Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kuli Pasar Ganteng
Bau menyengat dari sayuran layu, asap knalpot truk, dan aroma keringat para kuli memenuhi udara di Pasar Induk sore itu. Ray berdiri mematung di area parkir, matanya menatap nanar pada keriuhan di depannya. Beberapa kuli angkut dengan tubuh liat dan berdebu sedang memanggul karung-karung beras yang tampak sangat berat, memindahkannya dari bak truk ke dalam gudang.
Wajah Ray membeku. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya—bukan karena terik matahari, melainkan karena amarah yang tertahan.
Mama, setan Vyan benar-benar menyuruhku jadi kuli pasar! Mama, anak tercintamu ini disuruh mengangkat karung! Tidak mungkin!
Pikiran Ray melayang pada nasihat ibunya yang selalu terngiang seperti kaset rusak: "Ray, kamu harus mengalah pada Vyan, ya. Wajar kalau dia benci pada kita. Di matanya, kita sudah merebut Ayahnya."
Mengalah terus? Sampai kapan, Ma? Dia terus-menerus menginjak harga diriku! Aku tidak mau lagi! Ray mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Iya, Mang. Temanku ini mau kerja di sini selama beberapa hari. Orangnya ada di..."
Suara familiar Vyan terdengar mendekat. Dia berjalan bersama seorang pria setengah baya berkaus singlet kusam yang dipanggilnya Mang Somad. Vyan menunjuk ke arah tempat Ray berdiri tadi, tapi ia telah raib.
Vyan tertegun. "Eh... dia kabur?!"
Vyan mengedarkan pandangan, mencari sosok berambut gimbal itu di antara kerumunan truk. Tak lama kemudian, dia melihat Ray muncul. Wajah Ray yang tadinya sekeruh air parit, mendadak sumringah. Ia tidak sendirian; Yasmin berjalan di sampingnya sambil menenteng sebuah rantang susun.
"Kak Vyan ada di sini juga?" tanya Yasmin begitu mereka sampai di depan Vyan dan Mang Somad.
"Iya, Cantik. Kamu sedang apa di sini?" tanya Vyan, nada suaranya melembut seketika, kontras dengan tatapan tajam yang sempat ia lemparkan pada Ray yang kini memegang rantang Yasmin.
"Ibu kurang enak badan, jadi aku yang membawakan makan siang untuk Ayah."
"Jadi... Ayahmu kerja di sini?" Vyan menaikkan sebelah alisnya.
Yasmin mengangguk antusias. Matanya menangkap sosok pria tua yang sedang berjalan mendekat sambil menyeka keringat dengan handuk kecil.
"Itu Ayah! Ayah...!"
Yasmin segera mengambil kembali rantang dari tangan Ray dan berlari kecil menghampiri pria itu.
"Ya, dia itu anaknya Mang Danang," ucap Mang Somad menjelaskan pada Vyan.
Vyan kini beralih menatap Ray dengan senyum mengejek. "Mau kabur, ya?"
"Nggak. Tadi cuma kebelet, jadi cari WC," jawab Ray ketus, berusaha menutupi rasa malunya.
"Niatnya cari WC sampai ke rumah, kan?" sindir Vyan telak.
Ray hanya bisa mendelik kesal. Tak lama, Yasmin kembali bersama ayahnya, Pak Danang. Pria itu tampak bersahaja dengan gurat lelah yang jujur di wajahnya.
"Jadi Yasmin temannya Nak Vyan, ya? Saya memang kenal seragam sekolah Nak Vyan, tapi saya tidak menyangka ternyata Nak Vyan berteman dengan Yasmin," ucap Pak Danang dengan nada yang sangat hormat. Ray bisa merasakan bahwa di mata Pak Danang, Vyan adalah sosok "tuan muda" yang disegani.
"Bapak ini...?" tanya Vyan sopan.
"Wakil Mang Somad, Den..." sahut Mang Somad cepat.
"Saya seniornya Yasmin di sekolah, Pak. Saya sudah beberapa kali bertemu Ibu di rumah, tapi baru kali ini bertemu Bapak. Kebetulan sekali," ucap Vyan dengan tata krama yang sempurna. "Oh ya, Pak, ini teman saya yang akan kerja di sini selama dua minggu."
Vyan menunjuk Ray. Ray, meski berwajah bete, tetap berusaha memberikan senyum sopan pada Pak Danang.
"Nama saya Ray, Pak. Senang sekali bisa mengenal Ayahnya Yasmin. Saya juga... temannya Yasmin," ucap Ray, memberikan penekanan pada kata terakhir.
"Mang Somad, titip Ray, ya! Tidak perlu bedakan dia dengan kuli yang lain. Tenang saja, ototnya kuat, dia atlet. Saya yakin dua karung beras pun bisa diangkutnya sekaligus," ujar Vyan dengan nada provokatif.
Ray menggeretakkan gigi. Sialan lo, Vyan!
"Tapi Den, apa nggak salah? Kelihatannya dia anak orang kaya," bisik Mang Somad ragu, menatap kulit Ray yang bersih dan rambut gimbalnya yang terlihat mahal.
"Yang penting tenaganya, kan, Mang? Lihat saja rambutnya, sudah mirip preman pasar, kan?" celetuk Vyan ringan.
"Sebenarnya ini rambut yang sedang tren, Mang! Bukan preman," bela Ray cepat.
"Ray mau jadi kuli?" tanya Yasmin tiba-tiba, menatap Ray dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu. Pertanyaan itu seketika membuat nyali Ray menciut. Ia merasa kecil dan malu.
"Aku... aku mau membantu pekerjaan Ayahmu, Yasmin," jawab Ray spontan, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah compang-camping.
"Wah, hebat ya! Ray mau kerja!" Yasmin bertepuk tangan kecil, tampak benar-benar kagum.
"Hehehe..." Ray nyengir kuda, merasa sedikit lebih baik karena pujian Yasmin.
"Pak Danang, saya minta izin untuk mengajak Yasmin ke rumah untuk belajar les, ya?" ucap Vyan, memutus momen Ray dan Yasmin.
"Iya, silakan, Nak Vyan..." Pak Danang tersenyum ramah.
Jadi Yasmin pergi sama ular ini sementara aku berkutat dengan beras? Sialan! umpat Ray dalam hati.
"Ayo, Yasmin," ajak Vyan.
Yasmin mengangguk, memberikan lambaian singkat pada Ray sebelum mengikuti langkah Vyan keluar dari hiruk-pikuk pasar.
Mang Somad menatap Ray yang masih menatap kepergian mereka dengan wajah melas.
"Nak Ray, tidak apa-apa kalau tidak mau kerja juga. Nanti Mang Somad bilang ke Den Vyan kalau Nak Ray sudah kerja keras. Bagaimana?"
"Iya, Nak. Tenang saja, kami yang urus," timpal Pak Danang kasihan.
Ray menarik napas panjang, lalu menegakkan bahunya. "Ah, tidak apa-apa, Pak, Mang. Saya harus sportif. Lagipula tenaga saya memang kuat. Ayo, Mang! Kita mulai!"
Semangat Ray yang membara perlahan meredup saat karung beras pertama mendarat di bahunya. Beratnya minta ampun! gumamnya. Lebih parah lagi, setiap kali ia melintasi kios-kios sayuran, para pedagang wanita—baik yang tua maupun yang muda—mulai menggoda dan menyorakinya.
"Duh, lihat kuli baru kita, ganteng banget!" seru seorang ibu penjual cabai.
"Ranca bana! Kalau kulinya seperti ini, saya betah kerja di pasar sampai malam," timpal yang lain sambil tertawa renyah.
"Hei, Ganteng! Mampir dulu ke kios saya, nanti saya kasih bonus tomat!"
"Sudah punya pacar belum, Dek?"
Ray hanya bisa menunduk, wajahnya memerah menahan malu sekaligus lelah.
...****************...
Setelah mengantar Yasmin ke rumahnya untuk belajar bersama Bu Dinda, Vyan pergi ke tempat lain. Sebuah rumah minimalis yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya, namun tampak kurang terurus.
Setelah memarkir motor di halaman, dia berjalan ke arah belakang. Tanpa repot-repot mengetuk, Vyan membuka pintu belakang yang memang sering tidak dikunci itu. Keadaan di dalam rumah begitu sepi, hanya terdengar suara rendah ketukan keyboard dari sebuah ruangan.
Vyan menghampiri sebuah pintu. Ketika dia membukanya, gelombang udara dingin langsung menerpa wajahnya, terasa kontras dengan hawa gerah di luar. Vyan melirik ke arah jendela; dia bahkan tidak pernah melihat tirai jendela kamar itu terbuka.
Vyan pun melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor yang berjejer di atas meja panjang. Di tengah remang cahaya itu, seseorang duduk membelakanginya, tampak seperti bagian dari perangkat keras itu sendiri. Ia tenggelam di kursi besarnya dengan kepala tertutup hoodie, membuatnya terlihat seperti siluet tanpa wajah.
Kedatangan Vyan tidak membuatnya berhenti menari di atas keyboard.
"Bawa camilan, Bos...?"
Suaranya terdengar sedikit serak, khas seseorang yang jarang menggunakan pita suaranya untuk berinteraksi dengan manusia. Vyan melemparkan kantong kresek ke pangkuan orang itu, lalu duduk di atas kasur yang seprainya tampak agak pudar.
Sosok itu langsung berhenti mengetik dan menangkap kresek yang dilempar Vyan. Tanpa buang waktu, dia segera mengeksekusi isinya yang berupa camilan kesukaannya.
"Gue udah lihat laporan lu," ucap Vyan, "dan gue udah punya ide bagus."
Cowok itu menegakkan punggungnya. Dia menoleh dan menyeringai ke arah Vyan.
"Ide apa, Bos? Apa kita buat skandal? Ngebajak ponselnya? Gue bisa injek video bokep langsung ke folder galeri dia lewat celah Bluetooth pas dia lengah, atau pas dia colok HP-nya di komputer warnet langganannya. Sekali klik, langsung kesimpan seolah itu video koleksi pribadi dia. Nanti tinggal kita atur biar keputar otomatis pas jam pelajaran."
Cowok itu menjeda kalimatnya, menelan keripik di mulutnya dengan cepat sebelum matanya kembali berbinar memikirkan rencana selanjutnya.
"Atau gue bisa bajak akun Facebook sama BBM-nya. Gue sebar broadcast sampah atau status liar ke semua kontak guru dan anak-anak OSIS. Dia bakal langsung kena panggil ke ruang BK sebelum jam istirahat pertama."
Jemari kurusnya membentuk gestur pistol, mengarahkannya ke salah satu monitor dengan seringai lebar.
"Tapi kalau lo mau yang lebih hardcore dan instan, lo atur aja tuh lewat temen-temen jalanan lo buat selundupin sajam atau sepaket narkoba ke tas atau lokernya. Boom! Kayak di anime-anime aksi gitu, Yan. Langsung DO hari itu juga tanpa opsi banding!"