Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Jalanan lengang saat William menginjak gas mobilnya menembus malam. Beberapa lampu gedung bertingkat masih menyala meski waktu sudah lewat tengah malam. William menatap tajam jalanan, jemarinya mencengkram kuat stir mobil. Ia terpaksa meninggalkan Angel yang terlelap, untuk bergegas menemui seseorang.
William memelankan mobilnya saat akan memasuki gerbang perumahan yang dihuni Sandra, ia membunyikan klakson, menurunkan kaca mobilnya, lalu mengangguk pada satpam yang berjaga. Ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah wanita itu. Setidaknya setiap kali ia kembali ke Jakarta ia akan selalu mampir ke rumah Sandra.
Mobilnya berhenti tepat di depan gerbang rumah Sandra, ia mengambil ponselnya dan menelpon sang penghuni rumah. Ia sudah menghubungi Sandra sebelumnya memastikan keberadaannya.
Tak lama, Sandra muncul dengan gaun tidurnya yang tipis dan pendek memamerkan lekuk tubuhnya yang malu-malu terbentuk saat ia berjalan. Kakinya yang jenjang bersinar saat cahaya bulan menerpa kulitnya. Wajahnya berseri-seri dihiasi senyum sumringah. Ia menatap kagum pada William yang keluar dari mobilnya meski hanya memakai kaos dan celana pendek pesonanya tak pernah luntur.
Angel membuka gerbang mempersilahkan William masuk. "Kau tidak akan memarkirkan mobilmu di dalam?" tanyanya heran melihat William berjalan dengan tergesa-gesa.
"Kita bicara di dalam," sahutnya tanpa melihat Sandra. Merasakan firasat buruk, Sandra mengurungkan niatnya untuk menggoda William.
Begitu memasuki rumah, William segera mendaratkan bokongnya di sofa. Ia menghembuskan nafas kasar, tangannya merogoh saku celana yang berisi foto-foto Angel.
Sandra mengernyit tak mengerti. "Apa ini?" William bungkam, tatapannya fokus pada setiap detail ekspresi Sandra. "Oh My Gosh! Angel?!" Sandra tercengang melihat sosok di balik foto-foto tersebut. "Sejak kapan dia menjadi model dewasa?"
"Kau tidak tahu? Sekolah heboh pagi ini. Bahkan stiker wajahnya sudah menyebar di grup sekolah."
"Aku tidak ke sekolah hari ini." Sandra mendudukkan dirinya di dekat William, bergalanyut manja. "Tubuhku tidak merasa nyaman seharian ini," lanjutnya dengan sedikit mendesah. Jemarinya mengelus rahang William yang halus. "Kau bercukur hari ini?"
William menyingkirkan jemari Sandra. "Apa menurutmu Angel mampu melakukannya?" selidik William.
"Mungkin saja, siapapun akan rela melakukan apapun demi uang. Tapi, Angel yang kutahu dia murid yang baik dan berprestasi. Aku sedikit tak percaya, dia sungguh berani," komentarnya sinis.
Kesabaran William mulai menipis, tangannya mengepal kuat, matanya menyala menatap Sandra. "Kau yakin tidak tahu masalah ini?"
Sandra menggeleng, "oh William, kau tidak percaya padaku?" balas Sandra, jemarinya masih meraba-raba bagian tubuh William yang lain. "Lagipula mengapa kau repot-repot mengurusi hal yang tidak ada sangkut pautnya denganmu? Bukankah itu hanya buang-buang waktu?"
"Semua gosip itu benar, Sandra. Aku tidur bersama muridmu, Angel," ujarnya penuh keyakinan. William tersenyum tipis, jemarinya mencengkram rahang Sandra kuat, menatapnya penuh keangkuhan. "Aku menciumnya, Sandra. Ciuman yang selama ini kau inginkan. Bibirnya tipis namun lembut layaknya sutra, manis seperti leci, membuatku ingin terus dan terus menciumnya," bisik William berat di telinga Sandra.
Sandra terhenyak, pengakuan William membuat hatinya terkoyak, air matanya menetes tanpa aba-aba. "Kau menciumnya?" tanyanya mencoba mencari kebenaran dari sorot mata William. Tak ada kebohongan di dalamnya, William serius akan ucapannya. William mencium Angel, ciuman yang selama 5 tahun ia coba dapatkan namun tak pernah berhasil.
"Ada apa Sandra?" William tersenyum miring, "mengapa kau terkejut? Apakah orang suruhanmu tidak melaporkannya padamu?" Ia menghempaskan rahang Sandra kasar, menatap jijik perempuan tersebut. "Obsesimu sungguh memuakkan Sandra. Apa kau pikir aku tidak tahu? Kau lupa siapa aku?"
Sandra meringis kesakitan. "Will...."
"Aku tak peduli dengan orang-orang suruhanmu itu, Sandra. Selama tidak mengganggu kenyamananku. Namun sepertinya kau melupakan perjanjian kita Sandra. Atau perlu aku ingatkan?"
Sambil terisak, Sandra menggeleng kuat. "Kita tidak memiliki hubungan apapun selain di atas ranjang."
"Jelas kau mengingatnya dengan baik. Jika saja kau tidak menganggu Angel, atas dasar pertemanan kita selama 5 tahun aku akan memaafkanmu. Sayang sekali kali ini kau mengecewakanku, Sandra," ujar William sok Dramatis. "Pihak yayasan akan mengabarimu secepatnya, kau tak perlu datang lagi ke Sekolah."
Sandra tak peduli dengan pekerjaannya yang ia inginkan hanya William. "Mengapa kau memilihnya? Apakah aku tidak cukup?"
"Sejak awal memang bukan kau, Sandra. Kita hanya bermain, kau dan aku menikmatinya. Seharusnya kau sadar akan posisimu." William berkata dengan penuh ketenangan. "Jangan ganggu Angel atau aku akan melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah ada dibayanganmu," tegasnya, netranya menatap Sandra penuh ancaman.
***
Setelah memberi ancaman pada Sandra, William segera pergi. Meskipun tidak mendapatkan pengakuan secara langsung, gelagat perempuan itu sudah menunjukkan bahwa dialah sosok dibalik apa yang dialami Angel. Lagipula, Dimas sudah menginterogasi orang pertama yang menyebarkan stiker dan menempelkan foto-foto itu di mading. Semua petunjuk mengarah ke Sandra.
William melepas kaos dan celana yang sudah ia pakai seharian, berdiri di bawah shower. Menghilangkan keringat dan bau Sandra yang menempel di kulitnya. Tak perlu waktu lama, ia keluar dengan tubuh dibalut handuk menampilkan otot-otot perutnya yang masih basah.
William keluar dari kamar mandi, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah hingga tak menyadari bahwa sosok yang ia kira tidur, terbangun tengah menatapnya tanpa kedip.
Angel meneguk ludah kasar, untuk pertama kalinya selama hampir 18 tahun ia hidup melihat tubuh lawan jenis selain papanya. Ia baru tahu bahwa tubuh tidak hanya terdapat dada dan perut, tapi juga otot-otot perut yang demi Tuhan, Angel ingin sekali menyentuhnya.
Tatapan Angel menelusuri dari atas hingga bawah, rambut hitam yang basah, wajah tampan dengan bibir yang begitu seksi, rahang tegas yang kadang terdapat bulu-bulu halus membuat ia merasa geli saat mereka berciuman, dada bidang yang ditumbuhi sedikit rambut membentuk garis hingga ke pusar. Sungguh penampakan William membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan.
Sadar sedang diperhatikan, William mendongak, ia mengulas senyum. "Jangan lupa bernafas Angel," ucapnya jahil. William mendekat mengecup dahi Angel, "kau bebas menyentuhnya."
"Saya tidak ingin menyentuhnya," sahut Angel gugup, pipinya merah merona menahan malu. "Bapak, baru mandi?"
"Hemmmm...." William berbalik, melangkah menuju closet.
"Pak!" panggil Angel tiba-tiba membuatnya menghentikan langkahnya.
"Iya?"
"Apakah bapak biasa tidur dengan tanpa memakai baju?" Angel bertanya malu-malu. Salahkan saja imajinasi liarnya yang menginginkan tidur dalam dekapan William tanpa busana.
William tersenyum jahil. "Aku selalu tidur dengan pakaian penuh, Angel. Kecuali jika saat ini kau menginginkan aku tak memakai apapun," godanya. William berjalan menuju sisi lain tempat tidur, matanya tak lepas menatap Angel yang wajahnya memerah. William naik ke ranjang hanya dengan handuk yang menutupi area terlarang hingga lutut. Tangannya meraih Angel dan merapatkan dirinya. "Baiklah, aku akan mengabulkan harapanmu kali ini. Tidurlah." William mencubit hidung Angel yang berada dalam dekapannya. Ia harus tidur secepatnya.
***