NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Saat kulit mereka bersentuhan, keduanya sempat membeku. Hanya sesaat, tetapi jantung mereka sama-sama berdetak lebih cepat.

​Gu Qingli segera memusatkan perhatian. Energi spiritualnya mengalir masuk perlahan. Namun selang beberapa detik, raut wajahnya berubah terkejut.

​"Ini..."

​Yunche menatapnya cemas. "Ada apa?"

​Gu Qingli tidak menjawab. Dia mencoba menyalurkan energinya lebih dalam, sebelum akhirnya mendadak menarik tangannya kembali.

​Yunche kaget. "Kenapa?"

​Gu Qingli menatap Yunche tak percaya. "Meridianmu..."

​"Kenapa dengan meridianku?"

​"Aneh."

​"Apakah rusak?" tanya Yunche panik.

​"Bukan."

​"Lantas?"

​Gu Qingli menatapnya lama. "Aku tidak tahu pasti."

​Yunche menghela napas lega. "Kukira ada apa."

​"Namun..." Gu Qingli menggantung kalimatnya. "Di dalam tubuhmu... ada sesuatu."

​Yunche terdiam. "Sesuatu apa?"

​Gu Qingli menggeleng pelan. "Aku belum bisa menjelaskannya."

​Yunche menatap dadanya sendiri. "Jadi aku sedang sakit?"

​"Tidak."

​"Lalu?"

​Gu Qingli mencari kata yang tepat. "Rasanya... seperti ada sesuatu yang tertidur."

​Yunche membelalakkan mata. "Tidur?"

​"Ya."

​Yunche menunjuk dadanya sendiri. "Maksudmu ada orang di dalam tubuhku?"

​Gu Qingli menatapnya datar. "Bukan."

​"Oh." Yunche mengangguk-angguk. "Lalu?"

​Gu Qingli menghela napas. "Entahlah."

​Yunche terdiam. Rasa penasaran terhadap tubuhnya sendiri menyeruak. Selama ini, dia selalu menganggap dirinya memang tidak berbakat. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ada hal tersembunyi yang sedang terjadi.

​Sore harinya, Yunche kembali ke rumah. Dia bergegas mencari Patriark Shen, tetapi sang patriark sedang tidak ada di tempat.

​Yunche akhirnya melangkah ke perpustakaan keluarga. Dia mencari catatan-catatan lama tentang meridian, teknik kultivasi, hingga jenis penyakit aneh. Namun, tak ada satu pun yang cocok.

​Hingga akhirnya, sebuah buku tua di rak paling bawah menarik perhatiannya. Buku itu berjudul: Catatan Meridian Kuno.

​Yunche membuka halamannya. Debu tebal seketika beterbangan.

​"Uhuk!"

​Dia membaca halaman demi halaman. Di halaman ketiga, sebuah tulisan menarik perhatiannya: Meridian Terkunci.

​Yunche membaca deskripsinya dengan saksama. Catatan itu menyebutkan bahwa ada sebagian orang yang terlahir dengan meridian khusus. Meridian tersebut tidak rusak, melainkan terkunci. Jika berhasil dibuka, orang tersebut sanggup menyerap energi spiritual dalam jumlah yang sangat besar.

​Mata Yunche membelalak. "Tunggu..."

​Tangannya mulai gemetar saat membaca ulang baris kalimat tersebut.

​"Jangan-jangan..." Yunche memandangi kedua telapak tangannya.

​Selama tujuh belas tahun, semua orang menganggapnya tidak berbakat. Namun, bagaimana jika masalahnya bukan terletak pada bakat? Bagaimana jika ada sesuatu yang menghalangi jalan kultivasinya selama ini?

​Yunche bergegas berdiri. "Mustahil."

​"Memang tidak ada yang mustahil." Sebuah suara mendadak terdengar dari arah belakang.

​Yunche membeku lalu menoleh. Seorang pria tua berdiri di pintu perpustakaan. Dia adalah Tetua Agung keluarga Shen.

​"Tetua Agung."

​Pria tua itu berjalan mendekat. "Sudah lama aku tidak melihatmu membaca buku."

​Yunche menggaruk kepalanya. "Saya hanya sedang mencari sesuatu."

​"Tentang meridian?"

​Yunche terdiam.

​Tetua Agung duduk di kursi dekat sana. "Siapa yang memberitahumu?"

​"Gu Qingli."

​Sorot mata Tetua Agung berubah sedikit. "Gu Qingli?"

​"Ya."

​"Dia memeriksa meridianmu?"

​"Ya."

​Tetua Agung menatap Yunche dalam-dalam. "Dia menyentuhmu?"

​"Hanya memegang pergelangan tangan untuk memeriksa."

​"Begitu."

​Yunche mengerutkan kening. "Kenapa, Tetua?"

​"Tidak ada apa-apa."

​Yunche kembali menatap buku tua di tangannya. "Tetua... apakah saya memiliki Meridian Terkunci?"

​Suasana menjadi hening. Tetua Agung tidak langsung menjawab pertanyaan itu, membuat Yunche makin penasaran.

​"Tetua?"

​Pria tua itu akhirnya menghela napas panjang. "Aku tidak tahu."

​"Benarkah?"

​"Ya."

​"Kalau begitu..." Yunche menunjuk buku di depannya. "Mengapa raut wajah Tetua tampak seperti tahu sesuatu?"

​Tetua Agung bungkam sejenak sebelum bersuara, "Karena... ayahmu pernah menanyakan hal yang sama persis."

​Yunche membeku di tempat. "Ayah?"

​"Ya."

​"Ayah saya?"

​Tetua Agung mengangguk pelan. "Shen Tianyu."

​Nama itu membuat Yunche tertegun. Ayahnya adalah sosok yang sudah lama meninggal, dan Yunche tidak pernah tahu banyak hal tentangnya. Yang dia tahu, ayahnya seorang kultivator yang berpulang saat dia masih kecil.

​"Kenapa ayah menanyakan hal itu?"

​Tetua Agung memilih tidak menjawab.

​Yunche bergegas berdiri. "Tetua, tolong beri tahu saya."

​"Yunche."

​"Kenapa?"

​"Jangan menggali terlalu jauh."

​Yunche tertegun. "Apa maksud Tetua?"

​Tetua Agung bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. "Terkadang... ketidaktahuan adalah bentuk perlindungan terbaik."

​Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Tetua!"

​Pria tua itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh.

​"Apakah ayah tahu sesuatu tentang kondisi tubuh saya?" tanya Yunche menuntut.

​Hening. Tetua Agung tetap berdiri memunggungi Yunche.

​"Pergilah," ucapnya singkat, lalu berlalunya pergi.

​Yunche berdiri sendirian di perpustakaan. Wajahnya perlahan berubah serius. Selama ini dia mengira dirinya lemah karena kurang berbakat. Namun jika ucapan Tetua Agung benar, pasti ada alasan lain di balik semua ini.

​Malam harinya, di kediaman Keluarga Gu.

​Gu Qingli duduk di kamarnya sambil menggenggam selembar surat dari ayahnya. Isinya sangat singkat: Kita akan kembali ke kediaman utama keluarga Gu besok pagi.

​Gu Qingli menatap surat itu tanpa bersuara. Besok?

​Secara refleks, sosok Shen Yunche mendadak terlintas di pikirannya. Gu Qingli mengerutkan kening.

​"Mengapa harus sekarang?"

​Dia terkejut dengan pertanyaannya sendiri, lalu bergegas menggelengkan kepala. "Bukan karena dia. Tentu saja bukan."

​Meski begitu, dia tetap duduk di sana tanpa berpindah tempat sedikit pun.

​Keesokan paginya.

​Yunche berjalan menuju halaman latihan. Namun, Gu Qingli tidak ada di sana.

​Dia menunggu lima menit, sepuluh menit, hingga akhirnya kabar itu sampai ke telinganya.

​"Rombongan keluarga Gu sudah berangkat sejak subuh."

​Yunche membeku. "Pergi?"

​"Ya."

​"Kapan?"

​"Tadi pagi-pagi sekali."

​Yunche menoleh ke arah gerbang yang sepi. Tidak ada kereta, tidak ada gadis berjubah putih, dan tidak ada suara tenang yang memanggil namanya.

​Yunche berdiri terpaku di sana.

​Ruowei berjalan mendekatinya dari belakang. "Yunche."

​"Hm?"

​"Kau kenapa?"

​"Tidak apa-apa."

​"Kau mencari Gu Qingli?"

​Yunche cepat-cepat menggeleng. "Tidak."

​Ruowei menatapnya curiga. "Benarkah?"

​"Ya."

​"Lalu kenapa kau berdiri di sini?"

​Yunche memandangi halaman latihan yang kosong. "Aku..." Dia tertahan sejenak, lalu tersenyum tipis. "Mungkin aku hanya belum terbiasa."

​Ruowei terdiam menatapnya.

​Yunche akhirnya berbalik untuk pergi. Namun baru melangkah beberapa paak, dia kembali berhenti. "Ruowei."

​"Hm?"

​"Kalau..." Yunche menoleh sedikit. "...kalau seseorang pergi tanpa pamit..."

​Ruowei mengangkat alisnya. "Kenapa?"

​"Menurutmu... apakah dia akan kembali?"

​Ruowei menatapnya, lalu tersenyum lembut. "Tergantung."

​"Tergantung apa?"

​"Tergantung seberapa penting tempat yang dia tinggalkan."

​Yunche tertegun mendengarnya, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa lagi.

​Di jalan berbatu menuju Kota Gu, sebuah kereta bergerak perlahan. Gu Qingli duduk di dalam sembari menatap ke luar jendela. Kota Qinghe perlahan makin jauh terdistorsi oleh pegunungan dan pepohonan.

​Di genggamannya, Gu Qingli memegang sebuah apel—apel yang pernah diberikan Yunche. Apel itu sengaja tidak dia habiskan dan disimpannya hingga kini.

​Gu Qingli menatap buah itu, lalu perlahan memejamkan mata. Bayangan pemuda itu mendadak hadir kembali.

​Besok latihan lagi.

​Gu Qingli membuka mata kembali. "Dasar bodoh," gumamnya sangat pelan tanpa sunggingan senyum.

​Sebab, dia mulai menyadari sesuatu dalam hatinya: dia merindukan pemuda itu.

​Sementara itu di Kota Qinghe, Shen Yunche duduk sendirian di halaman latihan. Hari itu dia tidak berlatih. Dia hanya duduk menatap tempat yang biasanya menjadi pijakan Gu Qingli.

​"Besok latihan lagi," gumam Yunche menirukan kalimat yang biasa diucapkannya.

​Dia tertawa kecil. "Padahal dia bahkan tidak bilang kapan akan kembali."

​Yunche menghela napas. Tiba-tiba, dadanya kembali terasa sangat panas.

​"Ah..."

​Kali ini guncangannya jauh lebih hebat. Energi spiritual di sekitarnya mulai bergerak liar hingga tanah di bawah pijakannya bergetar.

​Yunche membelalakkan mata. "Apa-apaan ini?!"

​Cahaya samar berpendar dari dalam tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, energi spiritual dari langit dan bumi mengalir deras menuju tubuhnya jauh lebih banyak dari biasanya.

​Yunche terpaku. Di dalam tubuhnya, sesuatu yang lelap sekian lama akhirnya membuka mata.

​Pada saat yang bersamaan di dalam kereta menuju keluarga Gu, Gu Qingli mendadak membuka mata. Dadanya terasa sesak secara tiba-tiba. Dia menoleh ke belakang, menatap jauh ke arah Kota Qinghe.

​"Shen Yunche..."

​Dia bingung mengapa nama itu spontan terucap dari bibirnya. Namun saat ini, dia sungguh berharap pemuda itu dalam keadaan baik-baik saja.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!