NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Damien Knox Get Jealous

“Jangan bilang kau salah satu paparazzi aneh yang terobsesi padaku.”

“Anda berharap aku bilang iya?”

“Aku berharap kau tidak terdengar seperti stalker.”

Kini Axel tertawa kecil lagi.

Dan sialnya, Serena mulai sadar pria ini tertawa cukup sering saat bersamanya.

“Aku bukan stalker.”

“Terdengar persis seperti jawaban stalker.”

“Kalau aku benar-benar menguntit,” gumam Axel santai, “aku pasti sudah tahu lebih banyak.”

Kalimat itu langsung membuat Serena diam.

Karena untuk alasan aneh yang tidak bisa dijelaskan. Terdengar seperti ancaman.

Motor akhirnya memasuki kawasan elite Mansion Terra yang jauh lebih sepi dibanding pusat kota. Deretan mansion besar berdiri megah di balik pagar tinggi dan pepohonan gelap.

Saat motor berhenti tepat di depan rumah Serena, Axel mematikan mesin perlahan.

Sunyi.

Hanya suara dedaunan basah yang bergerak tertiup angin malam.

Serena turun perlahan dari motor sebelum melepas helm.

Rambut panjangnya langsung jatuh berantakan di bahu.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya.

Axel ikut turun dari motor, lalu mengambil helm dari tangan Serena tanpa berkata apa-apa.

Di bawah cahaya lampu depan mansion, pria itu terlihat jauh lebih tampan dibanding yang Serena sadari di dalam bar.

Dan itu berbahaya.

Karena Serena selalu membuat keputusan buruk saat sedang rapuh.

“Yakin bisa masuk sendiri?” tanya Axel.

Serena hampir menjawab sinis.

Namun kepalanya masih sedikit pening, dan anehnya suara pria itu terdengar tulus.

“Aku tidak semabuk itu.”

Axel memperhatikan Serena beberapa detik. “Anda tampak seperti seseorang yang akan menangis begitu pintu rumahnya tertutup.”

Serena langsung menegang.

Pria ini, terlalu sering mengatakan hal yang tepat.

“Apa kau memang menikmati membuat orang tidak nyaman?”

Axel tersenyum tipis.

“Hanya pada Anda.”

Jawaban itu seharusnya terdengar menggoda. Namun entah kenapa, Serena justru merasa ada sesuatu yang lebih gelap tersembunyi di baliknya.

Serena segera memalingkan wajah.

Ia terlalu lelah untuk mencoba memahami pria aneh di depannya malam ini.

“Aku masuk dulu.”

Namun baru dua langkah berjalan menuju pagar mansion, Axel tiba-tiba memanggilnya.

“Serena.”

Perempuan itu menoleh malas.

“Apa?”

Axel bersandar santai pada motornya, kedua tangannya masuk ke saku jaket hitamnya.

Tatapannya masih sama.

Tenang.

Sulit dibaca.

“Jangan minum sendirian lagi kalau sedang terlihat seperti itu.”

Serena mengernyit kecil.

“Seperti apa?”

Axel diam beberapa detik sebelum menjawab pelan,

“Seperti seseorang yang hampir hancur.”

Dan sialnya, kalimat itu terdengar jauh lebih lembut dibanding yang seharusnya.

Untuk sesaat Serena hanya menatap pria itu tanpa suara.

Aneh.

Ia baru mengenal Axel Noir beberapa jam, tetapi pria itu sudah melihat terlalu banyak bagian buruk dari dirinya.

Lebih banyak dibanding kebanyakan orang yang mengenalnya bertahun-tahun.

“Kau selalu mengatakan hal-hal aneh ke perempuan?”

“Aku jarang tertarik cukup lama untuk bicara sebanyak ini.”

Jawaban itu langsung membuat Serena mengembuskan napas kecil sambil menggeleng.

Menyebalkan.

Namun sebelum Serena sempat membalas, lampu mobil tiba-tiba menyorot dari ujung jalan.

Sebuah sedan hitam berhenti tepat beberapa meter dari mansion.

Dan detik berikutnya, Serena langsung mengenali plat nomor itu.

Jantungnya menegang.

Damien.

Sial.

Pintu mobil terbuka perlahan.

Damien Knox keluar dengan mantel hitam yang sama seperti tadi malam, wajahnya tetap tenang dan dingin seperti biasa.

Namun saat tatapan pria itu jatuh pada Axel—

suasana mendadak berubah.

Serena bisa merasakannya.

Hening yang aneh.

Tegang.

Damien menutup pintu mobil pelan sebelum berjalan mendekat.

Tatapannya sempat berhenti singkat pada motor Axel.

Lalu pada Serena.

Lalu kembali lagi pada Axel.

Dan Serena mengenal ekspresi itu.

Damien tidak suka apa yang dilihatnya.

“Kau tidak menjawab teleponku,” ucap Damien tenang.

Nada suaranya datar.

Namun Serena tahu pria itu cukup baik untuk mendengar kemarahan yang disembunyikan di balik ketenangan tersebut.

“Aku sedang keluar.”

Tatapan Damien turun pada gaun Serena yang sedikit berantakan, rambutnya yang terkena angin malam, lalu berhenti pada jaket kulit Axel yang masih berada di bahu Serena tanpa ia sadari.

Rahang pria itu langsung menegang tipis.

“Aku bisa menjelaskan—”

“Kau mabuk?” potong Damien pelan.

Axel tiba-tiba bergerak mendekat satu langkah sebelum Serena sempat menjawab.

“Dia baik-baik saja.”

Dan itu kesalahan besar.

Karena kini perhatian Damien sepenuhnya berpindah pada pria di samping Serena.

Tatapan kedua pria itu bertemu.

Damien tetap tenang.

Axel tetap santai.

Namun Serena langsung tahu—

mereka sama-sama tidak menyukai satu sama lain sejak detik pertama.

“Aku tidak ingat meminta bantuanmu,” ucap Damien dingin.

Axel tersenyum tipis.

“Untungnya saya tidak menunggu izin.”

Oke.

Ini buruk.

Sangat buruk.

Karena Serena terlalu mengenal Damien Knox untuk tahu kapan pria itu mulai kehilangan kesabarannya.

Dan saat ini...

Damien sedang sangat dekat dengan batasnya.

Suasana di depan mansion mendadak terasa terlalu sempit.

Angin malam bergerak pelan di antara mereka, membawa aroma hujan dan ketegangan yang semakin tebal setiap detiknya.

Serena bisa melihat jelas perubahan kecil di wajah Damien.

Sangat kecil.

Namun setelah sepuluh tahun bersama, Serena tahu persis seperti apa ekspresi Damien saat pria itu marah.

Dan Damien jarang marah.

Itulah kenapa saat itu terjadi, semuanya terasa jauh lebih mengintimidasi.

“Axel,” ucap pria itu akhirnya pelan sambil melirik name tag kecil logam di jaket hitam Axel. “Kau bekerja di bar itu.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Axel tampak tidak terganggu sedikit pun.

“Terkadang.”

Damien mengangguk kecil, seolah sedang mencatat sesuatu di kepalanya.

Dan anehnya, itu justru lebih mengerikan dibanding kemarahan biasa.

“Dia mengantarku pulang,” potong Serena cepat sebelum suasana semakin buruk. “Itu saja.”

Tatapan Damien langsung kembali pada Serena.

“Aku sudah bilang akan datang menjemputmu.”

Nada suaranya tetap tenang.

Namun Serena mengenal pria itu terlalu baik.

Damien sedang cemburu.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!