Ah bukan, tapi mata Lily yang belum melihat kearah luar kotak ini. Ya. Kotak.
"Kenapa aku bisa ada didalam kotak ini?" Pikirnya mencoba mengingat sesuatu. Siapa tau otaknya berfungsi untuk menemukan hal yang tidak ia ingat. Dan secara bersamaan, ia mengingat sesuatu dan entah dari mana asalnya, ada aliran air membasahi kakinya.
"Kak Zevan! Kak! Kakak!! Keluarin aku kak!" Teriaknya mencoba mengetuk-ngetuk kotak kaca dari dalam. Namun percuma, suara Lily tak begitu jelas terdengar keluar sekalipun ia berteriak keras.
"Ergh!! Ergh!" Ia mencoba memecahkan kacanya. Namun apa boleh buat, kacanya terlalu tebal dan tangan Lily terlalu lembut.
"Aku gak bisa berenang..." Ia mulai ketakutan. Bagaimana ini? Apa ia akan berakhir seperti ini? Setelah semua hal yang ia lalui bersama Zevan apa tidak ada artinya untuk orang itu? Apakah kedekatan mereka memang tidak ada arti baginya?
"Aduh jangan nangis dong! Kan airnya jadi makin banyak nih!" Ia merutuki dirinya sendiri mencoba untuk tetap tenang. Bagaimana pun juga, ia harus bisa selamat.
"Aku gak boleh takut, aku harus tetap tenang...." Ia menatap kebawah. Dimana air semakin menenggelamkan kakinya.
"Kalo boleh milih, aku mending mati ditembak dari pada mati perlahan kayak begini..." Renungnya lalu malah memainkan airnya. Ia tetap tak bisa memikirkan sesuatu untuknya keluar dari kotak kaca itu.
"Main air seru juga ya. Selama ini aku gak pernah main air kayak gini lagi sejak pernah tenggelam waktu itu?" Ia mencoba mengingatnya kembali. Masa-masa yang cukup menyenangkan baginya.
"Kalo gak salah... Waktu itu aku di tolongin ama gebetan! So sweet banget kalo diinget-inget hehe!" Ia malah cengengesan tak jelas. Tak sadar bahwa ajalnya sebentar lagi menjemput. Mungkin ia hanya berusaha untuk tetap tenang dan mencoba mengingat hal baik dihidupnya sebelum ia akan meninggal lagi.
"Pas kelas berapa ya? Oh waktu SD...Tapi lupa kelas berapa..."
"Aduh! Airnya udah nyampe perut" Kagetnya saat mendapati airnya semakin cepat naik. Lily merasa senang sekaligus sedih secara bersamaan. Kenapa perasaan manusia bisa seperti itu, ya?
"Oke, Lily, kamu harus tetap tenang. Ingat, hadapi dengan kepala dingin...." Ia pun menyelamkan kepalanya kedalam air.
"Hah... Hah.... Zevan sialan...." Katanya sembari mengusap wajahnya. Ia berusaha membuka setiap sudut dari kotak kaca itu berharap menemukan setitik celah untuk membuang air itu. Kini airnya mulai naik selehernya. Jika saja air itu sedikit lebih naik lagi, maka tamatlah sudah alkisah kami~ Terima kasih dan jumpa lagi~
Disisi lain, seseorang tengah duduk sambil tertawa melihat tingkah laku gadis itu. Ia pun berniat menambahkan volume airnya lagi agar kotak akuariumnya lebih cepat terisi penuh.
Namun, saat jarinya hendak menekan, seseorang mendobrak pintu ruangannya kasar.
"ZEFRAN! HENTIKAN!"
Sang empu pun tersenyum lalu membalikkan tubuhnya pada seseorang itu.
"Akhirnya.... lo datang juga"
BERSAMBUNG