NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

 Siang itu, matahari bersinar terik menyala di langit, membuat suasana desa terasa lengang dan sepi. Ani sedang beristirahat di beranda rumah, menikmati hari liburnya dari bekerja di toko roti Bu Ratna. Ia duduk santai di kursi kayu sambil mengipasi diri sendiri, sesekali tersenyum melihat pemandangan halaman rumah yang hijau dan rindang. Hatinya terasa damai dan tenang, jauh berbeda dari masa-masa kelam yang ia lalui beberapa bulan lalu. Luka hatinya perlahan sembuh, dan semangat hidupnya telah tumbuh kembali lebih kuat dari sebelumnya.

Ayah sedang pergi ke sawah, sedangkan Ibu ada di dapur sedang mengulek bumbu, menyiapkan makan siang. Suasana rumah terasa begitu tenteram, hingga suara motor berjalan pelan mendekat memecah keheningan siang itu. Suara knalpot standar itu makin lama makin jelas, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Ani.

Ani menoleh, sedikit penasaran. Di jam seperti ini, jarang ada tamu yang datang. Ia melihat seorang pria muda berseragam rapi turun dari atas sepeda motor, di tangannya memegang sebuah amplop cokelat besar yang tebal. Pria itu mengangkat helmnya, lalu membuka pagar kayu pelan-pelan dan melangkah masuk ke halaman rumah.

"Permisi... Apakah benar ini rumah Ibu Ani?" tanya pria itu dengan suara lantang namun sopan sambil menatap ke arah beranda.

Ani berdiri dan berjalan menghampiri, sedikit bingung. "Iya, benar. Saya sendiri. Ada apa ya, Mas?"

Pria itu tersenyum ramah, lalu menyodorkan amplop cokelat itu ke tangannya. Di sudut luar amplop itu, tertera tulisan yang sangat jelas dan tegas: PENGADILAN AGAMA.

Jantung Ani seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya seketika terasa dingin dan kaku saat menerima benda itu. Tulisan itu tercetak rapi, berwarna hitam di atas kertas cokelat tebal, namun rasanya seperti menghantam dada Ani sekuat tenaga. Ia tahu betul apa arti amplop ini. Ini bukan sekadar surat biasa, ini adalah surat panggilan resmi, surat yang berkaitan dengan status dirinya, berkaitan dengan masa lalu yang sudah ia lupakan dan ia tinggalkan jauh-jauh.

"Maaf, Bu..." ucap tukang kurir itu kembali, membuyarkan lamunan Ani. "Ini surat panggilan sidang dari Pengadilan Agama Kabupaten. Bapak/Ibu dimohon untuk menandatangani tanda terima di sini ya, sebagai bukti bahwa kiriman sudah diterima."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ani mengambil pulpen yang disodorkan, lalu menuliskan namanya di atas buku catatan pria itu. Setelah selesai dan pria itu berpamitan pergi, Ani masih berdiri terpaku di tengah halaman, menatap amplop tebal itu lekat-lekat. Tulisan itu kembali berputar di kepalanya: Pengadilan Agama. Hanya ada satu hal yang bisa menjadi urusan dirinya dan lembaga itu saat ini: perceraian.

Suara langkah kaki Ibu dari arah samping rumah membuat Ani tersentak. Ibu datang menghampiri, tangannya masih mengelap sisa-sisa bumbu di celemeknya, namun wajahnya langsung berubah cemas melihat ekspresi wajah anaknya yang pucat pasi dan tatapannya yang kosong.

"Ada apa itu, Nak? Surat apa yang dikasihkan tadi?" tanya Ibu khawatir, mendekat dan menatap amplop di tangan Ani. Saat ia membaca tulisan di sampul amplop itu, napas Ibu pun seakan tertahan. Wajahnya yang tua itu mengerut dalam, paham betul isi dari surat itu.

"Dari Pengadilan Agama, Bu..." jawab Ani pelan, suaranya bergetar hampir tak terdengar. "Pasti... ini surat gugatan cerai dari Mas Dimas."

Ibu menghela napas panjang, lalu segera menuntun tangan Ani agar duduk kembali di kursi beranda. Ia duduk di samping anaknya, menatap amplop itu dengan pandangan yang bercampur antara marah dan iba.

"Sudah kuduga, cepat atau lambat pasti begini jadinya," gumam Ibu pelan. "Dia tidak puas hanya dengan pergi begitu saja. Dia mau mengurus segalanya sampai selesai secara hukum, supaya dia bebas sepenuhnya dan bisa menikah lagi dengan wanita itu. Dasar laki-laki tidak tahu diri, buru-buru sekali rasanya ingin melepaskanmu, Nak."

Ani diam saja, tangannya masih memegang amplop itu erat. Di dalam dadanya, perasaannya campur aduk. Ada rasa sakit yang kembali datang, ada rasa kecewa yang belum sepenuhnya hilang, namun anehnya, ada juga rasa lega yang samar-samar. Ia sadar, hari itu pasti akan datang. Dimas yang berniat serius dengan Rina, tentu saja butuh status lajang yang sah. Ia butuh perceraian resmi agar bisa menikahi wanita itu tanpa ada halangan.

Dan meskipun rasanya pahit mengetahui bahwa Dimas begitu terburu-buru menuntaskan urusan ini demi wanita lain, Ani sadar dalam lubuk hatinya yang paling dalam: ini juga yang ia butuhkan. Ini adalah penutup resmi dari bab kehidupan lamanya. Ini adalah tanda sah bahwa ikatan antara dirinya dan Dimas sudah putus sepenuhnya, tercatat di atas kertas negara, tercatat di hadapan hukum dan agama.

"Kamu mau membukanya sekarang, Nak?" tanya Ibu lembut, menyentuh bahu Ani.

Ani mengangguk perlahan. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan jari yang masih sedikit gemetar, ia menyobek sedikit pinggiran amplop itu, lalu mengeluarkan berkas-berkas di dalamnya. Ada surat panggilan sidang, ada salinan surat gugatan, dan berkas-berkas administrasi lainnya.

Ani membaca pelan, bibirnya bergerak mengikuti baris demi baris tulisan yang ada di kertas itu. Isinya memang benar dugaan mereka. Dimas telah mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama, dengan alasan bahwa rumah tangga mereka sudah tidak lagi harmonis, sudah terpecah belah, dan sudah tidak ada lagi rasa kasih sayang di antara keduanya. Di dalam surat itu tertulis juga hari dan tanggal sidang pertama yang harus Ani datangi, kurang lebih dua minggu lagi dari hari ini.

Namun, yang paling menusuk hati Ani bukanlah isi gugatannya, melainkan alasan-alasan yang dituliskan Dimas seolah-olah Ani lah penyebabnya. Tertulis di sana kalimat-kalimat yang menyalahkan dirinya, mengatakan bahwa Ani tidak bisa menjadi istri yang baik, tidak bisa mengerti suami, dan banyak hal lain yang berisi kebohongan demi membenarkan tindakannya sendiri.

"Kurang ajar sekali dia! Berani-beraninya dia menulis hal yang tidak benar begitu? Dia yang salah, dia yang selingkuh, dia yang pergi meninggalkanmu, malah dia yang menuduhmu macam-macam!" seru Ibu dengan suara bergetar karena marah, tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak jelas. "Tenaga saja dia punya untuk mengurus ini semua demi wanita itu, padahal dulu saat kalian masih bersama, urusan rumah tangga saja dia acuhkan."

Ani menutup berkas itu perlahan, lalu meletakkannya di meja kayu di hadapannya. Ia tidak lagi menangis, tidak lagi meratap. Anehnya, rasa sakit itu tidak lagi setajam dulu. Semua tulisan bohong dan tuduhan Dimas itu kini terasa seperti angin lalu belaka. Ia sudah terlalu jauh melangkah maju, sudah terlalu kuat hatinya sekarang untuk diruntuhkan lagi oleh kata-kata palsu dari orang yang sudah tidak ada harganya lagi baginya.

Ani mengangkat wajahnya, menatap Ibu dengan pandangan yang tenang dan tegas.

"Biarkan saja, Bu. Biarkan dia menulis apa saja yang dia mau," ucap Ani pelan namun jelas. "Yang penting saya tahu kebenarannya, Ibu tahu, Ayah tahu, dan Allah tahu. Apa gunanya membantah kata-kata orang yang hatinya sudah tertutup? Dia mau mencari alasan apa saja supaya perceraian ini cepat selesai, tidak masalah bagi saya. Yang saya tahu, saya sudah berusaha jadi istri yang terbaik, dan dia yang membuang saya."

Ani terdiam sejenak, menatap langit biru di atas mereka, lalu melanjutkan dengan suara mantap.

"Justru ini kabar baik, Bu. Ini tandanya urusan kita dengan dia akan segera selesai sepenuhnya. Setelah sidang ini, setelah keputusan keluar, saya benar-benar bebas. Saya benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Mas Dimas. Saya bukan lagi istrinya, dan dia bukan lagi suami saya. Saya akan benar-benar sendiri, bebas, dan bisa menjalani hidup saya sepenuhnya untuk diri saya sendiri."

Ibu menatap anaknya lekat-lekat, perlahan rasa marahnya berubah menjadi rasa kagum dan haru. Ia melihat perubahan besar pada Ani. Dulu, wanita ini akan hancur lebur hanya karena satu kata kasar dari suaminya. Tapi sekarang, di hadapan surat gugatan cerai yang seharusnya menghancurkan harga dirinya, Ani justru berdiri tegak, tenang, dan penuh pengendalian diri.

"Benar katamu, Nak. Ini justru jalan keluar yang paling sah dan paling tuntas," kata Ibu pelan, lalu mengelus kepala Ani dengan penuh kasih sayang. "Ibu sama Ayah akan selalu ada di sampingmu. Nanti pas hari sidang, kami yang akan menemanimu. Jangan takut, kami tidak akan membiarkan kamu dipermainkan lagi oleh dia atau siapa pun."

Ani tersenyum tipis, senyum yang ikhlas dan damai. Ia kembali menatap amplop cokelat itu, kini bukan lagi dengan rasa takut atau sedih, melainkan sebagai tanda bahwa bab terakhir dari masa lalunya sedang ditutup. Surat itu bukanlah penghinaan baginya, melainkan tiket kebebasan yang sah.

Siang itu berlalu, dan berkas-berkas dari pengadilan itu kini tersimpan rapi di dalam laci lemari Ani. Bukan untuk disimpan sebagai kenangan, melainkan sebagai tanda bukti bahwa ia telah melewati badai terbesar dalam hidupnya dan berhasil selamat, berhasil bangkit, dan berhasil menjadi wanita yang jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, Ani menantikan hari sidang itu datang. Ia ingin segera duduk di ruang pengadilan, mendengar keputusan hakim, dan mengucapkan kata-kata terakhir yang akan memisahkan dirinya selamanya dari nama Dimas, agar ia bisa melangkah lebih jauh lagi menuju masa depan cerah yang sedang menunggunya.

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!