Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Naga Patah
Setelah keluar dari alam siluman ular putih yang tersembunyi, Lin Tian melesat menggunakan pedang terbangnya. Angin berhembus kencang membasuh wajahnya, rambut hitamnya berkibar liar di belakang.
Lin Tian bergumam, "Aku harus mencari tahu siapa ayahku yang sebenarnya. Tapi bagaimana caranya, sedangkan aku tidak memiliki petunjuk."
Ia teringat sesuatu. Sosok tua yang selalu tersenyum hangat. Sosok yang mengajarinya merangkai bunga, dan mengajarinya bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar kekuatan.
Lin Tian tersenyum kecil. "Sepertinya... aku juga perlu mencari tahu tentang kakek Han. Siapa tahu saat mencari identitas Kakek Han, aku mendapatkan informasi tentang ayah juga. Itu ide bagus."
Ia mengangguk mantap pada dirinya sendiri.
Satu hari kemudian Lin Tian sampai di sebuah kota. Dari kejauhan, tembok kota itu tampak retak di bagian tengahnya membentuk lekukan seperti naga yang patah tulang punggungnya. Gerbang besarnya berkarat di beberapa sudut, tapi penjaganya tetap berjaga dengan setengah hati.
Lin Tian mendarat lalu menghampiri penjaga. Seorang pria paruh baya dengan mata sayu dan jenggot tipis yang tidak terawat.
"Saya ingin masuk. Berapa biayanya tuan?" tanya Lin Tian sopan sambil sedikit membungkuk.
Penjaga itu menatapnya kosong, lalu mulai berbicara dengan nada aneh.
"Masuk saja. Gerbang patah tidak meninggalkan bekas luka. Namun cinta... cinta buta merangkai bunga di setiap penjuru luka. Merenggut... jiwa sang penggembara."
Lin Tian mengerjapkan mata. Kepalanya sedikit miring. "Orang ini... apakah kepalanya habis terbentur?"
Lin Tian tersenyum canggung dan langsung masuk melewati penjaga itu. Tidak ada biaya masuk yang diminta. Ia malas memikirkan hal-hal yang tidak penting. Mungkin orang itu sedang jatuh cinta. Atau mungkin memang gila. Tidak penting.
Kota Naga Patah ternyata cukup ramai. Pedagang berteriak menjual makanan, senjata, ramuan, dan berbagai jimat. Lin Tian berjalan di jalanan tanah yang dipadatkan, matanya mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.
"Aku perlu informasi tentang sekte-sekte di sini," gumamnya.
Ia melihat sebuah kedai teh sederhana di pinggir jalan. Beberapa tetua duduk di sana sambil mengobrol santai. Lin Tian menghampiri dan duduk di kursi kosong.
"Pemilik, satu teh hangat," ucap Lin Tian sambil meletakkan satu batu roh rendah di atas meja.
Pemilik kedai, seorang wanita gemuk dengan wajah ramah, segera membawakan teh. "Nak, kelihatannya kamu bukan dari kota ini. Baru datang?"
Lin Tian mengangguk. "Benar, Niang. Saya baru pertama kali ke Kota Naga Patah. Kebetulan saya sedang mencari informasi tentang sekte-sekte kultivasi di wilayah ini. Ada yang bisa Niang rekomendasikan?"
Wanita itu tertawa kecil. "Sekte? Banyak. Tapi yang paling terkenal di selatan sini adalah Sekte Pedang Langit. Katanya Tetua mereka ada yang sudah mencapai Formasi Jiwa. Tapi pendaftarannya sangat ketat. Kalau kamu hanya praktisi Pendirian Fondasi seperti dirimu... agak sulit."
Lin Tian tidak tersinggung. Ia justru tersenyum. "Saya hanya ingin belajar. Tidak masalah jika bukan sekte terbesar."
"Kalau begitu coba Sekte Ombak Biru. Mereka lebih terbuka untuk murid luar. Tapi ya... kekuatannya biasa saja," ucap wanita itu sambil mengelap meja.
Lin Tian mengangguk. "Sekte Ombak Biru. Baik, saya catat. Terima kasih informasinya, Niang."
Ia menghabiskan tehnya perlahan. Matanya lalu tertuju pada sebuah papan pengumuman di seberang jalan. Ada beberapa selebaran tentang misi pemburuan monster, lowongan murid sekte, hingga lelang artefak.
Lin Tian berdiri dan berjalan ke papan itu. Ia membaca satu per satu. Sebuah selebaran berwarna biru menarik perhatiannya.
"SEKTE OMBAK BIRU MENERIMA MURID BARU. UJIAN MASUK AKAN DILAKSANAKAN 3 HARI LAGI. BAGI PEMUDA PEMURNIAN QI TAHAP AKHIR HINGGA PENDIRIAN FONDASI TENGAH DIPERSILAKAN MENDAFTAR."
Lin Tian tersenyum. "Cocok sekali."
Ia mencabut selebaran itu dan melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan dengan menyentuh permukaannya.
Saat berbalik, ia hampir menabrak seorang pemuda bertubuh tambun jubah hijau. Pemuda itu mundur selangkah, matanya menyipit.
"Kau juga mau ikut ujian Sekte Ombak Biru?" tanya pemuda tambun itu dengan nada agak meremehkan.
Lin Tian mengamati lawan bicaranya. Pendirian Fondasi tahap awal. Sama sepertinya. Tapi tubuhnya bongsor, mungkin mengandalkan kekuatan fisik.
"Iya, aku berminat. Kau juga?" jawab Lin Tian santai.
"Tentu! Aku Bai Feng dari keluarga Bai di Kota Naga Patah. Peringkat ke-3 di antara generasi mudaku. Siapa namamu?" Bai Feng menepuk dada dengan bangga.
Lin Tian tertawa kecil. "Lin Tian. Tidak berasal dari keluarga terkenal."
"Tidak masalah. Yang penting kau punya nyali. Kita bertemu lagi di ujian nanti, Lin Tian. Jangan menangis kalau tersingkir," ucap Bai Feng lalu pergi dengan langkah percaya diri.
Lin Tian hanya menggeleng. Pria tambun itu sombong tapi tidak terlihat jahat. Mungkin hanya terlalu percaya diri.
Ia berjalan menyusuri kota untuk mencari penginapan. Malam mulai turun saat ia menemukan losmen sederhana di dekat gerbang timur. Hanya dua batu roh rendah semalam. Lumayan murah.
Di kamarnya yang sempit, Lin Tian duduk bersila di atas dipan bambu. Ia mengatur napas, merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya.
Pendirian Fondasi tahap awal.
Ibunya, Ratu Medusa, selalu melarangnya berkultivasi terlalu cepat. Katanya, fondasi yang tergesa-gesa akan rapuh. Tapi setelah dua abad beku, Lin Tian merasa tubuhnya justru lebih segar. Seolah waktu es itu menyempurnakan sesuatu di dalam dirinya.
Ia membuka mata. Tangannya menyentuh cincin penyimpanan. Beberapa pedang berkualitas rendah, pil pemulihan Qi, peta wilayah Lingzhou, dan satu buku catatan kecil milik Kakek Han.
Lin Tian mengeluarkan buku itu. Sampulnya sudah usang, tulisannya mulai pudar. Namun ada satu kalimat di halaman pertama yang masih terbaca jelas.
"Nikmati setiap prosesnya, karena perjalanan adalah hadiahnya."
Lin Tian tersenyum. "Kakek Han... siapa sebenarnya kau? Dan mengapa ibu begitu tegas menyembunyikan siapa ayahku?"
Ia menyimpan kembali buku itu. Tidak ada gunanya merenung terlalu dalam. Kakek Han mengajarinya satu hal. Jangan terburu-buru. Jawaban akan datang pada waktunya.
Besok ia akan pergi ke Sekte Ombak Biru. Mendaftar, lalu memulai petualangan yang sesungguhnya.
Lin Tian merebahkan diri di dipan, menatap langit-langit kayu yang retak. Bukan tempat mewah, tapi ini adalah pertama kalinya ia benar-benar tidur sebagai manusia bebas. Tanpa ibunya mengawasi. Tanpa dua ratus tahun es yang membekukan segalanya.
"Besok petualangan baru dimulai," ucapnya pelan sambil memejamkan mata.